SP180518

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 18 Mei 2018

Kepala Daerah Mendaftar Caleg

S ejumlah partai politik (parpol) telah membu- ka pendaftaran calon anggota legislatif (caleg) DPR serta DPRD provinsi dan kabupaten/ kota untuk Pemilu 2019. Berdasarkan tahapan pemilu yang disusun Komisi Pemilihan Umum (KPU), pengajuan daftar caleg berlangsung pada 4-17 Juli 2018. Selanjutnya, KPU menjadwalkan pengumum- an Daftar Calon Sementara (DCS) pada 12-14 Agustus 2018. Penetapan Daftar Ca-

lon Tetap (DCT) diputuskan 20 September 2018. Dari informasi, latar belakang setiap bakal caleg yang mendaftar di parpol beraneka ragam. Mulai dari politisi, pengusaha, tokoh masyara-

sampai pendaftaran resmi dibuka KPU. Gubernur yang habis masa jabatannya pada Juni 2018 disebut-sebut bakal Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) mengakhiri tu- gasnya pada 13 Juni 2018. Sedangkan akhir masa jabatan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Erry Nuradi pada 17 Juni 2018. “Kabarnya, kemungkin- maju caleg. Sekadar diketahui, Gubernur

an Aher dan Tengku Erry akan mendaftar jadi caleg,” demikian sumber SP , Jumat (18/5). Aher merupakan kader senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Semen- tara Tengku Erry tercatat sebagai ketua DPW Partai Nasdem Sumut. Masih kata sumber, Tengku Erry berpe- luang tidak menjadi caleg Nasdem. “Kalau Aher tetap PKS. Tengku Erry infonya jadi caleg partai lain, bukan Nasdem,” tandasnya. [C-6]

kat, tokoh agama, akademisi, hingga artis. Selain itu, ada

juga dari mantan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Parpol masih terus menampung figur-figur yang berminat menjadi legislator

TimGabungan Tumpas Teroris

[JAKARTA] Upayamenumpas terorismeperludidukungpenuh semua elemenmengingat saat ini sel-sel tidur jaringan teror cukup banyak. Mereka telah bermetamorfosis dalam hal pengorganisasian maupun aksi dibanding era kelompok Jemaah Islamiyah (JI). Presiden Jokowi merestui pengaktifanKomandoOperasi Khusus Gabungan (Koopsus- gab). Dukungan kepada Polri dalammemberantas terorisme ini tidakperlumenjadi polemik. Sebelum ramai soal revisi UU Antiterorisme, gabungan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus pada bersatu menumpas kelompok teror pimpinan Santoso alias Abu Wardah dalam Operasi Satgas Tinombala 2016. “Koopsusgab ini sangat di- perlukan. Sekarang (terorisme) masih penanganan oleh Polri sedangkanKoopsusgabsifatnya masih backup (menopang), tergantung dari kebutuhan Polri. Baru diturunkan bila intensitasnya tinggi,” kata Kepala Staf Presiden, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko kepada SP , Jumat (18/5). Koopsusgabdibentukpada Juni 2015 ketika Moeldoko menjabat panglima TNI. Be- berapawaktukemudianKoop- susgab dibekukan. TNI juga mempunyai PasukanPemukul Reaksi Cepat (PPRC).Namun, menurutMoeldoko,pengerahan PPRC memerlukan waktu. Koopsusgab terdiri dariDe- tasemenKhusus81,Detasemen Jalamangkara (Denjaka) dan DetasemenBravo 90 dari TNI AU. Seluruhnya ditempatkan di Pusat Misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Sentul, Jawa Barat. “Ada barak siaganya. Setiap hari latihanuntukbuat proyeksi kalau terjadi apa-apa di seluruh daerah yang situasinya daru- rat, perlu kecepatan tinggi,” ungkapnya. Dijelaskan Koopsusgab danSatgasTinombalaberbeda. “Satgas Tinombala bentukan polisi,kalauKoopsusgabsatuan khususnyaTNI. Komandonya di panglima TNI,” katanya.

DitegaskanMoeldoko, pa- yunghukumKoopsusgabyaitu UU No 34/2004 tentang TNI. Pasal 7 ayat (1) dan (2) diatur mengenai tugas pokok TNI yaknioperasimiliterperangdan operasi militer selain perang. Sesuaiketentuan,mengatasiaksi terorisme menjadi salah satu operasi militer selain perang. Sebelumnya, Menko Pol- hukam Wiranto mengatakan, pelibatan TNI dalam pembe- rantasan terorisme diatur UU TNI, Pasal 7Ayat 2. Pelibatan TNI akan diperketat melalui RUU Antiterorisme. “TNI dilibatkandenganaturan-aturan tertentu, jangan sampai seperti masa lalu yang memunculkan kekhawatiranTNI akan superi- or, akan kembali ke orde-orde sebelumnya. Saya jamin tidak akan ke sana,” tegasnya. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen SetyoWasisto, Polri telah bekerjasama dengan Kopassus dalam melakukan penangkapan dan penindakan terduga teroris di lapangan. Penangkapan yang dikenal dengan istilah raid plan and execution itu membutuhkan bantuan kesatuan lain mengi- ngat ancamanyangmeningkat. Takhanyamembantupolisi dalampenggerebekan, timelite milik TNI Angkatan Darat itu juga dilibatkan dalam penga- manan objek vital yang ada. “Itu juga pasti karena itu sudah ada Protap-nya,” kata Setyo di Mabes Polri Jumat (18/5). Metamorfosis Terkait ancaman teroris, KapolriJenderalTitoKarnavian menyatakanbahwakembalinya para kombatan dari Suriah menjadi ancaman tersendiri. Mereka ini tergabungdalamJa- ringanAnsharudDaulah (JAD) pimpinanAmanAbdurrahman yang kini menjadi terdakwa kasusbomThamrin.Amanpun menyerahkantampukpimpinan kepada Zainal Anshori. Ada sekitar 100-an warga Indonesia yang tewas di Irak dan Suriah. Dua negara itu menjadi tempat hijrah bagi banyak WNI yang ingin berjihad atau mencari peng-

Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII) mengalami perpecahan. Muncul kelom- pok-kelompok baru dari NII ini. Bahkan, terdapat aktivis yang kemudian bergabung dengan ISIS, atau JAD dan kelompok lainnya. “Tapi tetap.Yang lokal dan turun temurun itu NII versus NKRI,” katanya. Ken memaparkan, JAD hanyalah sebuah kelompok demikian juga dengan kelom- pok lainnya. Sementara NII merupakan konsep yang diya- kini oleh kelompok-kelompok radikal ini dapatmenggantikan NKRI yang menurut mereka tagut dengan hukumnya yang jahiliah. Ken pun memaparkan berdirinya kelompok Jamaah Islamiyah (JI) bermula dari pelarianAbuBakarBa’asyirdan AbdullahSungkar keMalaysia karenadiburupihakkepolisian. Saat itu, Ba’asyir merupakan pimpinan komandemen NII wilayah II atau wilayah Jawa Tengah. Di Negeri Jiran itu, Ba’asyir danAbdullahSungkar bertemu dengan Noordin M Top dan dokter Azahari serta tokoh-tokoh radikal lainnya.

Untuk memperluas jaringan organisasi menjadi lebih ber- sifat internasional didirikanlah JI. Meski telah bersifat lintas negara, pengikut JI berbaiat pada NII. Kenmenegaskan,NIIbersi- fat lokal yangbersikukuh ingin menggantiNKRIdanPancasila. Sementara ISIS merupakan organisasi di Suriah yang memiliki teritori dan persoalan yang berbeda. Aktivis radikal Indonesia yang dihubungkan dengan ISIS menurut Ken hanyalah orang-orang yang membantu saudara-saudara mereka. “ISISsendiri itu tidakadadi Indonesia, hanya orang-orang yang maumembantuISIS.Tapi mereka bukan ISISmelainkan dengan berbagai nama seperti JAD dan lainnya,” katanya. Menurut Ken, yang saat ini perlu diwaspadai aparat penegakhukumdanpemerintah adalah kemunculanKhilafatul Muslimin (KM). Organisasi ini berbeda dengan Hizbut Tahrir Indonesia yang telah dibubarkan pemerintah meski memiliki cita-cita yang sama yakni mendirikan khilafah. Bedanya, KM berambisi

mendirikan khilafah Islam di seluruh dunia dengan pusatnya di Lampung, Indonesia. Menurut Ken, kelompok -kelompok radikal yang saat ini ada di Indonesia berhubungan dengan kelompok KM yang dipimpin Abdul Qadir Hasan Baraja. Abdul Qadir Baraja sendiri pernah dua kali dibui atas kasus teror. Mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom JI JawaTimur, Ali Fauzi Manzi mengatakan bahwaseranganyangdilakukan terorisdiMapoldaRiauterdapat korelasinya dengan serangan para teroris di Surabaya, Jawa Timur. “Korelasi jaringan bisa saja terjadi tetapi korelasi ideologi pasti,” ujarAli, Jumat (18/5). Dari beberapa teroris yang berhasil ditangkap akhir-akhir ini, katanya, paling banyak di antara mereka berasal dari jaringan JAD. Penangkapan di beberapa tempat tersebut sangatterkaitdengankerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok serta peristiwa bom di Surabaya. Hal tersebut juga merupakanpenangkapanparalel yang bagian dari penyelidikan polisi.[D-14/FAR/C-6/F-5]

hidupan. Namun, sekitar 500 orang kembali ke Indonesia, karena tidak kerasan atau karena tertangkap. Mereka ini yang perlu mendapatkan pemantauan pemahaman mereka takfiri , sebutan bagi mereka yang menuding penganut agama lain sebagai kafir dan murtad. Pegebom gereja di Surabaya sekaligus pimpinan JADSurabaya, Dita Oeprianto, adalah alumnus Suriah. Pelaku peledakan lain di Surabaya juga merupakan satu kelompok JAD. Namun, pelakupenyerang- an di Mapolda Riau, disebut polisi dari kelompok Negara IslamIndonesia (NII). Menurut pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, kelompok-kelompok radikal di Indonesia memiliki ideologi yangsamadenganNII. “Hampirsemua.Karenamereka padadasarnyameneruskanper- juanganKartosoewirjo (pendiri NII). Persoalan radikalisme di Indonesiakembali padapermu- suhan awal, NII versus NKRI. Dan di lapangan mereka bisa berafiliasi dengan siapa saja,” kata Ken, Jumat (18/5). Ken memaparkan, dalam perjalanannyaNIIdenganDarul

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker