ID161027

kamis 27 oktober 2016

24

Investor Daily/ant

Hal itu juga disebabkan oleh pen- ingkatan NPL dari sektor pertamban- gan yang belum pulih. Meski demikian, untuk menganti- sipasi peningkatan NPL ini, BCA sudah menambah biaya pencadangan sebesar Rp 3,1 triliun sehingga total pencadangan sampai September 2016 sebesar Rp 11,3%, naik 47,8% dari peri- ode September 2015. Begitu pula dari sisi coverage ratio , pada September 2016 sudah mencapai 201%. “Kami harapkan dengan adanya tambahan pencadangan bisa menekan NPL yang saat ini mulai menurun di level 1,5%,” kata dia. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BCA sampai September 2016 tercatat sebesar Rp 493,07 triliun atau naik 6,7% diband- ingkan September tahun lalu. Jahja mengungkapkan, sebagai transactional banking , perseroan tetap menjaga rasio current accounts and saving accounts (CASA) jauh lebih tinggi dibandingkan deposito, yakni 78,2% berbanding 21,8%. Dari ketiga komponen DPK tersebut, dana giro meningkat paling tinggi, yakni 10% ke angka Rp 126,2 triliun. Giro tum- buh 8,4% dan deposito yang sedikit menurun 0,7%. Dengan memper timbangkan penghimpunan DPK dan komponen dana lain serta penyaluran kredit terse- but, rasio kredit terhadap simpanan ( loan to funding ratio /LFR) BCA pada September 2016 relatif stabil di angka 77,3%. Bahkan, menurun diband- ingkan periode September 2015 yang sebesar 78,1%. Selain pendapatan bunga bersih, pendapatan non bunga juga berkem- bang signifikan dengan perolehan sebesar Rp 9,7 triliun, meningkat 19% dibandingkan periode sebelumnya. Pendapatan dari bisnis treasury dan layanan di perdagangan ekspor impor menjadi kontributor dari pendapatan non bunga tersebut.

Oleh Gita Rossiana

Investor Daily/DAVID

JAKARTA – PT Bank Central Asia (BCA) Tbk men- catat perolehan laba bersih hingga kuartal III-2016 sebesar Rp 15,1 triliun atau tumbuh 13,2% diband- ingkan periode sama tahun lalu Rp 13,4 triliun. Kon- tibutor terbesar perolehan laba perseroan berasal dari pendapatan bunga bersih.

Rabu (26/10). Dengan pertumbuhan yang statis ini, jelas Jahja, perseroan tidak men- argetkan pertumbuhan kredit terlalu optimistis sampai akhir tahun. Jahja memprediksi pertumbuhan kredit secara konservatif sampai akhir 2016 sekitar 5% dan moderat 6%. “Tahun depan, kami juga tidak berani mem- proyeksi terlalu tinggi, paling sekitar 8%,” kata dia. Dari segi portofolio kredit, segmen korporasi masih menyumbang kredit ter tinggi, yakni sebesar Rp 133,3 triliun atau 34,51% dari total kredit. Namun apabila dilihat dari pertum- buhan kredit, segmen konsumer mencatat pertumbuhan kredit 8,1% secara year on year (yoy). Sedangkan untuk kredit komersial, pertumbuhannya hanya sebesar 4,4% yoy. “Pada kuartal III-2016, pertum- buhan kredit konsumer mencatat per- tumbuhan kredit tertingi, sedangkan untuk kredit korporasi banyak terjadi repayment sehingga pertumbuhan secara year to date menurun 5,6%,” jelas dia. Sementara itu, BCA mencatat kenaikan non performing loan (NPL) pada kuartal III-2016 di angka 1,5%, dibandingkan periode sama tahun lalu 0,7%. Peningkatan NPL ini karena nasabah ritel banyak yang terlambat membayar dari jadwal sebelumnya.

Presiden Direktur BCA Jahja Se- tiaatmadja menjelaskan, sampai peri- ode tersebut pendapatan bunga bersih BCA sebesar Rp 29,95 triliun atau naik 14% secara year on year (yoy). Pertumbuhan kredit menjadi faktor utama dari peningkatan pendapatan bunga bersih tersebut. Menurut dia, selama periode Janu- ari hingga September 2016, BCA mencatatkan penyaluran kredit se- besar Rp 386,24 triliun atau naik 5,8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Namun jika dibandingkan dengan periode Desember tahun lalu, pertum- buhan kredit tersebut turun 0,5%. Jahja mengungkapkan, per tum- buhan kredit pada September 2016 memang sedikit flat dibandingkan periode akhir tahun lalu. Hal ini karena tingginya permintaan kredit bertenor pendek dari nasabah korporasi pada tahun lalu. Pertumbuhan kredit jus- tru meningkat pada periode kuartal kedua, yaitu untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan kredit menjelang lebaran. “Tren peningkatan pertumbuhan kredit ini tidak terjadi pada periode berikutnya, sehingga pada Juli, Agus- tus, hingga September, pertumbuhan kredit justru flat akibat permintaan yang melemah,” ungkap Jahja pada acara pemaparan kinerja BCA kuartal III-2016 di Hotel Kempinski, Jakarta,

Obligasi Berkelanjutan Bank BRI Direktur Keuangan Bank BRI Haru Koesmahargyo (kiri) berbincang dengan Director Investment Banking Danareksa Sekuritas Boumediene H Sihombing (kanan), saat penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan II Bank BRI Tahap I, Jakarta, Rabu (26/10). PT Bank Rakyat Indonesia Tbk melakukan Penerbitan Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan BRI Tahap I Tahun 2016 senilai Rp 7 triliun. Ini merupakan rangkaian dari Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI dengan total nilai emisi sebesar Rp 20 triliun. Dana yang diperoleh dari hasil penerbitan obligasi ini akan dipakai untuk ekspansi kredit.

obligasi tahun depan,” ujar dia di sela jumpa pers penerbitan obligasi PUB II Tahap I BRI di Jakarta, Rabu (26/10). PUB II Tahap I BRI mendapat per- ingkat idAAA dari Pefindo Indonesia. Obligasi bernominal Rp 7 triliun ini terdiri atas lima seri dengan beragam tenor dan target indikasi bunga. Obligasi tenor terpendek perseroan, yakni seri A bertenor 370 hari dengan target indikasi bunga kisaran 6,50- 7,25%. Sementara itu, untuk PUB Seri E bertenor 10 tahun dengan indikasi bunga 8,15-8,90%. (dka)

obligasi hingga Rp 20 triliun dalam tempo tiga tahun. Berkaitan dengan itu, setelah melaksanakan PUB II Tahap I, BRI masih leluasa untuk melakukan aksi korporasi lagi sampai tahun 2018. Mengenai PUB, Har u mem- perkirakan sisa plafon akan dipecah menjadi Rp 7 triliun dan Rp 6 triliun. “Pada kuartal IV-2016 kami tidak ada lagi penerbitan obligasi. Aksi korpor- asi lanjutan akan perseroan lakukan lagi mulai tahun 2017. Kami masih perlu melihat situasi, sehingga belum tahu waktu pasti untuk penerbitan

JAKARTA – PT Bank Rakyat In- donesia (Persero) Tbk (BRI) akan kembali menerbitkan obligasi dalam dua tahap dengan total nominal Rp 13 triliun. Obligasi tersebut merupakan rangkaian dari plafon penawaran umum berkelanjutan (PUB) II BRI sebesar Rp 20 triliun. Sebelumnya, perseroan melaksanakan PUB II Ta- hap I sebesar Rp 7 triliun. Direktur Keuangan dan Treasury BRI HaruKoesmahargyomengatakan, perseroan sudahmendapat persetujuan dari regulator untuk menerbitkan

Made with FlippingBook - Online catalogs