ID170502

SELASA 2 MEI 2017

24

ingkan bank lain. Pasalnya, bank tersebut ingin menggenjot ekspansi kreditnya sehingga membutuhkan dana yang lebih besar. “Kalaupun ada gejala nasabah memindahkan deposito ke bank lain dengan suku bunga besar bukan merupakan gejala umum, itu merupakan gejala kasualistis saja, karena mereka membutuhkan dana yang besar untuk mem- back up per- tumbuhan kredit,” terang dia. Salah satu bank yang mencatat peningkatan deposito yang cukup besar adalah PT Bank Ganesha Tbk. Berdasarkan keterangan ter tulis yang diterima Investor Daily , dana deposito perseroan meningkat 60% ke angka Rp 1,84 triliun pada Maret 2017. Sedangkan total DPKmencapai Rp 2,5 triliun, tumbuh 21% (yoy). Sementara pertumbuhan kredit perseroan di periode yang sama tercatat 72% (yoy) menjadi Rp 2,44 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perb- ankan OJK Nelson Tampubolon men- jelaskan, berdasarkan rasio alat likuid terhadap non core deposits (AL per NCD), semua bank masih berada di batas normal, yakni di atas 50%. Pada Maret 2017 rasio AL terhadap NCD mencapai 96,69% atau turun diband- ingkan posisi Februari 2017 yangmen- capai 100,12%. “Likuiditas perbankan masih longgar, rasio AL per NCD masih berada dalam batas normal, di kelompok bank tertentu malah ada yang berada di atas 100%,” kata dia. Terlebih lagi, kelebihan likuiditas perbankan yang ada di BI masih men- capai Rp 340 triliun. “Artinya, bank masih mengalami kelebihan likuditas buktinya masih ada dana Rp 340 triliun yang diserap BI dari bank untuk oper- asi moneter,” ujar dia. Meski demikian, dia memang meli- hat ada beberapa bank yangmenghim- pun deposito lebih tinggi diband-

Meski pada Februari 2017 turun ke angka 9,21%, padaMaret 2017 kembali tumbuh ke angka 9,8%. Begitu pula dengan rasio alat likuid terhadap DPK, pada Desember 2016 tercatat sebesar 20,9%, lalu menjadi 21,8% pada Januari 2017, dan 22,2% pada Februari 2017. “Peningkatan rasio alat likuid sejalan dengan ekspansi proyek pemerintah dan masuknya uang kartal ke sistem perbankan,” kata dia. Sementara itu, berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Februari 2017, dana deposito yang terdapat pada BUKU II mencapai Rp 357,26 triliun, naik dibandingkan periode Februari 2016 yang mencapai Rp 328,35 triliun. Sedangkan di BUKU IV, dana deposito hingga Februari 2017 mencapai Rp 877,97 triliun, meningkat diband- ingkan Februari 2016 yang sebesar 726,98 triliun.

99% nomor rekening berada dalam wilayah penjaminan LPS. “Selama kuartal I-2017, pergerakan dana dalam keadaan normal, tidak ada pergerakan mutasi dana yang mengkhawatirkan,” jelas dia. Sementara itu, berdasarkan data uang beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), total simpanan perb- ankan hingga Maret 2017 mencapai Rp 4.780,2 triliun, tumbuh 9,8% secara year on year (yoy). Dari nilai tersebut, sekitar Rp 2.201,9 triliun dalambentuk deposito, Rp 1.507,3 triliun tabungan, dan Rp 1.071,1 triliun giro. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D W Martowardojo mengun- gkapkan, likuiditas perbankan yang ditandai dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) relatif terjaga pada awal 2017. Pada Desember 2016, pertumbuhan DPK mencapai 9,6% dan naik ke angka 10,04% pada Januari 2017.

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat porsi deposito terhadap simpanan perbankan pada kuartal I-2017 meningkat 33%, meningkat dibandingkan kuartal I-2016 yang sebesar 29%. Peningkatan dana deposito terutama terlihat pada kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II dan IV.

kelas bank tersebut ekspansi kred- itnya cukup agresif ,” kata Halim di Jakarta, akhir pekan lalu. Meski terjadi peningkatan dana de- posito, Halim melihat mobilisasi dana perbankan selama kuartal I-2017 ter- hitung normal. Jumlah rekening sim- panan nasabah meningkat dan sekitar

KetuaDewanKomisioner LPSHalim Alamsyah menjelaskan, peningkatan dana deposito karena perbankan harus membiayai ekspansi kredit, sehingga membutuhkan dana dan deposito se- bagai pilihan yang paling cepat. “Paling banyak terjadi pada BUKU II dan BUKU IV, karena pada segmen

Investor Daily/ant

akan mendapatkan pelatihan serta pemantauan terkait mekanisme pen- cairan bantuan dengan memanfaatkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan mesin EDC. Nantinya setiap agen akan melayani sekitar 250 KPM. Khusus pada program BPNT, Kartini mengungkapkan, pihaknya juga bekerjasama dengan pihak ke- lurahan setempat dan Bulog terkait pendampingan KPM serta pengadaan bahan pangan bersubsidi seperti beras dan gula. “Agen-agen bank ini juga mem- berikan layanan keuangan tanpa kan- tor cabang bank kepada masyarakat yang belum memiliki akses kepada layanan keuangan untuk transaksi perbankan terbatas. Harapannya, para agen ini juga dapat meningkatkan literasi keuangan KPM sehingga dapat mendukung program inklusi finansial,” jelas Kartini. Program Coffiesta Sementara itu, Bank Mandiri telah menerbitkan lebih dari 14,3 juta kartu debit dan 4,3 juta kartu kredit. Untuk mendorong peningkatan transaksi kartu debit dan kartu kredit serta Mandiri e-cash, tahun ini perseroan mengadakan program Coffiesta yang digelar di beberapa kota besar di Indonesia seperti di Yogyakarta, Sura- baya, Medan, dan Jakarta. Adapun frekuensi transaksi fin- ansial kartu debit Bank Mandiri pada periode Januari hingga Maret 2017 mencapai 22,2 juta transaksi dengan nilai Rp 15,7 triliun. Sedangkan frekuensi transaksi finansial kartu kredit Bank Mandiri pada tiga bulan pertama 2017 mencapai 9,5 juta tran- saksi dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,5 triliun. Menurut Group Head Consumer Deposits Bank Mandiri Trilaksito Singgih, kerja sama dengan mer- chant-merchant kopi populer dapat mendorong nasabah bertransaksi dengan kartu debit dan kartu kredit Bank Mandiri serta menggunakan Mandiri e-Cash. Tahun ini, Coffiesta akan digelar di Yogyakarta, Sura- baya dan Medan, serta puncaknya akan digelar Jakarta Coffee Week 2017. (c02)

JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berkomitmen men- dukung implementasi program ker- akyatan pemerintah. Hingga April 2017, perseroan telah mencairkan bantuan sosial (bansos) kepada le- bih dari 40 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM), baik dalam skema Program Keluarga Harapan (PKH) maupun program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT). Dari jumlah tersebut, 34 ribu KPM menerima bantuan sosial berskema PKH, berupa uang tunai senilai Rp 1,89 juta per KPM per tahun yang dibagi pembayarannya per triwulan. Sedangkan 22 ribu KPM menerima bantuan sosial BPNT berupa beras dan gula senilai setara Rp 110 ribu per KPM per bulan. Dalam jumlah tersebut, terdapat sekitar 16 ribu KPM yang merupakan penerima bansos PKH dan BPNT. Menurut Direktur Government and Institutional Bank Mandiri Kartini Sally, keterlibatan perseroan dalam penyaluran program bansos pemer- intah merupakan realisasi dukungan Bank Mandiri terkait program Nawa- cita Kabinet Kerja, khususnya dalam perbaikan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kese- jahteraan masyarakat. “Selain mempermudah masyarakat dalam mengakses program ini, kami ingin membantu pemerintah mendapatkan data yang akurat terkait masyarakat kurang mampu,” ungkap Kartini di Ciamis, Jawa Barat, dalam keterangan resmi yang diterima In- vestor Daily , Senin (1/5). Kartini mengatakan, hingga akhir 2017, perseroan berencana akan me- nambah penyaluran bantuan sosial dengan skema PKH kepada sekitar 1 juta KPM. Untuk bantuan sosial BPNT akan disalurkan perseroan kepada 3 juta KPM di 23 wilayah propinsi di Indonesia. Penerima bansos PKH juga merupakan penerima BPNT. Dalam penyaluran bantuan sosial tersebut, Kar tini mengaku, Bank Mandiri akan melibatkan e-warung dan agen Rumah Pangan Kita (RPK) serta sekitar 10 ribu agen bank di wilayah-wilayah yang menjadi target penyaluran. Para agen bank tersebut

Apresiasi Nasabah BNI Emerald Direktur Konsumer Banking BNI Anggoro Eko Cahyo (kiri) memberikan penghargaan kepada Nasabah BNI Emerald Ibu Tri Sutrisno pada acara BNI Emerald Customer Gathering di Jakarta, pekan lalu. BNI Emerald merupakan satu-satunya layanan perbankan nasional di Indonesia yang memberikan layanan Global Wealth Management yang dapat diman- faatkan melalui Kantor Cabang BNI di London, New York, Singapura, Hong Kong, Tokyo, Osaka, Seoul, dan Myanmar.

kredit per Maret 2017 tercatat Rp 24,27 triliun relatif tidak tumbuhdibandingkan periode sama tahun, sebelumnyakarena Bank DKI selektif dalam menyalurkan kredit, penataan proses bisnis, dan pen- ingkatan mitigasi risiko. Bank DKI juga tengah fokus mem- perbai perkreditan, yang terlihat dari penurunan rasio NPL gross dari 8,26% per Maret 2016 menjadi 5,37% per Maret 2017. NPL net juga membaik dari 3,99% per Maret 2016 menjadi 2,86%. (ris)

carkan pemasaran produk tabungan, utamanya melalui loyalty program, yakni Hajatan yang undiannya akan dilaksanakan pada Mei 2017. Selain program Hajatan, pen- ingkatan DPK dilakukan dengan membangun sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta serta BUMDDKI. Hal ini membawa hasil pada meningkatnya giro sebesar 35,11% dari Rp 8,13 tri- liun per Maret 2016 menjadi Rp 10,98 triliun per Maret 2017. Terkaitdengankreditdanpembiayaan,

Maret 2017. “Peningkatan DPK tersebut salah satunya didorong oleh pelaksanaan program loyalty nasabah, yakni Hadiah Kejutan (Hajatan) yang telah dimulai sejak triwulan IV-2016,” kata Kresno dalam siaran pers yang diterima In- vestor Daily , akhir pekan lalu. Kresno menjelaskan, por tofolio tabungan tumbuh sebesar 6,62% dari periodeMaret 2016 sebesar Rp 5,95 tri- liunmenjadi Rp 6,34 triliun padaMaret 2017. Bank DKI juga terus menggen-

JAKARTA – PT Bank DKI mencata- tkan aset per Maret 2017 mencapai Rp 45,92 triliun, tumbuh 21,86% diband- ingkan periode sama tahun 2016 sebesar Rp 37,68 triliun. Sedangkan laba bersih Bank DKI per Maret 2017 sebesar Rp 161 miliar. Direktur Utama Bank DKI Kresno Sediarsi mengungkapkan, pertum- buhan aset didorong oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 20,37%, dari Rp 27,69 triliun per Maret 2016 menjadi Rp 33,33 triliun per

Investor Daily/ ANTARA FOTO/Audy Alwi/ama/17

anak usaha baru danmemperkuat anak usaha lama sebesar Rp 2-3 triliun. “Alokasi investasi bisa lebih besar untuk anak usaha dan sisanya untuk investasi yang baru,” ujar dia. Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membentuk perusa- haan switching , yakni PT Jalin Pembayaran Nusantara untuk mendukung sistem pem- bayaran di perusahaan holding bank milik BUMN. Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menjelaskan, dalam skema holding bank yang akan terbentuk, perusa- haan switching ini berada di bawah induk usaha, yakni Danareksa. Selain perusahaan switching , di dalam holding tersebut terdapat pula PT Pegadaian (Persero), PT PNM (Persero), dan empat bank BUMN. Sementara itu, untuk bank syariah yang dimiliki bank BUMN, Kementerian BUMN juga memiliki skema tersendiri. Gatot men- jelaskan, saat ini ada tiga anak usaha bank BUMN yang berbentuk bank umum syariah (BUS) dan satu bank syariah berbentuk unit usaha syariah (UUS). Keempat bank syariah tersebut akan disatukan menjadi dua bank syariah saja. ”Apakah nanti Bank Syariah Mandiri disatukan dengan BNI Syariah atau BTN Syariah dengan BRI Syariah, setelah itu baru cari mitra strategis,” ungkap dia. (gtr)

value BTN. Pasalnya, apabila DIM diakuisisi sebelum pembentukan holding berpotensi mempengaruhi value BTN. Akibatnya, nilai akuisisi saham pemerintah ataupun inbreng oleh Danareksa ikut berubah. “Hal ini akan mengganggu proses holding- isasi karena harus melakukan due dilligence ulang ter- hadap value BTN,” ungkap dia. Untuk proses pembentukan anak usaha lain, BTN tidak melakukan akuisisi. Khusus untuk pembentukan asuransi jiwa, pihaknya akanmenggandeng PT Asuransi Jasa Indone- sia (Persero) atau Jasindo. Sampai saat ini, proses pembentukan perusahaan tersebut terus berjalan. Sementara itu, Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, proses pem- bentukan anak usaha bar u tidak akan menganggu proses holding bank BUMN. Pasalnya, tidak akan ada perubahan di permodalan BNI. Perubahan hanya terjadi di level holding , yakni saham pemerintah berganti menjadi saham Danareksa. Direktur BNI Rico Rizal Budidarmo me- nambahkan, tahun ini perseroan berencana membentuk tiga anak usaha baru, yaitu asur- ansi umum, modal ventura, dan aset manaje- men. Perseroan sudahmemiliki bank syariah, perusahaan sekuritas, perusahaan pembiay- aan, asuransi jiwa, dan perusahaan remitansi. Adapun alokasi investasi untuk membentuk

JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menjajaki untuk mendirikan anak usaha. Dalam hal ini, BTN dan BNI mengupayakan agar pendirian anak usaha tidak mengganggu rencana pemerintah yang akan mendirikan holding bank BUMN. Direktur BTN Iman Nugroho Soeko men- gungkapkan, tahun ini pihaknya berencana membentuk empat anak usaha baru. Adapun keempat anak usaha yang akan dibentuk ant- ara lain perusahaan aset manajemen melalui akuisisi terhadap Danareksa Investment Management (DIM), perusahaan pembiay- aan atau multifinance , asuransi jiwa, dan asuransi kerugian. Iman menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan alokasi dana sebesar Rp 700 miliar untuk proses pembentukan anak usaha. Namun, proses pembentukan anak usaha tersebut ter tunda karena masih menunggu terbentuknya holding perbankan BUMN. “Arahan dari pemegang saham dwiwarna memang harus menunggu sampai terbentuknya holding perbankan, agar tidak mengganggu proses pembentukan holding tersebut,” jelas dia kepada Investor Daily , belum lama ini. Faktor yang menyebabkan tertundanya proses akuisisi adalah pengaruh terhadap

Best of the Best Inacraft Award 2017 Senior Manager Brand Communication BNI Life Intan Asmara Dewi (kanan) berbincang dengan pemen- ang kategori Best of the Best Inacraft Award 2017 di booth pemenang pada Pameran Inacraft 2017, di Jakarta, pekan lalu. BNI Life memberikan penghargaan kepada tujuh pemenang Inacraft Awards 2017 berupa polis asuransi jiwa perisai prima dengan nilai uang pertanggungan masing-masing Rp 1 miliar sebagai dukungan perseroan dalam mendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia.

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker