SP170304

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 4-5 Maret 2017

Akom Melawan Munas Bersama?

S alah satu organisasi Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) akan menggelar musyawa- rah nasional (munas) bersa- ma di Surabaya, 31 Maret hingga 2 April 2017. Munas tersebut dimaksudkan untuk menyatukan tiga kepengu- rusan SOKSI yang selama ini terpecah, yakni yang dipimpin Ade Komarudin (Akom), pimpinan Rusli Zainal, serta yang dipimpin Lawrence TP Siburian. massa (ormas) pendiri Partai Golkar, Sentral

Informasi yang diperoleh SP menyebutkan, Akom akan melawan rencana munas tersebut. Pasalnya, munas bersama itu dianggap seba- gai upaya Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memotong kekua- saan Akom. “Akom curiga munas itu untuk menggu- lingkan dirinya dari SOKSI. Akom berjuang sedemikian rupa supaya munas bersama batal dila- kukan,” kata sebuah sum-

ber di Jakarta, Sabtu (4/3). Ia menjelaskan Akom akan berupaya agar legiti- masi munas yang dilakukan tidak kuat. Dia sudah

Dia juga mengemukakan, kalaupun munas bersama jadi digelar, Akom akan merasa tetap ketua umum SOKSI yang sah. Pasalnya SOKSI yang dipimpinnya sudah mendapat pengesahan hukum dari negara. “Akom tidak peduli lagi pengakuan dari Golkar. Karena selama Novanto memimpin Golkar, SOKSI Akom tidak diakui. Akom akan manfaatkan SOKSI- nya untuk melawan Novanto di munas Golkar berikut- nya,” tuturnya. [R-14]

menginstruksikan para pendukung- nya agar tidak hadir munas. “SOKSI yang sah dan

eksis saat ini yang dipimpin Akom. Dua kepengurusan lainnnya sebenarnya tidak punya anggota. Jadi Akom menggalang kekuatan supa- ya tidak hadir di munas,” ujarnya.

Java Jazz Dongkrak Pariwisata Indonesia

[JAKARTA] Penggemar musik dari sekitar 30 negara m e n g h a d i r i J a k a r t a Internasional Java Jazz ke-13 yang digelar di Kemayoran, Jakarta, Jumat (3/3) hingga Minggu (5/3). Dari tahun ke tahun, jumlah penonton terus meningkat. Dengan menghadirkan 1.000musisi, pengunjung Java Jazz tahun ini diperkirakan menembus 120.000 orang, separuhnya adalah wisatawan mancanegara. Tak pelak, Java Jazz yang diprakarsai Peter F Gontha adalah pionir music- tourism untuk mendongkrak jumlah wisman di Tanah Air. Festival jaz yang sekaligus mengangkat martabat bangsa Indonesia ke level dunia. AnggotaKomisiHubungan Internasional DPR, Andreas Hugo Pareira mengatakan, pihaknya mendukung page- laran musik berskala interna- sional untuk semakin diper- banyak di Indonesia. “Kalau bisa, memang ajang-ajang berskala internasional lebih diperbanyak. Sehingga, tingkat kunjungan ke Indonesia, seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya, semakinmening- kat,” kataAndreas kepada SP di Jakarta, Sabtu (4/3). Menurutnya, ada berbagai even internasional untuk kegiatan seni, olahraga, mau- pun pertemuan internasional yang pantas dilaksanakan di Jakarta. Misalnya, konser Java Jazz yang memang digelar rutin dilaksanakan. MenurutAndreas, ajang-a- jang internasional itu tentu akan makin meramaikan aktivitas pariwisata di berbagai kota besar di Indonesia. “Tentu, dengan demikian, ekonomi akan bergerak dan Indonesia akansemakindikenalpanggung internasional,” imbuhnya. Saat ini, pemerintahmenar- getkan jumlah wisawatan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia sebanyak12 jutaorang.Dengan ajang-ajang internasional, seperti Java Jazz, Tour de Singkarak, danTour de Flores, bukan tidak mungkin target

itu terlampau hingga 20 juta wisman. Direktur Utama Java Festival Production Dewi AL Gontha mengaku optimistis jika festival tahunanyangke-13 ini bakal mencetak traffic pengunjung hingga 120.000 orang, dengan sebagianmeru- pakanwisman.Angka tersebut naik 15% dibandingkan jum- lah pengunjung tahun lalu. “Target kenaikan tersebut sejalan dengan kapasitas JIExpo, tempat penyelengga- raan Java jazz, agar pengunjung tetap dapat menikmati festival dengan suasana nyaman,” ucapnya di sela gelaran hari pertama Java Jazz Festival di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (3/3). Pendiri Java Jazz Festival Peter F Gontha mengatakan, pihaknya konsistenmengang- kat martabat Indonesia di mata dunia dengan menunjukkan negara ini sudah mempunyai budaya yang tak kalah dengan yang lain, yakni bisa menga- komodasi budaya universal. Dengan semakin mendapat pengakuan dunia dan kian populer, event tahunan tersebut bahkan diminati Singapura, yang ingin Java Jazz digelar di NegaraKota Singa tersebut. “Indonesia yang memiliki kebudayaan-kebudayaan daerah yang oke. Namun, kita juga menunjukkan sudah mempunyai budaya yang tidak kalah dengan yang lain, yang bisa mengakomodasi budaya universal. Tahun ini, kami juga mengedepankan pemerataan, dengan tidak ada special show ,” kata Peter di sela Gala Dinner Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (2/3). Industri Kreatif Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai, kegiatan seni internasional mempunyai kontribusi besar terhadap industri kreatif di Tanah Air. Di sisi lain, industri kreatif sendiri berkontribusi sebesar

Investor Daily / Emral Direktur BNI Anggoro Eko Cahyo (tengah) berfoto bersama dengan Direktur Java Festival Production Dewi Gontha (kiri), Pendiri Java Jazz, Peter F Gontha (kedua dari kanan), VP Marketing Garuda Indonesia Selfie Dewiyanti (kedua dari kanan), Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta Jeje Nurjaman (kanan) saat pemberian lukisan Sergio Mendez, Jakarta, Rabu (1/3).

7,05% terhadap perekonomi- an nasional, lebih tinggi dari jasa lainnya, seperti kelompok jasa perusahaan, jasa pendi- dikan, dan jasa kesehatan. Dari segi penyerapan tenaga kerja, kontribusinya mencapai 10,7% dari total lapangan kerja. “Khusus untuk ajang-ajang internasional, seperti Java Jazz ini, sangat besar multiplier effect- nya,” kata Bhima kepada SP di Jakarta, Sabtu (4/3). Dikatakan, industri jasa akomodasi, seperti hotel dan restoran, akan terdorong tum- buh, demikian juga jasa transportasi. Di tengah lesunya ekonomi, ajang-ajang seperti Java Jazz, menurutnya, bisa menjadi alternatif pendorong pertumbuhan. Bagi Indonesia, Java Jazz merupakan salah satu bukti ekonomi kreatif bisa membe- ri keuntungan bagi bangsa ini. Tak salah jika Presiden Joko Widodo (Jokowi)memisahkan “ekonomi kreatif” dari Kementerian Pariwisata, karena potensinya yang dah- syat, sehingga perlu badan tersendiri untukmenggarapnya. Badan Ekonomi Kreatif bisa menjadikan Java Jazz sebagai model aktivitas

kreatif untuk mendatangkan wisatawan asing, sekaligus keuntungan ekonomi. Dunia yang semakin terbuka dan hampir tanpa batas ini mem- buat pergerakan manusia dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia yang lain semakin mudah dan murah. Apalagi, hanya dalam lingkup regional Asia dan Asia Tenggara. Kondisi ini mendorong pemerintah harus lebih kreatif menciptakan kegiatan-kegiat- an untuk menyedot lebih banyak wisatawan asing. Semua itu bisa terwujudmela- lui kerja sama yang harmonis antaraKementerianPariwisata, Badan Ekonomi Kreatif, BUMN, kementerian terkait, serta komunitas dan insan kreatif lainnya. Salah satu industri dalam ekonomi kreatif yang cukup memberi andil besar adalah industri musik. Industri musik tidak dapat dipandang sebelah mata, karena ternyatamemiliki peran yang cukup signifikan bagi perekonomian nasional dan memiliki efek berganda bagi aktivitas perekonomian lainnya. Menurutnya, potensi kon- tribusi industrimusik Indonesia

ke depan akan semakin meningkat. Indonesia, lanjut- nya, merupakan negara yang mempunyai potensi tidak terbatas untuk mengembang- kan industri kreatif, karena orang kreatif di Indonesia memiliki aset yang luar biasa, yaitu warisan budaya yang tercermin dalam semua indus- tri kreatif, termasuk di dalam- nya musik. Ekonom dari Universitas I ndone s i a (UI ) Be r l y Martawardaya mengatakan, peran badan ekonomi kreatif sangat ditunggu dan besar potensinya. Menurutnya, bidang yang memiliki poten- si tinggi untuk mendukung ekonomi kreatif adalah sinet- ron, film, musik, dan fashion, apalagi di era pasar bebas ASEAN mendatang. Terkait Java Jazz, Berly menilai ajang musik itu bisa menjadi seperti North Sea Jazz Festival di Belanda. “Java Jazz masih memiliki potensi besar untuk ditingkatkan. Nantinya, kalau sudah menjadi event yang besar, maka akan banyak turis internasional yang akan datang, menginap, dan belan- ja, sehingga itu mendorong perekonomian,” ujarnya. [ID/MJS/O-2]

Made with FlippingBook Online newsletter