SP181103

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 3-4 November 2018

Publik Jangan Takut Terbang Keselamatan Penerbangan RI di Atas Rata-rata

Pemimpin Umum: Sinyo H Sarundajang (Nonaktif) Wakil Pemimpin Umum: Randolph Latumahina

SP

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Primus Dorimulu

[JAKARTA] Angkutan udara merupakan jasa angkutan yang relatif paling lengkap standar ke- selamatannya dibandingkan mo- da angkutan lainnya. Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan penerbangan lebih sedikit diban- dingkan moda pelayaran dan angkutan jalan. Tingginya ting- kat fatalitas pada satu kasus ke- celakaan penerbangan yang menjadikan peristiwa kecelaka- an pesawat mendapat perhatian besar dari masyarakat. Kasus kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh da- lam penerbangan dari Jakarta me- nuju Pangkalpinang, Senin (29/10) lalu, diharapkan tidak menimbul- kan trauma pada masyarakat. Pasalnya, selain, pengawasan oleh regulator, pihak maskapai pener- bangan juga sangat berkepenting- an dengan aspek keselamatan, ka- rena ada catatan keselamatan ( sa- fety record ) yang menjadi dasar penilaian layak tidaknya maskapai dalam beroperasi. Pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman membe- narkan bahwa angkutan udara me- rupakan jasa angkutan yang highly regulated (diperlengkapi dengan banyak persyaratan), dibanding- kan moda lainnya. Namun, meski secara teori lebih aman, kasus ke- celakaan dari waktu ke waktu bisa saja terjadi. Untuk itu, pelaku in- dustri jasa penerbangan dan regu- lator harus bekerja keras untuk menekan jumlah kecelakaan. Hingga saat ini, pesawat udara merupakan moda transportasi yang paling aman. “Kecelakaan itu hanya bisa ditekan, tidak bisa dieliminasi sampai nol jumlahnya. Selama pesawat tidak tiap hari jatuh, (masyarakat) jangan takut naik pesawat,” ucapnya kepada SP , Sabtu (3/11). Pada peristiwa kecelakaan pe- sawat, menurutnya, umumnya menjadi perhatian banyak pihak, karena jumlah korban cukup ba- nyak, bisa mencapai ratusan orang dalam satu kasus kecelakaan pesa- wat. Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo juga menjelaskan, indus- tri penerbangan Indonesia sudah dalam kondisi baik, bahkan, kon- disi sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 2007. “Jadi, jangan takut naik pesawat. Semua sudah diatur dengan aman, tapi untuk apapun yang terjadi ke de- pan memang tidak bisa dipredik- si,” ungkapnya. Pengamat penerbangan Alvin Lie menambahkan, meski meng- utamakan efisiensi, bukan berarti penerbangan berbiaya rendah ( low cost carrier /LCC) menga- baikan keselamatan. Untuk aspek keselamatan penerbangan yang mencakup perawatan dan penga- daan suku cadang, baik LCC ma- upun maskapai full service berla- ku hal yang sama. Kelayakan operasional pesawat mengacu pa- da standar yang tertuang di dalam Civil Aviation Safety Regulation

(CASR), dan berlaku untuk se- mua jenis penerbangan sipil. Efisiensi biaya yang dilaku- kan LCC adalah memberikan pe- layanan seminimal mungkin. Misalnya, penumpang tidak dibe- ri makanan dan minuman selama penerbangan. Selain itu juga me- niadakan sejumlah fasilitas saat check in , dan menerapkan biaya jika penumpang memilih kursi. “Jadi, tarif murah tidak me- ngurangi perangkat keselamatan penumpang. Dari segi safety se- mua sama, baik LCC, medium maupun full service . Dari segi perawatan pesawat, kualifikasi pilot dan teknisi, itu sama semua. Standar keselamatan sama se- mua, kelaikan udaranya sama, dan sertifikasinya juga sama. Semua boleh terbang kalau da- lam keadaan baik. Semua mas- kapai juga berkepentingan me- ngejar safety record, ” katanya. Perbandingan Korban Jiwa Kecelakaan Sektor Transportasi Tahun 2017 Soal regulasi, Alvin pun me- nilai, sudah memenuhi persyarat- an standar internasional dan nasi- onal. Namun, dia mengakui yang menjadi persoalan adalah pene- gakan serta implementasinya apa- kah sudah konsisten dan disiplin. Adapun, dari segi keselamatan, bisa dilihat dari statistiknya. “Regulasi penerbangan sa- ngat ketat, mulai dari regulasi internasional, nasional, sampai maskapai masing-masing punya aturannya tersendiri. Tidak ha- nya soal pesawat, tapi juga pilot, yang mana setiap enam bulan di- uji kesehatannya, uji simulator, dan izin pilot tidak berlaku untuk semua jenis pesawat. Jadi tidak serta-merta bisa pindah seenak- nya, kalau mau harus sekolah la- gi. Bahkan, awak kabin juga ha- rus memiliki lisensi yang berlaku untuk jenis pesawat tertentu. Ini semuanya sama baik LCC atau- pun full service ,” jelasnya. Dengan demikian, jika ada kecelakaan pesawat, maka hal itu kembali ke perihal kedisipli- nan manusianya. Sebab, aturan dan standar operasional prosedur (SOP) sudah ada, hanya bagai- mana pelaksanaannya saja. Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air Retri Maya mengatakan, semua maskapai tentunya akan menge- depankan aspek keselamatan dan tidak ada hubungannya apakah itu LCC, medium atau full servi- ce . Semua maskapai harus me- menuhi ketentuan CASR. Ia menjelaskan, sejak pesa- wat dirancang dan diproduksi, dikerjakan oleh ahli yang kom- peten, serta menggunakan tekno- logi yang paling mutakhir pada w Moda Kereta Api : 0 w Moda Penerbangan : 6 w Moda Pelayaran : 52 w Moda Darat : 25.865 Sumber:KNKTdanKorlantasPolri

zamannya dengan keselamatan sebagai acuannya. Begitu pesa- wat diterima oleh operator, selu- ruh operasi penerbangan khusus- nya pengoperasian pesawat uda- ra ditangani oleh orang-orang yang bersertifikat. “Setiap pengoperasian pesa- wat udara, diatur dengan regulasi melalui SOP, yang tujuan atau mu- aranya juga safety , bukan yang la- in. Bahkan demi safety , sebelum- nya diperiksa dari sisi aviation se- curity -nya. Artinya setiap kegiatan penerbangan termasuk orang-o- rang yang menanganinya wajib berpedoman pada ketentuan yang ada, dengan prioritas keselamatan. Kesimpulannya adalah engineer, dispatcher , ATC dan pilot sebagai penanggung jawab akhir harus ya- kin bahwa yang dilakukannya pas- ti aman, tidak boleh ragu serta sa- ling percaya di antara pemegang lisensi transportasi udara. Ketentuan ini berlaku dan dilaku- kan oleh maskapai apa saja, tidak ada pengecualian,” tegas Maya. Terkait struktur biaya dalam maskapai LCC, dia menyebut- kan mayoritas tersedot untuk ele- men avtur yakni di atas 40%, lalu diikuti perawatan dan suku ca- dang, serta lainnya. Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo menegaskan, aspek keselamatan dan keamanan harus berada da- lam kondisi yang sempurna da- lam dunia penerbangan. Citilink Indonesia diakuinya secara rutin terus mengecek bahwa pener- bangannya sesuai dengan SOP penerbangan sipil. Head of Safety Grup AirAsia Kapten Ling Liong Tien juga menuturkan, keselamatan pe- numpang dan awak penerbangan adalah prioritas. “Kami berko- mitmen untuk menjaga kesela- matan penumpang dan juga awak kabin serta kami akan terus memastikan bahwa kami mengi- kuti standar keselamatan yang tertinggi,” katanya. Peringkat Baik Secara umum, sektor perhu- bungan udara Indonesia mendapat catatan Audit Keselamatan Penerbangan Internasional yang jauh di atas rata-rata. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO0 menye- matkan predikat penghargaan Council President Certificate (CPC) di bidang keselamatan penerbangan kepada Indonesia di Montreal pada Mei 2018. Berdasarkan audit CPC terse- but, Indonesia menempati posisi ke-58 di dunia dari 192 negara anggota ICAO, atau melompat 94 peringkat dari hasil audit se- belumnya, yaitu di posisi 152 dalam keselamatan penerbangan. Dengan demikian, Indonesia ma- suk ke peringkat 10 negara di kawasan Asia Pasifik dari 39 negara yang masuk dalam akred- itasi Kantor Regional ICAO di Bangkok. [O-2]

Editor at Large: John Riady

Memihak Kebenaran

Tajuk Rencana Jaminan Keselamatan Penerbangan K ecelakaan Lion Air PK-LQP rute Jakarta-Pangkalpinang, Senin (29/10) lalu membuat syok bukan saja keluarga korban melainkan seluruh masyarakat penerbangan dan kita semua. Sebanyak 189 pe- numpang dan awak diperkirakan tewas karena pesawat Boeing keluaran terbaru tersebut ditemukan dalam kondisi berkeping-keping di perairan Karawang. Adalah wajar bila sehabis duka mendalam maka terbitlah tanda tanya soal penyebab kecelakaan. Pada saat yang sama muncul pula kekhawatiran akan keamanan penerbangan. Masyarakat yang sudah dan akan, atau sela- lu, menggunakan sarana transportasi udara tentu mempertanyakan jaminan keselamatan penerbangan. Sah-sah saja bila pengguna pesawat udara menjadi ragu dan khawatir setiap kali terjadi kecelakaan pesawat. Jatuhnya pesawat PK-LQP di Karawang mendapat sorotan karena me- nyangkut maskapai Lion Air yang dikenal mengusung konsep bisnis maska- pai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC). Sangat mudah mengaitkan tarif murah penerbangan efisiensi pengeluaran maskapai. Semakin kecil penda- patan maskapai dari tiket pesawat maka segala biaya pengeluaran pun di- perketat, termasuk perawatan pesawat. Pesawat dipacu melebihi kemampu- an untuk mengejar pendapatan namun miskin perawatan sehingga terjadi gagal mekanik dalam penerbangan. Psikologi dan fokus awak pesawat dan pegawai maskapai lainnya terganggu karena gaji kecil. Semuanya itu hanyalah asumsi awam. Pihak maskapai dan regulator sudah membantah tudingan miring itu. Efisiensi biaya pada LCC tidak boleh menyentuh elemen operasional penerbangan, terutama aspek keselamatan. Keselamatan merupakan prioritas utama dalam dunia penerbangan. Manusia bisa berjalan di darat dan berenang atau menyelam di air tetapi ti- dak bisa terbang di udara. Karena itu aturan di dunia penerbangan sangat ketat. Tidak ada kompromi dan toleransi dalam aspek keselamatan seperti diatur dalam UU Penerbangan kita maupun aturan standar The International Civil Aviation Organization. Kementerian Perhubungan sebagai regulator menyatakan komitmen Safety is Number One sesuai dengan UU No 15/1992 tentang Penerbangan. Sedangkan pihak maskapai, bukan hanya di Indonesia, melakukan efisi- ensi yang tidak mengurangi aspek keselamatan penerbangan seperti meka- nisme penjualan tiket, efisiensi manajemen, peniadaan fasilitas lounge, ma- kanan dan hiburan selama penerbangan. Biaya menyangkut operasional dan keselamatan, seperti biaya bahan bakar avtur, perawatan dan penggan- tian suku cadang berkala, serta gaji kru tidak bisa dikurangi. Apakah pernyataan pemerintah dan pihak maskapai merupakan sebuah kenyataan? Audit jeli terhadap maskapailah yang dapat menjawabnya. Kita bisa berkaca pada kecelakaan Adam Air KI-574 di perairan Majene, Sulawesi Barat (2007). Rekomendasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pascakecelakaan menyebutkan technical log (laporan pilot) dan maintenance records (laporan perawatan) antara bulan Oktober sampai Desember 2006, menunjukkan terjadinya 154 defect yang langsung dan tidak langsung terkait dengan Instrument Flight Rule (IFR). Kondisi ini diketahui setelah kecelakaan yang menewaskan 102 penumpang dan awak pesawat. Nasi sudah menjadi bubur. Terhitung sejak 19 Maret 2008 pukul 00.00 WIB pihak Adam Air tidak di- perkenankan sama sekali melakukan kegiatan pengoperasian pesawat uda- ra. Jatuhnya pesawat di perairan Majene menjadi akhir perjalanan operasi maskapai penerbangan PT Adam Sky Connection Airlines, tak peduli maska- pai ini pernah meraih penghargaan Award of Merit dalam the Category Low Cost Airline of the Year 2006 dalam acara 3rd Annual Asia Pacific and Middle East Aviation Outlook Summit di Singapura. Intinya, peraturan keselamatan yang lengkap dan andal tidak ada artinya bila tidak dilaksanakan atau terdapat penyelewengan dalam pelaksanaan. Dalam praktik di lapangan, pelaksanaan aturan butuh pengawasan ketat. Hal ini bukan hanya berlaku untuk LCC, melainkan untuk semua kategori maskapai. Ingat pesawat non-LCC pun tak lepas dari ancaman kecelakaan. Aturan yang sedemikian pelik itu pun bila sudah dipatuhi masih belum men- jamin 100% karena masih ada berbagai ancaman yang menyebabkan kecela- kaan. Terdapat faktor cuaca dan sabotase sebagai penyebab kecelakaan di luar kesalahan teknis dan pilot. Berdasarkan laporanOAGAviation &PlaneCrashInfo, faktor cuaca dan sabotase menyumbang 15% penyebab kecelakaan udara. Bagi mereka yang mengakui adanya Tuhan, jaminan keselamatan ha- nya ada pada Sang Khalik. Meski demikian manusia diberi akal budi untuk digunakan mempertahankan antara lain dengan mengantisipasi berbagai kemungkinan kecelakaan. Masyarakat patut berharap pada regulator yang mengawasi dan memberi sanksi kepada operator yang lalai.

Made with FlippingBook flipbook maker