ID180813

SENIN 13 AGUSTUS 2018

24

Imron Hamzah Founder dan CEO PT Anterin Digital Nusantara

S ejumlah profesi pernah digeluti Imron Hamzah, mulai dari wartawan sampai menjadi Kepala Divisi Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Prinsip hidupnya yang tidak mau berhenti berinovasi membawa Imron ke bisnis rintisan teknologi informasi ( start up ). Dengan semangat ingin berguna untuk orang lain, Imron mendirikan perusahaan transportasi berbasis aplikasi online , PT Anterin Digital Nusantara. Imron memberikan warna baru pada bisnis transportasi online di Tanah Air. Berbeda dengan layanan aplikasi lain yang sudah existing , Anterin menggunakan sistem lelang melalui konsep marketplace . Konsumen dapat memilih layanan Anterin berdasarkan pengemudi, jenis kendaraan, dan harga terbaik. Anterin sudah memiliki mitra sekitar 200 ribu pengemudi sepeda motor dan mobil di wilayah Jabodetabek dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Konsep marketplace yang diterapkan Imron diilhami oleh pengalamannya pribadi. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 23 Maret 1981, itu kerap kesulitan saat memesan transportasi online pada jam-jam sibuk atau ketika arus lalu lintas mengalami kemacetan parah. Banyak pengemudi menolak melayani konsumen dengan tarif yang sama saat jam-jam sibuk atau saat macet, dengan alasan harganya tidak sepadan. “Saat itu, sebagai konsumen, saya katakan, oke deh saya tambahin berapa, yang penting ada. Orang memang sensitif terhadap harga, tetapi mereka perlu kecepatan. Makanya kami kasih pilihan harga,” papar Imron kepada wartawan Investor Daily Arnoldus Kristianus dan Kunradus Aliandu serta pewarta foto Emral Firdiansyah , di Menara Kuningan, Jakarta, baru-baru ini. Apa obsesi Imron Hamzah

pasar. Kami menjadi saluran untuk pasarnya. Jual barang atau jasa. Ini yang membuat kami ingin berkolaborasi dengan banyak pihak. Apa filosofi hidup Anda? Saya berusaha keras untuk menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tetapi yang selalu menjadi gairah saya setiap hari adalah bagaimana untuk menjalankannya. Misalnya ada driver yang tuna rungu, sebenarnya ia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi driver di mana pun. Problem ini yang membuat kami bersemangat untuk menjadi solusinya. Apalagi kami sebagai start up selalu berpikir untuk menghasilkan inovasi baru. Mungkin sebagian orang melihat , kok pakai lelang sih ? Mungkin karena tidak biasa, padahal kalau kita terbiasa ya tidak apa-apa. Goal kami adalah pelayanan, bukan tarif. Jadi, kompetisi kami adalah pelayanan. Dari mana Anda mendapatkan ide bisnis ini? Saya juga pernah menjadi mitra, saya pengguna juga ketika di luar negeri, saya pun pakai aplikasi online . Itu membantu sekali, apalagi kalau dijalankan dengan pelayanan yang baik. Di luar negeri mobilnya lebih bagus. Dibanding taksi konvensional, harganya kompetitif, pelayanannya pun bagus. Apalagi saat jam sibuk dan kita ingin meeting , itu butuh waktu lama perjalanan. Banyak driver menolak melayani konsumen dengan tarif yang sama saat jam-jam sibuk atau saat macet, dengan alasan harganya tidak sepadan. Mereka cari penumpang di jam-jam nonsibuk. Kenapa? Nggak macet, tarifnya sepadan. Pada jam-jam sibuk, driver merasa sudah macet harganya segitu aja , padahal bensin yang keluar lebih banyak karena macet. Makanya driver menolak. Saat itu, sebagai konsumen, saya katakan oke deh saya tambahin berapa, yang penting ada. Inilah yang membuat saya berpikir, kenapa saya tidak memberi pilihan. Pilihan akan menunjukkan orang memang sensitif terhadap harga, tetapi mereka perlu kecepatan. Makanya kami kasih pilihan harga. Ternyata ini pengalaman baru. Waktu itu, yang membuat saya termotivasi, konsep ini termasuk pertama di dunia. Kami ikut juga pameran di Eropa dan coba melakukan komparasi. Ternyata memang belum ada yang melakukan ini. Semua start up tergantung market feed . Sekarang orang mulai terbiasa, kami cuma belum launching saja. Kemungkinan launching pada pertengahan atau akhir Agustus ini. Apa sebetulnya obsesi Anda? Obsesi saya nggak banyak, bikin Anterin memberi manfaat bagi orang banyak. Sebab, kami juga ingin fokus ke logistik. Anda juga akan ekspansi ke bidang logistik? Saat ini yang memungkinkan adalah jalur udara. Di Indonesia sudah banyak e-commerce . Semua butuh logistik kan ? Kalau tidak ada logistik tentu akan kesulitan. Kami ingin menjadi solusi bagi mereka. Kalau semuanya berjalan, roda ekonomi Indonesia berputar lebih cepat, lebih bagus. Apalagi dengan konsep yang kami buat, solusi kami bisa dipakai dimana pun. Misalnya di Papua, silakan saja pakai. Ini akan tumbuh dengan sendirinya. Kalau masyarakat sekarang terbiasa dengan traditional market , nanti kami biasakan dengan digital market . Target jumlah mitra? Tidak ada, karena kami tidak memberikan komisi kepada mereka. Yang kami pertimbangkan adalah memberikan reward kepada mereka. Misalnya yang nggak punya mobil atau nggak punya sepeda motor, kami beri pembiayaan. Saya belajar dari kecil bahwa kita harus memberi kesempatan kepada siapa pun. Banyak orang

selaku Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Anterin? Kapan PT Anterin Digital Nusantara melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Apa pesan Imron bagi yang mau berbisnis start up ? Benarkah dalam dunia bisnis, tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan? Berikut petikan lengkapnya: Bisa cerita perjalanan karier dan bisnis Anda? Sebelum mendirikan Anterin, saya pernah menjadi wartawan dan auditor saat tinggal di Surabaya, lalu ke Jakarta sebagai seorang profesional. Saya bekerja di BEI sebagai Kepala Divisi Penilaian Perusahaan. Tugas saya antara lain meng- handle perusahaan yang hendak listing (mencatatkan saham perusahaan di bursa). Apa yang membedakan Anterin dengan jenis transportasi online lain? Kami adalah city transporting marketplace . Kenapa transporting , bukan transportation ? Karena sebenarnya kami ini platform. Setiap pihak yang membutuhkan perpindahan dari satu titik ke titik lain disebut transporting . Untuk saat ini, langkah awalnya dimulai dari transportasi. Kami menggunakan konsep marketplace karena kita ini market . Mitra kami disebut warga. Warga adalah para pengendara yang memiliki sepeda motor atau mobil. Mereka bisa menentukan harga sendiri. Sedangkan user atau konsumen bisa memilih driver berdasarkan preferensi masing- masing. Jadi, ini lebih ke personalize platform . Berdasarkan apa? Berdasarkan harganya. Harganya relatif, bisa lebih murah atau lebih mahal, tapi lebih bagus pelayanannya. Sebab, konsumen bisa memilih harganya berapa, titik jemputnya berapa meter, jenis kendaraannya apa, pengemudinya bisa pria atau wanita, rating -nya seperti apa, dan lain-lain. City transporting and network ,

itu konsepnya. Kami memulai dari ojek, dan mobil nanti kami akan tambahkan semuanya. Bisa Anda bayangkan, misalnya ingin ke Papua ternyata tidak ada pesawat langsung, melainkan harus ke Makassar dan transit di sana, tetapi pesannya cukup satu kali. Kami ingin berkolaborasi dengan mereka untuk membuat integrasi jaringan. Mengapa Anda memilih bisnis transportasi online ? Saya sebenarnya sudah melihat bisnis ini sejak tahun 2013, sebelum ada transportasi online. Karena transportasi online sudah booming dengan konsep aplikasi, tentu kami coba Anterin dengan cost yang berbeda. Melalui aplikasi ini, kami ingin memberikan alternatif yang berbeda untuk masyarakat. Dorongan yang muncul adalah membantu orang lain. Misalnya sebagai profesional, posisi saya saat itu sudah terbilang bagus dengan umur yang sekarang. At the end , saya melihat bahwa social problem , terutama yang terkait ojek, termasuk taksi, akan terus terjadi jika tidak ada solusi baru. Yang mendorong saya adalah bagaimana diri saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Saat menjadi wartawan pun, saya senang belajar. Setiap hal baru, pasti ada hal yang bisa dipelajari. Anda lebih suka mengabdi langsung kepada masyarakat? Kalau berpikir untuk diri sendiri sudah selesai. Saya sering ke lapangan, bertemu langsung dengan berbagai komunitas. Saya bahkan besar di komunitas. Ternyata mereka berkembang dengan sendirinya, ini yang membuat saya tercengang. Mereka tinggal diberdayakan. Uniknya, di Indonesia, ojeknya sebagian besar full time daripada part time . Kami berbeda sekali dengan konsep ride sharing atau ride hailing. Kalau ride sharing atau ride hailing konsepnya meng- utilize kendaraan yang tidak terpakai. Ke depan, sebenarnya saya akan membuat Anterin tidak hanya mampu menyelesaikan social problem yang terjadi di lapangan kerja, tapi juga untuk mengurangi jumlah mobil. Kebiasaan kita harus diubah, tidak perlu perang gengsi dengan memakai mobil pribadi. Justru yang harus diperkuat adalah bagaimana berkendara dengan nyaman, seperti di Jakarta. Selama kebiasaan ini tidak dikurangi, antara pembangunan infrastruktur transportasi dan jumlah mobil pasti akan terus kejar-kejaran . Berapa pun infrastrukturnya ditingkatkan, kalau tidak ada solusi lain, ya akan macet juga. Hubungan seperti apa yang Anda jalin dengan pengemudi atau pemilik kendaraan selaku mitra? Konsep kami kemitraan, jadi tidak ada yang namanya majikan dan pegawai. Kami membantu mereka untuk memperoleh pendapatan terbaik. Tujuan akhirnya adalah memberikan tarif yang menyejahterakan mereka. Oleh karena itu, kami empowering komunitas kami, lebih mendengarkan mereka. Kami ingin menjadi solusi bagi kendala yang dialami oleh mitra. Motivasi Anda mendirikan Anterin? Saya menganalogikan perusahaan kami ini mal, semua orang bisa masuk di situ, penumpang dan pengendara bisa masuk juga di situ, tapi kalau berjualan harus sewa. Kami membentuk pasar. Sebenarnya saya ingin bertemu juga dengan menteri perhubungan dan presiden, sebab perusahaan ini ingin memberikan solusi bagi pemerintah. Kalau misalnya diizinkan, kami akan mengajukan izin sebagai transporting platform . Di dalam marketplace semuanya bisa masuk. Dimulai dari transportasi. Kami membantu menghubungkan kebutuhan orang. Dampaknya ke sosial, bukan hanya untuk pengendara, tetapi juga pengguna. Misalnya bagaimana agar para pebisnis mendapatkan

Investor Daily/EMRAL

mendorong start up ke arah sana. Kalau di luar negeri , start up itu kan menjadi sesuatu yang sangat seksi. Nggak tahu siapa yang mau listing dulu. Yang jelas, kami ingin mendorong bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, terutama untuk generasi milenial kita. Tidak ada yang tidak mungkin, apalagi di Indonesia. Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial, khususnya di Asia Tenggara. Makanya investor asing banyak yang datang ke sini, mereka mengincar market -nya. Peran keluarga dalam karier dan bisnis Anda? Keluarga sangat mendukung, karena kekuatan saya pasti dari keluarga juga. Orang yang paling dekat dengan saya adalah keluarga, baru teman sekantor dan yang lain- lain. Dukungan keluarga sangat penting. Saya berusaha, tetapi tetap butuh doa mereka. Kalau nggak bisa bantu usaha, pasti mendukung dengan doanya. Cara Anda berbagi waktu dengan keluarga? Biasanya sore hari setelah selesai semua urusan pekerjaan, kami berkumpul atau berkomunikasi. Sabtu-Minggu kami traveling . Namun saya berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain. Harus seimbang juga kan ? Start up ini kan tantangannya harus berpikir terus-menerus, sehingga harus seimbang juga. Kekayaan yang paling berharga adalah kesehatan. Kalau nggak sehat, nanti berpengaruh juga pada pekerjaan. Pesan Anda untuk yang mau bisnis start up ? Memulai itu gampang, yang penting endurance persistent dan tidak boleh putus asa. Harus fleksibel. Kita tidak bisa pakai kacamata kuda. Market dan culture tentu berbeda-beda. Bisa membutuhkan perlakuan yang berbeda, bisa pula butuh perlakuan yang sama. Bisa saja apa yang terjadi di luar negeri, terjadi pula di Indonesia. Tapi bisa sebaliknya, karena habit -nya berbeda. q

D i tengah kesibukannya bekerja, Imron Hamzah selalu menyempatkan diri untuk membaca buku, terutama yang berhubungan dengan disrupsi teknologi. Maklum, disrupsi sangat cepat, bukan hanya di tingkat global, tapi juga di Indonesia. Salah satu buku favoritnya adalah The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey. “Sebagai pengusaha, saya harus tahu setiap perubahan dan gejala-gejalanya karena perubahan berlangsung demikian cepat. Siapa sangka Nokia atau Blackberry yang begitu besar bisa jatuh. Di sinilah pentingnya untuk terus melakukan inovasi,” tutur Imron. Imron Hamzah berpesan, dalam bekerja, siapa pun tidak boleh merasa cepat puas dan menganggap hasilnya sudah final. Contohnya Facebook dan Amazon. Kendati sudah besar, mereka tetap disebut start up karena terus berinovasi. “Pengalaman ini juga yang menjadikan saya terus berpikir, inovasi apa yang bisa saya lakukan? Akan berkolaborasi dengan siapa agar kami tetap eksis? Ini era kolaborasi. Kalau tidak berkolaborasi, kami akan mati,” tegas Imron. (ark)

yang memiliki jalan hidup lebih baik, tetapi perlu diberi kesempatan hidup yang lebih baik. Jangan anggap mitra sebagai sopir saja. Mereka juga memiliki keluarga. Menciptakan lapangan kerja juga bukan hal yang mudah. Kami pun ingin membuka kesempatan bagi mitra untuk menjadi pengusaha. Konsep marketplace ini kan menawarkan bidang bisnis apa yang bisa dijalani. Kalau nggak punya semangat pekerja keras, tapi punya semangat yang baik, kenapa tidak kami beri kemudahan melalui pembiayaan. Kalau tingkat ekonomi masyarakat bagus, tentu baik juga untuk pasar. Sekarang kami sudah punya mitra sekitar 200 ribu driver mobil dan motor. Anda akan membawa Anterin go public ? Mungkin arahnya menjadi perusahaan publik juga. Kepinginnya sih di luar negeri, tapi nggak tahu ya . Start up pasti goal -nya penawaran umum perdana ( initial public offering /IPO) saham. Kami mungkin masih lima tahun lagi untuk IPO. Sebenarnya saya ingin

Investor Daily/EMRAL

Made with FlippingBook Annual report