ID160823

selasa 23 AguStuS 2016

24

Investor Daily/ist

Perjanjian Kredit Properti Dari kiri ke kanan, Wadirut Bank Mandiri Sulaiman A Arianto, Komisaris Utama PT Cempaka Sinergy Realty Ganda dan Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar berbincang usai penandatanganan perjanjian kredit senilai Rp 700 miliar kepada PT Cempaka Sinergy Realty (CSR) di Jakarta, Senin (22/8). Rencananya, kredit tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan apartemen Arandra Residence di kawasan yang diharapkan rampung pada 2020. Untuk mendorong industri properti, Bank Mandiri telah mengucurkan pembiayaan senilai Rp12,7 triliun kepada berbagai pengembang di seluruh Indonesia serta KPR senilai Rp28,3 triliun pada akhir Juni 2016.

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menargetkan pen- yaluran kredit kecil perseroan tahun ini tumbuh 22,5%. Hingga Juni 2016, perseroan mencatat realisasi kredit kecil mencapai Rp 47,9 triliun, naik 23% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pemimpin Bisnis Divisi Usaha Kecil BNI Anton Siregar menjelaskan, dalam kredit ke- cil terdapat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang hingga sudah mencapai Rp 7,9 triliun. Dari total penyaluran KUR tersebut, sebesar Rp 7,8 triliun lebih disalurkan untuk KUR Ritel, sedangkan sisanya untuk KUR Mikro dan KUR tenaga kerja Indonesia (KUR TKI). “Alokasi KUR kami mencapai Rp 11,5 triliun, dan Rp 10 triliun dari alokasi tersebut untuk KUR Ritel yang kami targetkan bisa terealisasi semua pada September menda- tang. Caranya dengan memindahkan alokasi KUR TKI ke KUR Ritel, dan untuk KUR Mikro kami akan menggunakan jalur link- age ,” jelas Anton di sela acara penandatanga- nan kerja sama BNI dengan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM di Jakarta, Senin (22/8). Kredit kecil BNI tersebut terdapat pen- yaluran kredit untuk segmen super mikro, yaitu segmen yang tidak dibiayai oleh KUR. Dalam mengembangkan penyaluran kredit untuk segmen tersebut, BNI melakukan sistem linkage , yakni dengan menggandeng pihak lain, salah satu pihak yang diajak ker- jasama adalah PNM. Tahun ini, BNI menyalurkan kredit sebesar Rp 750 miliar kepada PNM yang selanjutnya dilasurkan kepada segmen super mikro. “Kredit sebesar Rp 750 miliar kami berikan secara bertahap. Dari jumlah itu, Rp 250 miliar sudah kami salurkan, dan sisanya akan kami salurkan sebelum akhir 2016,” kata dia. Pada kesempatan itu, Kepala Divisi Keuan- gan dan Pendanaan PNM Tony Wijayanto mengungkapkan, plafon untuk pembiayaan segmen super mikro mencapai Rp 2 juta per orang. PNM memberikan pembiayaan tersebut tidak langsung kepada orang per orang, namun dalam satu kelompok yang terdiri atas 10-15 orang. (gtr) SURABAYA - PT Bank Pembangunan Dae- rah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) mem- perkuat bisnisnya di Jawa Timur sekaligus wilayah Indonesia Timur dengan membuka kantor wilayah (Kanwil) di Surabaya. Direktur Utama BJB Ahmad Irfan men- gatakan saat ini pihaknya sedang gencar- gancarnya mengembangkan bisnisnya di wilayah Jatim. Itu tak lepas dari potensi ekonomi Jatimyangmemberi peluang cukup besar karena sebagai daerah industri, tentu- nya banyak pengusaha dari berbagai daerah menanamkan modal dan investasi di wilayah ini. “Pembukaan Kanwil ini diharapkan akan mendukung program pengembangan bisnis kami kedepan,” kata Ahmad saat peresmian Kanwil V BJB di Bukit Darmo Surabaya, Senin (22/8). Dia juga mengatakan pembukaan Kanwil ini juga untuk memperkuat bisnisnya di Indonesia bagian timur, yang berfungsi se- bagai Kantor Cabang Pembantu (KCP), yang membawahi kantor cabang Tegal, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Banjar- masin, dan Denpasar. Dia ingin pendirian Kanwil V ini bisa meningkatkan bisnis secara berkelanjutan mengingat potensi yanga ada di wilayah tersebut. “Kanwil ini merupakan salah satu langkah strategis dalam rangka ekspansi bisnis,” ujarnya. Pemimpin Wilayah V BJB Dicky Syahban- dinata menambahkan pendirian Kanwil V bertujuan untuk memantau dan mengawasi pencapian kinerja dari masing-masing cabang sekaligus mempercepat koordinasi dengan mereka. “Surabaya dipilih sebagai Kanwil karena potensinya sangat besar setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat,” imbuh Dicky. Sementara Direktur Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jatim, Dani Surya Sinaga menganggap dengan pendirian Kanwil ini BJB telah mengambil langkah berani. Sebab, sesuai data OJK, se- lama semester I/2016 ini justru ada sejumlah bank yangmenutup kantor layanan, sebagian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan bank asing. Penutupan kantor layanan itu terkait dengan situasi ekonomi yang kurang mendukung bisnis mereka sekaligus per- saingan yang semakin ketat. “Itu mengapa saya bilang pembukaan Kanwil merupakan langkah berani,” katanya. Namun demikian, dia percaya untuk pem- bukaan Kanwil itu BJB tentunya sudahmem- pertimbangkan secara matang. “Setidaknya BJB sudah melakukan studi kelayakan terlebih dulu,” tandas dia. (ros)

dengan laba pada akhir tahun lalu sebesar Rp 20,3 triliun. “Laba bersih kami hingga akhir tahun mungkin flat dibandingkan tahun lalu,” terang Pahala. Perbaikan kinerja laba, menurut dia, akan didorong oleh menurun- nya tambahan biaya pencadangan yang harus dikeluarkan BankMan- diri pada semester kedua tahun ini, seiring perbaikan kondisi NPL. Adapun Bank Mandiri menarget- kan tambahan pencadangan tahun ini sebesar Rp 17 triliun. Sementara itu, hingga semester I-2016, Bank Mandiri telahmengalokasikan tam- bahan biaya pencadangan sebesar Rp 9,89 triliun. Perlambatan pertumbuhan laba perbankan diprediksi terus ter- jadi hingga akhir tahun ini, seiring meningkatnya biaya pencadangan untuk mengantisipasi peningkatan rasio kredit bermasalah ( non per- forming loan /NPL). Kepala Divisi Risiko Perekono- mian dan Sistem Perbankan Lem- baga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Arifieanto memperkirakan, tren peningkatan laba perbankan baru akan terjadi pada tahun depan. Saat ini, perbankan masih akan mempersiapkan cadangan untuk menghadapi penurunan kualitas kredit. Direktur Keuangan PT Bank Permata Tbk Sandeep Jain sebe- lumnya menjelaskan, pada Juni 2016, perseroan meningkatkan beban pencadangan hingga 248% dibandingkan posisi Juni tahun lalu. Peningkatan beban penca- dangan ini membuat perseroan mencatat kerugian senilai Rp 836 miliar. Peningkatan pencadangan ini seiring peningkatan NPL Bank Permata yang pada Juni sebesar 4,6% untuk NPL gross dan 2,7% untuk NPL net . seiringan untuk menciptakan dan mencetak agen-agen profesional di masa mendatang. Sementara itu, Country Chair MDRT Indonesia Aryani P Razik menjelaskan, Untuk menjadi ang- gota MDRT, agen diharuskan membayar biaya pendaftaran sebe- sar US$ 550. Agen juga harus me- menuhi target produksi premi. (gtr) Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (kedua kanan) didampingi Sekretaris Perusahaan BCA Inge Setiawati (kanan), dan Heda of CSR BCA Sapto Rachmadi (kiri) secara simbolis menyerahkan donasi yang diterima oleh Kepala Perwakilan Kantor UNICEF di Indonesia Gunilla Olsson (tengah) dan Education Specialist UNICEF Indonesia Widodo Suhartoyo di Jakarta, Senin (22/8). BCA berpartisipasi mendukung peningkatan kualitas pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan memberikan donasi RP 850 juta pada program PAUD Holistik Integratif untuk Papua yang digagas oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF). Donasi BCA untuk Anak Papua

bank pembangunan daerah (BPD) tumbuh 23,85% (yoy) menjadi Rp 6,48 triliun, dan laba kelom- pok bank umum swasta nasional (BUSN) devisa tercatat tumbuh 12,74% (yoy) menjadi Rp 17,22 triliun. Adapun laba kelompok bank perseroan tercatat turun 2,8% (yoy) dari Rp 24,97 triliun menjadi Rp 24,27 triliun, sedangkan laba kelompok bank BUSN nondevisa merosot 88,14% (yoy) dari Rp 1,21 triliun menjadi Rp 114 miliar. Dimintai pendapatnya, Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Soenarso baru-baru ini menu- turkan, perseroan mendorong peningkatan fee based income (pendapatan nonbunga) untuk meningkatkan laba. Hingga akhir tahun ini, pihaknya menargetkan dapat memperoleh fee based income sebesar Rp 11 triliun, meningkat dibandingkan akhir tahun lalu Rp 7,4 triliun. “Biaya dana juga kami efisienkan dengan menjaga rasio dana murah, antara lain dengan memonitor pengendapan dana di cabang. Ini bisa kami lakukan, terutama ka- rena kami saat ini sudah memiliki satelit,” terang dia. Menurut Su- narso, BRI mendorong kontribusi anak usaha. Tahun ini, BRI me- nargetkan kontribusi anak usaha terhadap laba perseroan mencapai Rp 1 triliun. Sementara itu, Direktur Keuan- gan dan Tresury PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Pahala Mansur y juga optimistis kinerja perseroan pada semester II-2016 lebih baik dibandingkan semester sebelumn- ya. Setelah mengalami penurunan laba pada semester pertama tahun ini sebesar 28,7% (yoy), pihaknya pun memperkirakan hingga akhir tahun, laba perseroan relatif sama

yang mulai bisa menyerap kredit,” terang dia. Nelson pun memperkirakan pada semester kedua, kredit tum- buh lebih baik dibandingkan pen- yaluran kredit hingga semester I-2016 yang tumbuh satu digit. Adapun hingga akhir tahun ini OJK optimistis kredit perbankan bisa tumbuh di atas 10%. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad sebelumnya mengatakan, tahun ini bank masih terus melakukan konsolidasi aki- bat dari peningkatan NPL dari sisa kredit tahun sebelumnya. “Sisa penyakit lama masih ada, permasalahannya terjadi karena masalah batubara tahun 2015 yang mengakibatkan NPL pada sektor kredit yang berhubungan dengan sektor batubara, seperti alat berat kena semua,” kata dia. Di sisi lain, pertumbuhan kred- imulai menunjukkan peningkatan. Pada Agustus 2016, pertumbuhan kredit diprediksi bertumbuh seki- tar 9-11%. Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada sektor pertanian sebesar 20%. Begitu pula dengan NPL yang pada Agustus ini menu- rut Muliaman mulai menurun ke angka 3%. Dia menyebutkan, NPL sebesar 3,11% padaMei 2016 meru- pakan posisi puncak NPL tahun ini. Pertumbuhan Laba Tertinggi Data OJK juga menunjukkan, berdasarkan kelompok, pertumbu- han laba tertinggi dibukukan oleh kelompok bank campuran menca- pai 110,86% (yoy) menjadi Rp 1,61 triliun. Disusul oleh laba kelompok bank asing yang tumbuh 45,19% (yoy) menjadi Rp 4,93 triliun. Ada- pun laba kedua kelompok bank tersebut pada tahun lalu sempat tercatat menurun signifikan. Sementara itu, laba kelompok

Oleh Agustiyanti dan Gita Rossiana

JAKARTA – Bank umum membukukan laba bersih sebesar Rp 54,62 triliun pada semester I-2016, tumbuh 7,43% secara year on year (yoy) dibanding periode sama tahun lalu Rp 50,84 triliun. Peningkatan laba ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 13,07% (yoy) menjadi Rp 166,6 triliun, dan pendapatan nonbunga tumbuh 37,43% (yoy) menjadi Rp 129,11 triliun.

garuhi oleh besarnya tambahan beban pencadangan yang harus disisihkan oleh bank, seiring men- ingkatnya rasio kredit bermasalah ( non performing loan /NPL). “Yang menjadi kekhawatiran adalah pembentukan pencadangan mempengaruhi rentabilitas bank. Tapi sejauh ini kami perkirakan ROA ( return on asset ) bank akhir tahun ini di kisaran 2,5%,” kata Nelson di Jakarta, akhir pekan lalu. Pada semester pertama tahun ini ROA bank umum 2,31%, naik tipis dibandingkan pada periode sama tahun lalu 2,29%. Sementara itu, net interest margin (NIM) meningkat dari 5,32% menjadi 5,59%. Rasio NPL sebesar 3,05%, meningkat dibandingkan semester pertama tahun lalu sebesar 2,55%, dan akhir tahun lalu sebesar 2,48%. Seiring kenaikan NPL tersebut, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) kredit perbankan pun meningkat 31,57% (yoy) dari Rp 98,54 triliun menjadi Rp 129,65 triliun. “Ke depan, rasio NPL sehar usnya mulai menurun seiring sektor riil tahun terakhir mencapai 19,9%, kami optimistis jumlah agen dan penetrasi asuransi pun akan men- ingkat,” kata dia. Berdasarkan data AAJI, sampai Juni 2016 jumlah agen asuransi jiwa berlisensi sebanyak 513 ribu orang, naik 13,7% dibandingkan tahun 2015. Dari jumlah tersebut, 36% atau 182 ribu agen berusia antara 26-35 tahun, sedangkan 40% adalah agen dengan usia 36-50 tahun. “Saat ini, semakin banyak orang muda menekuni profesi sebagai agen asuransi jiwa. Agen asuransi jiwa sudah dicari oleh masyarakat sebagai pendamping dalam mem- berikan edukasi tentang peren- canaan keuangan keluarga, serta dilirik oleh generasi muda sebagai peluang karier yang menjanjikan,” kata dia. Peningkatan jumlah agen juga sejalan dengan pertumbuhan total tertanggung. Hendrisman menye- butkan, pada kuartal-I 2016, ter- catat jumlah tertanggung individu mencapai 18 juta jiwa atau menin- gkat 10,5% dari tahun sebelumnya. “Hal ini menunjukkan tingkat ke- percayaan masyarakat terhadap as- uransi jiwa terus bertumbuh setiap tahun, dan hal ini tak lepas dari peran para agen dalam mengedu- kasi masyarakat akan pentingnya

Berdasarkan data statistik per- bankan periode Juni 2016 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan pendapatan bunga bersih bank umum pada semester I-2016 didukung oleh beban bunga yang tumbuh tipis 2,05% (yoy) mencapai 172,46 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 168,99 triliun. Sementara itu, pendapatan bunga tumbuh 7,19% (yoy) dari Rp 316,32 triliun menjadi Rp 339,06 triliun, seiring outstanding penyaluran kredit perbankan yang mencapai Rp 4.168,31 triliun atau tumbuh 8,9% (yoy) atau 2,72% secara year to date (ytd). Di sisi lain, pendapatan nonbunga bank umum tumbuh 37,43% (yoy) menjadi Rp 129,11 triliun. Beban nonbunga perbankan tumbuh 27,9% (yoy) menjadi Rp 226,98 triliun. Kepala Eksekutif Bidang Pen- gawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, pada semester pertama tahun ini ke- mampuan sejumlah bank dalam membukukan laba juga dipen- JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menarget- kan jumlah agen yang tersertifikasi sampai akhir tahun ini sebanyak 650 ribu orang. Sementara itu, jumlah agen berlisensi hingga Juni 2016 sebanyak 513 ribu orang. Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim menjelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengkampanye- kan 10 juta agen asuransi tersertifi- kasi, namun jumlah tersebut belum bisa dipastikan tercapai dalam periode beberapa tahun ke depan. “Jumlah yang diharapkan OJK memang sangat besar. Tetapi kami punya rencana, akhir tahun ini bisa mencapai 650 ribu agen sudah tersertifikasi,” kata Hendrisman pada jumpa pers MDRT Day 2016 di kantor pusat AAJI, Jumat (19/8). Dia menjelaskan, agen masih menjadi penopang dalam industri asuransi jiwa di Indonesia. Pada kuartal-I 2016, dari total premi yang berhasil dikumpulkan sebe- sar Rp 34,3 triliun sebanyak 43,9% dikontribusi dari jalur distribusi keagenan. Untuk itu, AAJI mendorong pen- ingkatan jumlah tenaga pemasar berlisensi danmemastikan kualitas serta profesionalitas para tenaga pemasar. “Dengan pertumbuhan rata-rata jumlah agen dalam tiga

BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

pada Februari 2016. Terkait Million Dollar Round Table atau MDRT, Hendrisman menegaskan AAJI sangat men- gapresiasi adanya perkumpulan agen-agen profesional yang telah mampu mencetak nilai premi yang sangat luar biasa. AAJI dan MDRT Indonesia, lanjut Hendrisman, akan berjalan

asuransi,” ujar dia. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional perlu terus diasah untuk meningkatkan kompetensi agen. AAJI juga mengembangkan program Continous Professional Development (CPD program), yang merupakan program pelati- han bagi pengembangan agen. Program baru CPD diluncurkan

Made with FlippingBook flipbook maker