ID190613

KAMIS 13 JUNI 2019

24

“Seperti pembukaan rekening tanpa ke cabang sekarang bisa lebih dari 1.000 dalam satu hari. Bayangkan kalau kami pakai cabang konven- sional, berapa cabang yang disiapkan, dan itu kemudahan nasabah transaksi bisa tidak menunggu jam kantor atau ke cabang,” terang Jahja. Sebelumnya, BCA juga berencana mengakuisisi satu bank lagi setelah Bank Royal. Namun, Jahja belum memberikan komentar lebih lanjut terkait rencana akuisisi bank tersebut, karena masih fokus dengan Bank Royal lebih dulu. Direktur BCA Santoso Liem se- belumnya mengatakan, pihaknya tengah melakukan wacana untuk aksi korporasi berupa akuisisi bank lainnya. Meski demikian, Santoso tidak mengungkapkan lebih detail terkait ciri-ciri bank yang menjadi incarannya tersebut. “Tentunya kami memang punya rencana (akuisisi), kami bukan hanya akuisisi satu bank, tapi (sedang) buka wacana akuisisi satu bank lagi,” ucap Santoso.

Royal sebagai bank fokus digital karena rencana awalnya memang hendak dijadikan bank digital. Namun, ternyata BCA bisa mengembangkan digital sendiri tanpa membentuk bank digital. “Kami lihat kalau bank besar ke digital nasabah konvensional ada yang complain , tapi ini tidak. Karena kami create produk-produk digital itu tidak menghapus produk yang lama,” tutur Jahja. Menurut dia, apabila nasabah kon- vesional mau melakukan tranaksi dengan cara lama tetap bisa dan tidak ada masalah. Untuk nasabah milenial juga tetap bisa melakukan transaksi dengan perkembangan produk digital BCA seperti QR code , pembukaan rekening secara online , dan lainnya. Hal tersebut yang membuat perseroan berubah pikiran untuk tidak menjadikan Bank Royal sebagai bank digital, karena BCA sendiri bisa melakukan transformasi digital. Selain itu, Jahja juga mengaku bisa mencapai efisiensi dengan pengembangan digit- alisasi tersebut.

pada tahun ini, dengan harapan dapat terealisasi pada tahun de- pan. Itu karena BCA harus men- stabilkan dulu Bank Royal sehingga harus profitable , baru bisa dimerger dengan BCA Syariah, jika tidak, Jahja mengatakan, dapat merugikan BCA Syariah. “Bank Royal sudah profit, tapi kami beli (Bank Royal) dengan harga premium. Kalau dimerger, nanti syariahnya jadi r ugi. Jadi, har us di- cover dulu, diusahakan tahun depan,” ungkap Jahja. Sementara itu, untuk mendukung perkembangan anak usaha syari- ahnya tersebut, BCA juga berencana untuk menyuntikkan modal tahun ini. Adapun, dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun ini, BCA Syariah akan mendapatkan dana segar sebesar Rp 800 miliar untuk ekspansi. “Sekitar Rp 800 miliar tahun ini, tapi tidak tahu kapannya, karena bisnis kan tidak bisa diperkirakan. Kalau mereka butuh ya kami siap,” kata dia. Pihaknya juga mengakui, alasan perseroan tidak menjadikan Bank

Sampai dengan kuartal I 2019 total aset BCA Syariah sebesar Rp 6,96 triliun dan total aset Bank Royal per Maret 2019 sebesar Rp 911,85 miliar. Artinya, jika digabungkan total aset kedua bank tersebut sekitar Rp 7,87 triliun. Sementara itu, modal inti Bank Royal sebesar Rp 330,80 miliar per Maret 2019, sedangkan modal inti BCA Syariah sebesar Rp 1,26 triliun. Jika digabungkan, modal inti kedua bank tersebut menjadi Rp 1,59 triliun, masuk dalam kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II dengan modal inti antara Rp 1-5 triliun. Lebih lanjut, Jahja menegaskan, pihaknya belumbisa menggambarkan setelah Bank Royal digabungkan dengan BCA Syariah akan menjadi sebesar apa. Pasalnya, BCA Syariah saat ini masih masuk dalam kategori BUKU II. “Belum tahu, sementara (BCA Syariah) masih BUKU II, room BUKU II cukup untuk pengemban- gan,” kata Jahja. Namun, Jahja mengatakan peng- gabungan tersebut tidak dilakukan

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membuka peluang penggabungan (merger) anak usaha syariah PT Bank BCA Syariah dengan PT Bank Royal Indonesia yang baru diakuisi. Sementara itu, pada 20 Juni mendatang, BCA akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan mengenai akuisisi terhadap Bank Royal pada April lalu.

“Pertama kami selesaikan RUPSLB dulu, kemudian kalau lihat ke depan (Bank Royal) apa mau dijadikan bank fokus atau bank apa ke depan belum ditentukan. Fokusnya belumpasti, tapi kemungkinan bisa nambah (merger) ke bank syariah ke depannya,” terang Jahja di Jakarta, Rabu (12/6).

Presiden Direktur BCA Jahja Se- tiaatmadja mengatakan, pihaknya be- lummenyebutkan secara pasti apakah Bank Royal akan dijadikan bank fokus atau digabungkan (merger) dengan anak usahanya. Untuk itu, yang akan dilakukan lebih dulu oleh perseroan adalah melakukan RUPSLB.

Beritasatu Photo/Uthan AR

Kelebihan pungutan ini kami gunakan salah satunya tadi con- tohnya untuk pemenuhan PSAK 24,” papar Sekar. Menurut dia, kelebihan real- isasi pungutan tersebut juga su- dah dikomunikasikan ke Dewan PerwakilanRakyat (DPR), namun dikatakan secara UU tidak ada mekanisme perubahan anggaran OJK seperti APBN-P dan kelebi- hannya harus dikembalikan ke negara. “Sehingga, ada temuan ini, dengan komunikasi berbagai pihak termasuk Kemenkeu dan BPK, kami diberikan persetujuan me- reverse posisi penggunaan PSAK 24 tadi dengan menjadik- annya untuk pembayaran kas negara untuk pelunasan utang pajak OJK. Kemudian untuk pemenuhan PSAK 24 tahun ini sudah masuk dalam anggaran,” tambah Sekar. Selanjutnya, kata Sekar, tahun ini OJK juga menggunakan asumsi atau prognosis yang lebih progresif, di mana OJKmembuat rencana penerimaan pungutan yang lebih besar. Dengan de- mikian, saat realisasi tidak se- besar anggaran, konsekuensinya OJK harus menyesuaikan pen- geluaran tahun ini. “Semua reko- mendasi BPK kami ikuti dan Alhamdulillah tercermin dalam lima tahun terakhir laporan keuangan OJK dinilai WTP (Wa- jar Tanpa Pengecualian), di mana pengelolaan keuangan OJK bisa dipertanggungjawabkan,” kata Sekar. Sebelumnya, Berdasarkan Ikht- isar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2018 Badan Pe- meriksa Keuangan (BPK), secara keseluruhan, hasil pemeriksaan perencanaan dan penggunaan penerimaan pungutan OJK men- gungkapkan empat temuan yang memuat sembilan permasalahan. Permasalahan tersebut meli- puti tujuh kelemahan sistem pengendalian intern (SPI), satu ketidakpatuhan terhadap keten- tuan peraturan perundang-un- dangan, dan satu permasalahan aspek ekonomis, efisiensi, dan efektivitas (3E). Pungutan adalah sejumlah uang yang wajib dibayar oleh pihak yang melakukan kegi- atan di sektor jasa keuangan, baik lembaga jasa keuangan dan/atau orang perorangan atau badan. Pungutan tersebut merupakan penerimaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di mana Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK (UU OJK) mengamanatkan OJK untuk menerima, mengelola, dan mengadministrasikan pungutan secara akuntabel dan mandiri. Hasil pemeriksaan BPK menyimpulkan bahwa peren- canaan dan penggunaan pen- erimaan pungutan tahun 2016- 2018 telah dilaksanakan sesuai dengan UUOJK, serta ketentuan terkait penyusunan dan pelak- sanaan anggaran, dalam semua hal yang material, kecuali atas beberapa permasalahan. Sim- pulan tersebut didasarkan atas kelemahan-kelemahan yang terjadi, baik pada aspek pengend- alian internal, ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun aspek 3E. (nid)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyikapi hasil temuan Badan Pemeriksa Keuan- gan (BPK) mengenai penggun- aan penerimaan pungutan dari in- dustri jasa keuangan. Dalam hal ini, OJK menindaklanjuti salah satu temuan BPK terkait dengan pagu anggaran melebihi Rp 2,53 triliun karena ada realisasi pener- imaan yang lebih besar. Dalam rangka memenuhi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 24, dana terse- but digunakan untuk pencadan- gan imbalan kerja bagi karyawan. Namun, pencadangan tersebut belumdimasukkan ke dalamang- garan, sehingga setelah bertemu dengan beberapa pihak, kelebi- han tersebut dialihkan menjadi pembayaran pajak penghasilan (PPh) Badan OJK. Untuk itu, demi memenuhi PSAK 24 tahun ini, OJK juga sudah memasukkan ke dalam anggaran. Berdasarkan keten- tuan PSAK 24, dana imbalan kerja sebenarnya dapat dikelola secara mandiri atau oleh pihak ketiga dalam bentuk aset program. Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot mengungkapkan, se- belumnya dana tersebut memang tidak masuk anggaran, makanya kelebihan penerimaan tersebut menjadi temuan BPK. “Namun, setelah komunikasi dengan pi- hak-pihak terkait, dana terse- but dapat dikonversikan se- bagian untuk pembayaran pa- jak penghasilan (PPh) Badan. Dengan demikian, saat ini utang pajak PPh badan OJK sudah lunas,” terang Sekar kepada In- vestor Daily , Rabu (12/6). Sementara itu, terkait sewa gedung asumsinya berubah, Sekar menjelaskan, awalnya ketika menyewa Wisma Mulia adalah harus pindah dari Soemi (Kemenkeu) danBIMenaraMer- deka. “Namun asumsinya ber- ubah, berdasarkan komunikasi dengan BI (Bank Indonesia) dan Kementerian Keuangan, kami masih bisa menempati kedua lokasi tersebut, karena Wisma Mulia itu dalam kondisi unfurbished jadi ada biaya untuk moving , dengan stay di lokasi saat ini kami dapat berhemat,” ungkap dia. Kemudian, gedung di Men- ara Merdeka biaya sewanya dinaikkan sebesar 60% kalau ditempati. Oleh karena itu, diutamakan OJK memindahkan ke Wisma Mulia 2 supaya tidak terkena rent trap dan saat ini sudah terpenuhi Wisma Mulia 2. Sekar menambahkan, OJK menggunakan penerimaan pungutan dari lembaga jasa keuangan. Undang-Undang (UU) OJK mengatur bahwa hanya bisa menggunakan pungutan pada tahun berikutnya. Mekan- ismenya, OJK mengajukan persetujuan anggaran ke DPR pada bulan sekitar Oktober atau November, sehingga OJK meny- usun anggaran tahun berikutnya berdasarkan prakiraan atau pro- gnosis pungutan sampai Desem- ber tahun sebelumnya. “Karena keterbatasan ini, real- isasi dari pungutannya hingga Desember ternyata ketika ber- jalan lebih dari asumsi anggaran.

Penjurian Asuransi Terbaik 2019 Ketua Dewan Juri Asuransi Terbaik 2019 Herris B. Simandjuntak (tiga dari kiri) bersama anggota juri (ki-ka): Ketut Sendra, Tri Joko Santoso, Diah Sofiyanti, S. Budisuharto, Primus Dorimulu (kanan) berfoto usai penjurian pertama Asuransi Terbaik 2019 di kantor Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Rabu (12/6). Penganugerahan akan di gelar pada bulan Juli 2019 di Jakarta.

adalah saya ingin ingin melihat ada bank syariah yang kuat di Indonesia sebagai negara yangmemiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia,” kata Ilham di Jakarta, beberapa waktu lalu. lham yang juga merupakan komis- aris utama Bank Muamalat menam- bahkan, saat ini Al Falah dan Bank Muamalat masih fokus untuk melak- sanakan rights issue yang ditargetkan dapat dilaksanakan pada semester II tahun ini dengan menerbitkan 65,22% saham baru senilai Rp 2,2 triliun. Dari nilai tersebut Al Falah akan menyertakan modal Rp 1,7 triliun, kemudian ada Koperasi Simpan Pin- jam (Kospin) Jasa dan Lynx Asia yang akan menyertakan Rp 300 miliar. Ad- apun dana sebesar Rp 1,7 triliun dari Al Falah telah disetor dalam escrow account pada 30 April 2019. Selain itu, Kospin Jasa dan Lynx Asia telah me-

JAKARTA – Ilham Habibie lewat perusahaannya, Al Falah Investments Pte Ltd, akan menjadi pemegang saham pengendali PT BankMuamalat Indonesia Tbk dengan mengakuisisi 50,3% saham di bank tersebut. Ilham memiliki dua alasan, salah satunya berkaitan dengan wasiat ayahanda, Presiden RI ke-3 BJ Habibie yang juga pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan membantu pendirian Bank Muamalat. Langkah Ilham Habibie tersebut juga telah disetujui oleh pemegang saham Bank Muamalat, dan dipu- tuskan dalamRapat UmumPemegang Saham (RUPS) Bank Muamalat pada 17 Mei 2019. “Ada dua alasan mengapa saya ingin masuk ke Bank Muamalat, sa- lah satunya wasiat ayah saya, karena ayah saya salah satu pendiri Bank Muamalat lewat ICMI. Alasan kedua

50,3% sahamBankMuamalat. Adapun kepemilikan saham Islamic Devel- opment Bank dan Boubyan Bank, yang sebelumnya menggenggam masing-masing 32,7% dan 22% saham, akan terdilusi menjadi 11,4% dan 7,7%. Sedangkan Kospin Jasa bersama Lynx Asia akanmendapat porsi kepemilikan saham sebesar 8,9%. Sementara itu, Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Per- mana berharap hal ini menjadi langkah awal Bank Muamalat un- tuk melangkah lebih baik ke de- pan. Pihaknya juga mengaku telah menyusun sejumlah strategi un- tuk melaju lebih cepat di industri keuangan syariah. “Kami optimistis dengan masuknya modal maka Bank Muamalat akan berada dalam posisi yang lebih baik dan lebih leluasa untuk melakukan ekspansi bisnis ke depan,” kata Permana. (ris)

nempatkan dana sebesar Rp 300 miliar pada escrow account masing-masing se- banyak Rp 250 miliar dan Rp 50 miliar. Sisanya Rp 200 miliar merupakan kesempatan yang diberikan kepada pemegang saham existing untuk mengeksekusi rights issue . “Saat ini kami masih akan fokus terhadap rights issue tersebut, untuk selanjutnya baru akan diputuskan nanti setelah rights issue rampung,” sambung ilham. Ilham mengatakan, kebutuhan dana untuk penguatan modal Bank Muamalat memang terbilang cukup kompleks karena persoalan teknis. Selama ini, kata dia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun belummenyam- paikan jumlah pastinya. “Yang jelas kami masuk dulu sebagai pemegang saham, kami kendalikan, baru ambil langkah selanjutnya,” ujar dia. Apabila rencana tersebut berjalan mulus, Al Falah akan menjadi pemilik

khususnya fintech lending . “Tentunya kami pun selektif dalam memilih rekanan, Akseleran memiliki angka NPL yang sangat baik, sehingga harapannya kolaborasi ini mampu memberikan nilai lebih untuk pemberi pinjaman,” kata dia. Sebagai market leader perusahaan asuransi umum, lanjut dia, Adira Insurance ingin selalu memberikan berbagai kemudahan dan perlindun- gan menyeluruh kepada pemberi pin- jaman di Akseleran. “Kami optimistis peluang asuransi pembiayaan dalam fintech lending akan semakin terbuka lebar bagi industri asuransi umum,” jelas Julian. (ris)

kuartal pertama 2019 di angka 0,3% dari total penyaluran pinjaman atau di bawah rata-rata industri P2P lending yang sebesar 3,18%. Seiring dengan bertambahnya jumlah peminjam di Akseleran yang menggunakan invoice financing , tentu kehadiran Adira Insur- ance membuat kami makin optimistis dapat mempertahankan angka NPL tetap di bawah 1% di akhir tahun ini,” ungkap Ivan. Chief Executive Of ficer Adira In- surance Julian Noor menambahkan, pihaknya menyambut baik adanya kolaborasi ini, karena mampu mem- perluas jalur distribusi dan men- ingkatkan portofolio Adira Insurance

Co-Founder Akseleran Ivan Tambunan dalam keterangan tertulisnya yang diterima Investor Daily , baru-baru ini. Ivan menjelaskan, kerja sama sin- ergis dengan Adira Insurance di- harapkan mampu mendorong tingkat kepercayaan para pemberi pinjaman di Akseleran dan otomatis menam- bah jumlah pemberi pinjaman. Selain itu, hingga pertengahan Mei 2019 Akseleran sudah menyalurkan total pinjaman sebesar Rp 477miliar kepada lebih dari 900 pinjaman. “Jumlah pengguna kami saat ini su- dah mencapai lebih dari 90 ribu yang tersebar merata di seluruh Indone- sia. Tingkat NPL kami hingga akhir

JAKARTA – Layanan teknologi keuangan berbasis peer to peer (P2P) lending Akseleran terus fokus menjaga rasio kredit macet ( non performing loan /NPL) di bawah 1% hingga akhir tahun 2019. Berkaitan itu, Akseleran bekerja sama dengan Adira Insurance memberikan fasilitas asuransi kredit untuk invoice financing yang sekaligus produk terutama di Akseleran. “Kerja sama dengan Adira Insurance mulai efektif per 24 Mei 2019 dan merupakan asuransi kredit untuk in- voice financing . Tujuannya untukmen- ingkatkan mitigasi risiko pinjaman gagal bayar dan melindungi pemberi pinjaman di Akseleran,” kata CEO dan

Made with FlippingBook - Online catalogs