SP161112

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 12-13 November 2016

Ada Upaya Dorong Militer Goyang Pemerintah?

T ensi politik saat ini masih panas dan bergejolak. Hal itu terutama setelah demon- strasi besar pada 4 November lalu, yang menuntut proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok, karena diduga melakukan penistaan agama. Pascaaksi demonstrasi, muncul kecurigaan tuntut- an hukum terhadap Ahok hanya tujuan antara atau tujuan sampingan. Tujuan utamanya adalah ingin

menggoyang dan meng- gulingkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Diduga, ada kelompok-kelompok kepentingan yang memanfaatkan Ahok untuk menjatuhkan Jokowi karena dianggap melindungi Ahok. Informasi yang diperoleh SP , saat ini kelompok tersebut masih terus bergerliya. Mereka terus mencoba memecah belah masya- rakat. Salah satu yang momentum pelanggaran yang dilakukan

menjadi sasaran kekuat- an militer, yang dido- rong untuk ikut menggo- yang pemerintah. “Menurut informasi ada gerilya terhadap militer. Namun, pimpinan militer dan TNI menolak- nya, dan solid mendu- kung pemerintah yang sah,” kata sebuah sumber di Jakarta, Jumat (11/11). Menurutnya, ada sejumlah oknum “orang kuat” yang berada di balik gerakan tersebut. Ada juga sejumlah pengu- saha yang ditengarai men- jadi donatur. “Mereka

kelompok yang tidak puas dengan kebijakan Presiden Jokowi. Mereka yang menjadi korban dari kebijakan Jokowi,” ujar- nya. Menurutnya, gerakan kelompok ini akan terus terjadi. Apalagi jika kasus Ahok tidak sesuai dengan tuntutan mereka. Mereka akan memanfaatkan kasus tersebut untuk memobili- sasi massa. “Upaya men- dorong militer menjadi agenda utama kelompok ini. Kalau sampai berhasil maka akan berbahaya bagi bangsa ini,” tuturnya. [R-14]

Trump Bangkitkan Nostalgia Kejayaan AS

[WASHINGTON] Kemenangan Donald J Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 8 November lalu, banyak menuai tanda tanya, terutama karena Trump dianggap sebagai tokoh kontroversi- al. Kalangan pengamat internasional menilai, Trump berhasil memanfa- atkan kelemahan lawannya serta memainkan sentimen-sentimenwarga AS. Kemunculan Trump menjadi tawaran baru untuk perubahan diAS. Sensasi dan semangat revolusi sela- lu muncul dari konglomerat yang penuh kontroversi itu. Kampanye Trump dianggap magnet yang mem- bangkitkan nostalgia kejayaan AS. Slogan “Make America Great Again” mampu disuarakan Trump dengan baik dan lantang. Slogan itu menciptakan dikotomi yang tegas dan jelas, jika disandingkan dengan sloganHillaryClinton, yakni “Stronger Together”. Jajak pendapat yang pernah dilakukan CNN menunjukkan bahwa Trump dianggap mampu menakluk- kan hati rakyat AS dalam isu teror- isme, imigran, danperdagangandunia. Rakyat menaruh harapan besar pada janji Trump menanggulangi radika- lisme di dalam negeri. Banyak orang menuding keme- nangan Donald Trump disebabkan kesalahan Hillary Clinton. Asumsi lain, sistem patriarki di AS belum siap menerima perempuan sebagai kepala negara. Sepanjang sejarah 240 tahun, belum pernah ada capres perempuan. Faktor Obama Clinton boleh jadi bukan satu-sa- tunya faktor, kepemimpinan Presiden Barack Obama dan kekecewaan rakyat AS boleh jadi punya andil besar. Didorong akumulasi kekece- waan selama dua periode kepemim- pinan Barack Obama, Trump pun memetik kemenangan dalampilpres. Ketidakpuasan rakyatAS terhadap pemerintahan Obama sebenarnya sudah terlihat dari jajak pendapat yang digelar oleh Gallup, dan seper- ti dilaporkan Press TV , Desember 2011. Survei menemukan hanya sekitar 17 % rakyat AS yang puas dengan kepemimpinan pemerintah

pada tahun 2011.

Afghanistan dan Irak, sertameluasnya program pemerintah yang memang- kas anggaran negara, kian membuat rakyat Amerika pesimistis. Kebijakan Obama yang menaik- kan harga BBM pada 2012 juga pernah membuat warga marah. Jajak pendapat yang digelar lembaga pemantau independen Ipsos menun- jukkan 68% rakyat Amerika tidak setuju kenaikan harga BBM. Survei yang dilakukan kantor berita Associated Press dan lembaga riset pasar GfK yang melibatkan 1.027 wargaAS, pada Oktober 2015, menunjukkan akumulasi kekecewa- an rakyatAS terhadap pemerintahan Obama kembali terlihat. Rakyat AS pun kecewa saat mengetahui kebi- jakan Obama dalam memerangi kelompokmilitan Negara Islam (IS). Mereka juga pesimistis pada kesuk- sesan militer AS di Afghanistan. Di penghujung kepemimpinan Obama, Partai Demokrat akhirnya menyodorkan nama Hillary Clinton

sebagai kandidat presiden AS. Terpilihnya Hillary seolah tidak menawarkan warna baru dan peru- bahan, jika kandidat Demokrat itu memenangi pilpres 2016. Apalagi, Hillary Clinton pernah menjadi bagian kabinet pemerintahanObama. Bangkitkan Nostalgia Ketua Pusat Kajian Amerika Universitas IndonesiaSuzieSudarman menilai, kunci kemenangan Trump karena kemampuannya membang- kitkan nostalgia tentang kejayaanAS di masa lalu. Situasi perekonomian AS saat ini yang kurang baik men- jadi jualan Trump. Selain itu, Trump juga berhasil menyorot kalangan bawah AS yang sangat menderita. Lain halnya dengan Hillary Clinton, yang kebijakan-kebijakannya cende- rung elitis. “Secara kultur, Amerika suka dipimpin laki-laki. Ditambah, Trump ini orang kaya, menjadi simbol dari materialisme mereka sendiri. Kehadiran Trump memberi pesan bahwa orang kaya akan bisamenang- gulangi penderitaan kalangan peker- ja, kelas bawah,” kata Suzie di Jakarta, Sabtu (12/11) pagi. Menurut Suzie, kalangan bawah bagaimanapun enggan membahas kebijakan yang terlalu rumit, seba- liknya lebih menyukai hal-hal nyata dan sehari-hari. “Hillary sudah dinasihati Bill Clinton untuk mem- perhatikan kelas pekerja, tapi tidak dilakukan karena Hillary terlalu pintar,” ujarnya. Suzie menuturkan hal sama juga diangkat oleh Presiden Rodrigo Duterte saat berkampanye, yakni berupaya membangkitkan kembali nasionalisme Filipina dengan cara melepas keterikatan dengan AS. Duterte berusaha fokus ke dalam negeri, termasuk perangnyamelawan narkoba yang sudah menewaskan ribuan orang. Suzie berpendapat, pasca terpi- lihnya Trump sebagai presiden, janji-janjinya selamakampanye sangat mungkin hanya retorika. Misalnya, janji Trump untuk membangun tem- bok di perbatasan Meksiko dan Amerika sulit dilakukan karena biayanya yang mahal. Sementara itu, Dosen Hubungan

Internasional Universitas Padjajaran Bandung, Teuku Rezasyah, menga- takan fenomena Trump sama dengan saat kampanye mantan presidenAS, RonaldReagan yang juga bekas aktor film dan televisi. Reagan menggu- nakan kata “ great ” (luar biasa), seperti Trump dengan jargon kam- panyenya “Make America Great Again”. “Masyarakat Amerika sekarang melihat masa-masa yang tidak great , karena ekonomi di dalam negeri memburuk. Trump berhasil didukung silent voters yang diam-diam men- dukungnya tapimaludikaitkandengan masalah agama atau suku yang disuarakan Trump,” ujar Rezasyah. Dia menambahkan, warga AS juga tampak sudah jenuh dengan kepemimpinan Obama selama dela- pan tahun. Figur Obama dianggap membosankan karena ekonomi masyarakat tidak semakin bertumbuh, bahkan warga AS menilai kesejah- teraan yang mereka nikmati saat ini lebih rendah dari 20 tahun silam. “Kalau dipimpin oleh penerus Obama, maka tidak akan lebih maju. Janji-janji Hillary tidak meyakinkan bagi generasi muda,” kata Rezasyah. Rezasyah menambahkan, faktor kemenangan Trump juga didukung oleh generasi muda. Kelompokmuda ingin perubahan cepat. Mereka meli- hat Trump merupakan orang yang berhasil di dunia bisnis serta aktif dalam program-program keahlian bisnis. “Trump bisa disebut perancang program, pengendali program, pe- rekrut, dan seseorang yang sanggup menggerakan orang. Dampaknya terlihat sekarang. Orang-orang kaget, bahkanmungkinmereka yangmemi- lih Trump sekalipun tidak menyang- ka hasilnya seperti ini,” ujarRezasyah. Terkait kebijakan luar negeri ke depan, Rezasyah berpendapat situa- sinya masih belum jelas. Trump tampaknya akan mengurangi kegiat- anmiliternya di luar negeri yang bisa menghabiskan US$ 10 triliun per tahun. “Trump mengatakan energi yang selama ini dihabiskan untuk bisnis danmiliter akan dikembalikan ke dalam. Dia akan fokus pembenah- an ekonomi dalam negeri,” kata Rezasyah. [berbagai sumber/U-5/C-5]

Polling ini juga menemukan tingkat kepuasan wargaAS terhadap model kepemimpinan pemerintah mencapai titik terendah. Sebelumnya pada tahun 2008, tingkap kepuasan rakyat AS juga menurun dan hanya mencapai 15%. Hasil jajak pendapat Gallup 2011 itu lebih banyak dipicu oleh mening- katnya krisis ekonomi yang dihadapi AS. Saat itu, sekitar 64% warga menilai masalah ekonomi sebagai kendala utama di AS. Krisis ini juga membuat para petinggi Gedung Putih kebingungan dan faktor utama keti- dakpuasan warga. Pada waktu itu, pemerintah Washington tengah dihadapkan pada defisit anggaran sekitar US$ 1,3 triliun, dan utang yangmencapai US$ 15 triliun. Kondisi defisit anggaran yang membengkak, angka pengang- guran yang meningkat, korupsi yang merebak, kasus perpajakan, serta melejitnya anggaran perang di

AFP/MANDEL NGAN Presiden AS terpilih, Donald Trump , bersama istrinya, Melanie Trump, menyapa pendukungnya, saat menyampaikan pidato kemenangan di New York, Rabu (9/11). Trump terpilih sebagai presiden ke-45 AS, setelah mengalahkan Hillary Clinton.

Made with FlippingBook - Online catalogs