SP161216

Utama

Suara Pembaruan

2

Jumat, 16 Desember 2016

Agus Garap Komunitas Kedaerahan?

G una merebut simpa- ti dan dukungan warga, khususnya di perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, tiga pasangan calon berlomba-lomba mencari kantong-kantong dukungan. Salah satunya, kubu Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni. Pasangan nomor urut 1 itu dikabarkan mulai menggarap dukungan komunitas kedaerahan yang bermukim di DKI. “Kami membidik komunitas daerah yang sudah menetap dan ber- KTP DKI Jakarta,” kata

sumber SP di Jakarta, Kamis (15/12) malam. Sumber yang juga tim suk- ses Agus-Sylvi itu meng- ungkapkan, pihaknya tengah mengga- rap warga asal Jawa Timur yang tinggal di Jakarta dengan cara mem- bentuk relawan dari pro- vinsi itu. Dikatakan pula, tim ter- sebut akan bergerak dari pintu ke pintu untuk men- datangi puluhan ribu warga Jatim yang memiliki hak suara di Pilkada DKI Jakarta. “Mereka sudah lama tinggal di Jakarta dan

memiliki KTP Jakarta. Ini peluang kami untuk men- dulang suara,” katanya Dikatakan, para rela-

Jakarta. Relawan yang ber- asal dari Jatim itu akan keliling ke komunitas masyarakat Jatim di Jakarta. Mereka diminta untuk berdialog serta mengajak tokoh-tokoh asal Jatim di Jakarta untuk mendukung Agus-Sylvi. Sempat beredar kabar bahwa dukungan masyara- kat Jatim di Jakarta itu tidak gratis. Artinya, ada semacam mahar agar para tokoh dan warga Jatim itu memberikan dukungan ke Agus-Sylvi. Ketika dita- nyakan masalah ini, sum- ber itu hanya tersenyum. [W-12]

wan dan anggota tim membagi-ba- gikan kaus dan stiker serta menyapa mereka

dengan sapaan ala Jawa Timuran. Tugas para rela- wan adalah menjalin komunikasi dengan tokoh- tokoh Jatim di Jakarta untuk melakukan konsoli- dasi dan merapatkan baris- an mendukung Agus-Sylvi. Sumber itu mengemu- kakan, ada ribuan masyara- kat Jatim yang ada di DKI

Elektabilitas Ahok-Djarot Kembali Teratas Warga Yakin Ada Politisasi di Balik Kasus Penistaan Agama

[JAKARTA] Tren elektabili- tas pasangan calon gubernur dan calonwakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot SaifulHidayat (Ahok-Djarot) membaik. Lembaga Survei Indonesia melansir, elektabilitas pasang- an petahana itu kembali menempati peringkat teratas, setelah bulan lalu mengalami penurunan akibat kasus duga- an penistaan agama yang dilakukan Ahok. Membaiknya elektabilitas Ahok-Djarot tersebut diyakini karena ada perubahan persep- si warga Jakarta terhadap kasus Ahok. Publik yang semula ragu-ragu, kini mulai rasional dan yakin bahwa ada politisa- si pihak-pihak tertentu yang menunggangi isu tersebut untuk kepentingan politik terkait Pilgub DKI Jakarta. Demikian pula proses hukumyang dijalaniAhok pun dilihat oleh publik terkesan dipaksakan. Rasionalisasi persepsi publik inilah yang membuat elektabilitasnya mengalami rebound . Menurut pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, adalah hal yang wajar apabila elektabilitas Ahok- Djarot rebound . Pasalnya,Ahok yang merupakan sosok kon- troversial telahmenerima efek negatif tiga minggu lalu. Saat itu, elektabilitasAhokmenurun karena kasus dugaan penistaan agama. Namun, menurutnya, hal yang kontroversial terkadang justru mampu menciptakan daya ungkit. “Ada efek (Ahok) terzalimi, ketika publik mera- sa ada politisasi, upaya siste- matis yang inginmenghancur- kan citra seseorang dalam konteks pilkada. Yang terjadi malah simpati dan memilih kembali,” katanya, Jumat (16/12). Dia menyatakan, Ahok- Djarotmasihmempunyaimodal besar, yaitu tingkat kepuasan publik yang mencapai sekitar

65%. “Bagi publik yang sem- pat marah, setelah mendapat penjelasan, mudah bagi mere- kauntukmemilihkembaliAhok karena publik puas dengan kinerjanya,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika ini. Intinya, lanjutYunarto, ada rasa simpati dari publik terha- dap Ahok ditambah aspek rasional kepuasan kinerja. “Orang sudah menerima per- mintaanmaafAhok. Sekarang, mulai ada rasionalisasi dalam melihat kasusAhok,” jelasnya. Dia menambahkan, peran relawan dan parpol pengusung sangat strategis untukmemba- ngun kembali elektabilitas Ahok-Djarot. Khusus bagi parpol, mereka menyadari Pilgub DKI berpengaruh ke konstelasi nasional. “PDI-P tentumenyadari bahwa lawan berat di Pilgub DKI ini adalah Agus (Agus Harimurti Yudhoyono), yang kita tahu berseberanganpolitikdi tingkat nasional. Kekalahan terhadap lawan politik di pilgub, akan berpengaruh pada kesempatan mempertahankan kekuasaan pada Pemilu 2019,” terangnya. Dalam survei yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Kamis (15/12), pasangan Ahok-Djarot men- catat elektabilitas tertinggi yakni 31,8%.Di posisi kedua pasang- anAgusHarimurtiYudhoyono- Sylviana Murni dengan elek- tabilitas 26,5%, disusul pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno dengan 23,9%. Agenda Politik Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Muradi mengungkapkan, ter- dapat sejumlah faktor yang membuat elektabilitas Ahok- Djarot rebound .  Pertama , berkaitan denganmakin terbu- kanya informasi ke publik bahwa unjuk rasa menuntut proses hukum terhadap Ahok disadari tidak semata-mata penegakan hukum. “Ada

agendapolitikyangterselubung. Hal itu disadari publik seiring dengan langkah cepat aparat keamananmengamankan aksi anti-Ahok tersebut,” katanya. Kedua ,mulai terstrukturnya timpemenanganAhok-Djarot, baik dari kalangan relawan maupun parpol, seiring dengan proses hukum kasus Ahok. Ketiga , pemberitaanmasif kasus Ahok membuat publik menjadi lebihmengetahui peta politik. “Publik mencermati apa yang sesungguhnya terja- di dalam proses persidangan, yang terkesan dipaksakan,” tandasnya. Menurut Muradi, dengan kondisi tersebut, calon pemilih khususnya dari kalangan menengah ke atas, tetapmeng- inginkan Jakarta yang lebih baik, sebagaimanayang selama ini telahdilakukanAhok-Djarot. “Sementara basis masyarakat menengah ke bawah yang banyak menjadi bagian yang terlibat dalam sejumlah aksi anti-Ahok, ternyatamassayang didatangkan. Sehingga, meski terpengaruh oleh tuntutan agar Ahok segera ditahan, namun tidak signifikan. Hal itu ter- konfirmasi dari survei di mana

ada tren penurunan, namun rebound pascaaksi 212 (aksi damai 2 Desember lalu),” ucapnya. Secara terpisah, Djarot Saiful Hidayat mengaku ber- syukur dengan hasil survei terakhir yang menunjukkan tren positif. Dia punmenyam- paikan terima kasih kepada warga Jakarta terlibat dalam survei, yangmasihmendukung pasangan Ahok-Djarot. Sedangkan, politisi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait mengatakan, TimPemenangan dan empat partai pendukung Ahok-Djarot memberikan apresiasi kepadawarga Jakarta yang bersikap positif terhadap permintaanmaafAhok. “Hasil survei LSI menyatakan tingkat elektabilitasAhok naik setelah permintaan maafnya. Ini menandakan warga Jakarta membutuhkan orang yang sportif,” kataMaruarar, Jumat (16/12). Karena itu, Maruarar ber- harap, tren positif elektabilitas Ahok dapat terus bertahan hingga pemungutan suara 15 Februari2017.[C-6/LEN/D-14] Terkait halaman > 28

[JAKARTA] Persidangan Basuki Tjahaja Purnama dalam kasus dugaan penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, diperkirakan tidak bisa selesai sebelum pemungutan suara Pilgub DKI Jakarta, pada 15 Februari 2017. Oleh karenanya, sesuai aturan, proses hukum yang tengah berjalan tidak akan berpengaruh terhadap proses pilgub. Kuasa hukum Ahok, Sirra Prayuna, saat dihubungi Jumat (16/12) menjelaskan, persidangan hanya digelar sekali dalam sepekan. Pada sidang berikutnya, Selasa (20/12), agendanya adalah mendengarkan tanggapan jaksa atas nota keberatan yang disampaikan terdakwa Ahok dan tim kuasa hukumnya. “Sidang berikutnya, 27 Desember, jika tidak dinya- takan masa libur, agenda persidangan adalah pembaca- an putusan sela oleh hakim. Namun, jika sudah mema- suki masa libur Natal dan akhir tahun, pembacaan putusan sela tentunya juga akan mundur waktunya,” ungkapnya. Memasuki tahun 2017 hanya ada tujuh kali persi- dangan hingga pemungutan suara 15 Februari nanti. “Kalau saksi yang dihadirkan jaksa dan kuasa hukum cukup banyak, tentunya akan semakin panjang lagi waktu persidangannya. Jadi mustahil vonis pengadilan di tingkat pertama bisa dikeluarkan sebelum pemungut- an suara,” ujar Sirra. [RIA/A-17] Mustahil, Vonis Ahok Sebelum Pemungutan Suara

Made with FlippingBook - Online catalogs