SP180519

Suara Pembaruan

Utama

Sabtu-Minggu, 19-20 Mei 2018

3

Pemberantasan Terorisme Presiden: Preventif Lebih Penting dari Represif

[JAKARTA] Presiden JokoWidodo (Jokowi)menegaskan,untukmengatasi ancaman terorisme, tindakanpreventif jauh lebihpentingdibandingkan lang- kah-langkah represif. Hal ini menjadi sorotanPresidenmenyusulserangkaian aksi bom bunuh diri di Surabaya akhir pekan lalu, yang kesemuanya melibatkananak-anakdi bawahumur. “Langkah-langkahpreventif yang paling baik adalah bagaimana kita semuanya bisamembersihkan lemba- ga-lembaga pendidikan dari TK, dari SD, dari SMP, SMA, perguruan tinggi, dan juga ruang-ruang publik, mim- bar-mimbar umum, dari ajaran-ajaran ideologi yang sesat yaitu terorisme,” ucap Presiden. saat berbuka puasa bersama pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Kerja, tokoh agama Islam, dan tokoh-tokoh lainnya di Istana Negara, Jakarta, Jumat (18/5). Hal ini menjadi sorotan Presiden karenadari serangkaianaksi terorisme yang terjadi di Surabaya danSidoarjo, semuanya melibatkan anak-anak di bawah umur. “Seharusnya anak-anak ini, masih dalam kondisi, mungkin masihsenangbermain-maindihalaman rumah atau di gang-gang, dan juga seharusnya anak-anak ini juga masih dalamkondisi senang-senang sekolah. Dan mungkin juga masih senang-se-

ungkapkanbahwapemerintahdanDPR berusahaagar revisiUUAntiterorisme bisa segera diselesaikan. Sementara itu, terkait pengaktifan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) TNI untuk menangani terorisme, Presiden me- ngatakan, bahwa hal tersebut hanya akan dilakukan apabila situasi sudah di luar kapasitas Polri. “Pemerintah dalam proses mem- bentuk Komando Operasi Khusus Gabunganyangberasal dariKopassus, dari Marinir, dari Paskhas, dalam rangka memberi rasa aman kepada masyarakat. Tetapi dengan catatan itu dilakukan apabila situasi sudah di luar kapasitas Polri,” tandasnya. Perubahan Definisi Secara terpisah, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum- ham) Yasonna Laoly menegaskan, pemerintah sudah tidak ada masa- lah lagi dengan revisi UU tentang terorisme. Pemerintah sudah satu suara, termasuk masalah definisi. “Sudah kita sepakati. Tinggal nanti kitabahasdenganDPR,”kataYasonna seusai menghadiri rapat koordinasi di Kementerian Polhukam, Jakarta, Jumat (18/5). Diamengakui adasedikit perubah-

anpadadefinisi. Perubahan ituberbeda dengan draf yang sudah ada selama ini. Namun, dia engan menyebut apa perubahan definisi yang disiapkan pemerintah. “Ada perubahan, ada perubahan. Perubahan dikit aja . Tapi kita sudah sepakat semua, pemerintah sudah sepakat,” tuturnya. Dia berharap pekan depan revisi UUAntiterorisme sudah mulai diba- has kembali. Diharapkan pula agar bisa segera disahkan sehingga bisa digunakan. Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto menjamin keterlibatan TNI dalammemberantas terorisme tidak akan melampaui kewenangannya. “Saya jamin militer dengan UU itu tidak akan, katakanlah eksesif (berlebihan), tidak akan menjadi super power lagi,” tegasnya. Dijelaskan, keterlibatan TNI karena terorisme adalah musuh negara. Terorisme bertindak kejam, di luar batas peri kemanusiaan. Den- gan tipikal seperti itu, pemberantasan terorisme harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk TNI. “Militer hanya sebatas mem- perkuat operasi kepolisian agar kita optimal dalam melawan aksi terorisme,” ujarWiranto. [C-6/R-14]

foto-foto:istimewa

Yasonna Laoly

Wiranto

nangnya berkumpul dengankeluarga, berkumpul dengan teman-temannya,” katanya. Presiden mengingatkan betapa kejamdan kejinya ideologi terorisme yang sudah melibatkan anak-anak dalam setiap aksi teror. Oleh karena itu, Presiden berharap tidak ada lagi keluarga yang hancur karena ideologi sesat seperti terorisme. “Saya hanya inginmengingatkan artinya ini apa?Artinya ideologi yang kejam ini, ideologi terorisme ini telah

masuk ke dalamsendi-sendi keluarga kita, keluarga di Indonesia. Ini yang harus hati-hati,” ujarnya. Peran keluarga, lanjut Presiden, seharusnya membangun masa depan anak, membangkitkan optimisme kepada anak, memberikan nilai-nilai yang baik dan nilai-nilai budi pekerti kepada anak. “Tapi justru kebalikan- nya, hilang semuanyakarenakeluarga itu mengikuti ideologi terorisme,” lanjutnya. Untuk itu, Presiden meng­

Made with FlippingBook Online newsletter