SP180814

Suara Pembaruan

Utama

2

Selasa, 14 Agustus 2018

Dukungan Setengah Hati Partai

S eluruh partai politik pe- serta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, terutama yang memiliki kursi di DPR, telah mengusung pasan- gan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Dua pasangan yang diusung itu, yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, akan bertarung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Meski seluruh partai telah

mengusung pasangan calon, tetapi dukungan itu dika- barkan tidak solid. Menurut informasi, ada partai politik yang setengah hati mem- berikan dukungan kepada pasangan capres/cawapres. “Ada partai yang tidak sepenuhnya mendukung pasangan yang mereka usung. Hal itu terkait dengan keinginan kader-kader partai itu di daerah, yang cender- ung memilih pasangan lain,

berbeda dari yang diusung partai,” kata sumber SP di Jakarta, Senin (13/8). Dikatakan, sejak awal memang ada

partai lain jika pimpinan pusat tidak mengindahkan aspirasi mereka. “Tentu saja ini membuat pusing jajaran pimpinan pusat partai. Mereka khawatir kehilangan kader di daerah yang berpotensi mendulang suara bagi partai pada pemilu nanti. Akhirnya, pengurus dan kader-kader di daerah di beri kebebasan untuk memilih atau mendukung capres/cawapres yang sesuai dengan keinginan mereka,” katas sumber itu. [O-1]

perbedaan pendapat dari pengurus, kader, dan simpatisan partai

di daerah terkait dukungan tehadap pasangan capres/ cawapres. Mereka tidak setuju dengan sikap pimpinan pusat partai. Bahkan, mereka sem- pat mengancam akan men- gundurkan diri atau pindah ke

Pilpres 2019 Jangan Remehkan Isu Ekonomi

[JAKARTA] Masalah ekonomi sering menjadi pemicu runtuhnya pemerintahaan yang berkuasa. Isu ekonomi selalumenjadi pertimbangan masyarakat untuk melihat pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang mampumengatasi masalah ekonomi, terutama di kalangan masyarakat bawah. Oleh karena itu, persoalan ekonomi jangan dipandang remeh. Meski terpuruknya Indeks Harga SahamGabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah disebabkan faktor ekster- nal, pemerintahan Presiden Jokowi janganmenganggap enteng persoalan itu. Perlu langkah-langkah konkret agar faktor eksternal tersebut tidak bertransformasi menjadi persoalan dalam negeri hingga membawa Indonesia ke dalam krisis ekonomi. Ekonom dari Universitas Surakarta, Jawa Tengah, Agus Tri- hatmoko mengatakan, berdasarkan fakta selama ini, masalah ekonomi sering menjadi pemicu runtuhnya sebuah rezim pemerintahaan. Dika- takan, melemahnya rupiah terhadap dolar AS dan IHSG yang terpuruk, memang pada walnya hanya ber- dampak pada kalangan pelaku usaha. “Tetapi, bila masalah tersebut dibiarkan berlarut maka akan mem- bawa dampak pada perekonomian nasional, terutama di tingkat mas- yarakat bawah. Mereka adalah para konstituen para pemilihan presiden nanti, sehingga pada pertarungan pasangan capres dan cawapres terkait isu ekonomi akan menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih. Mereka tentu berharap pasangan yang dipilih mampu men- gatasi situasi ekonomi Indonesia saat ini,” ujarAgus kepada SP di Jakarta, Senin (13/8). Dikatakan, andalan pasangan Jokowi-Ma’ruf adalah masifnya pembangunan infrastruktur dan berbagai kartu layanan sosial mas- yarakat. Isu-isu terkait masalah nasionalisme dan politik identitas yang ditudingkan ke Jokowi akan teratasi dengan kehadiran Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Dari sisi ekonomi, Ma’ruf juga dianggap memiliki kepedulian terh- adap kelompok-kelompok masyar- akat marjinal, terutama di kalangan nahdliyin. Jadi, kata Agus, tinggal

partai pendukung Jokowi-Ma’ruf dan jajaran tim sukses siap menghadapi serangan dari sisi ekonomi yang di- lakukanpasanganPrabowo-Sandiaga. Koalisi Jokowi-Maruf menyadari ancaman krisis ekonomi sebagai dampak dari krisis ekonomi Turki bisa digunakan penantang untuk menyerang. Cara-cara seperti itu sah- sah saja dalam politik dan pihaknya siap menjawab kritikan tersebut. “Goreng menggoreng dalam politik itu sudah biasa. Meman- faatkan apa yang terjadi di Turki, sah-sah saja. Tetapi, harus jelas dulu kasusnya.Apakahmemang kejadian di Turki akan berdampak langsung bagi perekonomian Indonesia? Itu harus jelas,” kata Mekeng. Dikatakan, krisis ekonomi bisa dipengaruhi dua hal, yaitu persoalan internal dan eksternal. Dari internal, krisis terjadi jika fondasi ekonomi le- mahdan lembaga-lembagakeuangan, seperti perbankan tidak prudent dan hati-hati dalammenjalankan bisnis. Krisis ekonomi Indonesia pada 1998 terjadi karena fondasi ekonomi rapuh dan bank-bank sangat lemah akibat tata kelola yang buruk. “Saat ini, kita lihat, ekonomi kita baik. Pertumbuhan ekonomi bagus, sekitar 5,3% pada semester ini. Lembaga-lembaga keuangan kita juga sangat sehat. Berbagai kebijakan sudah diambil dengan sangat hati-hati. Setiap kali ada isu atau kejadian di luar, mereka (pemer- intah) cepat Menanggapi, sehingga tidak merembet ke dalam negeri,” ujar Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR itu. Dengan kinerja seperti itu, dia yakin krisis ekonomi tidak akan terjadi di Tanah Air. “Dari sisi eksternal, yakni masalah di Turki, harus diketahui betul apakah Indonesia memang bergantung pada negera tersebut. Apakah Turki memang negara tu- juan ekspor Indonesia yang paling besar?Apakah Indonesiamengimpor produk-produk Turki dalam jumlah besar?” ujarnya. Jika neraca perdagangan Indo- nesia dan Turki sangat besar, krisis yang terjadi di sana bisa berpen- garuh terhadap ekonomi Indonesia. “Ekonomi Turki kelihatannya kecil. Paling yang terkena pengaruh hanya di sekitar negara itu. Kita masih san- gat jauh,” ujar Mekeng. [O-2/R-14]

foto-foto: istimewa

Ari Nurcahyo

Melkias Marcus Mekeng

Agus Trihatmoko

ditonjolkan apa saja yang menjadi andalan kebijakan ekonomi untuk masyarakat bawah tersebut. Menurut dia, tim sukses Jokowi harus bekerja ekstra keras untuk bisa meredam serangan lawan terkait isu ekonomi itu. Mereka juga harus mampu memberikan penjelasan se- suai fakta dan sesederhana mungkin agar mudah dicerna masyarakat. “Persoalan yang dihadapi Turki jelas akan menjadi masalah terh- adap perekonomian nasional. Cara mengatasinya, tentu pemerintah harus berhemat atau meredam tidak melakukan ekspansi investasi jangka panjang untuk sementara waktu ini. Prioritasnya adalah pada kebijakan yang bersifat padat karya dan mem- proteksi agar bahan kebutuhan pokok dan rumah tangga tidak bergejolak naik,” ujarnya. Punya Andil Ekonomdari Institute for Devel- opment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menga- takan, faktor global dan domestik memiliki andil dalampelemahan kurs rupiah dan IHSG. Faktor tekanan global berasal dari kekhawatiran krisis Turki dengan anjloknya Lira hingga 40% year to date . Krisis Turki diprediksi akan me- nyebabkan spill over effect ke Eropa dan negara berkembang lainnya. Kondisi ini diperparah oleh sanksi dariAS berupa kenaikan bea masuk aluminium asal Turki. Dampaknya, aset di negara berkembang agak di- hindari. Investor global memborong dolar dan treasury bond sebagai

pelarian atau flight to quality ke aset yang lebih aman. Jadi, kondisi Turki diproyeksi akan berlangsung cukup lama. “Sekali lagi, sistemik ke emerging market ,” katanya. Dikatakan, hasil pendaftaran capres dan cawapres ditanggapi beragam. Pasar, khususnya investor asing kaget Jokowi memilihMa’ruf Amin yang dinilai belum kompeten dalam menyelesaikan masalah ekonomi yang mendesak. Sementara, visi dan misi Prabowo-Sandiaga dinilai masih abstrak. Ini membuat IHSG lebih di- topang investor domestik, sementara investor asing dalam satu minggu terakhir membukukan penjualan bersih Rp 1,74 triliun. Direktur Eksekutif Para Syindi- cateAri Nurcahyo mengatakan, isu ekonomi yang langsung bersentuhan dengan rakyat adalah soal daya beli dan harga kebutuhan pokok, karena menyangkut perut rakyat. Jokowi sebagai calon petahana harus benar-benar menjaga dua hal ini agar tidak berdampak negatif. Caranya, kata dia, dengan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan mengerem turunnya daya beli masyarakat. “Di tengah pelemahan daya beli yang terus mengintai, ancaman melambungnya penaikan harga kebutuhan pokok menjadi hal se- rius yang harus dihadapi petahana Jokowi. Semua prestasi kinerja kebijakan ekonomi Jokowi selama empat tahun memerintah, terutama di bidang infrastruktur di pelosok Tanah Air, bisa rontok jika tidak

hati-hati mengelola dua masalah ini,” kata Ari kepada SP di Jakarta, Selasa (14/8). Dia menyarankan, langkah yang dilakukan ke depan dalam kapasitas Jokowi sebagai presiden adalah harus bisa mendorong tim ekonomi di jajaran kabinet untuk mencari terobosan kebijakan fiskal yang bersinergi dengan kebijakan moneter. Terutama, ujarnya, untuk menjaga stabilitas ekonomi, seperti nilai rupiah dan defisit transaksi. Peneliti dari ForumMasyarakat Peduli Parlemen Indonesia (For- mappi) Lusius Karus mengingatkan, koalisi Jokowi jangan menganggap remeh ancaman krisis ekonomi yang saat ini menghantamTurki. Krisis itu bisa berimbas ke Indonesia jika tidak diantisipasi lebih awal. Ancaman krisis seperti itu bisa digunakan oleh lawan politik untuk mengalahkan Jokowi dan Ma’ruf Amin. “Hampir semua tim ekonomi pasangan ini mengatakan Indonesia masih aman, karena fundamental ekonominya bagus. Tetapi, hati-hati. Nilai tukar rupiah terus melemah. IHSG juga terusmelemah. Ini bahaya bagi Jokowi,” kata Lusius. Dikatakan, Soeharto yang ber- kuasa 32 tahun bisa tumbang karena krisis ekonomi. Pada 1998, Soeharto sangat kuat dan sakti. Semua lini politik dia kuasai. Bahkan, saat itu, Soeharto sempat diusulkan menjadi presiden seumur hidup. Tetapi, goyangan ekonomi membuat dia akhirnya tumbang. Politisi Partai Golkar, Melkias MarcusMekengmengatakan, koalisi

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker