ID190625

seLASA 25 JUNI 2019

24

BRIlink juga, sehingga haji dan umrah lebih mudah, dan nanti ada biro travel juga supaya terjamin. Nantinya kami minta uangnya jangan ditarik dulu sampai orangnya pulang (pulang pergi haji),” tutur Suprajarto. Hal tersebut karena BRI akan mem- fasilitasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dalam penyediaan uang kertas asing ( bank notes ) untuk biaya hidup atau living cost 214 ribu jemaah haji 2019. Ini menjadi kali keenam BRI menyediakan bank notes untuk jemaah haji. “Total fasilitas bank notes yang akan kami sediakan untuk didistribusikan kepada para jemaah haji sebanyak 321 juta riyal atau sebesar US$ 85,6 juta yang senilai dengan Rp 1,21 triliun,” ungkap Suprajarto. Melalui gerai Money Changer BRI yang ada di seluruh embarkasi, jemaah haji yang memerlukan SAR pecahan kecil dapat menukar bank notes riyal pecahan 1, 5, dan 10. BRI juga melayani penukaran uang dengan sistem bundling , dengan nominal Rp 500 ribu, Rp 1 juta, Rp 5 juta dan Rp 10 juta dengan kurs sesuai yang berlaku.

kinerja bisnisnya ke depan. Pihaknya tahun ini masih optimistis pertum- buhan kredit akan sesuai target. Sampai dengan kuartal kedua tahun ini, Suprajar to memproyeksikan per tumbuhan kredit bisa tumbuh dua digit. “Kami masih optimistis, mudah-mudahan MK (Mahkamah Konstitusi) segera memutuskan, kredit investasi masih tumbuh. Untuk kuartal II masih dua digit, sekitar 12- 14%,” kata Suprajarto. Gandeng BPKH Pada kesempatan itu, Suprajarto menjelaskan, pihaknya juga akan mengembangkan anak usaha syariah PT BRI Syariah Tbk menyasar tran- saksi nontunai ( cashless ) untuk jemaah haji dengan bekerja sama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Menurut dia, potensi jemaah haji dan umrah sangat besar. Terlebih, tahun depan Arab Saudi akan memberlak- ukan transaksi nontunai, sehingga hal tersebut menjadi peluang bagi BRI. “Kami kembangkan BRI Syariah untuk yang cashless , dan kami juga buka semua outlet untuk BRI Syariah,

Dia mengatakan, untuk bisa ber- hubungan dengan otoritas di Malaysia atau Singapura tidak bisa langsung, sehingga harus melalui agensi. Hal tersebut yang membuat perseroan kesulitan untuk mengetahui dokumen apa lagi yang dibutuhkan, karena tidak langsung bertemu dengan otoritas. “Model di sana harus berhubungan dengan agensi dan sulit, kami tidak tahu apa yangmasih kurang. Sekarang kami jajaki dengan Taiwan tapi ke- marin ada kendala hubungan dip- lomatik, tapi Alhamdulillah sudah membaik,” imbuh Suprajarto. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BRI memiliki tiga kantor cabang di luar negeri, yakni di Singapura (BRI Singapore Bank), di New York (BRI New York Agency), dan di Cayman Island (BRI Cayman Island Branch). Kemudian, BRI juga memiliki tiga kantor cabang pembantu (KCP) di Timor Leste, antara lain KCP BRI Audian, KCP BRI Fatuhada, dan KCP BRI Hudilaran. Dengan rencana pembukaan kantor cabang di Taiwan, diharapkan dapat membantu perseroan meningkatkan

Taiwan. Selain itu, BRI akan menjajaki negara lain yang secara birokrasi dan aturan tidak terlalu rumit dan tidak memberatkan. Suprajar to mengungkapkan, pi- haknya siap untuk berkompetisi secara global supaya tidak kalah dengan perusahaan asing. Secara ber- tahap, akan membentuk sumber daya manusia (SDM) untuk lebih siap ke depan. “Kenapa kami mau kompetisi dengan global? karena kalau tidak, saya khawatir bank asing yang akan menguasai Indonesia,” ujar dia. Lebih lanjut Suprajartomenuturkan, regulasi pembukaan kantor cabang di Malaysia cenderung sulit, sehingga belum ada bank asal Indonesia yang masuk ke Malaysia. Di samping itu, untuk mendapatkan basis nasabah ( customer base ) juga dinilai sulit. “Regulasi Malaysia dan Singapura itu sulit, untuk modal harus ditem- patkan Rp 1 triliunminimal, dengan op- erasional dibatasi, customer base juga sulit. Jadi di negara yang tidak familiar sulit melihat potensinya. Untuk sewa juga kadang dapat perlakuan tidak adil di Malaysia,” ungkap Suprajarto.

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memproyeksikan pembukaan kantor cabang BRI di Taiwan akan rampung pada awal tahun depan. Sementara itu, proses pembukaan cabang di Taiwan masih terkendala regulasi di Taiwan.

sangat besar untuk dirambah. Terle- bih, dia menilai belum ada bank asal Indonesia beroperasi di Taiwan. Untuk itu, jika terlaksana, BRI merupakan bank asal Indonesia pertama yang berada di Taiwan. “OJK sudah mendukung, Kemen- terian Luar Negeri juga dukung, tahun ini bisa buka di Taiwan. Potensi Taiwan itu besar sekali, pertumbuhan tiap tahun itu besar karena ada 300 ribu pekerja Indonesia di Taiwan,” jelas Suprajarto. Menurut dia, hal tersebut menjadi sangat ideal dan potensi bisnis besar untuk bisa mengembangkan bisnis di

“Kami masih terbentur birokrasi di Taiwan, tapi tinggal sedikit lagi, perkiraannya awal tahun depan su- dah (rampung pembukaan cabang),” terang Direktur Utama BRI Suprajarto kepada Investor Daily , ditemui di Gedung BRI, Jakarta, Senin (24/6). Namun, Suprajarto enggan menye- but secara pasti dana yang disiapkan untuk pembukaan kantor cabang di Taiwan tersebut. “Tidak besar, kecil lah dananya,” ujar dia. Menur ut dia, BRI masih akan ekspansi bukan hanya dalam negeri tapi juga ke luar negeri. Untuk itu, pihaknya melihat potensi di Taiwan

Investor Daily/IST

tumbuhan sebesar 29,61% se- cara year on year (yoy). Khusus untuk transaksi pada bulan Ra- madan tumbuh 58,73% apabila dibandingkan dengan volume transaksi bulan Ramadan tahun lalu. “Adapun selama bulan Ra- madan j i ka d i band i ngkan dengan rata-rata bulan se- belumnya meningkat sebesar 20%. Untuk negara-negara kon- tributor volume transaksi rem- itansi yang besar tentunya neg- ara-negara kantong TKI seperti Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Arab Saudi,” ungkap Rico. Rico menambahkan, sejalan dengan pertumbuhan volume transaksi remitansi, per Mei 2019 fee based income yang berasal dari transaksi remitansi tercatat tumbuh sebesar 10-15% (yoy). “Untuk posisi akhir tahun 2019, kami memproyeksikan fee based income dari transaksi remittance dapat tumbuh pada kisaran yang sama dengan posisi Mei 2019. Hal tersebut dapat dicapai dengan strategi optimalisasi aplikasi mobile remittance ser ta menggenjot potensi transaksi yang terdapat pada cabang luar negeri,” tutur Rico. Lebih lanjut Ricomengatakan, sebagai satu-satunya bank BUMN yang beroperasi full license di Jepang dengan kantor cabang di Tokyo dan sub branch di Osaka, BNI berkomitmen untuk terus memberikan pelay- anan terbaik dan unggul dalam layanan pengiriman uang dari Jepang ke Indonesia. K y o d a i R e m i t t a n c e merupakan perusahaan remit- ansi dengan 17 kantor cabang di seluruh Jepang meliputi Tokyo, Osaka, Fukuoka, Okinawa, Shiga, dan Gunma. Perusahaan ini mendapatkan didukung dari lebih 27 ribu ATM Japan Post Bank. (ris)

JAKARTA – Perkembangan tekno- logi mendorong perbankan di In- donesia melakukan digitalisasi guna memudahkan nasabah dalam melak- ukan transaksi dan menghimpun informasi. Di sisi lain, perusahaan jasa financial technology ( fintech ) juga gencar menawarkan transaksi yang lebih efisien dan mudah di sektor keuangan, sehingga hal ini membuat bank harus lebih kreatif dan inovatif melihat kebutuhan masyarakat. Fintech Officer Monetary Authority of Singapore (MAS) Sopnendu Mo- hanty mengatakan, bank di Indonesia perlumenghubungkan teknologi yang berkelanjutan, karena saat ini butuh konektivitas lebih dan kemampuan lebih guna meningkatkan performa bank. Seperti fintech , bank harus melihat kebutuhanmasyarakat dahulu JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menggandeng perusahaan rem- itansi Global Unidos Co Ltd atau Kyodai Remittance dalam rangka ter us meningkatkan volume remitansi BNI dari Jepang ke Indonesia. Kerja sama ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas lay- anan remitansi BNI khususnya bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Jepang. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Per- janjian Kerja Sama (PKS) antara General Manager BNI Tokyo Ario Bimo dengan CEO Kyo- dai Yuichiro Kimoto di Tokyo, Jepang, Senin (24/6). Penan- datanganan tersebut disaksikan oleh Pemimpin Divisi Internas- ional BNI Eko Setyo Nugroho. Direktur Bisnis Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo mengatakan, kerja sama ini merupakan wujud ko- mitmen BNI sebagai agent of de- velopment untuk meningkatkan devisa negara dengan mem- berikan layanan terbaik bagi diaspora dan PMI di Jepang. “Dengan semakin lengkapnya fasilitas pengiriman uang ke Indonesia tersebut maka proses tranfer dana menjadi yang lebih mudah, cepat, aman, dan dapat dilakukan dari seluruh pen- juru Jepang. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong para PMI untuk menjadikan BNI sebagai bank penampung dana simpanannya,” kata Rico dalam keteragan tertulis yang diterima Investor Daily , Senin (24/6). Rico mengungkapkan, saat ini lebih dari 45 ribu pekerja asal Indonesia bekerja di berba- gai sektor seper ti per tanian, manufaktur, dan perikanan di Jepang. Adapun hingga Mei 2019, volume bisnis remitansi BNI dari PMI mengalami per-

Perjanjian Kerja Sama Remitansi Dari kiri ke kanan, Pemimpin Divisi Internasional BNI Eko Setyo Nugroho, General Manager BNI Tokyo Ario Bimo, CEO Kyodai Yuichiro Kimoto, dan Direktur Kyodai Tanimoto Kashiko usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Remitansi antara BNI dan Kyodai di Tokyo, Jepang, Senin (24/6/2019). Kerja sama ini akan semakin mempermudah para pekerja migran di Jepang untuk melakukan pengiriman uang ke Indonesia mengingat Kyodai memiliki cabang yang tersebar di penjuru Jepang. Sampai dengan bulan Mei 2019, volume bisnis remitansi BNI dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengalami pertumbuhan sebesar 29,61% secara year on year (yoy).

SMS banking , internet banking , mobile banking , dan Jatimcode) hingga Jatim Elektronik Transfer Sistem (JETS). Dengan adanya MoU ini, menurut Ferdian, Bank Jatim berharap ke de- pan dapat meningkatkan kinerja UUS. Hingga Mei 2019, Bank Jatim men- catat aset sebesar Rp 2,2 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1,6 tri- liun, dan pembiayaan yang diberikan sebesar Rp 1,25 triliun. “Pembiayaan yang diberikan didominasi oleh pem- biayaan kepada UKMsebesar Rp 932,6 miliar,” kata dia. (ros)

sistem pembayaran dan jasa lainnya. Fungsi UUS Bank Jatim sebagai lembaga Apex adalah sebagai pool- ing of fund dan lender of the first resort bagi bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). “Dengan demikian Bank Jatim memiliki tugas untuk memperkuat bisnis dan mendukung kesehatan BPRS di Jawa Timur,” kata Ferdian. Dia menambahkan, Bank Jatim juga memiliki fasilitas-fasilitas yang mumpuni sebagai lembaga Apex BPRS, mulai dari fasilitas e-channel yang lengkap (ATM,

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah DPW Asbisindo Jawa Timur Slamet Riyanto, disaksikan langsung oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur Heru Cahyono di Hotel Golden Tulip Holland Resort, Batu, Jawa Timur, Senin pada 24 Juni 2019. Dalam kesepahaman tersebut, UUS Bank Jatim bertindak sebagai Lembaga Apex Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Ferdian mengatakan, kerja sama ini meliputi penyediaan kebutuhan jasa layanan keuangan seperti penyediaan dana, penyimpanan dana, layanan

SURABAYA – PT Bank Pemban- gunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) melalui Unit Usaha Syariah (UUS) bersinergi dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Kompar temen Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, untuk meningkatkan layanan keuangan perbankan syariah di Jawa Timur. Sinergi itu dituangkan dalam ben- tuk penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Bank Jatimdengan Asbisindo, oleh Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha dan Ketua Kompartemen

(BTPN) Ir wan M Habsah menu- turkan, dengan berkembangnya per usahaan fintech masyarakat dengan mudah mekukan transaksi keuangannya tanpa harus mempun- yai akun bank. Oleh karena itu, saat ini bank harus melakuan perubahan dengan memanfaatkan digitalisasi yang ada. “Jadi bank itu har us ber ubah, berubahnya itu melakukan digital- isasi dengan memanfaatkan sistem yang ada. Jadi ini dalam rangka transformasi dalam waktu yang akan datang. Kalau bank tidak melakukan apa-apa akan mati,” lanjut dia. Irwan menambahkan, seharusnya bank bisa melihat perkembangan pasar lebih jeli. Ada kebiasaan baru dimasyarakat, maka demikian juga ada hal baru yang bisa diadopsi oleh bank. (c04)

ber daya manusianya sendiri dalam menanggapi digital banking . Untuk tantangan eksternal adalah regulasi yang kurang menunjang, seperti per- aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang terhubungnya bank dengan market place . Selain itu, dia menyoroti orientasi bisnis bank terhadap digital banking . “Jadi halangan dari luar atau dari dalam yang harus kita lihat. Banyak yang belum sadar akan hal ini. Ban- yak bank yang tidak tahu tranformasi digital ini. Transformasi digital ini di- anggap tinggal beli teknologi, ditanam, terus jadi. Masalahnya berbeda, ini harus dilihat bisnisnya mau ke mana dulu, karena bisnis modalnya juga kan berubah,” tutur dia. Di sisi lain, Komisaris Independen Bank Tabungan Pensiun Nasional

digital banking ini memang banyak didorong oleh perkembangan fintech . Terdapat fungsi bank yang diambil alih oleh fintech, sehingga banyak bank mulai melihat terdapat sistem yang lebih efektif dan efisien, seperti fungsi pembayaran ( payment ). “Itumemberikan contoh bagaimana menjalankan sesuatu lebih efisien dan lebih murah dengan memenuhi ke- butuhan masyarakat, yang selama ini bank lebih mengarahkan masyarakat dalambentuk pelayanannnya. Sement- ara fintech memenuhi dan membuat produk untuk kebutuhan mayarakat,” ujar dia. Bayu menjelaskan, bank-bank di Indonesia memiliki dua tantangan dalam melakukan digital banking yaitu halangan internal dan eksternal. Halangan internal merupakan sum-

penting, khususnya dalam mempro- teksi nasabah. Supnendu juga menilai banyak bank yang keliru mengartikan digitalisasi perbankan lantas menciptakan produk bagi masyarakat. Menurut dia, se- belummenciptakan ataumeluncurkan produk sebaiknya digitalisasi dimulai dari infrastruktur perbankan. “Jadi infrastruktur didalamnya juga harus digital dulu. Lalu kebu- tuhan digital nasabah disesuaikan. Ini terkait juga dengan perilaku yang harus diubah. Tidak langsung masuk pada produk, namun mulailah dari infrastruktur itu sendiri. Lalu berikan produk yang diinginkan masyarakat,” kata dia. Sementara itu, Direktur Eksekutif Intellectual Business Community Bayu Prawira Hie menyebutkan, tren

sebelum melakukan digitalisasi. “ Fintech bisa menjadi pionir untuk melihat kebutuhan masyarakat. Kita melihat fintech yang sukses, maka itu yang harus diadopsi oleh bank. Jadi bank melihat fintech itu sebagai pionirnya mereka. Sebab fintech ini pintar, ketika tidak laku mereka buat lagi yang lain,” kata dia di Jakarta dalam seminar Regional Trends In Digital Banking and Fintech yang diselenggarakan Ikatan Bankir In- donesia (IBI), Senin, (24/6). Dia menambahkan, dengan potensi pasar yang besar di Indonesia, fintech tidak dianjurkan untuk menggantikan fungsi-sungsi bank, tapi membantu atau berintegrasi dengan bank agar tetap eksis. Bank sebagai bisnis yang menjual kepercayaan dengan berbagai regulasi yang mengaturnya menjadi

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online