SP160314

Opini & Editorial 12

Suara Pembaruan

Senin, 14 Maret 2016

SP

Pemimpin Umum: Theo L Sambuaga Wakil Pemimpin Umum: Randolph Latumahina

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Primus Dorimulu

Editor at Large: John Riady

Memihak Kebenaran

Tajuk Rencana

Golkar Butuh “Reformer” M usyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golongan Karya (Munaslub Golkar) harus dijadikan momentum internal untuk sebuah kelahiran kembali atau reborn . Golkar yang lahir kembali adalah Golkar yang kuat, sama seperti ketika awal reformasi digulirkan. Meski partai berlambang pohon beringin ini sa- ngat identik dengan rezim Orde Baru, ketika rezim Soeharto ditumbang- kan, Golkar tetap eksis. Para elite Golkar waktu itu begitu solid mengkonsolidasikan diri sehing- ga tetap bertahan di percaturan politik Indonesia. Golkar tidak tergilas oleh mesin reformasi. Kader-kader di daerah pun sangat loyal kepada partai. Namun seiring perjalanan waktu Golkar melemah seiring terjadinya perubahan tata kelola partai. Golkar semata dijadikan kendaraan politik mencapai kursi presiden. Salah satu fungsi partai politik memang menyiap- kan kader-kader pemimpin bangsa. Namun demikian, bukan berarti parpol bisa menjadi milik pribadi dan digunakan untuk kepentingan sendiri lantas menjadikan tata kelolanya seolah perusahaan pribadi. Saat Akbar Tanjung sebagai ketua umum, pamor Golkar masih mon- cer. Namun setelah itu lambat laun aspirasi pendukung dan kadernya tera- baikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyelenggaraan musyawa- rah nasional (munas) dengan memobilisasi massa memakan biaya yang sangat besar. Penyelenggara tak hanya memberikan biaya transportasi kepada para pengurus daerah melainkan juga biaya “transportasi plus” untuk kepentingan dukungan pada kelompok tertentu. Baik Munas Bali maupun Munas Ancol, aroma “transportasi plus” ini mengemuka. Penggalangan dukungan semata dengan dorongan uang inilah salah satu yang membuat bahwa sebuah partai menjadi seperti sebuah perusa- haan sendiri. Siapa yang memiliki modal uang paling kuat bakal menjadi sang pemilik. Golkar butuh pemimpin yang dapat kembali mengembalikan kebesar- an partai yang dikenal nasionalis ini. Ketua umum nanti harus punya krite- ria mumpuni. Pertama, calon ketua umum yang maju benar-benar karena dukungan murni kader bukan karena menyebar uang. Kader yang akan maju harus mengantongi dukungan DPD I, DPD II, dan organisasi sayap Golkar. Jumlah minimal dukungan akan ditentukan saat munas digelar. Kedua, calon merupakan kader yang bersih dari rekam jejak kejahatan terutama korupsi. Bila tidak, maka pada masa mendatang bakal menjadi bumerang. Ketiga, calon adalah sosok yang memiliki visi kebangsaan mengingat Golkar bukanlah partai kemarin sore. Tak bisa dimungkiri partai ini melahir- kan tokoh-tokoh yang kemudian memimpin partai politik baru, seperti Wiranto dengan Hanura, Prabowo Subianto mendirikan Gerindra, atau Surya Paloh memimpin Partai Nasdem. Golkar telanjur menjadi partai yang sangat berpengaruh pada kehidup- an demokrasi bangsa. Pemimpinnya pun jangan hanya berpikir sempit hanya untuk merengkuh kursi pemimpin negara melainkan menjadikan Golkar sebagai bagian kokoh penopang demokrasi bangsa. Dengan demi- kian ambisinya tidak bakal tergelincir pada keinginan pribadi menjadi presi- den semata. Keempat, sosok calon ketua umum adalah pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan serta punya wibawa untuk mempersatukan dua kubu yang terbelah. Pemimpin baru bisa berkaca pada pelajaran sebelumnya sehing- ga ke depan mampu mencari solusi konflik internal. Bukan saja di kalang- an elite, melainkan juga merangkul seluruh kader sehingga tidak terjadi polarisasi atau kubu-kubuan. Kelima, sangat ideal bila sang calon merupakan individu yang telah dikenal telah memiliki banyak pengalaman sehingga ketika bekerja sama dengan pemerintah tidak hanya bisa membeo, atau jika menjadi oposan tidak asal menghajar. Seluruh pendukung dan kader Golkar tentu tak menginginkan konflik internal yang berkepanjangan terus berlanjut. Gagal menjadikan munaslub sebagai titik temu rekonsiliasi maka kehancuran partai single majority di masa Orde baru ini semakin dekat. Kita tahu bahwa Golkar telah melewatkan kesempatan momentum Pilkada serentak pada 2016. Polarisasi dukungan pengurus pusat membu- at persiapan di daerah tidak optimal. Sejumlah calon kepala daerah bergu- guran. Momentum serupa di 2017 juga bakal terulang bila Munaslub gagal memupus pertikaian internal. Munaslub yang berjalan lancar serta menjadi bagian dari upaya konso- lidasi internal bakal terjadi bila penyelenggaraannya berlangsung fair bagi kedua kubu yang bertikai yakni kubu Aburizal Bakrie (ARB) dan kubu Agung Laksono. Sekurangnya, Munaslub harus memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk maju menjadi ketua umum. Selain itu, ajang ini terbuka bagi semua anggota yang memiliki hak. Munaslub harus menjamin kebebasan pemilik suara untuk memilih sesuai dengan kehendaknya. Jika sejak awal mekanisme munaslub tidak jujur dan tidak demokratis, maka perjalanan partai ini kedepan akan terus dirundung konflik.

Perbaiki Format Logistik Nasional

P eta Indonesia menunjukkan letak Provinsi Sulawesi Utara berada di wilayah pinggiran, Kawa s an Timu r Indonesia. Tetapi, apabila provinsi ini dipandang dari peta yang lebih luas, Peta Asia Pasifik, maka letaknya berada di titik sentrum Pasifik. Su l awe s i U t a r a letaknya berdekatan

pasar negara-negara di Asia Timur dan Pasifik ini. Bagaimana produk-produk ekspor Indonesia mampu memenangi kompetisi di pasar yang sangat dinamis ini. Kede­ katan jarak ini semes­ tinya juga dapat me­ ngontribusi perbaikan s i s t em l o g i s t i k nasional Indonesia yang serbamahal.

turnya waktu itu juga belum apa- apa. Konsentrasi di dalam negeri waktu itu diarahkan untuk mem- bangun ekspor nasional yang berpusat ke Pasar Eropa. Pasar Asia Timur dan Pasifik, terma- suk Tiongkok hingga 30 tahun lalu belum masuk hitungan. RRT baru mulai membenahi ekonomi nasionalnya saat Deng Chiao Ping tampil menjadi Pemimpin Baru Tiongkok. Pemimpin Deng yang terpilih memimpinTiongkok akhir 1970-an d a l am Ko n g r e s Ra k y a t memuncullkan konsep baru, reformasi ekonomi Tiongkok. Ia melakukan reformasi total dengan

F reddy R oeroe

Format VOC

dengan negara-negara Asia Timur, seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea, dan negara-negara di sepanjang pantai Benua Amerika. Dan apabila letak Sulawesi Utara berikut Pelabuhan Bitung dibandingkan dengan letak Pelabuhan Tanjungpriok, maka Pelabuhan Samudera Bitung memiliki sejumlah keunggulan yang tidak bisa disamai oleh pelabuhan mana pun di Indonesia. Misalnya, jarak Tanjung Priok – Shanghai 4.200 mil, sementara jarak Bitung – Shanghai 1.900 mil l eb i h (S .H Sa r unda j ang , Geostrategi). Se l a i n i t u , Pe l abuhan Samudera Bitung memiliki ke- dalaman ideal sehingga bisa di- sandari kapal-kapal berukuran h i ngga r a t us an r i bu t on . Pelabuhan ini juga tidak mem- butuhkan pengerukan seperti pelabuhan lainnya di Indonesia. Persoalannya sekarang, bagai­ mana memanfaatkan kedekatan jarak pelabuhan Bitung dengan

Format logistik perekonomian Indonesia sejak merdeka hingga saat ini ternyata masih mengikuti

Selama 70 tahun Merdeka, Indonesia masih terjebak pada format logistik ekonomi peninggalan Belanda (peninggalan VOC), yakni mengandalkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai gerbang ekspor-impor. Sementara kedekatan jarak Bitung ke kota-kota dagang Asia Timur belum dimanfaatkan, padahal kedekatan jarak itu dapat menjadi alasan kuat untuk membangun pelabuhan hub internasional.

format VOC yang dibangun Kolonial Belanda. Ketika itu orien- tasi pasar global masih terpusat ke Eropa. Sebab pasarAsia Pasifik pa- da waktu itu belum sekuat seka- rang. SDM dan apalagi infrastruk-

antara lain membuka lebih 10 pintu baru dan sejumlah pusat pertum- buhan baru. Penulis buku Shanghai Baru

Tulisan opini panjang 900 kata disertai riwayat hidup singkat, foto kopi NPWP, foto diri penulis dikirim ke opini@suarapembaruan.com . Bila setelah dua minggu tidak ada pemberitahuan dari redaksi, penulis berhak mengirim ke media lain.

bersambung ke halaman 13

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker