SP160314

Suara Pembaruan

18

Senin, 14 Maret 2016

Cukai Rokok, Cara Praktis Kurangi Defisit BPJS Kesehatan

[JAKARTA] Potensi defisit aki- bat mismatch yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diperkirakan masih akan terjadi hingga masa mendatang. Hal ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari rendah- nya besaran iuran peserta, kecil- nya kolektibilitas iuran, hingga membengkaknya klaim layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL). Pemerintah kembali didesak untuk menaikkan cukai rokok se- bagai salah satu sumber pendana- an yang dinilai paling praktis dan efektif menutupi defisit BPJS Kesehatan. Direkur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Mundiharno, mengatakan, dalam dua tahun pelaksanaannya, JKN mengalami mismatch atau dispari- tas antara jumlah penerimaan iu- ran dan pengeluaran untuk klaim manfaat. Pada 2014, penerimaan iuran hanya Rp 40,72 triliun, tetapi klaim manfaat yang dibayarkan mencapai Rp 42,66 triliun. Kembali terjadi pada 2015, pene- rimaan iuran sebesar Rp 54,08 triliun tetapi pengeluaran untuk klaim mencapai Rp 57,08 triliun. Sebagian besar proporsi dana BPJS Kesehatan tersedot untuk klaim layanan kesehatan di FKTL atau rumah sakit, yaitu sebesar Rp 44 triliun pada 2015, naik dari Rp 33 triliun pada 2014. Setiap bulan BPJS Kesehatan membiayai 4 juta pasien yang berobat ke rumah sa- kit, dan belasan ribu di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). “Dengan kondisi ini, rasio klaim meningkat dari 104,76% di [JAKARTA] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan alat desiminasi atau penyebaran informasi benca- na berupa kotak untuk tanggap w i l a y a h a n c ama n g emp a (Kutilang). Alat ini dibuat khusus untuk tempat-tempat potensial terjadi gempa. Indonesia terletak di titik ra- wan bencana. Oleh karena itu, langkah pencegahan, prediksi, serta peringatan dini terhadap bencana harus mendapatkan perhatian utama. BPPT sedang mengkaji terapan teknologi yang terkait dengan bencana gempa. Direktur Pusat Teknologi E l e k t r o n i k a BP P T, Yu d i Purwantoro, memaparkan, terda- pat tiga komponen teknologi un- tuk antisipasi bencana, yakni pra- bencana, penyebaran informasi peringatan dini bencana, dan pas- cabencana. Salah satunya adalah Kutilang.

sar Rp 148,85 triliun, sebanyak 50% saja yang diambil untuk pro- gram JKN tidak saja mencegah defisit, tetapi juga cukupan untuk membayar semua klaim layanan kesehatan. Menaikkan cukai rokok lebih tinggi dari maksimal 57% saat ini dapat mempercepat Universal Health Coverage pada 2019. Sebab, dengan dana cukai, peme- rintah tidak hanya mampu mem- bayar premi bagi penduduk mis- kin, tetapi rentan miskin dan me- nyubsidi pekerja penerima upah. Selain itu, ada potensi peneri- maan cukai di daerah sekitar 40% dari total penerimaan untuk kese- hatan. Ironisnya, sejumlah peme- rintah daerah punya penerimaan pajak dan cukai rokok besar, teta- pi kolektibilitas iuran peserta BPJS Kesehatan rendah. Mereka menunggak pembayaran iuran JKN untuk pegawai pemerintahan maupun peserta Jamkesda atau PBI yang dibiayai dari APBD. “Bagaimana caranya mengad- vokasi pemda yang menunggak iuran JKN, tetapi punya peneri- maan cukai besar. Perlu didata daerah mana saja yang menung- gak, dilihat berapa potensi penerimaan cukai rokoknya, lalu didorong untuk memanfaatkan dana itu”, ujar Abdillah. Ketua Pusat Kajian Ekonomi d a n Ke b i j a k a n Ke s e h a t a n (PKEKK) Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany, menga- takan, daripada memaksa peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri un- tuk membayar iuran tetapi kolek- tibilitasnya tidak bisa mencapai 100%, lebih baik menaikkan har- ga dan cukai rokok. [D-13] t a h d a e r a h , d a n B a d a n Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengaktifkan sistem kontrol dan pemancar Kutilang. Lalu mengirimkan informasi EWS sesuai statusnya, misalnya awas, siaga, atau waspada. "Informasi tersebut segera di- terima oleh kotak penerima Kutilang yang telah ditempatkan sesuai peruntukannya," tutur Yudi. Menurutnya, kelebihan sistem ini adalah adanya power manage- ment , baik di sisi pemancar dan penerima menggunakan genset atau solar cell dan baterai, sehing- ga dapat dipakai sebagai back up apabila sistem komunikasi yang ada pada masyarakat mengalami kerusakan ataupun ketiadaan alir- an listrik. Kendala teknologi tidak terla- lu signifikan hanya saja ada kebu- tuhan khusus pada sisi pemanfaat- an dan penggunaan frekuensi yang ada regulasinya. [R-15]

ANTARA/KORNELIS KAHA Petugas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberikan pelayanan kepada peserta BPJS di Kupang, NTT, baru-baru ini.

2014 menjadi 105,90% pada 2015. Idealnya rasio klaim hanya 90%, kalau di atas itu berarti kondisinya akut,” kata Mundiharno saat menja- di pembicara pada workshop berte- makan “Cigarette Excise: A Win- Win Solution for Fiscal Space and Health Programs”, di Jakarta, akhir pekan lalu. Menurutnya, angka defisit ini bisa ditutupi dari pajak atau cukai rokok. Mengapa cukai rokok? Karena, ia melanjutkan, sebagian besar dana BPJS Kesehatan terse- dot untuk penyakit-penyakit tidak menular atau katastropik, terma- suk yang terkait rokok. Misalnya adalah jantung dan pembuluh da- rah, hipertensi paru obstruktif kronis, juga kanker. Survei menunjukkan, jumlah Terkait Rokok Kotak ini berfungsi sebagai pene- rima informasi ancaman bahaya bencana dari otoritas bencana, dan secara langsung akan mem- bangkitkan alarm, baik berupa si- rene maupun display . "Nama Kutilang dilhami dari burung kutilang yang selalu ber- terbangan bila terjadi bahaya, dan dipakai oleh beberapa daerah se- bagai burung penanda bencana," ujar Yudi, di Jakarta, Minggu (13/3). Saat ini, katanya, Kutilang hanya dikhususkan untuk sistem siaran TV digital. Untuk pe- ngembangan ke seluruh multi media akses komunikasi, mela- lui komunikasi radio FM, GSM, atau ponsel, masih terus dilaku- kan. Dia berharap Kutilang dipa- sang pada tempat-tempat di mana sirene atau alarm bencana dapat diakses oleh masyarakat, seperti kantor pemerintahan, kantor kelu- rahan, dan rumah ibadah.

batang rokok yang dihabiskan pe- serta jaminan kesehatan, antara lain untuk Askes 13 batang per orang setiap hari, JPK Jamsostek 12 batang, dan Jamkesmas 11 ba- tang per orang per hari. “Kebiasaan merokok berdam- pak pada biaya klaim. Biaya klaim cukup besar dari kontribusi peserta JKN yang merokok. Penyakit terkait rokok umumnya ditangani di rumah sakit dengan biaya jauh lebih mahal," tuturnya. Kerugian makroekonomi aki- bat merokok ini diperkirakan mencapai Rp 44 triliun. Kerugian akan makin besar karena preva- lensi penyakit katastropik di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013 juga masih ba- nyak. Misalnya hipertensi ada se- kitar 17,4 juta orang dan paru ob- struktif sebanyak 4,4 juta orang. "Penempatan yang lain adalah di tempat koordinator komunitas bencana. Dengan ditempatkan pa- da komunitas bencana, ini mengu- asai metode tanggap bencana, ti- dak mudah panik bila ada benca- na, dan mengetahui arah evakuasi yang tepat kepada masyarakat," tuturnya. Dengan begitu, informasi akan segera membimbing dan menga- rahkan masyarakat untuk meng- hindari bencana yang terjadi di sekitarnya. Sesungguhnya sistem Kutilang adalah sistem mandiri yang tidak harus terintegrasi de- ngan sistem manapun, termasuk siaran TV digital. "Oleh karena sistemnya inde- penden dan memang dirancang sebagai back up bila seluruh sis- tem komunikasi di masyarakat tidak berfungsi. Untuk saat ini memang media siaran yang su- dah dikembangkan adalah de- ngan metode siaran TV digital. Selanjutnya akan dikembangkan

Mereka berusia produktif, yakni 30 tahun ke atas. Sementara jumlah pasien BPJS Kesehatan yang menderita penyakit katastropik juga terus meningkat. Agustus sampai Desember 2015, pasien hipertensi naik dari 130.439 menjadi 181.918, diabetes melitus 125.197 menjadi 167.300, asma 8.061 menjadi 11.468, dan paru obstruk- tif 1.460 menjadi 2.753 orang. Selain menerapkan kebijakan rujuk balik untuk penyakit kronis, menaikkan iuran peserta, dan ak- tivasi kartu kepesertaan 14 hari, menurut Mundiharno, relokasi da- na cukai rokok sangat potensial untuk memperkuat program JKN. P e n e l i t i d a r i Lemb a g a Demografi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, mengatakan, dari target cukai rokok tahun ini sebe- Terkait rancangan Kutilang, BPPT dengan menggunakan me- tode siaran TV digital, saat ini da- lam tahap prototipe sudah siap u n t u k d i p r o d u k s i , d a p a t menggandeng produsen lokal set top box TV digital di Indonesia. Terkait proses penerimaan sebagai sistem peringatan dini ( early warning system /EWS), sistem yang dikembangkan un- tuk Kutilang bersifat lokal dan independen. Ini sangat cocok untuk pengelolaan diseminasi informasi EWS di daerah kota/ kabupaten. Sistem kutilang dibagi dalam tiga bagian, yakni sistem kontrol EWS dan pemancar, sistem pene- rima, dan sistem pengelolaan da- ya listrik atau baterai. Prinsip ker- ja Kutilang, saat terjadi bencana, otoritas bencana daerah, pemerin- untuk media handphone dan ra- dio FM," ucapnya. Metode TV Digital

“Kutilang” Dapat Sebarkan Informasi Bencana

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker