ID180723

SENIN 23 JULI 2018

24

Investor Daily/EMRAL

Heru Dewanto Presiden Direktur PT Cirebon Energi Prasarana/ VP Director PT Cirebon Electric Power

bahkan kegagalan. Terkadang kita harus jatuh dulu dan bangkit lagi. Berikutnya harus punya keberanian, terutama dalam mengambil keputusan. Harus teguh dan jangan mudah goyah. Kesibukan Anda di luar pekerjaan? Sejak kuliah, saya aktif di organisasi, karena saya ketua senat. Sampai sekarang, saya senang aktif dan tidak bisa diam. Kalau memakai istilah orang Jawa, gawan bayi atau bawaan lahir. Saat ini saya sekjen Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI). Saya juga aktif di Asosiasi Pengembang Listrik Swasta Indonesia (APLSI) sebagai penasihat. Sedangkan di Persatuan Insinyur Indonesia (PII), saya menjabat sebagai wakil ketua umum dan akhir tahun ini akan menjadi ketua umum. Dulu aktif di Kadin Indonesia, sekarang tidak lagi. Di regional, saya adalah VP Asean Academy Engineering and Technology. Di British Chambers Commerce, saya anggota dewan direksi. Saya juga masih sempat ambil kuliah dan meraih gelar doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Saya pun menulis beberapa buku dan artikel lepas yang dimuat di media massa. Cara Anda membagi waktu? Memang susah. Membutuhkan pengertian juga dari beberapa pihak. Pertama, keluarga harus support dulu. Jadi, di internal harus beres dulu, karena itu bagian terdekat saya. Kebetulan istri saya sudah tahu kegiatan saya sejak kuliah. Tapi tetap saja sebagai suami, saya perlu mendidik dan memberi pengertian kepada istri. Proses itu sudah saya lewati. So far sih oke . Anak mudah- mudahan mengerti, tapi saat ini dia baru sembilan tahun, jadi tidak banyak protes. Setelah internal beres, barulah dengan kegiatan eksternal. Intinya adalah bagaimana kita memegang kuncinya, key issues- nya kita harus paham. Seorang pemimpin harus punya visi ke depan, tapi ia harus di- support oleh semuanya. Makanya seorang pemimpin harus bisa meyakinkan bahwa suatu tindakan itu perlu dilakukan dan membuat orang sama-sama menuju ke sana, sampai terwujud. Siapa tokoh panutan Anda? Saya bukan orang yang mengultuskan seseorang. Tapi saya belajar dari banyak orang. Saya beruntung dalam perjalanan hidup bertemu banyak orang. Hal-hal positif dari mereka itulah yang saya teladani. Filosofi hidup Anda ? Totalitas. Sky is the limit. Bagi sebagian besar orang Indonesia mungkin kurang pas karena dinilai ambisius. Tapi intinya, saya selalu ingin melakukan yang terbaik. Jangan pernah menolak kepercayaan dan saat mendapat kepercayaan itu, kerjakan dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin, dengan totalitas. Pastikan kita sudah melakukan semua yang terbaik. Mimpi Anda yang belum tercapai? Saat pensiun nanti, saya mau ke kampus, mendedikasikan hidup saya untuk mengajar. Saya juga ingin lebih banyak menulis hal-hal yang menginspirasi. q

35 ribu MW yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, kami memelopori pembangunan pusat vokasi ketenagalistrikan untuk pengoperasian dan pemeliharaan teknologi batu bara bersih. Kami bekerja sama dengan Korea Midland Power (Komipo). Kami pun menerapkan digitalisasi. Untuk ini, Kementerian Perindustrian sudah minta kami menjadi pilot project digitalisasi sektor ketenagalistrikan. Cirebon Power akan Anda bawa ke mana? Values kami salah satunya kepeloporan ( pioneering ). Cirebon Power itu ada dua, yakni PT Cirebon Electric Power dan PT Cirebon Energi Prasarana. Kalau mengacu pada anggaran dasar/ anggaran rumah tangga (AD/ ART)-nya, perusahaan hanya boleh membangun, memproduksi listrik, dan mengoperasikannya. Jadi, visi saya ke depan adalah mengonstruksi ini sebaik-baiknya, memenuhi standar yang diperlukan secara tepat waktu, tepat biaya, dan mengoperasikannya dengan visi yang sama, yakni keandalan yang tinggi. Memang standar saja. Kami punya lahan 300 hektare. Setelah membangun unit 1 dan 2, kami bisa menjadi power hub . Tapi itu kembali pada kebutuhan listrik dari PLN dan pemerintah. Saat ini kami membangun pembangkit listrik batu bara. Tapi kalau memang pemerintah meminta kami membangun pembangkit listrik renewable , ya kami bangun. Kami bukan coal power player , tapi power player , electricity player . Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan? Sebagai pemimpin, yang terpenting adalah bagaimana bisa menginspirasi anak buah. Ada kepeloporan. Untuk pekerjaan seperti saya, pertama harus punya kompetensi. Walau tidak detail, kami harus tahu masalah teknis. Jadi, sebelum mengambil keputusan, kami harus mengerti dulu apa yang kami hadapi. Soal teknis ini bisa dipelajari. Kedua, harus punya wisdom . Ini butuh pengalaman, jam terbang,

saja. Padahal, ini proyek strategis. Ini sebetulnya perbedaan ‘mazhab’ saja. Mereka ingin pembangkit listrik berbahan bakar batu bara jangan dibangun lagi. Padahal, kami datang karena diundang pemerintah untuk ikut membangun pembangkit batu bara. Dalam rangka membangun pembangit batu bara, pemerintah mengundang private sector dan kami ikut, lalu menang. Jadi, sebenarnya bukan kami yang harus disalahkan. Apakah kebijakan pemerintah membangun pembangkit batu bara sudah benar, padahal saat ini isu lingkungan sangat sensitif? Menurut saya, apa yang dilakukan pemerintah sudah benar bahwa harus ada keseimbangan antara batu bara dan renewable energy (energi terbarukan). Harga listrik batu bara sepertiga dari harga listrik renewable . Kalau pemerintah dipaksa membangun listrik dari energi renewable semua, konsekuensinya harga listrik akan naik tiga kali lipat. Kalau masyarakat tidak sanggup bayar, yang harus membayar adalah pemerintah melalui subsidi. Pertanyaannya, apakah pemerintah punya dana untuk membayar subsidi yang naik hingga tiga kali lipat hanya untuk listrik saja? Tapi kelompok itu kan tidak mau tahu. Yang harus dipahami semua orang adalah bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, listrik masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang tidak memiliki akses ke listrik dan untuk menumbuhkan daya saing industri di dalam negeri. Berbeda degan negara maju, mereka sudah punya akses semua ke listrik. Saat mereka mau ganti dari batu bara ke sumber lain yang renewable , gampang saja. Tapi memang fossil fuel akan habis dan kita harus mempersiapkan diri untuk masa depan. Karena itu, harus ada keseimbangan untuk kebutuhan dasar hari ini dan untuk sustainability . Itu sudah ditetapkan pemerintah secara bertahap, dituangkan dalam Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) bahwa porsi renewable akan ditingkatkan hingga 23% mulai tahun 2030, dan energi fosil dikurangi, termasuk batu bara. Untuk menjawab tantangan energi bersih bagaimana? Solusi yang bisa menjawab difokuskan ke dua arah. Di satu sisi, energi fosil diupayakan tidak cepat habis di mana napasnya adalah efisiensi. Di sisi lain, bagaimana menggunakan teknologi supaya harga renewable energy lebih murah. Di Indonesia terdapat lebih dari 5.000 pembangkit listrik, dari kecil sampai besar. Yang pertama mengoperasikan teknologi batu bara bersih cuma dua, salah satunya adalah kami, yakni pada tahun 2012, dengan teknologi Jepang. Mereka pintar mengombinasikan teknologi dan aspek keuangan, sehingga tetap kompetitif. Bisa dikatakan Cirebon Power sudah lebih maju, dan kami pelopor teknologi batu bara bersih. Kami juga perusahaan pertama yang menandatangani PPA dalam proyek pembangunan yang belum lama dilakukan, yaitu bersepeda Jakarta-Cirebon. “Itu dilakukan bersama komunitas, memakan waktu seharian. Lelah, tapi saya sangat menikmati kegiatan itu,” papar dia. Cukup? Ternyata belum. Karena di sela waktunya yang sangat padat itu, Heru masih sempat menulis buku maupun artikel, serta mengelola sebuah kafe. Dalam waktu dekat, dia juga akan menjadi pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta. “Bagi saya, melakoni banyak hal adalah bentuk keseimbangan hidup,” ujar dia. (es) kedua tatangan itu adalah teknologi. Jadi, teknologi

Saya sempat ikut di beberapa perusahaan, hingga akhirnya saya bergabung dengan Indika Energy. Di sinilah saya untuk pertama kalinya berkarier di bidang infrastruktur energi setelah berkutat dengan infrastruktur transportasi. Apa perbedaan mendasar dari kedua bidang tersebut? Pada dasarnya, logika model bisnisnya hampir sama, kan skemanya build operate transfer (BOT). Kuncinya ada di concession agreement , kalau di kelistrikan namanya PPA ( power purchase agreement ). Tapi intinya sama saja. Saya menjadi dirut setelah lima tahun di Indika, untuk beralih dari sektor transpor ke kelistrikan. Tantangan terbesar dalam bisnis sektor kelistrikan? Bisnis ini kan sifatnya regulated industry , maka tantangan terbesarnya adalah urusan regulasi dan urusan dengan regulator. Kalau tantangan teknis, seperti teknologi, kita memang harus menguasai dan memahami, terutama terkait project financing- nya. Kita juga harus mengerti masalah fuel management , stakeholder management . Itu bisa dipelajari. Tapi yang lebih menantang adalah regulasi dan regulator, misalnya perizinan. Regulasi yang ada tidak cukup kondusif? Menurut saya, secara umum memang semakin hari membaik, tapi masih banyak yang harus diperbaiki dan masih banyak persoalan di lapangan. Sebagai contoh, seringnya regulasi berubah, terutama yang berkenaan dengan tarif. Bayangkan, tahun lalu di bidang kelistrikan saja ada 40 regulasi yang diterbitkan dan direvisi, berarti sebulan sekitar 2-3 aturan. Ini cukup menyulitkan perusahaan dalam membuat forecast business . Akhirnya kami harus menyesuaikan dengan perubahan regulasi itu. Dampaknya terhadap bisnis Cirebon Power? Sejauh ini proyek Cirebon Power berjalan baik, walaupun penuh suka dan duka. Yang paling hebat adalah ketika kami di-Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)-kan. Izin lingkungan mau dicabut oleh Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Yang di-PTUN-kan sebenarnya pemerintah, terkait masalah RTRW (rencana tata ruang wilayah). Lalu pemerintah kalah. Bisa dibayangkan, kalau kehilangan izin lingkungan itu artinya sama saja dengan kehilangan nyawa. Lalu apa yang mesti kami lakukan, sementara deadline untuk financial close -nya tinggal enam bulan lagi, lalu menjelang financial close tiba-tiba disuruh dicabut oleh pengadilan. Ini masalah critical . Akhirnya kami berhasil meyakinkan semua pihak untuk menerbitkan izin baru, dengan payung hukum Peraturan Pemerintah (PP) No 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang saat itu baru terbit. Namun, setelah izin diterbitkan pun mereka PTUN-kan lagi, tapi untungnya mereka kalah. Mengapa sampai digugat? Menurut kami, mereka cuma ingin menggagalkan proyek ini

M enyukai tantangan dan senang mencoba hal baru menjadi modal dasar bagi Heru Dewanto untuk mencapai sukses. Semua itu dilakukan dengan catatan apa yang dikerjakannya harus total agar mencapai hasil terbaik. Heru menerapkan filosofi langit untuk dedikasi yang tak terbatas itu. Bagi Presiden Direktur PT Cirebon Energi Prasarana ini, bekerja harus total, semaksimal mungkin, sepenuh hati, tidak boleh setengah-setengah. Langit adalah batasnya. “ Sky is the limit. Bagi sebagian besar orang Indonesia, filosofi ini mungkin kurang pas karena dinilai ambisius. Tapi intinya, saya selalu ingin melakukan yang terbaik,” ujar Heru kepada wartawati Investor Daily Euis Rita Hartati dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, pekan lalu. Karena itu, dalam kamus hidup Heru Dewanto, tak ada istilah menolak kepercayaan. “Dan saat mendapat kepercayaan itu, kerjakan dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin, dengan totalitas,” tegas dia. Heru sejatinya memiliki latar belakang pendidikan bidang infrastruktur transportasi. Nyatanya, pria yang juga menjabat sebagai Vice President Director PT Cirebon Electric Power itu kini berkutat di bidang infrastruktur ketenagalistrikan. Eksekutif kelahiran 21 April 1967 tersebut memimpin konsorsium Cirebon Power, salah satu pengembang listrik swasta. Bisa ditebak, banyak tantangan yang dihadapi, terutama yang berkaitan dengan isu lingkungan. Maklum, pembangkit listrik yang dibangun saat ini berbahan bakar batu bara. Namun, semua itu bisa dilaluinya dengan baik. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut: Bagaimana perjalanan karier Anda hingga mencapai posisi saat ini?

Latar belakang pendidikan saya, S1-nya jurusan infrastruktur Teknik Sipil di Universitas Gadjah Mada (UGM), lalu saya sekolah di Austria. Di sana saya belajar tentang kereta api dan public transport . Dulu, saya memilih jurusan itu tidak pakai visi yang panjang. Pokoknya, selesai sekolah S1, saya harus melanjutkan ke luar negeri. Di kampus, saya dulu aktivis, ketua senat. Untuk ukuran aktivis, nilai saya bagus, tapi saya belajar hanya menjelang ujian. Walaupun lulus dengan nilai baik, saya merasa belum menguasai. Saya mau sekolah di bidang yang sama di luar negeri, itu saja cita-cita saya. Kalau saya minta biaya orang tua. Walaupun orang tua saya bukan keluarga yang susah, tapi bukan juga keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Makanya satu-satunya cara adalah harus cari beasiswa. Waktu itu saya melamar ke dua negara, yakni Inggris dan Austria. Kebetulan dua-duanya dapat. Tapi waktunya bersamaan, di Inggris jurusannya Transport Planning and Engineering , tapi saya ke Austria dulu. Sebab, kalau di Inggris, tahapannya itu kalau lulus harus kursus dulu satu tahun, begitu lulus harus tes IELTS, lalu dipakai untuk menentukan diterima atau tidak. Kalau Austria langsung berangkat. Makanya saya ambil Austria, lalu ke Inggris. Setelah itu saya sempat bekerja di ABB Transportation, perusahaan yang memproduksi kereta api, railways , di Inggris. Walau dua kali dapat beasiswa pemerintah luar negeri, saya tetap nasionalis. Waktu itu, bekerja di sana cukup mapan. Tapi entah mengapa, saya orangnya tidak betah yang steady , saya juga tidak tahu kenapa. Lalu saya melihat di Indonesia yang aktif di bidang investasi transportasi swasta adalah perusahaan milik Mbak Tutut melalui Citra Group. Saya melamar ke perusahaan Mbak Tutut, lalu tak lama Pak Harto lengser.

Investor Daily/EMRAL

H eru Dewanto mengaku masuk kategori orang yang ‘banyak maunya’. Seabrek kegiatan, baik di pekerjaan maupun organisasi, tak membuatnya kehilangan waktu untuk menekuni olahraga kesukaannya, yakni bersepeda, golf, dan gym . “Bahkan sebelumnya saya juga aktif bersepatu roda,” tutur dia. Tak sekadar olahraga, Heru juga tergabung dalam komunitas di masing-masing cabang olahraga tersebut. Bersama komunitasnya, Heru kerap mengadakan kegiatan, seperti

Made with FlippingBook Online newsletter