ID170621

RABU 21 JUNI 2017

23

Investor Daily/GAGARIN

besar, yakni 60%. Sedangkan produk tradisional berkontribusi 40%. “Kami berharap, tahun ini sebanyak 70% dikontribusi dari unit linked dan 30% dari tradisional,” tambah dia. Sementara itu, Modal Minimun Berbasis Risiko (MMBR) Sequislife menjadi 815% dan Sequis Financial sebesar 616%. Nilai jauh di atas keten- tuan yakni mencapai 120% dari MMBR. Pada kuartal I-2017, Sequis Life dan Sequis Financial telah membayar klaim untuk 278 kasus dengan total pembayaran senilai Rp 34,03miliar dan 12 kasus dalam pembayaran dolar AS sebesar US$ 144,14. Sequis juga telah membayar klaim asuransi kesehatan untuk 306 kasus senilai Rp 26,4 miliar. (gtr) Jasa Keuangan (OJK). Meski tidak ada perubahan secara material dalam RBB, terdapat peruba- han komposisi kredit. Pihaknya lebih mendorong segmen korporasi yang mencapai 40%, segmen ritel 35%, dan segmen menengah 25%. “Kalau soal kredit kami optimistis, tapi komposisinya sekarang kami dorong ke korporasi, karena memang yang bisa jadi lokomotif ekonomi dan pertumbuhannya tinggi di korporasi. Kemudian ritel juga, kami lihat dari kredit perumahan, kredit kendaraan bermotor, multiguna tumbuh bagus, dan juga mikro. Jadi dua segmen itu difokuskan,” jelas Kartika yang akrab disapa Tiko. Menurut Tiko, pergeseran seg- men tersebut untuk menekan kredit bermasalah pada segmen menengah. Oleh karena itu, pihaknya tidak me- nambah porsi pada segmen menen- gah, namun pada segmen korporasi dan ritel. Tiko menjelaskan, hingga April lalu pertumbuhan kredit perseroan telah mencapai 9%. Bulan ini, diprediksi kredit perseroan bisa tumbuh di atas 10%. Dia pun memproyeksi kin- erja pada kuartal kedua tahun ini bisa membaik, terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang mulai menurun. Hingga kuartal pertama tahun ini, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 4,08 triliun atau tumbuh 6,80% se- cara year on year (yoy). Turunnya NPL juga disebabkan oleh pertumbuhan kredit pada kuartal kedua yang akan lebih baik, yaitu diperkirakan menin- gkat 11-13% (yoy). (c02)

Oleh Thomas E Harefa

JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyalurkan pembiayaan sebesar US$ 100 juta ke PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

JAKARTA – PT Asuransi Jiwa Seq- uis Life mencatat total pendapatan pre- mi bruto sebesar Rp 805 miliar pada kuartal I-2017. Nilai tersebut tumbuh 5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 768,85 miliar. Direktur dan Chief Agency Officer Sequis Life Edisjah menjelaskan, se- mentara total aset meningkat 13% dari Rp 16 triliun pada kuartal I-2016 menjadi Rp 18,14 triliun pada kuartal I-2017. “Sedangkan perolehan laba bersihmeningkat 6%menjadi Rp 450,5 miliar, dari sebelumnya yang sebesar Rp 424,19 miliar,” kata Edisjah di Ja- karta, Jumat (16/6). Di sisi lain, PT Asuransi Jiwa Sequis Financial (Sequis Financial) mencatat, total pendapatan premi bruto sebesar Penandatanganan perjanjian kredit dilakukan oleh Executive Vice Presi- dent Government and Institutional Bank Mandiri M Arifin Firdaus dan Direktur Keuangan SMI Agresius R Kadiaman di Jakarta, pada 20 Juni 2017. Direktur Government and Insti- tutional Bank Mandiri Kartini Sally mengatakan, penyaluran kredit pers- eroan ke SMi tersebut merupakan pemberian fasilitas yang pertama, dan salah satu bentuk dukungan Bank Mandiri terhadap pengem- bangan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Perjanjian kredit yang berbentuk bilateral term loan itu bersifat non-revolving, dengan jangka waktu tiga tahun. “Pembangunan infrastruktur meru- pakan prioritas Pemerintah Republik Indonesia, dan akan dilaksanakan secara berkelanjutan sampai tahun 2019. Bank Mandiri selaku bank BUMN siap untuk memberikan pembiayaan,” kata Kartini Sally dalam siaran pers yang diterima Investor Daily , Selasa (20/6). Kerja sama pembiayaan bilateral ke SMI merupakan yang pertama kali

Rp 13,91 miliar, naik 18% dari perole- han tahun lalu yang sebesar Rp 11,78 miliar. “Sedangkan aset meningkat 5% menjadi Rp 504,7 miliar dan laba bersih meningkat Rp 12,24 miliar,” ujar dia. Edisjah mengungkapkan, pada kuartal I-2017, pendapatan premi Se- quis Life memang rendah. Pasalnya, terdapat kampanye roduk yang belum dikemas ulang pada kuartal I-2017 ini. Padahal kampanye produk tersebut tahun lalu mendapat respons cukup baik. “Kami berencana meluncur- kannya pada semester kedua supaya bisa mendongkrak pertumbuhan,” kata dia. Dari sisi kontribusi pendapatan premi, unit linked berkontribusi paling dilakukan Bank Mandiri. Pemberian fasilitas pinjaman adalah salah satu langkah untuk meningkatkan kerja sama antara dua perseroan, baik dalam pembangunan infrastuktur maupun kerja sama bilateral. Melalui kerja sama tersebut, Bank Mandiri membuktikan komitmen- nya untuk memperkuat daya dukung infrastruktur nasional. Bank Mandiri sebagai salah satu bank BUMN terbe- sar di Indonesia sangat mendukung program pembangunan infrastruktur pemerintah untuk percepatan pertum- buhan ekonomi nasional. Pembiayaan BankMandiri ke sektor infrastruktur hingga April 2017 men- capai Rp 9,36 triliun, dengan sektor infrastruktur yang dibiayai antara lain jalan, konstruksi; migas dan energi terbarukan, perumahan rakyat dan fasilitas kota; tenaga listrik; transpor- tasi; dan pembiayaan sindikasi. Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri KartikaWirjoatmodjomenga- takan, perseroan optimistis pertumbu- han kredit tahun ini mencapai 11-13%. Hal tersebut tercermin dengan tidak ada perubahan pada rencana bisnis bank (RBB) perseroan ke Otoritas

Pinjaman Infrastruktur EVP Bank Mandiri M Arifin Firdaus dan Direktur Keuangan Sarana Multi Infrastruktur (SMi) Agresius R Kadiaman bertukar naskah perjanjian pembiayaan di Jakarta, Selasa (20/6). Bank Mandiri menyalurkan kredit US$ 100 Juta kepada SMi guna mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada Januari - April 2017, pembiayaan Bank Mandiri ke sektor infrastruktur mencapai sebesar Rp9,363 triliun.

nasabah ritel. Perseroan juga akan meningkatkan pendapatan nonbunga terutama pada produk transaksional, salah satunya meningkatkan bisnis pengelolaan trade finance dan nasabah kaya. Ridha mengatakan, hingga kuartal pertama tahun ini BOPO perseroan sebesar 87,29%, pihaknya juga akan menjaga rasio tersebut hingga akhir tahun dan diharapkan menurun. Di sisi lain, Bank Permata juga memberikan kesempatan kepada penyandang tunanetra untuk bekerja sebagai agen telesales sejak tahun 2010. Dari sisi kinerja, Ridha men- gatakan, prestasi mereka tidak kalah dengan rekan-rekan yang normal. Un- tuk menjaga semangat keberpihakan terhadap para penyandag disabilitas, Permata Hati CSR menginisiasi Pro- gram Brave (Because Everyone is Able and Creative). “Terinspirasi dari hal tersebut, kami ingin memberikan wadah bagi pada penyandang disabilitas untuk berbagi dalam program ini. Kami mungkin akan menambah telesales penyandang disabilitas dua kali lipat dari saat ini,” kata Ridha. (c02) rangan sebanyak 16.358.167 orang atau turun 1,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 16.542.488 orang. Untuk polis kumpulan seban- yak 7.056.009 orang, atau meningkat 54,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 4.557.471 orang,” jelas Nelly. Dia juga memaparkan, total ter- tanggung industri asuransi jiwa pada kuartal I-2017 tumbuh sebesar 7% menjadi 59.207.174 orang. Peningka- tan tersebut dipengaruhi oleh pertum- buhan total tertanggung kumpulan yang meningkat 11,9%, atau seban- yak 41.694.921 orang dibandingkan periode sama tahun 2016 sebanyak 37.264.459 orang. “Berdasarkan catatan kami, per- tumbuhan jumlah tertanggung dalam periode awal tahun 2016 dan 2017 rata-rata sebesar 4,1%. Pertumbuhan total tertanggung ini menandakan tingkat kepercayaan masyarakat ter- hadap produk asuransi dan pemaha- man tujuan berasuransi untuk jangka panjang yang semakin meningkat,” terang dia. (c02) pemerintah dan swasta, asosiasi fasili- tas kesehatan, Dewan Jaminan Sosial Nasional, dan pihak-pihak lainnya. Melalui diskusi ini, Maya berharap bisa mendapat masukan masukan tentang pelaksanaan JKN-KIS yang bisa dijadikan rekomendasi untuk diusulkan kepada regulator. “Keberhasilan program JKN-KIS tidak bisa lepas dari dukungan fasili- tas kesehatan tingkat lanjutan selaku mitra BPJS Kesehatan. Karena itu, perlu terus ditingkatkan peran dan fungsinya dalam memberikan pelay- anan, dengans kendali mutu sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan JKN-KIS,” kata dia. Hingga 1 Mei 2017, jumlah peserta JKN-KIS sudah mencapai 176,73 juta jiwa. BPJS Kesehatan juga bekerja sama dengan sekitar 20.775 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), dan 5.257 Fasilitas Kesehatan Ruju- kan Tingkat Lanjutan (FKTL). (Gita Rossiana)

gkan NPL net akan dijaga di level 2% tahun ini. Cara yang dilakukan untuk menurunkan rasio NPL dengan mel- akukan restrukturisasi dan penjualan aset bermasalah. Hingga kuartal pertama tahun ini, NPL perseroan berada pada posisi 6,4%, turun dari 8,8% pada Desember 2016, namun masih melewati batas aman NPL regulator sebesar 5%. Menurut Ridha masih banyak tantangan yang dihadapi perseroan untukmenurunkan NPL, salah satunya adalah debitur yang tidak koperatif. “Kami berharap supaya bisa melalui tahun ini dengan baik, walaupunmasih banyak juga tantangannya karena ada nasabah yang koperatif dan ada juga yang tidak koperatif. Untuk restruktur- isasi masih berjalan baik sampai saat ini,” jelas dia. Untuk kredit perseroan, saat ini portofolionya dominan masih sektor ritel sebesar 60%, dan sektor korporasi sebesar 40%. Ridha mengaku, idealnya porsi kredit ritel dan korporasi masing- masing 50% ke depan. Selain itu, pihaknya akan terus meningkatkan efisiensi dengan men- ingkatkan rasio dana murah melalui terhadap total premi bisnis baru yang mencapai Rp 25,79 triliun atau tumbuh 34,9% dibandingkan kuartal pertama tahun 2016 sebesar Rp 19,13 triliun. “Meningkatnya jumlah agen sebe- sar 15,2% juga meningkatkan total premi bisnis baru industri asuransi jiwa. Dari sisi lain, total premi baru itu berasal dari jangkauan bancassur- ance yang sangat membantu. Tenaga pemasar asurasi jadi salah satu pen- dukung pertumbuhan bisnis asurasi jiwa,” papar dia. Nelly juga menjelaskan, total uang pertanggungan pada kuartal pertama tahun ini sebesar Rp 3.436,61 triliun atau tumbuh 9,2% dibandingkan ta- hun lalu sebesar Rp 3.146,35 triliun. Dengan portofolio untuk perorangan sebesar Rp 1.738,68 triliun atau naik 3,3%. Sementara itu, untuk kumpulan sebesar Rp 1.697,93 triliun atau tum- buh 16,1%. Di sisi lain, total polis asuransi jiwa pada kuartal I-2017 sebanyak 23.414.176 orang atau tumbuh 11% dibandingkan tahun sebelumnya se- banyak 21.099.959 orang. “Polis pero- nambah rumah sakit jejaring. Hal ini supaya tidak lagi ada pasien BPJS Kes- ehatan yang ditolak oleh rumah sakit. Berbeda dengan Evi, Ade Her- mawan, pemilik klinik di daerahCisauk, Tangerang, lebih memilih untuk tidak ikut JKN-KIS. Dia beranggapan, dengan biayaper pasienyang rendahmenyebab- kan dirinya tidak bisamemberikan obat yangmaksimal untuk pasiennya. Belum lagi, diamenemukan banyak penolakan ketika pasien BPJS Kesehatan berobat ke rumah sakit. Melihat hal ini, Ade masih kon- sisten untuk hanya menerima pasien umum. Sembari di saat yang sama, dia menunggu Program JKN-KIS untuk berkembang menjadi lebih baik. Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan Maya Amiarny Rusady mengatakan, pihaknya berusaha untuk membenahi kualitas pelayanan rumah sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan. Hal ini dilakukan dengan menggelar diskusi bersama para manajemen rumah sakit

JAKARTA – PT Bank Permata Tbk mencatat kinerja operasional yang membaik dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 582 miliar per Mei 2017. Pencapaian tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan kerugian yang dialami pada tahun sebelumnya. Direktur Utama Bank Permata Ridha DMWirakusumahmengatakan, membaiknya kinerja perseroan terse- but merupakan hasil dari serangkaian langkah yang dilakukan sejak tahun lalu untuk menurunkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Menurut dia, meskipun untuk kredit belum mengalami pertumbu- han, namun perseroan masih bisa memperoleh laba. “Bulan Mei ini membaik, bisa dilihat dari profit kami yang sudah sebesar Rp 582 miliar. Kredit belum tumbuh. Tapi yang penting dari mer- ugi sampai Rp 6,5 triliun, sampai Mei ini kami sudah membukukan laba Rp 582 miliar,” kata Ridha kepada Inves- tor Daily di Gedung Permata Bank, Jakarta, Selasa (20/6). Ridha menjelaskan, pihaknya hing- ga akhir tahun menargetkan posisi NPL gross berada di bawah 5%, sedan- JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah tenaga pemasar asuransi jiwa men- capai 566.366 orang, tumbuh 15,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebanyak 491.566 orang. Kepala Depar temen Hubungan Antar Lembaga AAJI Nelly Husnayati mengatakan, pertumbuhan jumlah tenaga pemasar pada kuartal I-2017 didorong oleh saluran keagenan yang mencapai 90,9% dari total tenaga pemasar. Saluran keagenan tumbuh 15,5% menjadi 514.906 orang diband- ingkan periode sama tahun lalu seban- yak 445.870 orang. “Saluran bancassurance meningkat 6,5% menjadi 26.880 orang dibanding- kan periode sebelumnya sebanyak 25.246 orang. Selain itu, saluran alter- natif meningkat 20,1% menjadi 24.570 orang dibandingkan periode sama tahun 2016 sebanyak 20.450 orang,” jelas Nelly di Jakarta, pekan lalu. Pada kesempatan itu, Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahimmenjelaskan, dengan meningkatnya jumlah agen berlisensi memberikan kontribusi menjaga kesehatan. “Hal ini terutama untuk kasus cacar, herpes, dan pen- yakit yang disebabkan oleh virus yang cepat sekali menularnya,” ungkap dia. Meski demikian, peserta yang sakit tetap ada. Evi mengakui, dia pernah menangani pasien yang harus cuci darah setiap dua kali seminggu. Biaya untuk cuci darah tersebut bisa menca- pai Rp 1,2 juta. Namun, berkat adanya BPJS Kesehatan, pasien tersebut bisa cuci darah dua kali dalam seminggu. Belum lagi pasien lainnya yang sangat membutuhkan kacamata. Evi membantu, pasien tersebut dengan membuat rujukan ke rumah sakit untuk mendapatkan kacamata gratis. “Akhirnya pasien miskin yang rabun tersebut bisa mendapat kacamata gratis,” jelas dia. Di balik banyak pasien yang ter- bantu, Evi juga masih melihat adanya kekurangan dari Program JKN-KIS. Oleh karena itu, dia menyarankan BPJS Kesehatan untuk terus me-

Investor Daily/ist

BUMN Hadir Direktur Bank BTN Oni Febriarto (kiri) menyerahkan bantuan kepada anak yatim bersama bank-bank BUMN lain yang tergabung dalam Himbara di Makassar, Selasa (20/6). Acara bertajuk buka puasa Himbara bersama 1.000 anak yatim ini merupakan bagian dari kegiatan BUMN Hadir untuk negeri dan BTN mengkoordinir kegiatan yang dipusatkan Hinbara di Makassar. Kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh bank BUMN lain di wilayah Semarang, Surabaya dan Jakarta.

S ewaktu kita berada di Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar, kita kerap kali ditanya mau jadi apa nanti ketika dewasa. Kebanyakan anak-anak pada usia tersebut menjawab ingin jadi dokter. Perspektif dokter sebagai profesi yang mulia sudah tertanam hingga kecil, namun sayangnya kenyataan tersebut bertolak belakang ketika sudah dewasa. Penghasilan menjadi salah satu ala- san utama seseorang bekerja, begitu juga dengan profesi dokter. Kita sering melihat banyak orang yang meng- habiskan uang ratusan juta hanya untuk masuk ke fakultas kedokteran danmenjadi dokter. Iming-iming peng- hasilan jutaan rupiah menjadi salah satu faktor mengapa dokter menjadi pekerjaan favorit. Kita tidak bisa menyalahkan pers- pektif tersebut. Toh, kenyataan yang terjadi memang seperti itu. Setiap pasien harus rela mengeluarkan

berobat ke klinik Dokter Evi. Me- mang, dia mengeluhkan rendahnya biaya yang dipatok per pasien dari BPJS Kesehatan, yakni sebesar Rp 8.000. Namun, menurut dia, dok- ter tetap mendapatkan penghasilan apabila kapitasinya banyak. Artinya, peserta BPJS Kesehatan yang sehat lebih banyak daripada yang sakit. “Peser ta BPJS Kesehatan yang terdaftar di klinik saya ada 500 orang, yang berobat sekitar 100 orang, jadi kapitasinya banyak. Saya juga men- erima pasien umum,”kata dia. Untukmembuat jumlah peserta yang sehat lebih banyak dari yang sakit, Evi melakukan penyuluhan kesehatan ke- pada pasien secara langsung ataupun secara masal setiap bulan sekali. Dia pun memasang banner atau informasi di kliniknyamengenai cara pencegahan terhadap penyakit epidemik. Menurut dia, penyuluhan tersebut bisa membuat masyarakat lebih memahami mengenai pentingnya

uang yang tidak sedikit agar sembuh. Pengeluaran uang untuk biaya pengo- batan ini merupakan biaya darurat dan tidak bisa ditawar. Di sisi lain, kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) men- jadi salah satu solusi bagi masyarakat agar bisa berobat tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Bahkan, bagi masyarakat tidakmampu ada Program Penerima Bantuan Iuran dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yangmembuat masyarakat tersebut bisa berobat gratis tanpa mengeluarkan biaya. Alasan untuk bisa membantu masyarakat tidak mampu ini juga memotivasi Evi Kurniawaty, seorang dokter yang membuka praktik pribadi di Lampung. “Pasien miskin dan tidak punya berhak untuk mendapat pengo- batan,” ujar dia. Setiap bulan, sekitar 100 orang pasien dengan Kartu BPJS Kesehatan

Made with FlippingBook - Online catalogs