ID170621

RABU 21 JUNI 2017

24

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Sistem Informasi Perizinan dan Registrasi Terintegrasi (Sprint) penerbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank, sebagai upaya mempercepat dan menyederhanakan proses perizinan dengan cara mengintegrasikan proses perizinan di kompartemen pasar modal dan kompartemen perbankan. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto mengatakan, melalui Sprint proses perizinan penerbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank dipersingkat dari semula membu­ tuhkan waktu 105 hari menjadi 22 hari kerja. Rahmat menambahkan, proses perizinan pen­ erbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank yang selama ini dilakukan secara sekuensial telah ditransformasikan menjadi perizinan melalui satu pintu, dan dokumen permohonan juga telah disederhanakan. "Dengan langkah ini OJK dapat memotong waktu pemrosesan permohonan secara signi­ fikan, namun tetap mempertimbangkan aspek prudensial terhadap permohonan yang diajukan," kata Rahmat dalam peluncuran Sprint di Jakarta, Selasa (20/6). Menurut dia, sistem tersebut sebagai upaya konkret OJK dalam menjaga momentum mem­ baiknya kondisi ekonomi nasional, dengan mem­ bangun mekanisme perizinan penerbitan obligasi dan sukuk bagi emiten bank yang terintegrasi melalui satu pintu. Sprint juga telah ditetapkan sebagai virtual single window bagi industri jasa keuangan dalam melakukan proses perizinan di lingkungan OJK. "Melalui aplikasi Sprint, kami berharap dapat mewujudkan perizinan yang Tuntas (Transparan, Terpadu, Akuntabel, Cepat, dan Sederhana)," terang Rahmat. Dengan adanya Sprint, selain mengurangi risiko perbedaan kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing kompartemen dapat mengurangi duplikasi dokumen permohonan yang harus diajukan oleh pemohon. Sprint juga dilengkapi dengan fitur tracking sebagai bentuk transparasi proses perizinan. Sebagai bentuk transparansi proses perizinan, Sprint juga dilengkapi fitur tracking sehingga pemohon dapat senantiasa melakukan monitoring terhadap progress perizinan atau pendaftaran yang telah diajukan. (c02)

Investor Daily/ist

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – Penurunan suku bunga kredit tidak bisa terjadi tanpa menurunkan komponen pembentuknya, salah satunya adalah komponen biaya operasional. Oleh karena itu, sejumlah bank berusaha menekan biaya operasional agar dapat mengurangi biaya kredit.

Transaksi di ATM Merah Putih Direktur Digital Banking & Technology PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Indra Utoyo mencoba fitur di ATM Merah Putih di sela acara konferensi pers HIMBARA yang diadakan di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (20/6/2017). Hingga pertengahan Juni 2017, jumlah ATM Merah Putih yang tersebar di Indonesia mencapai 15.000 ATM.

Apalagi, lanjut Sunarso, masya­ rakat saat ini juga cenderung untuk melakukan transaksi melalui elec- tronic banking , sehingga kebutuhan uang tunai juga menurun. Di BRI, frekuensi transaksi melalui elec- tronic banking ini terlihat dari tran­ saksi BRIzzi di tol yang meningkat dari 60 ribu transaksi per bulan pada tahun lalu menjadi 200 ribu transaksi per bulan pada tahun ini. Sementara itu, strategi efisiensi dengan menekan biaya operasio­ nal juga dilakukan oleh PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. Direktur BCA Suwignyo Budiman mengung­ kapkan, biaya dari sisi sumber daya manusia (SDM) memang tidak bisa ditekan. Namun, pihaknya bisa me­ redam biaya operasional dari sisi maintenance cost untuk perawatan ATM dan penyediaan kebutuhan uang tunai. "Kami mengarahkan nasabah agar lebih banyak melakukan transaksi secara digital. Hal ini tentunya men­ dorong efisiensi perbankan karena mengurangi biaya maintenance cost dan biaya lainnya," papar dia. Meski hal tersebut dapat me­ nekan biaya operasional, men­ urut Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja, tahun ini likuiditas

Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso menjelaskan, penye­ bab tingginya suku bunga kredit saat ini adalah biaya operasional yang sangat besar. Hal ini bisa bersumber dari berbagai sektor, salah satunya adalah biaya untuk pengadaan uang tunai. Sunarso memaparkan, tahun ini pihaknya menurunkan pengadaan kebutuhan uang tunai menjelang Lebaran, yakni dari Rp 30 triliun pada 2016 menjadi Rp 23 triliun. "Tahun lalu, kami sediakan Rp 30 triliun, namun yang terpakai hanya Rp 21 triliun," kata Sunarso di Jakarta, Selasa (20/6). Menurut Sunarso, apabila pihak­ nya tetap mengalokasikan uang tunai dengan besaran yang sama, akan menimbulkanbiaya tambahan.Belum lagi bank harus menyediakan ekstra likuiditas, karena uang tunai yang sudahdisebarkan tidakbisa langsung kembali ke sistem perbankan. "Kalau uang tunainya tidak ter­ pakai bisa jadi tambahan biaya juga, mulai dari biaya keamanan, pera­ watan, dan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, penting untuk menggunakan uang secara efektif dan efisien," jelas dia.

Pasalnya, apabila satu bank menu­ runkan suku bunga kredit, bank lain juga akan ikut. Sampai saat ini BTN berusaha untuk menurunkan suku bunga kredit, meski belum semua suku bunga berada dalam satu digit. Adapun untuk suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) nonsubsidi berkisar 9,5-9,9%, KPR subsidi 5%, dan kredit konstruksi untuk prime customer sebesar 11%. Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta juga mengatakan, stimulus berupa penurunan GWM, premi LPS dan iuranOJK juga bisamembantumen­ urunkan suku bunga kredit. Saat ini suku bunga kredit BNI rata-rata berada di angka 10-11%. (th)

gulator perlu menurunkan GWM," terang dia. Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko juga berpendapat serupa. Stimulus dari regulator sangat dibutuhkan agar dapat menu­ runkan suku bunga kredit. Bentuk stimulus yang dibutuhkan misalnya penurunan suku bunga acuan (BI- 7 days reverse repo rate ), penurunan GWM dari Bank Indonesia (BI), serta tingkat bunga penjaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). "Stimulus yang diberikan dari BI dan LPS adalahuntukmenurunkanbiaya dana," kata Iman kepada Investor Daily , Senin (19/7). Selain itu, persaingan suku bunga kredit diharapkan mereda untuk menurunkan suku bunga kredit.

perbankan sedikit ketat. Pasalnya, perbankan membutuhkan dana yang cukup besar untuk pemba­ ngunan infrastruktur dan lainnya. "Kalaupun tidak bisa naik, paling tidak, suku bunga kredit diusaha­ kan bertahan," kata dia. Di sisi lain, menurut Sunarso, likuiditas memang menjadi kom­ ponen utama untuk membentuk suku bunga kredit. Oleh karena itu, menurut Sunarso, stimulus yang sangat dibutuhkan dari pemerintah adalah pasokan dari pasar. Selain itu, perlu adanya penurunan giro wajib minimum (GWM). "Yang dibutuhkan perbankan adalah dana yang melimpah, kalau melimpah maka bunganya murah, kalau duitnya cekak harganya bisa naik. Supaya duitnya melimpah, re­

Made with FlippingBook - Online catalogs