ID170713

kamis 13 juli 2017

24

Investor Daily/GAGARIN

tumbuh 137,50% (yoy). Dari nilai tersebut, pertumbuhan didorong oleh deposito yang sebesar Rp 6,77 triliun atau meningkat 142,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,79 triliun. Sedangkan dana murah atau current account saving ac- count (CASA) mencapai Rp 1,21 triliun atau tumbuh 113,91% (yoy). Sementara itu, untuk rasio kredit bermas- alah atau non performing loan (NPL) hingga Juni berada pada posisi sekitar 0,53%. Hingga akhir tahun pihaknya akan menjaga NPL di bawah 0,6%. Menurut dia, untuk kredit macet pensiun sangat rendah, namun yang perlu dijaga adalah UMKM. “NPL pensiunan kecil, tapi yang harus dijaga adalah UMKM yaitu mikro dan ritel. Strateginya kami monitoring kuat jadi bisa ditahan, sampai akhir tahun kami jaga di bawah 0,6%,” lanjut dia. Obligasi perseroan yang dicatatkan memi- liki dua Seri, yakni Seri A memiliki nilai emisi Rp 1,5 triliun dengan tingkat bunga tetap 8,5% per tahun dan jangka waktu tiga tahun. Kemudian, Seri B memiliki nilai emisi Rp 500 miliar dengan tingkat bunga tetap 8,75% dan jangka waktu lima tahun. Dengan empat perusahaan penjamin emisi, yaitu Mandiri Sekuritas, BCA Sekuritas, Danareksa Sekuritas, dan Bahana Sekuritas. “Jadi kami offer , Rp 2,4 triliun hampir Rp 3 triliun, tapi sebelum waktunya kami sudah setop. Kami tahan dulu, karena bagi jatahnya nanti sulit,” ungkap dia. Josephus menjelaskan, untuk men- ingkatkan pembiayaan dan pengumpulan dana nasabah, perseroan ter us mem- perluas jaringan kantor cabang. Hingga Juni perseroan telah memiliki 146 kantor jaringan, hingga akhir tahun pihaknya men- argetkan memiliki 186 unit kantor jaringan dengan layanan sembilan mobil kas keliling. “ Rights issue itu ada dua, ada untuk ek- spansi dan ada untuk buka cabang. Karena untuk buka cabang itu perlu alokasi modal inti. Jadi rencana rights issue Rp 350 miliar tahun ini utamanya untuk buka cabang, modal inti kami Rp 1,2 triliun, capital ad- equacy ratio (CAR) 23%, dengan tambahan Rp 350 miliar mungkin modal kami jadi Rp 1,5 triliun,” terang Josephus. Sementara itu, Josephus mengatakan masih akan mendapat tambahan modal dari induk Bank Mandiri dan Taspen sebesar Rp 350 miliar. Dengan komposisi Bank Mandiri lebih dari 59% dan Taspen lebih dari 40%. Sedangkan Pos Indonesia per Desember lalu sudah melepas sahamnya. “Pos Indonesia per Desember sudah lepas kepemilikan, jadi sudah tidak ada lagi. Nanti ada RUPS, ketika rights issue akan sekalian ganti nama jadi Bank Mandiri Taspen,” terang dia. (c02)

JAKARTA – PT Bank Mandiri Taspen Pos (Mantap) mencatatkan obligasi sebesar Rp 2 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pen- erbitan obligasi bertujuan untuk mendorong ekspansi kredit perseroan tahun ini yang hingga Juni tumbuh 175,18% secara tahunan atau year on year (yoy). Direktur Utama Bank Mantap Josephus K Triprakoso mengatakan, pihaknya mem- butuhkan obligasi di pasar modal karena pertumbuhan kredit yang ekspansif. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit pada kuar tal II-2017 meningkat sebesar 175,18% menjadi Rp 7,54 triliun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,74 triliun. Dengan porsi pensiunan menjadi Rp 5,22 triliun hingga Juni tahun ini. “Hingga Juni 2017 portofolio kredit pensi- unan sekitar 65-70% dari total kredit kami. Sampai akhir tahun target porsi pensiunan kami sebesar 80%, itu akan dijaga dengan meningkatkan porsi pensiunan. Hingga akhir tahun target kredit kami Rp 9,5 triliun atau tumbuh 93,88% dari kredit tahun lalu Rp 4,9 triliun,” papar Josephus kepada Investor Daily di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/7). Josephus menjelaskan, per tumbuhan kredit yang ekspansif tak lepas dari ko- mitmen perseroan dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan pensiunan PNS serta TNI/ Polri. Perseroan telah menyalurkan kredit UMKM sebesar Rp 5,6 triliun atau tumbuh 211,5% (yoy), kredit ritel Rp 1,11 triliun, dan kredit mikro sebesar Rp 1,19 triliun. “Segmen pensiunan tumbuh signifikan 552,1% (yoy). Selain itu, penyaluran kredit dan akuisisi nasabah pensiunan dan UMKM, laba kami menjadi Rp 67,51 miliar pada akhir Juni 2017 atau meningkat sebesar 178% (yoy),” jelas dia. Pencapaian yang signifikan tersebut, turut mengerek pertumbuhan aset menjadi Rp 9,79 triliun atau tumbuh 136,39% secara tahunan. Sementara itu, profitabilitas perseroan saat ini tercatat laba Rp 67,51 miliar, akhir tahun ditargetkan meningkat 122,19%. Dengan rasio profitabilitas terhadap aset atau return on asset (RoA) berada pada posisi di atas 2%, dan return on equity (RoE) sudah 12%. “Akhir tahun RoA kami masih akan tumbuh lagi, akan lebih bagus. Laba sampai akhir tahun targetnya mencapai Rp 150 mil- iar,” kata Josephus. Penghimpunan DPK Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perseroan per Juni tahun ini menjadi Rp 7,98 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp 3,36 triliun atau

Dana Pihak Ketiga Karyawan MNC Bank melayani nasabah di Kantor Cabang Kebonsirih, Jakarta, Rabu (12/7/2017). PT Bank MNC Internasional Tbk membidik target peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran dana meningkat 10% hingga 15% pada tahun ini. Hingga akhir 2016, MNC Bank berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 7,9 triliun atau meningkat 12,83% dari tahun sebelumnya. Sedangkan, DPK yang berhasil dihimpun senilai Rp10,3 triliun pada tahun 2016.

kurang lebih 13% secara tahunan ( year on year /yoy) dibandingkan Juni tahun tahun se- belumnya. “Dengan strategi pendanaan yang kami lakukan, BTN optimistis mendorong percepatan pencapaian ProgramSejuta Rumah yang dicanangkan Pemerintah,” kataMaryono. Obligasi Berkelanjutan III BTN Tahap I Tahun 2017 yang diterbitkan dalam empat seri tersebut akan dicatatkan di Bursa pada 14 Juli mendatang. Untuk besaran kupon Seri A bertenor tiga tahun memiliki tingkat bunga tetap sebesar 8,3%, Seri B yang bertenor lima tahun, tingkat bunganya sebesar 8,5 %, dan Seri C yang bertenor tujuh tahun memiliki tingkat bunga tetap sebesar 8,7%, kemudian Seri D yang bertenor 10 tahunmemiliki tingkat bunga tetap sebesar 8,90%. Dari empat seri tersebut, seri A dan seri D mencatatkan penyerapan tertinggi, mas- ing-masing Rp 1,466 triliun dan Rp 1,386 triliun, sementara seri B sebesar Rp 1,295 triliun, dan seri C sebesar Rp 853 miliar. Adapun bunga obligasi akan dibayarkan setiap triwulan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga Obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dibayarkan pada 13 Oktober 2017. Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) BTN dengan target senilai Rp 10 triliun. Obli- gasi ini pun disematkan rating idAA+ (Double A Plus) oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Penyerapan yang optimal dari obligasi ini akan dimanfaatkan bank berkode saham BBTN untuk ekspansi pembiayaan. Untuk penerbitan surat berharga ini, BTN menunjuk PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT CIMB Sekuritas Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekur- itas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dan PT Trimegah Sekurtias Indonesia Tbk dan PT Mandiri Sekuritas sebagai Penjamin Pelak- sana Emisi Obligasi. Hingga saat ini BTN telah 22 kali mener- bitkan obligasi dan satu kali menerbitkan obligasi subordinasi. Dari keseluruhan obligasi tersebut, hingga kini total obligasi yang telah lunas dan jatuh tempo sebesar Rp 6,1 triliun, sedangkan total outstanding yang jumlah pokoknya belum dilunasi yakni sekitar Rp 17,95 triliun. (c02) emiten, dan perusahaan publik melalui pengelolaan risiko sosial dan lingkungan hidup yang lebih baik. Hal ini dengan cara mengembangkan mengembangkan produk dan/atau jasa keuangan yang menerapkan prinsip Keuangan Berkelanjutan, sehingga mampu berkontribusi positif pada stabilitas sistem keuangan. Ketiga, mengurangi kesenjangan sosial, mengurangi dan mencegah ker usakan lingkungan hidup, menjaga keanekaragaman hayati, dan mendorong efisiensi pemanfaatan energi dan sumber daya alam. Keempat, mengembangkan Produk dan/atau Jasa Keuangan yang menerapkan prinsip Keuan- gan Berkelanjutan. POJK Keuangan Berkelanjutan akan dit- erapkan secara bertahap untuk masing-mas- ing LJK, emiten dan perusahaan publik, yang didasarkan pada perbedaan karakteristik dan kompleksitas usaha. OJK juga menilai kesiapan masing-masing LJK, emiten publik untuk menerapkan POJK ini. (th)

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – Obligasi yang ditawarkan oleh bank BUMN pada semester I-2017 meraup hasil yang bagus. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat hasil obligasi melampaui target ( oversubscribed ). Sedangkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sesuai target ( fully subscribed ).

kan dalam dua jenis instrument yaitu c oupon bond dan zero coupon bond . Untuk coupon bond , Bank Mandiri menerbitkan Seri A 5 tahun dengan kupon 8,00%, Seri B tujuh Tahun dengan kupon 8,50% dan Seri C 10 Tahun dengan kupon 8,65%. Sedangkan zero coupon bond , Bank Mandiri menerbitkan Seri D tiga Tahun dengan yield 7,80%. Sebelumnya, Bank Mandiri juga menerbit- kan obligasi sebesar Rp 5 triliun melalui Pen- awaran umumBerkelanjutan (PUB) I Tahap I. Secara keseluruhan, target penerbitan obligasi melalui PUB I adalah sebesar Rp 14 triliun yang akan dilakukan dalam kurun waktu 2016-2018. BTN Fully Subscribed Sementara itu, BTN pada Obligasi Berkelan- jutan III Tahap I 2017 berhasil meraup dana dari pasar modal sebesar Rp 5 triliun. Perole- han dana tersebut sesuai dengan target yang dicanangkan saat penawaran awal obligasi ( fully subscribed ). Direktur Utama BTNMaryonomengatakan, obligasi tersebut mendapat sambutan baik, terutama dari dana pensiun yang mencata- tkan pembelian terbanyak. “Sesuai dengan rencana awal, dana segar hasil penjualan ob- ligasi akan digunakan untuk ekspansi kredit, terutama kredit pemilikan rumah (KPR) yang merupakan core business dari BTN,” kata Ma- ryono dalam keterangan resmi yang diterima Investor Daily , Rabu (12/7). Menurut dia, dengan penguatan pendanaan dari pasar modal, perseroan masih optimistis dengan target pertumbuhan kredit sebesar 21-22% hingga akhir tahun 2017. Pertumbuhan nilai kredit KPR per Juni tahun ini mencapai yang menghubungkan antara hasil riset akademis, pelaku industri, dan sektor jasa keuangan. Melalui BCSF, Muliaman mengharapkan ada pengembangan publikasi ilmiah terkait Keuangan Berkelanjutan, mengingat research terkait masih sangat terbatas. Hal ini tentu membutuhkan dukungan dari Kemenristek Dikti untuk membantu publikasi ilmiah pada jurnal nasional maupun Internasional. Sementara itu, OJK juga segera mener- bitkan POJK Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuan- gan, Emiten dan Perusahaan Publik sebagai wujud implementasi dari Roadmap Keuan- gan Berkelanjutan. Ada empat tujuan POJK tersebut. Pertama, menyediakan sumber pendanaan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan pendanaan terkait perubahan iklim dalam jumlah yang memadai. Kedua, meningkatkan daya tahan dan daya saing lembaga jasa keuangan (LJK),

Direktur Treasury dan International BNI Panji Irawan menjelaskan, penerbitan obligasi Tahap I-2017 yang sebesar Rp 3 triliun oversub- scribed 1,7 kali. “Permintaan yang kami terima lebih besar dari target yang dipatok,” kata Panji di Jakarta, Rabu (12/7). Dengan pencapaian pada tahap I tersebut, perseroan berencana menerbitkan obligasi lagi pada kuartal IV-2017. Adapun nilai yang diterbitkan mencapai Rp 7 triliun. Selain menerbitkan obligasi, perseroan berencana menerbitkan sertifikat deposito yang diper- dagangkan ( negotiable certificate of deposit / NCD). Opsi lainnya adalah menerbitkan repo dan pinjaman bank asing. Sementara itu, Bank Mandiri menerbitkan surat utang dalam skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I Tahap II 2017 senilai Rp 6 triliun guna membiayai ekspansi kredit perseroan. Dalam proses book building , perseroan menerima permintaan hingga Rp 8,92 triliun atau kelebihan permintaan 1,79 kali dari target indikatif awal Rp 5 triliun. “Dari nilai tersebut, kami menerbitkan obligasi tanpa kupon atau zero coupon bond sebesar Rp 1 triliun sebagai bagian dari inisiatif untukmendiversifikasi instrumen pembiayaan perseroan. Ini menjadikan BankMandiri seba- gai bank pertama di Indonesia yang menerbit- kan obligasi tanpa kupon,” jelas SVP Treasury Bank Mandiri Farida Thamrin. Dalam aksi korporasi ini, Bank Mandiri menunjuk lima perusahaan penjamin emisi yakni Mandiri Sekuritas, Bahana Sekuritas, BCA Sekuritas, BNI Sekuritas, dan Danareksa Sekuritas. Obligasi berkelanjutan I tahap II ini diterbit- inisiatif pendirian Bali Centre for Sustainable Finance (BCSF). Beberapa hal yang menjadi tujuan pemben- tukan BCSF. Pertama, menyediakan sebuah pusat studi dan pembelajaran bagi semua pihak termasuk pelaku industri jasa keuan- gan, pengambil kebijakan, pelaku usaha pada sektor jasa keuangan, pelaku usaha sektor riil maupun masyarakat dalam melakukan studi/riset/pembelajaran tentang Keuangan Berkelanjutan. Kedua, sarana berkumpulnya para ahli dari berbagai bidang studi seperti ekonomi, bisnis, keuangan, lingkungan hidup, en- ergi, infrastruktur, para praktisi dari sektor jasa keuangan. Dengan demikian, secara bersama-sama dapat mendiskusikan dan berbagi pengetahuan tentang tantangan, serta hambatan dalam implementasi Keuangan Berkelanjutan. Ketiga, membangun jejaring seluruh pe- mangku kepentingan dari programKeuangan Berkelanjutan; serta melakukan pilot project

Investor Daily/ANTARA FOTO/Audy Alwi/kye/17

Fasilitas Kredit Direktur Utama PT Andalan Finance Indonesia (Andalan Finance) Frans F Rundengan (kedua kanan) didampingi Komisaris Utama AFI Sebastianus H Budi (kanan) usai menandatangani perjanjian fasilitas Kredit Revolving senilai Rp100 miliar, di Jakarta, Rabu (12/7). Hingga akhir Juni 2017, Andalan Finance yang merupakan anak usaha PT Bintraco Dharma Tbk telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp.2,4 triliun, atau meningkat sebesar 47,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

pemerintah untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam sambutannya mengatakan, pembentukan pusat informasi tersebut merupakan bentuk dukungan menyeluruh dari sektor jasa keuangan. “Hal ini untuk men- ciptakan pertumbuhan ekonomi berkelan- jutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup,” terang dia dalam siaran pers yang diterima Investor Daily , Rabu (12/7). Pendirian Bali Center ini didukung pula oleh Kemenristek Dikti serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Terpilihnya Universitas Udayana Bali sebagai Center for Sustainable Finance, karena Bali sebagai wilayah wisata di Indonesia yang mempunyai kondisi sosial dan lingkungan hidup yang kondusif untuk pengembangan keuangan berkelanjutan. Selain itu, adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Universitas Udayana Bali meluncurkan Bali Center For Sustainable Finance (BCSF) di Bali, pada 12 Juli 2017. Kerja sama tersebut untuk menyediakan informasi terpadu mengenai keuangan berkelanjutan bagi pemangku kepentingan, dan mendukung keberhasilan implementasi program Keuangan Berkelanjutan di Indone- sia. Peluncuran Bali Center For Sustainable Finance di Kampus Universitas Udayana tersebut juga dilanjutkan dengan seminar nasional tentang keuangan berkelanjutan dengan tema Sustainable Finance sebagai Instrumen Kunci Pencapaian SDGs. Selain itu, acara closing Pilot Project the First Movers on Sustainable Banking dan sosialisasi POJK Keuangan Berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan implementasi Roadmap Keuangan Berkelanjutan 2015-2019 yang diluncurkan OJK pada Desember 2014, sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online