SP190105

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 5-6 Januari 2019

Pariwisata Terancam Bencana Promosi 10 “Bali Baru”Digencarkan

Pemimpin Umum: Sinyo H Sarundajang (Nonaktif) Wakil Pemimpin Umum: Randolph Latumahina

Memihak Kebenaran SP

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Primus Dorimulu

Editor at Large: John Riady

[JAKARTA] Kementerian Pariwisata (Kempar)menempuhupaya ekstrakeras untuk mendongkrak sektor pariwisata. Langkah itu menyusul target 17 juta wisatawanmancanegara (wisman) pada 2018 tak tercapai, lantaranbencana alam bertubi-tubi yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, termasuk di des- tinasi utama pariwisata, seperti Bali dan Lombok. Tahun ini, Kempar menyadari an- caman bencana alam masih mengintai. Padahal, pemerintah telah mematok target 20 jutawismanmembanjiriTanah Air. Untuk menyiasati hal tersebut, Kemparmenetapkan sejumlah langkah, di antaranya mengintensifkan promosi 10 destinasi utama wisata di luar Bali. Adapun 10 destinasi yang baru dikem- bangkan adalah Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Kepulauan Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Boro- budur (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim),Mandalika (NTB), LabuanBajo (NTT), Wakatobi (Sultra), dan Morotai (Maluku Utara). Demikian disampaikan Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti, Jumat (4/1). Diamengungkapkan, salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng fotografer profesional untukmendukung promosi 10 “Bali Baru”. Guntur juga mengklaim, sejauh ini promosi co-branding 10 “Bali Baru” ke mancanegara sudah dilakukan intensif dan dinilai sukses. Selain itu, ungkapnya, Kempar juga mencanangkantigaprogramuntukmeno- pang target 20 juta wisman pada 2019. Pertama , mewujudkan border tourism denganmenjaringwismanyangmemiliki kedekatan geografis dengan Indonesia. “Mereka bisa lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi wisata di Indonesia,” ungkapnya. Selain kedekatan secara geografis, mereka juga dianggap memiliki kede- katan kultural sehingga lebih mudah didatangkan. “Potensi pasar border tourism ini masih sangat besar, baik dari Singapura,Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste,” jelasnya. Kedua, mendorong tourism hub dengan menjaring wisman yang sudah datangkenegara tetangga.Wismanyang berkunjung ke Singapura dan Malaysia ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia. Strategi ini lantaranmasihminimnya penerbangan langsung dari negara asal wisman ke Indonesia. Sebagai contoh, penerbangan langsung ke Tiongkok baru 50%. “Artinya 50% wisman asal Tiongkok lainnyamasih transit di negara lain sebelummelanjutkan ke Indonesia, seperti di Singapura,KualaLumpur, atau Hong Kong. Padahal, negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia direct flight -nya sudah mencapai 80%. Ini tantangan kita,” jelasnya. Ketiga, program low-cost carrier terminal (LCCT). Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta akan didorong menjadi terminal yanghanyamelayani penerban- ganberbiayamurah(LCC), danTerminal 2 untuk LCC penerbangan domestik dan internasional. Selain itu, Bandara Banyuwangi juga akan dikembangkan menjadi LCCTsetelahmelalui berbagai proses pembenahan.

bisa menurun 100.000 per bulan. Sejak Agustus hingga Desember dipastikan hampir 100.000 wisman (per bulan) membatalkan kunjungan. Itu baru Bali, belum(destinasi) yang lainnya,” ungkap Menpar akhir tahun lalu. Meski demikian, menurut Arief, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian terusmeningkat. Saat ini, pariwisata menduduki peringkat kedua penyumbangdevisaterbesarsetelahkelapa sawit. Sepanjangsemester pertama2018, Kemparmencatat,devisayangdihasilkan dari pariwisata mencapai US$ 9 miliar. Denganpencapaian itu, diaoptimistis pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar, dengan estimasi perole- han US% 17,6 miliar pada 2018. Saat ini, perolehan devisa dari kelapa sawit sebesar US$ 17 miliar. Pada 2019, Kempar mencanangkan 10 program strategis, di antaranya pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas,pengembangan5.000 homestay , peningkatan aksesibilitas di 10 destinasi prioritas, peningkatan investasi danpem- biayaan pariwisata sebesar, penerapan sustainable tourismdevelopment (STD) di 16destinasi, pengembangan10kawas­ an ekonomi khusus (KEK) pariwisata, serta perintisan destinasi pariwisata di sekitar 10 DPP. Secara terpisah, peneliti Pusat Peneli-

Tajuk Rencana

Pariwisata dan Kepungan Bencana T ak bisa dimungkiri geliat pariwisata berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, khususnya bencana alam. Data pariwisata dari Badan Pusat Statistik menunjukkan meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) selama Januari-November 2018 meningkat 11,63% menjadi 14,39 juta dibanding periode yang sama tahun lalu, hampir bisa dipastikan target kunjungan 17 juta wisman pada tahun ini tak akan tercapai. Salah satu penyebabnya adalah bencana alam, di antaranya rentetan gempa Lombok pada akhir Juli hingga awal Agustus 2018 dan beberapa kali letusan Gunung Agung di Bali. Sebagai negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terletak di tiga lempeng tektonik aktif, yakni lempeng Australia, Euroasia, dan Pasifik, Indonesia rawan gempa. Gempa bumi dengan kekuatan besar bisa mendatangkan bencana lain, yakni tsunami. Tsunami juga bisa terjadi akibat longsoran gunung di bawah laut, seperti pada Gunung Anak Krakatau yang menim­ bulkan tsunami di Selat Sunda, akhir tahun lalu. Bencana tersebut telah memorakporandakan salah satu destinasi baru pariwisata Indonesia, yakni Tanjung Lesung di Provinsi Banten. Tak hanya itu, Indonesia juga berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh cincin api Pasifik. Kondisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan letusan gunung berapi, gempa, dan tsunami. Kita tentu tak bisa melawan takdir alam. Bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami, bisa datang kapan saja. Hanya saja, khusus gunung meletus dan tsunami, dapat diprediksi sebelumnya, sehingga masih ada waktu untuk melakukan evakuasi, sekaligus mengurangi jumlah korban jiwa. Gempa bumi tak bisa diprediksi, sehingga kita harus senantiasa waspada. Dalam kaitannya dengan dunia pariwisata, kita hanya bisa memaksimalkan mitigasi dan melakukan berbagai langkah preventif. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk tetap mendatangkan wisman, meski negeri ini berada dalam kepungan bencana. Pertama , terus mengembangkan dan menjual 10 “Bali baru”. Sejak diperkenalkan pada akhir 2015, 10 destinasi prioritas yang dikembangkan pemerintah belum sepenuhnyamenggembirakan. Setelah tiga tahun berlalu, kita melihat Bali dan Jakarta, relatif belum tergantikan sebagai kota tujuan utama wisman saat mengunjungi Indonesia. Dari 10 “Bali baru”, sejauh ini pemerintah baru fokus ke empat lokasi dengan menjadikannya kawasan ekonomi khu- sus (KEK). Keempat lokasi tersebut adalah Tanjung Lesung di Banten, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Morotai di Maluku Utara, dan Tanjung Kelayang di Belitung. Kemudian, tiga lokasi lainnya, yakni Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, telah memiliki Badan Otoritas Pariwisata, sedangkan dua lokasi lainnya, yakni Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur danWakatobi di Sulawesi Tenggara kini dalam tahap menuju pengesahan menjadi Badan Otoritas Pariwisata. Meski pergerakannya terkesan lamban, kita tetap menaruh harapan pada 10 destinasi baru pariwisata nasional untukmenarik sebanyak mungkin wisman. Indonesia memang bukan hanya Bali dan Jakarta, sehingga pemerintah berkewajiban untuk terus mengenalkan lokasi-lokasi indah di Nusantara kepada dunia in- ternasional. Dengan sisa masa pemerintahan Jokowi-JK selama 10 bulan ke depan, kita mendorong Kementerian Pariwisata bekerja optimal untuk menunjukkan bahwa 10 destinasi baru wisata bisa mendatangkan wisman dalam jumlah signifikan. Kedua , pembangunan dan perbaikan infrastruktur menuju destinasi wisata baru. Infrastruktur yang memadai akan men- ingkatkan arus wisatawan ke destinasi wisata baru. Ketersediaan berbagai alat transportasi akan memberikan lebih banyak pilihan kepada wisatawan menuju lokasi pilihannya. Kita juga tak boleh melupakan pelayanan prima dan keramahtamahan agar wisman betah berlama-lama di Tanah Air. Ketiga , memaksimalkan deteksi dini dan mitigasi bencana. Pemerintah perlu mempercepat pengadaan buoy untuk mende­ teksi tsunami, serta mengecek semua alat pemantau aktivitas gunung berapi. Informasi dini tentang kemungkinan terjadinya bencana dari alat-alat tersebut diharapkan membuat kita lebih siap menghadapi bencana, termasuk menyiapkan rencana darurat untuk mengalihkan wisman ke lokasi lain yang tidak dilanda bencana. Langkah ini diharapkan dapat menekan jumlah wisman yang mendadak membatalkan rencananya berwisata di Indonesia akibat bencana. Dengan kerja keras pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata, yang didukung pemangku kepentingan dan masya­ rakat, disertai berbagai terobosan pembangunan pariwisata nasional, kita tetap bisa berharap target 20 juta wisman tahun ini tercapai. Tak hanya itu, target US$ 20 miliar devisa dari sektor pariwisata juga diharapkan bisa terealisasi, sekaligus menjadi penyumbang devisa terbesar bagi ekonomi Indonesia.

beritasatu photo

Arief Yahya

“Sebab, 70%wisatawanyangdatang keIndonesiamenggunakanangkutanudara low-costcarrier. Namun,ketikamendarat di Indonesia, tarif terminal bandara kita masih sangat mahal,” jelasnya. Untukmewujudkanprogramtersebut, Gunturmenambahkan,DirekturUtamaPT AngkasaPura II,MuhammadAwaluddin menyatakansiapmembantumembangun terminal khususuntukLCC. “Hal ini juga penting, pasalnya negara lain juga sudah memiliki multibandara, ada yang untuk fullservicecarrier danLCC,”ungkapnya. Melalui tiga strategi tersebut, ditam-

bahmendorong promosi 10 “Bali Baru” Guntur berharap mampu mewujudkan target kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 20 juta tahun ini. “Hal ini me- mang berat. Tapi di sinilah kita bekerja kerasdi tengahbayang-bayangIndonesia di posisi ring of fire yang tidak bisa kita prediksi kapan akan terjadi bencana. Karena bencana bisa datang kapan saja dan di mana saja,” terangnya. Tetap Tumbuh Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar)Arief Yahya mengakui, target 17 jutawisman tahun2018 tidak tercapai. Menparmemperkirakan, jumlahwisman yangdatang sepanjang tahun lalumaksi- mal 16,2 jutaorang, atau94%dari target. Sejumlahbencanaalam,sepertigempa bumi di Lombok pada 29 Juli yang disu- sul pada 5Agustus 2018 menyebabkan pembatalan besar-besaran kunjungan wisman hingga lebih dari 70%. “DaribencanaGunungAgungdiBali saja jumlah wisman yang berkunjung

tianEkonomiLembagaIlmuPengetahuan Indonesia(LIPI)MaxensiusTriSambodo mengingatkan,target17jutawismanyang taktercapaiharusmenjadibahanevaluasi, apakah target yang dicanangkan terlalu besar, ataupromosi yangkurangoptimal. Dia tak menampik bencana alam menjadi faktor yang turutmenyebabkan target tak tercapai. Akibatnya, banyak wisman yang membatalkan rencana ke Indonesia. Dia menambahkan, yang perlu dibenahi dalampembangunanpariwisata adalah infrastruktur yangmenjamin ter- bangunnyakonektivitas destinasiwisata. Selain itu, paket-paket promosi wisata harus diperbanyak. “Mendorongdaerahuntukmembuat event yang unik dan promosi yang me- madai.Selainitu,memanfaatkan jaringan diaspora danpelajar-pelajar Indonesia di luar negeri sebagai agen-agen promosi, serta,menargetkankunjunganwisatawan berbasis pada kantor kedutaan yang ada di luar negeri,” jelasnya. [DFA/O-2]

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online