ID191227

JUMAT 27 DESEMBER 2019 2 INTERNATIONAL

STR / AFP

danmasih turun hujan, sehingga tidak ada satu orang pun yang mau mening- galkan bandara, termasuk saya” ujar Jung Byung Joon melalui aplikasi pesan Instagram. “Taksi-taksi masih bisamemberikan pelayanan, tapi cuacanya berangin dan masih turun hujan, sehingga tidak ada satu orang pun yang mau meninggal- kan bandara, termasuk saya.” Sedangkan wisatawan Korea lain- nya yang juga terjebak dalam bandara yang rusak mengungkapkan bahwa dirinya tidak dapat menghubungi te- mannya di Borocay pada Kamis. “Saya mencoba menelepon teman saya di Boracay pada hari ini dan tidak dapat tersambung. Mungkin ada sesuatu yang rusak. Saya tidak tahu kapan saya bisa pulang,” kata Dahae Gong kepada AFP melalui Instagram. Selain itu, tidak ada indikasi keru- sakan besar atau lainnya di Boracay. Kenangan Badai Monster Meskipun kekuatannya lebih lemah tetapi Phanfone memiliki jalur yang serupa dengan Topan Super Haiyan – badai paling mematikan di negara itu karena tercatat menyebabkan 7.300 orang meninggal dunia atau hilang pada 2013. “Topan ini adik bungsunya Haiyan. Tidak terlalu merusak tetap mengi- kuti jalur yang sama,” ujar Cindy Ferrer, seorang petugas informasi di biro bencana wilayah Visayas Barat, kepada AFP . Sementara di kota San Jose, di Oc- cidental Mindoro, sebuah video yang diunggah oleh pemerintah setempat menunjukkan kapal-kapal nelayan terbalik dan pondok-pondok hancur di tepi pantai akibat terjangan badai. Alhasil, puluhan ribu orang di negara yang sebagian besar men- ganut agama Katolik itu terpaksa mengungsi dari rumah mereka pada

Oleh Grace Eldora

MANILA – Topan Phanfone yang menghantam desa-desa terpencil dan daerah wisata populer di Filipina tengah tepat di Hari Natal, telah merenggut sedikitnya 16 nyawa. Demikian disampaikan pihak berwenang pada Kamis ( 26/12).

“Jalur komunikasi dan listrik masih mati,” pungkas Jonathan Pablito, kepala polisi kota Malay, provinsi Alkan, yang berada di pulau tetangga, Boracay, kepada AFP . Pablito menambahkan layanan kapal feri antara Boracay dan Aklan – transportasi utama untuk melakukan perjalanan ke dan dari pulau destinasi liburan –masih belumberoperasi pada Kamis, meskipun badai telah berlalu. “Kami belum mendapat kabar dari penjaga pantai, apakah kapal diizin- kan berlayar. Sejak 24 Desember, semua orang yang pergi ke pulau dan datang dari pulau tersebut tidak dapat melakukan penyeberangan,” tuturnya. Di samping itu, bandara yang ter- dapat di kota Kalibo, Aklan, yang biasanya melayani Boracay, men- galami kerusakan parah. Demikian menurut salah seorang wisatawan asal Korea yang terlantar di sana, dia juga memperlihatkan gambar-gambar kepada AFP . “Jalan-jalan masih diblokir, tetapi sudah ada beberapa upaya untuk membersihkan puing-puing kerusa- kan. Ini sangat buruk. Segala sesuatu dalam jarak 100 meter dari bandara terlihat rusak. Ada banyak orang frustrasi di bandara karena sejumlah jadwal penerbangan telah dibatalkan. Taksi-taksi masih bisa memberikan pelayanan, tapi cuacanya berangin infrastruktur, logistik, dan finansial. Semakin besar volume biodiesel yang harus disalurkan maka infrastruktur harus makin banyak yang ditambah oleh Pertamina. “Selain bahan baku, itu bukan ranah kami, tapi dari informasi dari teman-teman (hilir) soal logistik dan infrastruktur harus ditingkatkan. Juga sisi finansial harus ada perencanaan yang lebih bagus. Kalau harga biodie- sel lebih mahal dari solar maka perlu insentif (subsidi) kalau harga biodiesel lebihmurah dari solar gak perlu insen- tif, seperti saat ini. Keberhasilan ini sangat tergantung bagaimana semua instansi bersinergi, mulai dari Kemen- terian ESDM, KementerianKeuangan, dll,” ujar Joko. Adapun harga biodiesel selama ini ditetapkan setiap bulan oleh Kemente- rian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN). HIP biodiesel untuk bulan Desember 2019 ditetapkan sebesar Rp 7.914 per liter. Jika harga biosolar bersubsidi saat ini sebesar Rp 5.150 per liter, maka subsidi yang diberikan sekitar Rp 2.764 per liter. Lebih jauh Joko menuturkan, pro- gram mandatori biodiesel (B20, B30, B50) sangatlah bagus bagi industri sawit dan ekonomi nasional. Program tersebut bisa menyangga harga sawit di pasar global sehingga dari ekspor sawit bisa membantu memperbaiki neraca dagang. Industri sawit me- nyumbang devisa hingga US$ 23miliar pada 2018 dan tahun ini kemungkinan sekitar US$ 15-17 miliar. Namun yang jauh lebih penting adalah melalui program tersebut pemerintah telah membantu membangun supply-chain yang sustainable. “ Di hulu, ada petani sawit yang jumlah produksinya mencapai 40% dari produksi sawit nasional. Semakin tinggi harga sawit maka semakin besar margin yang dinikmati petani yang terefleksi dari membaiknya harga tandan buah segar (TBS). Bagaimana margin yang dinikmati petani tetap sustainable , kuncinya adalah pen- ingkatan produktivitas dari petani supaya produk yang dihasilkan lebih efisien, karena bagaimanapun petani ini adalah ujung tombak industri sawit nasional,” jelas Joko. Program percampuran sawit ke dalam solar (biodiesel) dimulai pada 2008 ketika campuran minyak sawit baru 2,5%. Khusus programB30 tahun depan, Presiden menyebut bahwa hal itu akan menghemat devisa sekitar Rp 63 triliun. Selama pelaksanaan pro- gram B30, diperlukan setidaknya 9,6 juta kl FAME pada 2020. Jumlah terse- but naik pesat dibanding kebutuhan FAME tahun 2019 sebesar 6,6 juta kl. Timing Tepat Dihubungi terpisah, Direktur Ek- sekutif Gabungan Pengusaha Ke- lapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, Gapki men- dukung penuh percepatan program pencampuran biodiesel 50% dalam solar (B50) menjadi 2021 seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Alasannya, produksi min- yak sawit mentah ( crude palm oil / CPO) Indonesia terus membaik dan diproyeksikan bisa menembus di atas 50 juta ton pada 2025. “Gapki siap jika program B50 diper-

Sambungan dari hal 1 Para petugas badan penanggu- langan bencana menyampaikan, sedikitnya 16 orang yang dilaporkan meninggal dunia berada di desa-desa dan kota-kota di Visayas – yang termasuk ke dalam tiga kelompok kepulauan di Filipina bersama dengan Luzon dan Mindanao. Embusan angin topan berkekuatan hingga 200 kilometer per jam itu men- goyak atap-atap rumah dan meroboh- kan tiang-tiang listrik, saat mendarat di Filipina tengah pada Rabu (25/12). Rekaman-rekaman video banyak memperlihatkan pohon-pohon tum- bang karena berada di jalur Topan Phanfone. Angin kencang yang dis- ebabkan topan itu juga menghancur- kan rumah-rumah yang rapuh. Saat ini sejumlah petugas penanggulangan bencana setempat tengah menebangi pohon-pohon yang tumbang dan menutupi jalan, agar dapat dilalui kembali. Topan Phanfone juga bergerak me- nerjang Boracay, Coron dan destinasi liburan lainnya yang terkenal akan pantai berpasir putihnya dan amat populer di kalangan wisatawan asing. Selama angin topan berembus, akses jaringan ponsel dan internet di Boracay ikut terputus. Bahkan jaringannya belum pulih pada Kamis sehingga membuat proses penilaian kerusakan menjadi lebih sulit. “Kalau maunya FAME, itu seder- hana, tinggal olein dan metanol di- esterifikasi,” kata dia. Kalau yang dimaksud B100 adalah green diesel, kata Joko, teknologinya berbeda, melalui hidrocracking , yang nantinya menghasilkan bahan bakar yang lebih bagus dari bahan bakar fosil. “Institut Teknologi Bandung su- dah punya riset tentang teknologi green diesel , apakah itu akan dikem- bangkan?” tutur Joko. Joko menyebut bahwa hal yang harus dipertimbangkan adalah soal subsidi. Dengan asumsi subsidi bio- diesel atau BBN sekitar Rp 2.500 per liter, maka dengan konsumsi B30 tahun depan sebanyak hampir 10 juta kilo liter (kl), subsidi yang dibutuhkan sekitar Rp 25 triliun. Padahal, dana dari pungutan ekspor (PE) sawit, yang dialokasikan untuk subsidi BBN, se- tiap tahun hanya sekitar Rp 15 triliun. “Artinya, sisanya harus ditomboki APBN. Apalagi jika harga sawit di pasar internasional tinggi, subsidi makin membengkak,” kata Joko. Joko juga sangat mendukung jika subsidi untuk BBM dialihkan untuk BBN, seiring program pemerintah menggencarkan biodiesel. Sebelum 2014, subsidi BBM memang sangat tinggi. Namun, sejak 2015 hingga 2020, subsidi BBM dapat ditekan. Tahun ini, subsidi BBM ditargetkan sebesar Rp 32,3 triliun dan tahun depan tinggal Rp 19,9 triliun. Saat tampil dalam program Hot Economy, Beritasatu News Channel, Kamis (26/12), Joko Supriyono men- jelaskan, tidak perlu ada kekhawati- ran tentang kurangnya suplai bahan baku untuk biodiesel, meskipun perusahaan juga terus berusaha menggenjot ekspor. Hal ini mengin- gat tren produksi minyak sawit Indo- nesia terus meningkat meski tingkat kenaikannya untuk saat ini tidak lagi seperti dahulu. “Mau untuk domestik maupun ekspor, sangat bisa. Jadi di samping kita masih bisa memperkuat pasar domestik dengan program B30, B40, ataupun B50, kita juga masih punya kesempatan untuk ekspor,” jelas Joko Supriyono. Tahun ini saja, ungkap Joko Su- priyono, meski cuaca kering produksi sawit minimal masih 50 juta ton. Pada 2020 memang kenaikannya tidak seperti tahun ini, diperkirakan pro- duksi masih bisa 50 juta ton, khusus produksi CPO 46 juta ton. Apabila pro- gramB30 jalan tahun depan, maksimal hanya membutuhkan CPO sebanyak 10 juta ton. Sedangkan apabila pro- gramB50 jalan, kebutuhan CPOhanya sekitar 15 juta ton. “Padahal, saat itu (2021) produksi bisa sampai 60 juta ton. Jadi, kita ti- dak usah khawatir suplai bahan baku (akan kurang), sangat melimpah. Kita juga masih bisa ekspor, ini akan mem- bantu meningkatkan devisa sehingga memperbaiki neraca yang defisit,” jelas Joko. Joko menjelaskan, keberhasilan percepatan program B30 tergantung banyak faktor. Dukungan produsen sawit terkait bahan baku biodiesel hanyalah salah satu faktor, ada faktor lain yang mendukung mulai dari

Topan Phanfone Hantam Filipina Pengendara mobil melaju melewati tiang listrik yang jatuh dihantam topan Phanfone di kota Balasan di provinsi Iloilo, Filipina, Kamis (26/12/2019).Topan Phanfone yang menerjang dengan kecepatan angin mencapai 195 kilometer per jam memporak porandakan atap rumah, tiang listrik, hingga pohon-pohon di jalan.Menyapu desa-desa terpencil dan daerah wisata populer di Filipina tengah pada hari Natal, Rabu (25/12) lalu dan menewaskan sedikitnya 16 orang.

Menurut studi Juli 2019 oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Develop- ment Bank/ADB) yang berbasis di Manila, badai yang sering menghan- tam menyebabkan output ekonomi Filipina turun satu persen. Sementara badai yang menerjang dengan lebih kuat dapat mengakibatkan output ekonominya berkurang hampir 3%. (afp)

berpatroli. Sekadar informasi, Filipina adalah daratan besar pertama yang berada di lajur topan Pasifik. Dengan demikian, kepulauan tersebut rata-rata dihantam oleh 20 badai dan topan setiap tahun, yang menewaskan banyak orang dan memusnahkan panen, rumah dan infrastruktur lainnya sekaligus mem- buat jutaan warga tetap miskin.

Rabu, sehinggamengacaukan rencana perayaan Natal. Selain itu, banyak orang lainnya yang tidak dapat bertemu keluarganya mengingat layanan kapal feri dan pe- sawat terbang masih ditangguhkan. Di antara korban yang meninggal adalah seorang petugas polisi. Petu- gas tersebut tersetrum aliran listrik dari pos yang roboh, saat tengah

dapat dari Thailand, yang memang gencar mendorong penjualan mobil berbahan bakar itu. Sebagai barter, Indonesia bisa memasok B30 ke Thai- land. Sebab, sama seperti Indonesia, Thailand juga memiliki programuntuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil. “Jadi, skenarionya bisa berupa kerja sama dengan sesama negara Asean. Saya kira ini diperlukan untuk mendi- versifikasi bahan bakar kendaraan,” ujar dia. Dia menambahkan, program biofuel juga perlu dibarengi dengan produksi massal mobil hybrid, yang konsumsi bahan bakarnya lebih hemat 50% dari mesin pembakaran internal ( internal combustion engine /ICE). Kombinasi ini akan menghasilkan efek yang dahsyat, berupa penurunan konsumsi BBM. Dalam pandangan dia, mobil hybrid tidak ribet, seperti mobil listrik. Sebab, teknologinya sudah massal, sehingga lebih efisien. Itu sebabnya, penera- pan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) berdasarkan emisi karbon perlu dikawal. Pemerintah telah resmi mener- bitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 tentang Pa- jak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Kendaraan Bermotor, pada 15 Oktober 2019, dan diundangkan pada 16 Oktober. Di beleid anyar ini, disebutkan tarif terendah PPnBM untuk mobil adalah 15% dan tertinggi 70% berdasar emisi gas buang yang dihasilkan. Dia juga mendesak pemerintah membuat peta jalan ( road map ) en- ergi dan industri otomotif secara bersamaan. Sebab, otomotif sangat erat kaitannya dengan energi, karena mengonsumsi 50% BBM di Indonesia. “Pada titik ini, Kementerian Perin- dustrian (Kemenperin) dan Kemen- terian ESDM perlu duduk bersama untuk menghasilkan road map baru. Ini tidak bisa dipisahkan,” kata dia. Road map itu, kata dia, akanmenjadi acuan para pemangku kepentingan, mulai dari penyedia bahan bakar hingga industri otomotif. Sebab, mereka membutuhkan kepastian dalam menyusun rencana bisnis. Dengan adanya roadmap , kebijakan pemerintah dipastikan konsisten, kendati rezim berubah. Sebelumnya, Ketua Umum Gabun- gan Industri Kendaraan Bermotor In- donesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, penggunaan kendaraan flexy fuel engine dalam jangka pendek menguntungkan. Apalagi, kendaraan ICE masih dipakai untuk berapa pu- luh tahun lagi. Mobil flexy engine bisa memakai bahan bakar nabati, seperti etanol hingga biodiesel. (ac/leo/hg)

dimulai PPKS sejak 2018, bahkan saat ini road test dengan mobil Toyota Inova 2018 sudah lebih dari 20 ribu kilometer (km) dengan rute Medan- Jakarta (2xpp). “Berbagai kegiatan riset PPKS sangat mendukung (B50), uji di dataran tinggi bersuhu dingin di Simalem, Sumatera Utara, juga sudah dilakukan. Kalaupun diterapkan pada semester II-2020 juga sudah bisa,” ungkap Hasril Hasan. Selain itu, kata Hasril, dari sisi industri hulu maupun hilir CPO juga sangat mendukung. Dengan produksi CPO pada kisaran 50-55 juta ton per tahun pada periode 2020-2025 maka akan sangat mudah untuk dapat memenuhi program B50 yang hanya membutuhkan 16-18 juta ton CPO setiap tahunnya. Industri Otomotif Siap Sementara itu, industri mobil siap mendukung penerapan program B30. Beberapa produk mobil rakitan lokal sudah menjalani tes menggunakan solar dengan campuran biodiesel 30%. “Innova sudah dites menggunakan B30 dan hasilnya cukup bagus. Yang terpenting, pemerintah harus menjaga kualitas solar B30, harus seragam di semua daerah,” ujar Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indone- sia (TMMIN) Bob Azam di Jakarta, Kamis (26/12). Dia juga menilai, program B10 yang berjalan tahun ini sudah baik. Namun, kualitas solar kadang baik, kadang tidak alias tidak stabil. Sebab, ini berkaitan dengan seberapa akurat campuran biodiesel di solar. Bob memastikan, pabrikan mobil tidak perlu mengucurkan investasi baru untuk menghasilkan kendaraan yang bisa memakai B30. Bagi kend- araan yang sudah beroperasi, yang perlu diperhatikan adalah saringan solar. Komponen ini perlu diganti un- tuk menyesuaikan bahan bakar yang digunakan. Bob menilai, program B30 perlu dibarengi dengan bioetanol, sehingga efeknya akan masif. Apalagi, pabrikan otomotif nasional sudahmemproduksi mesin berbahan bakar etanol. Salah satunya Toyota. Pasokan etanol, kata dia, bisa di-

impor minyak berkurangmaka neraca perdagangan Indonesia akan lebih stail dan perekonomian tumbuh pesat. “ProgramB50 bisa menghemat devisa negara, Gapki belumada hitungan soal berapa potensi penghematan devisa negara jika B50 diterapkan tetapi yang jelas akan lebih besar penghematan- nya karena impor minyak jauh lebih berkurang,” jelas Mukti. Sedangkan Sekjen Dewan Minyak Sawit (DMSI) Bambang Aria Wisena mengatakan, produsen sawit siap jika program B50 dipercepat pada 2021 karena produksi sawit mencukupi. Pada 2021, harga minyak dunia tetap baik sehingga program B50 bisa didukung. “Tahun 2021 adalah waktu yang tepat karena harga minyak dunia sedang bagus, sehingga produsen sawit bisa berkontribusi kepada negara dan juga tidak merugikan bisnisnya sendiri. Kami mendukung percepatan B50 dan tidak boleh di- tunda-tunda lagi karena akan semakin banyak tantangannya jika ditunda. Program B50 sangat bisa menghemat devisa negara dan berdampak positif bagi kestabilan ekonomi nasional,” jelas Bambang. Dukungan juga datang dari peneliti senior di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Hasril Hasan Siregar. Dia berpendapat, percepatan programB50 pada 2021 sangat jelas bisa dilakukan, bahkan program itu sebenarnya sudah bisa diterapkan pada semester II-2020. Sebab, hasil kajian dari program tersebut telah membuahkan hasil yang sangat positif. Kajian B50 sudah

cepat pada 2021, kami tidak terlalu mempermasalahkannya. Apapun pro- gram pemerintah, baik itu B30, B40, maupun B50, Gapki siap mendukung 100% karena berdampak positif pada perbaikan neraca perdagangan Indo- nesia,” ungkap Mukti. Mukti menjelaskan, apabila pemer- intah ingin mempercepat program B50 pada 2021, maka pasokan sawit cukup dan bisa mendukung program tersebut. Proyeksi serapan CPO untuk program B50 mencapai 9-10 juta ton. Khusus untuk insentif, tentu sangat dibutuhkan demi berjalannya program B50, namun pemberian insentif akan melihat kondisi yang terjadi nantinya. “Untuk soal insentif saya belum bisa bicara banyak karena akan lihat dulu perkembangan harga minyak ya ,” ujar dia. Pusat Penelitan Kelapa Sawit (PPKS) telah melaksanakan uji coba penggunaan B50 pada dua mobil bermesin diesel dari Kota Medan menuju Kota Jakarta. Selama tiga hari perjalanan, mobil berjalan lancar dan tidak ada masalah yang membukti- kan bahwa program B50 sudah siap dilaksanakan dan diimplementasikan. ProgramB50 juga sudah banyak diter- apkan di negara maju dan berhasil mengangkat daya saing negaranya. Keuntungan dari program B50 cukup positif yangmana pasokan sawit dalam negeri lebih banyak digunakan dan impor bisa berkurang. Ketergantun- gan impor Indonesia secara perlahan juga bisa dikurangi dengan program B50 dan APBN juga lebih sehat. Jika

Made with FlippingBook HTML5