ID160503

SELASA 3 MEI 2016

24

Investor Daily/DAVID

JAKARTA – Citibank Indonesia (Citi Indo- nesia) mencatat perolehan laba bersih pada kuartal I-2016 sebesar Rp 633 miliar, mening- kat 12% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 567 miliar. Chief Executive Of ficer Citi Indonesia Batara Sianturi menjelaskan, pertumbuhan laba Citi Indonesia didukung oleh pendapa- tan bunga bersih sebesar 10%. Peningkatan positif juga terlihat dari sisi jumlah aset yang meningkat 6% menjadi Rp 76,5 triliun pada periode kuartal I-2016. “Kualitas aset kami pada akhir kuartal I-2016 meningkat sehingga rasio kredit ber- masalah ( non performing loan /NPL) menjadi 1,15%. Beban cadangan kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga membaik 25% menjadi Rp 131 miliar, sampai akhir kuartal I-2016. Un- tuk mempertahankan kinerja ini, kami akan secara konsistemmenerapkan strategi untuk menjadi bank berskala global yang berkonsep simpler , smaller , safer , and stronger ,” tegas dia dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily , Senin (2/5). Kinerja positif ini juga dapat terlihat dari jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 51,2 triliun atau meningkat 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rasio dana murah (CASA) Citi Indonesia terhadap DPK pada kisaran 71%, sehingga diharapkan dapat terus mendukung pertum- buhan pendapatan bunga bersih. Dari sisi permodalan, Citi Indonesia memi- liki modal yang kuat dengan rasio kecukupan modal minimum (KPMM) 28,86% pada kuartal I-2016. Pencapaian rasio pemberian kredit/pembiayaan UMKM mencapai 9% terhadap total kredit per Maret 2016. Batara mengungkapkan, pihaknya terus mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia dengan mengimplementasikan penyaluran dana sesuai dengan program prioritas pemerintah Republik Indonesia, antara lain pada sektor infrastruktur, usaha produktif lainnya yang mendukung pening- katan ekspor serta peningkatan kredit yang diberikan ke sektor UMKM. Dalampelaksan- aannya, kami akan senantiasamengutamakan prinsip kehati-hatian dalampemberian kredit. Menilik kinerja tahun 2015 yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia, Citi Indonesia mencetak laba bersih senilai Rp 1,56 triliun dengan peningkatan aset sebesar 14.6% dibandingkan tahun sebelumnya. Di ranah digital, Citi Indonesia memperkuat inovasi dan pelayanannya dengan meluncur- kan empat smart branch yang berfokus pada solusi perbankan digital yang mumpuni. (gtr) JAKARTA – Risiko kredit masih menjadi perhatian sejumlah bank, terutama di tiga bank BUMN. Pada kuartal I-2016, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PTBank Rakyat Indo- nesia (Persero) Tbk (BRI), dan PT Bank Ne- gara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mener- apkan strategi defensif denganmemperbesar coverage ratio dan biaya pencadangan, untuk mengantisipasi risiko kredit bermasalah. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wir- joatmodjo menjelaskan, pada kuartal I-2016 masih terjadi peningkatan rasiokredit bermasa- lah ( non performing loan /NPL) di Bank Man- diri. Kendati NPL di bawah 3%, perseroan tetap berhati-hati dan meningkatkan pencadangan. Kartika yang akrab disapa Tiko men- gungkapkan, peningkatan NPL pada kuartal I-2016 terjadi oleh perlambatan ekonomi yang berdampak ke sektor usaha, terutama sektor menengah. “Pengusaha saat ini lebih konservatif. Di tengah kondisi perlambatan ekonomi, mereka cenderung menahan ekspansi sehingga permintaan kredit pun turun. Memang cuma satu segmen usaha, yakni tambang, namun karena penurunan pendapatan mereka jadi agak challenging un- tuk kami,” jelas dia di Jakarta, belum lama ini. Penurunan permintaan usaha ini, jelas dia, berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit pada kuartal I-2016. Tiko menyebutkan, pada periode tersebut pertumbuhan kredit Bank Mandiri berada di bawah 10% dengan perlambatan terjadi pada segmenmenengah. Sedangkan pada segmen korporasi dan kon- sumer tetap tumbuh baik. Peningkatan biaya pencadangan juga dilakukan oleh BRI. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan, pada kuartal I-2016, coverage ratio untuk kredit bermasalah perseroan mencapai 150% dari total kredit atau Rp 18,51 triliun. Sementara itu, pada kuartal I-2015, coverage ratio yang dialokasikan lebih rendah, yakni 140% atau senilai Rp 15,39 triliun. “Peningkatanbiayapencadangan terjadiNPL pada periodekuartal I-2016mencapai 2,2%, naik dibandingkan kuartal I-2015 yang mencapai 2,17%,” kata dia. Akibat tingginya biaya pen- cadangan, ungkap dia, laba bersih perseroan pada kuartal I-2016 tumbuh 0,6% menjadi Rp 6,14 triliun. Pada kuartal I-2015, laba perseroan sempat naik 3,3% menjadi Rp 6,1 triliun. Peningkatan coverage ratio juga dilakukan oleh BNI. Direktur Utama BNI Achmad Bai- qunimenjelaskan, pada kuartal I-2016, coverage ratio ditingkatkanmenjadi 142%dari 139%pada kuartal I-2015. Peningkatan coverage ratio terja- di karenaNPL perseroanmeningkat, dari 2,1% pada kuartal I-2015 dan 2,7% pada akhir 2015 menjadi 2,8% pada kuartal I-2016. (gtr)

Penghargaan Bank BRI Direktur Bank BRI Susi Liestiowaty bersama Pemimpin Wilayah Bank BRI Jakarta 3 Osbal Saragi R dan Inspektur Bank BRI Jakarta 3 Gatut Dwi Trihartoyo memberi- kan piagam kepada pegawai BRI Unit yang berprestasi di Serpong, Tangerang, Senin (2/5). Bank BRI menyerahkan Piagam Program Penghargaan Bri Unit (PPBU) kepada pegawai BRI Unit yang berprestasi.

Rencana OJK yang inginmenaik- kanmodal inti bank, menurut Tony, secara tidak langsung bisa mendor- ong bank untuk mencari partner . Apalagi, di sisi lain, perbankan dituntut untuk meningkatkan daya saing dengan cara memperkuat kapasitas permodalan. Ke depan, dia berharap, jumlah bank di Indonesia bisa berkurang sesuai Arsitektur Perbankan In- donesia (API). Menurut roadmap tersebut, jumlah bank di Indonesia idealnya sebanyak 50 bank. “Na- mun, dalam waktu dekat, jumlah bank tersebut tidak bisa langsung menjadi 50, bisa turun perlahan dari 119 bank menjadi 70 bank, baru setelah itu menjadi 50 bank,” jelas dia. Sedangkan pengamat ekonomi dari Indef Aviliani juga mengung- kapkan, bank-bank besar saat ini sudah meningkatkan kapasitas modal melalui Basel III, yaitu di kisaran 17-21%. Namun, hal terse- but berlaku untuk bank besar, sementara untuk bank kecil, perlu ada dorongan lain agar mau kon- solidasi. “Dorongan untuk merger, misalnya ada insentif pajak,” jelas dia. (gtr)

masuk dan bisa masuk ke per- modalan bank ini akan bagus. Kami siap membantu jika ada investor yang tertarik, tapi hanya memban- tu memberikan data, tapi selain itu kami tidak akan ikut terlibat karena itu urusan bisnis mereka,” jelas Nelson. Berdasarkan data Statistik Per- bankan Indonesia (SPI) OJK hing- ga Februari 2016, masih terdapat sebanyak 40 bank pada kelompok BUKU I, terdiri atas 36 bank umum dan empat bank umum syariah. Adapun total modal BUKU I hanya mencapai Rp 26,21 triliun dengan total modal inti Rp 24,22 triliun. Sebelumnya, ekonom dari Uni- versitas Gadjah Mada (UGM) Tony A Prasetiantonomenjelaskan, selama ini Bank Indonesia (BI) dan OJK sudah mendorong dengan mengeluarkan banyak kebijakan untuk mengurangi jumlah bank. Namun, hal tersebut belum efektif untukmendorong bankmelakukan merger dan akuisisi, sehingga jumlah bank masih berjumlah 119 bank. “Di Thailand saja jumlah banyak 30, Malaysia ada delapan, dan Singapura ada tiga. Jadi jum- lah bank harus dikurangi supaya efisien,” kata dia.

triliun atau bank umum kegiatan usaha (BUKU) I cukup banyak. Padahal, untuk dapat bersaing di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), perbankan membutuhkan kapasitas permodalan yang cukup kuat. “Karena itu kami ingin mendor- ong agar BUKU I ini meningkatkan permodalannya. Dengan demikian, dalam 2-3 tahun ke depan tidak ada lagi bank di BUKU I. Kalau sekaligus dapat terjadi konsolidasi perbankan, maka tentu semakin baik,” terang dia. Adapun untuk menambah kapa- sitas permodalan, bank-bank kecil tersebut dapat mencari strategic partner baru yang dapat memberi- kan dukungan tambahan permoda- lan. Pihaknya siap membantu calon investor yang berencana membeli bank kecil dan siap memperkuat permodalannya. Namun, menurut dia, bantuan tersebut akan terbatas pada data dan informasi terkait bank tersebut. Dia berharap dana hasil repatriasi yang diperkirakan mencapai Rp 560 triliun dari kebija- kan pengampunan pajak juga dapat masuk untukmendorong permoda- lan bank-bank kecil tersebut. “Kalau dana ini benar-benar

Oleh Agustiyanti

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji kemungkinan untuk menaikkan persyaratan minimal modal inti bank menjadi Rp 1 triliun. Dengan permodalan yang lebih kuat, bank diharapkan memiliki kemampuan dalam mengembangkan teknologi perbankan dan merekrut sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

belum dalam waktu dekat, masih perlu pendalaman,” ujar Nelson di Jakarta, Senin (2/5). Nelson menjelaskan, perubahan persyaratan minimal modal inti bank tidak dapat direalisasikan da- lamwaktu dekat karena membutu- hkan pendalaman terhadap aturan yang ada. Selain itu, OJK perlu mel- akukan asessment terkait dampak kebijakan tersebut terlebuh dahulu jika diimplementasikan. Saat ini, menurut Nelson, jumlah bank dengan modal inti di bawah Rp 1 penurunan bunga deposito. Sampai sekarang ini, penurunannya relatif lambat, masih di bawah 50 bps,” terang Halim. LPS sesuai jadwal akan kembali melakukan evaluasi terhadap suku bunga tingkat penjaminan pada akhir Mei ini. Pada akhir Maret lalu, LPS telah menurunkan suku bunga penjaminannya sebesar 25 bps. Di sisi lain, BI tahun ini sudah menurunkan suku bunga acuannya ( BI rate ) sebesar 75 bps. Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia, rata-rata bunga depoisito 1, 3, 6, dan 12 bulan pada Maret 2016 tercatat 7,06%, 7,75%, 8,31%, dan 8,19%, turun dari akhir tahun lalu yang masing-masing sebesar 7,6%, 7,99%, 8,5%, dan 8,44%. Sedangkan suku bunga kredit turun dari 12,83% pada akhir tahun lalumenjadi 12,7% padaMaret 2016. Seiring perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia dari BI rate yang selama ini menjadi acuan suku bunga tenor satu tahun menjadi BI 7-day reverse repo rate yang mer- upakan acuan suku bunga tenor tujuh hari, menurut dia, pihaknya juga akan melakukan penyesuaian pada rumus perhitungan yang di- gunakan dalam menentukan suku bunga penjaminan. “Perubahan acuan suku bunga nanti dampaknya ke perubahan suku bunga deposito akan berubah dan kemudian baru ke suku bunga penjaminan. Tapi memang akan

Kepala Eksekutif Bidang Pen- gawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon menuturkan, pihak- nya berharap seluruh bank Tanah Air ke depan akan memiliki per- modalan yang kuat dengan modal inti paling sedikit Rp 1 triliun. “Pemikiran awalnya memang kami berharap bank itu paling tidak memiliki modal inti Rp 1 triliun, sehingga punya kemampuan untuk mengembangkan TI (teknologi informasi) dan merekrut SDM sesuai tuntutan tugasnya. Tapi ini JAKARTA–Penurunan sukubun- ga deposito dan kredit bank dinilai belum secepat yang diperkirakan, kendati sejumlah kebijakan su- dah dilakukan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untukmendorong penurunan suku bunga. Hingga Maret 2016, rata-rata suku bunga deposito turun sekitar 23-54 basis poin (bps), sedangkan bunga kredit hanya turun 13 bps dibandingkan akhir tahun lalu. Ketua Dewan Komisioner Lem- baga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menuturkan, ra- ta-rata bunga deposito tercatat sudah menunjukkan penurunan. Namun, penurunan bunga deposito tersebut belum secepat yang diharapkan. “Bunga deposito sudahmulai turun, tapi belum secepat penurunan BI rate beberapawaktu lalu,” ujarHalim di Jakarta, Senin (2/5). Halim menuturkan, suku bunga deposito dipengaruhi oleh kemam- puan bank mengelola likuiditas. Di sisi lain, menurut dia, suku bunga deposito juga dipengaruhi oleh deposan yang menempatkan dana. Ketergantungan perbankan pada dana-dana dan deposan besar membuat deposan dapat meminta dan mencari suku bunga deposito yang tinggi, dan membuat bank bersaing memberikan suku bunga deposito. “Ruang penurunan suku bunga penjaminan LPS tentumasih ada, tapi tergantung berapa cepat

Investor Daily/ANTARA FOTO/HO/Wirawan/pd/16

Peluncuran FIFGroup Digital Form Dari kiri ke kanan, Direktur Operasional PT Federal International Finance (FIFGROUP) Rusdimin Adikarta, Dir IT, BD & Corp Plan FIFGROUP Indra Gunawan, Presiden & CEO FIFGROUP Suhartono, Preskom FIFGROUP Suparno Djasmin, Direktur HC & GS FIF GROUP Sutjahja Nugroho, dan Dir Marketing FIFGROUP Djap Tet Fa mencoba Ap- likasi FIFGROUP Digital Form pada peluncuran di Jakarta, Senin (2/5). FIFGROUP menjadi Multifinance pertama yg memiliki aplikasi digital form.

ke suku bunga dana mereka su- dah ada hitung-hitungannya, tapi bagaimana sampai ke nasabah yang taruh uangnya kok banyak belum berubah, berarti ada mekanisme di dalam transmisi di dalam bank itu yang belum cocok dan bank harus bisa menjelaskan ke masyarakat,” tambah dia. (nti)

1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Namun, menurut Halim, permasalahan utama sebenarnya adalah bagaimana bank men- transmisikan suku bunga tersebut kepada nasabah. “Rata-rata suku bunga yang ada di BI itu yang mereka pa- kai dan bagaimana pengar uh

ada perubahan juga di rumus yang kami gunakan, penggunaan BI rate kan masih sampai Agustus,” terang dia. Selama ini, menurut dia, treas- ury perbankan sebenarnya sudah menggunakan suku bunga yang diberikan BI pada perbankan, baik untuk tenor overnight , 1 minggu,

Made with FlippingBook HTML5