ID161018

SELASA 18 oktober 2016

24

Investor Daily/David Gita Roza

terkendali dalam penanganan praktik gratifikasi, sehingga keterbukaan dan akuntabilitas dalam kegiatan bisnis perusahaan dapat terimplementasi dengan baik,” terang Achmad Baiquni dalam siaran pers yang diterima In- vestor Daily , Senin (17/10). Pengendalian gratifikasi di BNI telah secara jelas dan tegas tertuang dalam Prinsip 46 sebagai tuntunan Perilaku Insan BNI dengan empat Nilai Budaya Kerja dan enam Perilaku Utama, yang salah satunya adalah Integritas. BNI telah menerapkan beberapa program untuk upaya pengendalian gratifikasi, seperti penandatanganan pakta integ- ritas oleh seluruh pegawai setiap awal tahun, serta penandatanganan pakta integritas dalam proses pengadaan yang ditandatangani oleh panitia pengadaan, vendor atau rekanan, dan pejabat pemutus. BNI juga memberikan imbauan kepada segenap pegawai terkait larangan gratifikasi menjelang hari raya keagamaan, menyusun SOP benturan kepentingan, pencantuman larangan gratifikasi di dalam surat keputusan kredit, serta tersedianya sarana pelaporan terkait dugaan pelanggaran gratifikasi melalui whis- tleblowing system. Selain itu, BNI men- gimplementasikan know your employee (KYE) di setiap lini manajemen serta penetapan sanksi yang tegas untuk pelanggaran gratifikasi. (th) untuk fokus pada capital market di Singapura. Di negara tersebut, Mandiri Sekuritas sudah mendapat izin untuk underwriting dan dis- tribusi obligasi maupun equity ,” papar Kartika. Be r b e d a d e ng a n Ma l a y s i a , Singapura, dan Filipina, perseroan justru menilai peluang bisnis di Thai- land cenderung sulit karena padat persaingan antarbank. Beberapa bank asing yang beroperasi di Thai- land antara lain, HSBC, The Bank of Tokyo Mitsubishi, Citibank, Standard Chartered Bank, United Overseas Bank, dan ICBC Bank. Sementara itu, berkaitan dengan Thailand, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui terus mengupayakan diskusi dengan bank sentral di sana. Harapan ke depan, OJK berkeinginan agar dapat membuka jalan bagi bank nasional Indonesia untuk ekspansi ke negeri tersebut. “Thailand itu dapat mereka (bank nasional) jadikan seba- gai pintumasuk ke Kamboja, Vietnam, dan Myanmar. Sebab perdagangan mereka dengan Thailand cukup be- sar,” jelas Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad. Namun, dia mengakui, untuk ekspansi ke Thailand bank perlu menyiapkan dana usaha sebesar Rp 7 triliun. “Menuju ABIF (Asean Banking Intergration Framework) pada 2020, kami tengah membuat kesepakatan bilateral dengan beberapa negara. Misalnya dengan Malaysia, bank kita jika ke sana bisa mencicil kebu- tuhan penempatan modal dan bebas membuka kantor cabang serta mem- buat ATM (anjungan tunai mandiri). Dengan demikian, OJK akanmencoba juga negosiasi dengan Thailand,” un- gkap dia. (dka)

JAKARTA – PT Bank Negara Indo- nesia (Persero) Tbk (BNI) menega- skan komitmen untuk menerapkan program pengendalian gratifikasi, da- lammendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di lingkungan BNI. Komitmen ini ditegaskanmelalui kerja sama BNI dengan Komisi Pem- berantasan Korupsi Republik Indone- sia (KPK). Kerja sama BNI dan KPK tersebut ditandai dengan penandatanganan Komitmen Pengendalian Gratifikasi oleh Direktur Utama BNI Achmad Baiquni di Jakarta, pada 17 Oktober 2016. Hadir menyaksikan acara terse- but Ketua KPKAgus Raharjo, Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono, dewan komisaris BNI, dan pengurus Serikat Pekerja BNI. Menurut Baiquni, penandatanganan komitmen tersebut merupakan mo- mentum yang sangat penting bagi manajemen BNI dan seluruh insan BNI. Sebab, penandatanganan ko- mitmen tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik ( good corporate governance ) dan kode etik ( code of conduct ) di BNI. Langkah ini akan memperkuat program-program pengendalian gratifikasi yang sudah dilakukan di BNI. “Penandatanganan komitmen terse- but akan mendorong BNI menjadi perusahaan yang lebih baik dan JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengincar bisnis ritel di Malaysia dan Filipina. Se- bagai langkah awal, mulai tahun depan perseroan siap beroperasi di Malaysia. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, dalam fase pertama ini perseroan tengah mengajukan permohonan kepada Bank NegaraMalaysia (BNM) untuk membuka 2-3 kantor cabang. Namun untuk lima tahun ke depan, Bank Mandiri menargetkan dapat memiliki 15-20 kantor cabang di Negeri Jiran untuk mendukung ek- spansi bisnis ritel. “Bank Mandiri sudah meraih kele- luasaan untuk menggarap ritel dan membuka full branch di Malaysia. Dengan demikian, begitu izin kantor cabang keluar, kami mulai (beroper- asi) tahun depan,” ujar dia di Jakarta, akhir pekan lalu. Di samping Malaysia, Kar tika mengungkapkan, negara anggota Asean lain yang memiliki cer uk pasar luas untuk bisnis ritel adalah Filipina. “Namun, kalau untuk Filipina kami masih baru tahap melihat-lihat, sehingga belum tahu kapan akan ekspansi ke sana,” jelas dia. Dalamhal ekspansi jaringan ke neg- ara lain, BankMandiri mengupayakan dapat meraih peluang yang signifikan. Oleh sebab itu, Bank Mandiri belum berencana menaikkan status offshore branch di Singapura, tapi justru men- gurus izin atas lisensi capital market untuk subsidiary atas PT Mandiri Sekuritas (Mansek) di negara itu. “Sebab banyak orang Indonesia yang mencari pembiayaan internas- ional atau issue paper di sana. Itulah yang membuat kami memutuskan

Komitmen Pengendalian Gratifikasi BNI Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kiri) bersama Ketua KPK Agus Raharjo (kanan), usai penandatanganan Komitmen Pengendalian Gratifikasi oleh di Jakarta, Senin (17/10). PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmennya untuk menerapkan program pengendalian gratifikasi guna mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di lingkungan BNI.

yang dioperasionalkan (ditempatkan) oleh perbankan untuk memperoleh pendapatan atau cost of loanable fund (CoLF) yang diperkirakan turun 5 bps menjadi 10,09%. Berdasarkan sur vei, penurunan terbesar diperkirakan terjadi pada rata- rata suku bunga kredit modal kerja sebesar 13 bps dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi 12,90%. Kemudian rata-rata suku bunga pada kredit konsumsi diperkirakan turun 10 bps menjadi 15,37%, sedangkan rata-rata suku bunga kredit investasi diproyeksi turun 5 bps menjadi 15,37% per tahun. Sementara itu, berdasarkan jenis kredit konsumsi, penurunan rata-rata suku bunga kredit pada triwulan keem- pat tahun ini diperkirakan terjadi pada kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA), kredit kendaraan bermo- tor (KKB), dan kredit multiguna mas- ing-masing sebesar 5 bps, 5 bps, dan 9 bps dibanding triwulan sebelumnya menjadi 12,1%, 13,45%, dan 14,4%. Rata-rata bunga kar tu kredit diperkirakan naik 1 bps menjadi 30,52%, sedangkan rata-rata suku bunga kredit tanpa agunan (KTA) diperkirakan naik 75 bps menjadi 19,76%. Sepanjang tahun ini, rata-rata bunga kredit rupiah diperkirakan masih di atas harapan pemerintah untuk mencapai kredit di level satu digit. Rata-rata bunga kredit modal kerja misalnya diperkirakan di kisaran 12,89%, rata-rata kredit investasi 12,72%, dan rata-rata kredit konsumsi 15,37%. Sementara itu, rata-rata bunga kredit sepanjang tahun ini untuk kredit konsumsi yakni KPR/KPA diperkirakan pada kisaran 12,06%, KKB sebesar 13,46%, kartu kredit se- besar 30,52%, kredit multiguna 14,4%, dan KTA 19,73%. keadaan ekonomi global menurun, Bank Jatim pada kuartal III-2016 mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar Rp 29,62 triliun atau naik 1,33% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sektor UMKK masih menguasai penyerapan kredit Bank Jatim hingga 60% yang umumnya bergerak di sektor usaha produktif dan jasa kontruksi. Sisanya sebesar 40% terserap untuk kebu- tuhan konsumtif. “Capaian pada kuartal III ini membuat kami optimistis dengan target penyaluran kredit sebesar Rp 31 triliun hingga akhir tahun ini,” kata Soeroso. Secara umum, menurut Soeroso, kinerja keuangan Bank Jatim pada kuartal III-2016 menunjukkan performa dan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan periode sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih men- capai sebesar Rp 2,54 trliun atau naik 1,33%. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang masih didominasi dana murah, yakni tabungan mencapai Rp 12,24 trliun atau tumbuh 19,56%. Kenaikan dana murah terse- but membuat CASA rasio Bank Jatim tetap terjaga di pososi 70,36% selama lebih dari 13 tahun. “Ini membuktikan efektivitas Bank Jatimdalammengelola dana murahnya,” kata Soeroso. (ros)

Meski demikian, kata dia, ruang penurunan suku bunga kredit sangat bergantung pada kondisi likuiditas perbankan. Di sisi lain, biaya kredit saat ini mulai mengalami tren pen- urunan seiring dengan berhasilnya sejumlah restrukturisasi yang dilak- ukan perseroan. “Biaya kredit ini berpengaruh pada penurunan premi risiko, tapi bukan satu-satunya kom- ponen untuk menurunkan bunga karena kami juga harus melihat biaya dana,” kata dia. Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Treasury Bank Mandiri Pahala Mansur y juga mengatakan masih melihat adanya ruang penurunan pada suku bunga kredit. Menurut dia, penurunan suku bunga kredit pada kuartal keempat kemungkinan dilak- ukan pada sektor konsumsi dan kor- porasi. Adapun pada September 2016, BankMandiri telah melakukan penye- suaian pada segmen kredit mikro dan konsumsi non-KPR masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Sementara itu, Direktur Keuan- gan dan Treasury BTN Iman Soeko Nugroho menjelaskan, per akhir Oktober kredit realisasi baru untuk semua produk utama BTN yaitu KPR (yang proporsinya sekitar 70% porto- folio kredit BTN) akan berada di level single digit . Survei Perbankan Sementara itu, Hasil survei perb- ankan Bank Indonesia (BI) triwulan III-2016 memperkirakan suku bunga kredit pada triwulan empat tahun ini masih akan melanjutkan tren penur- unan. Penurunan suku bunga kredit terse- but seiring dengan rata-rata biaya dana ( cost of fund ) yang turun 10 bps diband- ingkan triwulan sebelumnya menjadi 6,45%, ser ta rata-rata biaya dana

Oleh Agustiyanti

JAKARTA – Bank-bank BUMN kembali membuka peluang menurunkan suku bunga kredit ritel. Saat ini, suku bunga kredit ritel mayoritas bank BUMN su- dah menyentuh level single digit atau di bawah 10%.

oleh penurunan suku bunga acuan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas perbankan. “Kami lihat kalau ada ruang untuk penurunan lebih lan- jut, kami akan kembali sesuaikan suku bunga di segmen ritel,” kata Haru di Jakarta, Senin (17/10). Menurut Haru, segmen ritel saat ini membutuhkan dukungan pendanaan yang lebihmurah. Sementara itu, suku bunga pada segmen korporasi sendiri sebenarnya dapat diturunkan sesuai dengan kondisi risiko nasabah. Meski suku bunga korporasi perseroan masih dipatok di atas 10%, beberapa nasabah yang memiliki risiko rendah sudah mendapatkan kredit dengan bunga di bawah 10%. “Untuk mikro sudah ada program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga single digit ,” ujar dia. Hal senada juga diungkapkan Direk- tur Keuangan BNI Rico Rizal Budi- darmo. Menurut dia, segmen kredit ritel memang berpeluang disesuaikan jika terjadi penurunan pada biaya dana. Namun, pihaknya masih perlu memantau pergerakan suku bunga dana guna menyesuaikan suku bunga kredit. “Kalau ruangnya memungkinkan, yang akan kami sesuaikan adalah kredit di segmen usaha kecil, kalau korporasi lebih pada supply and de- mand serta kedekatan dan pelayanan,” ungkap Rico.

Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan yang dihimpun Investor Daily , per akhir September 2016, tiga bank BUMN te- lah memasang bunga kredit di bawah 10% pada segmen kredit ritel. Ketiga bank BUMN tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebesar 9,75%, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mas- ing sebesar 9,95%. Sementara itu, PT Bank TabunganNegara (Persero) Tbk (BTN) masih mematok bunga 12% untuk segmen tersebut. Pada segmen kredit lainnya dalam data SBDK, bank-bank BUMN masih mematok bunga di atas 10%. sebagai contoh pada kredit korporasi, BRI mematok bunga 10,5%, Bank Mandiri dan BNI masing-masing sebesar 10,25%, dan BTN sebesar 11%. Pada segmen mikro, BRI mema- tok bunga sebesar 17,5% dan Bank Mandiri 19%. Pada segmen konsumsi pada KPR dan non-KPR, BRI mematok bunga 10,25% dan 12,5%, BankMandiri 10,25% dan 12,25%, BNI sebesar 10,5% dan 12,5%, serta BTN sebesar 10,5% dan 11,5%. Direktur Keuangan BRI Har u Koesmahargyomengatakan, pihaknya melihat ruang untuk menurunkan suku bunga kredit lebih lanjut. Saat ini, BRI memantau pergerakan suku bunga dana yang selain dipengaruhi

Investor Daily/ist

dulu,” ujar dia. Selain membentuk AMU, untuk mengur- angi potensi kredit macet Bank Jatim akan membentuk credit support di setiap cabang yang khusus terhadap debitor yang kreditnya berpotensi macet. “ Credit support ini bertu- gas melakukan penagihan,” terang Soeroso. Meskipun terkesan ada upaya penguatan yang berlebih terhadap penanganan debitor nakal, Soeroso menjamin hal itu tidak akan mempengaruhi target penyaluran kredit. Sebab, sejalan dengan pembentukan AMU dan credit support di setiap cabang, Bank Jatim juga akan menyiapkan one guest untuk internal auditor di setiap cabang. “Kami ingin menertibkan adminstrasi, kami ingin menertibkan penagihan dan sekaligus men- ingkatkan penyaluran kredit baik kredit un- tuk UMKM maupun korporasi,” tandas dia. Upaya Bank Jatim menekan angka kredit macet selama ini telah membuahkan hasil. Pada kuartal III-2016 non performing loan (NPL) Bank Jatim mencapai 4,2%. Angka itu turun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 4,9%. Sementara itu, pada kuartal III- 2016, loan to deposit rati (LDR) Bank Jatim mencapai 71,97%. Soeroso mengungkapkan, meskipun

SURABAYA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) segera membentuk asset management unit (AMU) yang khusus mengelola aset debitor nakal, untuk menekan kredit macet. Direktur Utama Bank Jatim R Soeroso mengatakan, jumlah debitor nakal memang tidak terlalu banyak sekitar 7% dari total nasa- bah Bank Jatim. Namun, keberadaan debitor nakal jelas sangat mengganggu kepercayaan masyarakat yang telah mempercayakan penempatan dananya di Bank Jatim. Hal tersebut juga sejalan dengan upaya Bank Jatim untuk menekan angka kredit macet. “Kami tak ingin menodai kepercayaan masyarakat dengan ulah debitor nakal itu. Oleh sebab itu, kami akan membentuk asset management unit untuk mengelola aset debitor nakal yang kreditnyamacet,” kata Soeroso dalampaparan publik di Surabaya, Sabtu (15/10). Dalam penyelesaian aset debitor nakal, lanjut dia, Bank Jatim akan mengutamakan pendekatan secara kekeluargaan, yakni memfasilitas debitor untuk menjual sendiri asetnya dibawah tangan. “Bila pendekatan kekeluargaan ini tak juga berhasil, kami baru menyerahkan ke badan lelang. Tapi, kami prioritaskan untuk dijual di bawah tangan

Penghargaan BTN Direktur Utama Bank BTN Maryono menerima trofi penghargaan saat acara penghargaan perbankan Indonesia 2016 di Jakarta, baru-baru ini. Bank BTN ditetapkan sebagai bank dengan peringkat pertama untuk kelompok buku III aset dia tas Rp 100 triliun.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online