ID161102

RABU 2 NOVEMber 2016

23 AGRIBUSINESS

Investor Daily/ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama/16.

nelitian. "Kami akan mendongkrak PNBP tahun depan menjadi Rp 150 miliar. Itu dihasilkan dari pemanfaatan aset melalui kerja sama operasional yang selama ini hanya disewakan sehingga hasilnya kecil," kata Slamet. Lebih jauh Slamet mengatakan, program prioritas Ditjen Perikanan Budidaya KKP untuk 2017, di anta- ranya pembangunan pabrik pakan berkapasitas 3 ton per jam yang me- nelan biaya Rp 27 miliar di Belawan. “Belawan dipilih karena merupakan sumber tepung ikan dan limbah kelapa sawit, juga bahan baku lokal lainnya. Pabrik itu akan memasok ke 3 unit KJA offshore yang akan kami bangun," kata Slamet. Selain itu, lanjut dia, juga akan disalurkan asuransi bagi sekitar 1.000 unit usaha budidaya perikanan. Premi asuransi sekitar Rp 1,5 juta dan besaran tanggungan yang diperoleh pengusaha budidaya Rp 37 juta. Dalam hitungan KKP, angka itu setara dengan biaya produksi per hektare (ha). “Tar- get kami, program ini bisa terlaksana mulai Februari 2017. Sejak dua bulan ini, kami sudahmelakukan identifikasi calon penerima asuransi. Sasarannya adalah pembudidaya dengan luasan sampai 1 ha. Lelang operator pelak- sana asuransi kami jadwalkan ram- pung pada Januari 2017," kata Slamet. Selain itu, KKP menargetkan produksi benih ikan 100 juta pada 2017. Tahun ini, produksi benih men- capai 153,68 juta atau melampaui tar- get awal 100 juta benih. Sejalan dengan itu, Ditjen Perikanan Budidaya KKP akan merevitalisasi tujuh unit Balai Benih Ikan di sentra-sentra kelautan perikanan terpadu (SKPT). Yakni, di Simeuleu, Mentawai, Natuna, Talaud, Rote Ndao, dan Sumba Timur. “Upaya itu untuk mendukung pembangunan SKPT di pulau-pulau terluar strategis Indonesia. "Pada 2017, kami juga akan meningkatkan produksi ikan lokal seperti gabus, jelawat, dan belida. Kami sudah mulai restocking karena ikan-ikan lokal itu lebih bandel di se­ gala kondisi cuaca," kata dia. (eme) Seperti dilansir Antara, harga cabai merah keriting di Pekanbaru tembus Rp 90 ribu per kg pada Selasa (1/11) dari pekan sebelumnya Rp 60 ribu per kg. Dinas PertaniandanPeternakan KotaPekanbaru, Riau,mencatat 80%kebutuhan cabai setempat dipasok dari provinsi tetangga, seperti Sumatera Barat, Jawa danMedan. "Kita belum mampu memenuhi permintaan cabai merah lokal 100%," kataKepalaDinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru El Syabrina. Menurut El akibat ketergantungan pasokan dari luar provinsi ini, maka masalah kenaikan harga dan kekurangan pasongan sangat mempengaruhi pasar tradisional setempat. Produksi cabai merah dari pertanian Pekan- baru hanya mampu memenuhi permintaan pasar 20-25%. Harga cabai rawit di Pekanbaru juga naik dari Rp 25 ribu per kg menjadi Rp 45-50 ribu per kg. (tl) Hal itu disampaikan Slamet di sela forum in- ternasional tahunan bagi masyarakat akuakul- tur, yakni akademisi, peneliti, pemerintah, dan perwakilan industri, Jumat (28/10), yang diselenggarakanMasyarakat Akuakultur Indo- nesia (MAI) bersama KKP. Industri perikanan budidaya menjadi salah satu sektor industri penting, karena ke depan ikan akan terusmen- jadi salah satu komoditas pangan yang paling diperdagangkan di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang. Sektor ini juga menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kata Slamet, adalah hal yang wajar apabila pemerintah dan pengusaha memberikan perhatian lebih pada pengem- bangan perikanan budidaya. Apalagi, populasi penduduk global diperkirakan mencapai 9 miliar hingga 2050 yang merupakan tantan- gan besar dalam pemenuhan sumber pangan dunia. Selain itu, tantangan pembangunan lainnya adalah saat ini terdapat lebih dari 800 juta orang mengalami gizi buruk (malnu- trisi) yang memerlukan sumber protein yang murah namun bergizi tinggi dan hal ini bisa ditemukan pada ikan. (tl) tetap berkoordinasi dengan Dinas Perdagan- gan dan Dinas Pertanian,” katanya.

PADANG – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) kantor perwakilan daerah Medan mengawasi kemungkinan terjadinya kartel harga cabai di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), yang dalam sepekan terakhir mel- onjak menjadi Rp 64 ribu per kilogram (kg) dari Rp 48 ribu per kg. "Kenaikan harga cabai di Padang cukup pelik, kami terus melakukan pengawasan terkait adanya kemungkinan spekulasi dan kartel," kata Kepala Kantor KPPU perwakilan daerah Medan Abdul Hakim Pasaribu di Padang, kemarin. Menurut dia pihaknya menemukan indikasi pengusaha cabai setempat menjual cabai lokal ke luar daerah sebaliknya cabai dari luar yang didatangkan ke Padang. Harga komoditas cabai merah di Pasar Raya Padang sepekan terakhir masih bertahan di kisaran Rp 64 ribu per kg dari sebelumnya Rp 60 ribu per kg. “Memang salah satu faktor penyebab ke- naikan harga adalah kondisi cuaca, tapi kami Data FAO itu juga menyebutkan bahwa jumlah pembudidaya ikan di Indonesia juga meningkat dari 2,50 juta orang pada 2005 hingga 3,34 juta orang pada 2014. Budidaya rumput laut di Indonesia juga merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan produksi rumput laut di dunia dengan produksi menin- gkat lebih dari 10 kali pada 2014 dibandingkan 2005. “Berdasarkan hal tersebut, kami yakin Indonesia akanmenjadi salah satu pusat bisnis perikanan budidaya di dunia,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam rilisnya dari Kuta, Bali, baru-baru ini. JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meyakini Indonesia akan menjadi pusat bisnis perikanan budidaya di dunia. Hal itu salah satu didasarkan pada data Organisasi Pangan Dunia (FAO) 2016 yang menyatakan bahwa Indonesia mampu men- jadi negara kedua terbesar untuk produksi perikanan dunia setelah Tiongkok, pada 2014 dengan produksi perikanan budidaya Tiong- kok 58,8 juta dan Indonesia mencapai 14,3 juta dengan total senilai US$ 10,50 miliar dan diikuti oleh India yang produksinya mencapai 4,9 juta (termasuk rumput laut).

Peluang Bisnis Ikan Tuna Pekerja membongkar muat dan membersihkan ikan tuna sirip kuning hasil tangkapan nelayan di Banda Aceh, Aceh, Selasa (1/11). Bisnis komoditi perikanan tuna masih sangat menjanjikan bahkan menjadi primadona produk perikanan dunia, sementara Indonesia mampu mengekspor 200 ribu ton lebih atau me- masok lebih dari 16% total produksi dunia per tahunnya.

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi perikanan budidaya pada 2017 mencapai 22,46 juta ton dengan 12 juta ton di antaranya merupakan rumput laut. Produksi sebanyak itu naik signifikan dibandingkan target tahun ini yang sebesar 16 juta ton. Se- mentara dari sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), subsektor peri- kanan budidaya ditargetkan mampu mengumpulkan PNBP sebesar Rp 150 miliar pada 2017 dari target tahun ini Rp 13,40 miliar. Pada 2016, produksi perikanan bu- didaya ditargetkan mencapai 16 juta ton dengan 11,10 juta ton di antaranya berupa rumput laut. Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto opti- mistis target produksi tahun ini akan melebihi pencapaian 2015. Pada 2015, produksi perikanan budidaya tercatat mencapai 15,70 juta ton. “Kami akan memfokuskan kegiatan tahun depan pada upaya mendongkrak produksi," kata Slamet saat jumpa pers Program Prioritas Ditjen Perikanan Budidaya KKP di Jakarta, Selasa (1/11). Menurut dia, udang, nila, dan kakap masih menjadi komoditas andalan 2017. Begitu juga dengan kerapu, pada 2017 akan kembali meningkat sejak diaktifkannya kapal angkut ikan hidup. “Jumlah kapal dan frekuensi angkutnya juga bertambah. Selain itu, kami akan membangun tiga unit karamba jaring apung (KJA) offshore di Sabang, Karimun Jawa, dan di teluk antara Cilacap atau Pangandaran,” ujar dia. Dari sisi PNBP, Ditjen Perikanan Budidaya KKP menetapkan target Rp 13,40 miliar pada tahun ini dan hingga September 2016 sudah mencapai Rp 12,40 miliar. Target tahun ini bisa tercapai karena masih ada potensi pen- erimaan dari beberapa sumber, seperti perizinan dan bibit-bibit ikan yang be- lum terjual. Pada 2015, realisasi PNBP Ditjen Perikanan Budidaya mencapai Rp 18,90 miliar yang bersumber dari produksi benih dan kegiatan hasil sampingan perekayasaan di balai pe-

Produksi Kedelai Di sisi lain, Hasil menuturkan, produksi kedelai nasional hingga akhir tahun ini diproyeksikan men- capai 885.575 ton biji kering. Angka itu terpangkas 8,06% atau 77.608 ton biji kering dibandingkan 2015 yang tercatat sebesar 963.193 ton biji ker- ing (atap BPS). "Penurunan dipicu semakin berkurangnya luas panen hingga 4,25% atau 26.117 ha, yakni dari 614.095 ha pada 2015 menjadi 587.978 ha proyeksi tahun ini. Produk- tivitasnya juga semakin turun hingga 3,97% atau sekitar 1 kuintal per ha dari 2015," kata Hasil. Hasil menambahkan, sejak 2011, luas kedelai nasional terus mengalami penurunan rata-rata 0,89%, yakni dari 622.254 ha pada 2011 menjadi 587.978 ha pada tahun ini. Kedelai memang merupakan komoditas yang mem- prihatinkan. “Memang kondisinya sep- erti itu, bukan berarti kami menyerah, buktinya dari segi anggaranmasih ada tapi bertani ini kan bukan hobi tapi bertani untuk mendatangkan uang. Menurut saya, harga menjadi faktor utama penyebab semakin turunnya produksi kedelai Indonesia. Harga kedelai impor lebih murah dibanding- kan kedelai lokal. Itulah yang memicu luas panen kedelai konsisten turun," kata Hasil. Belum lagi, lanjut dia, kondisi cuaca 2016 yang tidak mendukung bagi pertanaman kedelai. "Kalau kedelai terlalu terendam, akan merusak tana- man. Makanya, kondisi cuaca tahun ini lebih menguntungkan padi dan jagung. Karena itu, lahan-lahan kedelai banyak yang beralih ke jagung," kata Hasil.

tas diprediksi menurun hingga 1,45% atau 0,08 ton per ha. Produktivitas nasional 2015 tercatat 5,34 ton per ha menjadi 5,26 ton per ha pada tahun ini. “Menurunnya produktivitas tersebut salah satunya disebabkan oleh real- isasi penyebaran pupuk hingga tingkat petani,” jelas Hasil. Selama subround I-2016, luas panen padi nasional turun 2,85% atau 175.726 ha dibandingkan atap BPS 2015 pada periode sama menjadi 5,98 juta ha. Namun, pada subround II-2016, luas panen bertambah 7,77% atau 384.282 ha dibandingkan atap BPS 2015 pada periode sama menjadi 5,32 juta ha. Hasil mengungkapkan, saat ini adalah waktunya bagi Indonesia untuk memanen apa yang sudah dilakukan sejak tahun lalu. Sejak 2015, Kemen- tan melakukan penyaluran alat mesin pertanian (alsintan) sebanyak 180 ribu unit, pembuatan 1.235 unit embung, rehabilitasi jaringan irigasi 3,05 juta ha, optimasi lahan 1,03 juta ha, dan merevisi Perpres 172 Tahun 2014 yang mengubah sistem pengadaan men- jadi penunjukkan langsung sehingga proses di lapangan lancar. “Kita petik hasilnya sekarang sehingga produksi padi tahun ini tinggi, terutama dengan berbagai pendampingan dan penyulu- han petani yang kita lakukan," kata Hasil. Apalagi, lanjut dia, kondisi cuaca 2016 mendukung pertanaman padi di Tanah Air. "Kondisi iklim yang bersa- habat mendukung penambahan luas tanam, setidaknya dibandingkan 2015 yang kondisi cuacanya terpengaruh El Nino. Pada 2017, kondisi cuaca juga diperkirakan normal," kata Hasil.

Oleh Damiana Simanjuntak

JAKARTA – Produksi padi nasional sepanjang Januari-Agustus 2016 mencapai 59,01 juta ton gabah kering giling (GKG). Realisasi produksi sebesar itu setara dengan 75% dari target sepanjang tahun ini yang ditetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 79,14 juta ton GKG. Kenaikan produksi padi tahun ini ditopang oleh peningkatan luas panen hingga 6,51% atau sekitar 919.098 hektare (ha), yakni dari 14,11 juta ha pada 2015 menjadi 15,03 juta ha pada 2016.

sudah aman karena sudah panen dan masih ada sekitar 20,12 juta ton GKG produksi subround III (September- Desember) 2016 dari sekitar 3,72 juta ha luas panen. “Kalau mengacu informasi BMKG, cuaca akan mulai normal. Meskipun ada La Nina, tapi sudah mulai cenderung normal. Jadi, tidak ada skenario buruk atas target (padi) kita tahun ini," kata dia di Ja- karta, Selasa (1/11). Kenaikan produksi padi tahun ini ditopang oleh peningkatan luas panen hingga 6,51% atau setara 919.098 ha. Selain itu, Pulau Jawa diperkirakan menyumbang kenaikan produksi seki- tar 1,22 juta ton GKG. Sedangkan luar Pulau Jawa berkontribusi hingga 2,52 juta ton GKG. Hanya saja, produktivi-

Dalam catatan Kementerian Perta- nian (Kementan), dari produksi 59,01 juta ton GKG, sebanyak 31,42 juta ton GKG di antaranya adalah hasil subround I (Januari-April) 2016 dan 27,59 juta ton GKG pada subround II (Mei-Agustus) 2016. Hingga akhir 2016, Kementan memproyeksikan produksi padi mencapai 79,14 juta ton GKG. Angka itu naik 4,97% atau setara 3,74 juta ton GKG apabila dibandingkan dengan realisasi 2015 yang tercatat sebesar 75,39 juta ton GKG (angka tetap/atap Badan Pusat Statistik). Dirjen Tanaman Pangan Kemen- tan Hasil Sembiring mengatakan, dengan realisasi produksi Januari- Agustus tersebut maka 59,01 juta ha JAKARTA – Rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani selama Oktober 2016 mencapai Rp 4.555 per kilogram (kg) atau naik 0,40% dan di tingkat penggilingan Rp 4.643 per kg atau naik 0,47% dari harga gabah kualitas yang sama pada September 2016. Sedangkan rata-rata harga gabah ker- ing giling (GKG) selama Oktober 2016 di tingkat petani mencapai Rp 5.312 per kg atau naik 0,51% dan di tingkat peng- gilingan Rp 5.413 per kg atau naik 0,31%. Bahkan, gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp 4.111 per kg atau naik 0,85% dan di penggilingan Rp 4.211 per kg atau naik 0,65%. Dalam siaran pers Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (1/11), apabila dibanding- kan Oktober 2015, rata-rata harga pada Oktober 2016 di tingkat petani, untuk GKP, GKG, dan gabah kualitas rendah turun masing-masing 7,14%, 0,82%, dan 7,16%. Di tingkat penggilingan juga terjadi penurunan pada GKP, GKG, dan gabah kualitas rendah masing-masing 6,84%, 0,81%, dan 6,80%.

Investor Daily/ ANTARA FOTO/Aji Styawan/tom/foc/16.

0,22% sedangkan indeks harga yang diba- yar petani (Ib) naik sebesar 0,07%. Pada Oktober 2016, NTP Provinsi Sulawesi Utara mengalami penurunan terbesar 1,34% dibandingkan penurunan NTP di provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan tertinggi 1,09% dari kenaikan NTP provinsi lainnya. Pada Oktober 2016 terjadi inflasi perd- esaan di Indonesia sebesar 0,04% disebab- kan oleh naiknya enam dari tujuh indeks kelompok konsumsi rumah tangga. Nilai tukar usaha rumah tangga per tanian (NTUP) nasional pada Oktober 2016 sebe- sar 110,26 atau turun 0,40% dibandingkan NTUP bulan sebelumnya. Penurunan NTP Oktober 2016 dipen- garuhi oleh turunnya NTP pada subsek- tor hortikultura sebesar 0,52%, subsektor peternakan sebesar 1,30%, dan subsektor perikanan sebesar 0,21%. Subsektor yang mengalami kenaikan NTP adalah subsek- tor tanaman pangan sebesar 0,03% dan subsektor perkebunan rakyat sebesar 0,50%. (tl)

Pada Oktober 2016, rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan sebesar Rp 9.133 per kg atau naik 0,24% dari bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 8.981 per kg atau naik 0,17%. Sedangkan rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 8.597 per kg atau naik 0,23%. Dibandingkan Oktober 2015, rata-rata harga beras di penggilingan pada Oktober 2016 untuk kualitas premium turun 3,41%, kualitas medium naik 0,22%, dan kualitas rendah turun 3,59%. Catatan BPS itu didasarkan pada 1.502 transaksi penjualan gabah di 23 provinsi selama Oktober 2016. Transaksi itu did- ominasi oleh GKP 74,57%, gabah kualitas rendah 17,31%, dan GKG 8,12%. Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani pada Oktober 2016 justrumenurun. Nilai tukar petani (NTP) nasional Oktober 2016 sebesar 101,71 atau turun 0,30% dibandingkan NTP bulan sebelumnya. PenurunanNTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar

Penenggelaman Sarang Ikan Buatan Seorang pekerja melakukan penenggelaman sarang ikan buatan atau rumpon di perairan Mangkang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/11). Penenggelaman sarang ikan buatan pada jarak sekitar 11 Km dari daratan dengan kedalaman 20 Meter tersebut untuk menarik ikan- ikan berkumpul di sekitar rumpon agar mudah ditangkap oleh nelayan.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online