SP171027

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 27 Oktober 2017

Berebut Jabatan Sekjen DPR

A nggaran penataan dan pembangunan gedung baru DPR sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Jumlah anggaran tahap awal pembangunan gedung baru dialokasikan sebesar Rp 601 miliar. Pembangunan dan penataan gedung baru parlemen pun menjadi bancakan oleh pejabat di Sekretariat Jenderal (Set­ jen) DPR. Apalagi, saat ini DPR hanya memiliki pe­ laksana tugas (plt) Sekjen.

Sumber SP di Jakarta Jumat (27/10) mengun­ gkapkan, semakin men­ ingkatnya anggaran yang dikelola Kesekjenan DPR membuat jabatan Sekjen menjadi incaran banyak pi­ hak. Sehingga, berbagai macam cara dilakukan sejumlah rekanan binaan untuk menjadikan jagoan­ nya menduduki jabatan itu. “Anggaran besar di Kesekjenan itu membuat pertarungan (menjadi

calon Sekjen) terus mem­ anas. Uangnya banyak, se­ hingga banyak yang saling sikut,” ungkap sumber itu. Dikatakan, praktik jual- beli jabatan di Kes­ ekjenan DPR sudah menjadi “tradisi”, karena anggaran yang cukup fantastis dan setiap tahun naik. Bahkan, tambah dia, dana yang dikumpulkan untuk calon Sekjen yang baru nanti juga didapatkan dari urunan para calon pejabat setingkat direktur dan dan kepala bagian.

Dana itu disinyalir telah diberikan kepada oknum pimpinan DPR. “Panitia seleksi (pan­ sel) calon Sekjen yang dibentuk itu hanya formal­ itas. Ujung-ujungnya uang siapa paling banyak, itu yang menjadi Sekjen. Ma­ kanya, tak heran mantan Sekjen dipaksakan masuk Pansel agar orangnya yang menang. Ini juga untuk mengamankan kasus-kasus

dugaan korupsi besar di Kesekjenan yang selama ini tidak terungkap,” ucapnya. [H-14] Mengembalikan Kecintaan pada Bahasa Indonesia

[JAKARTA] Bahasa Indo­ nesia sebagai bahasa resmi negara merupakan jati diri bangsa, dan seharusnya menjadi kebanggaan nasional dan sebagai sarana pemersatu seperti yang tertuang dalam Sumpah Pemuda. Namun pada kenyataannya, bahasa Indonesia diremehkan. Siswa di sekolah tingkat menengah dan atas tidak berminat mem­ pelajarinya secara mendalam. Kemampuan guru j uga minim dalam berbahasa serta membuat mata pelajaran ini menarik minat. Para pejabat pun tidakmemberikan contoh berbahasa Indonesia sesuai kaidah. Di ruang publik, penggunaan bahasa Indonesia amburadul. Menjadikan bahasa In­ donesia agar diminati gene­ rasi muda dan benar-benar dimengerti sebagai roh pe­ mersatu bangsa, butuh kerja keras. Proses belajar mengajar bahasa harus lebih menarik. Penanaman mata pelajaran bukan hanya mengenai lin­ guistik melainkan jiwa dan roh bahasa dalam kehidupan berbangsa. Demikian benang merah wawancara SP dengan buda­ yawan I Gusti Ngurah Putu Wijaya, Slamet Rahardjo Djarot, kritikus sastra AS Laksana, guru besar linguistik UniversitasMataram,Mahsun, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Awaluddin Tjalla, dan pengajar bahasa dan komunikasi di Universitas Indonesia dan Lembaga Pers Dr SoetomoMasmimarMan­ giang, secara terpisah, Kamis (26/10) dan Jumat (27/10) Menurut Plt Kepala Pusat Penelitian dan Pendidikan (Kapuspendik) Kemdikbud yang juga Kepala Badan Bahasa Dadang Sunendar, Indonesia kehilangan jati diri bangsa ketika semua ruang publik menggunakan bahasa asing. “Begitu tiba di bandara ada tulisan welcome . Kesimpulan pendatang, orang

Indonesia berbahasa Inggris dan lebih jauhnya ternyata orang Indonesia tidak punya jati diri karena tidak bangga pada bahasanya. Lama-lama kita tergerus padahal bahasa simbol negara,” katanya. Sedangkan menu r u t Awaluddin, pemerintah telah mendesain kurikulum sesuai standar nasional pada setiap tahapan atau jenjang pendidikan. Khusus untuk K-13 disesuaikan dengan renstra untuk membentuk dan mempersiapkan generasi emas pada 2045. Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah kesiapan guru dalam mengimplentasikan kurikulum kepada siswa. Hasil studi 2016, kemampuan guru-gurumemahami tentang kurikulummasih dalam taraf memahami, belum sampai pada tahap pengaplikasian. Menurut Putu Wijaya, boleh saja ada kepanikan dalamsituasi bahasa Indonesia saat ini agar segera ada tindak­ an dan dipertahankan meng­ ingat bahasa bukan hanya alat untuk berkomunikasi tetapi mengandungunsur pendidikan jiwa, karakter, kepribadian, dan keindonesiaan. “Pelajaran bahasa Indone­ sia di sekolah jangan fokus pada tata bahasa atau linguistik sehingga menjadi tidak me­ narik. Sebaiknya lebih fokus pada bagaimana berekspresi dan menata pikiran dengan bahasa Indonesia. Pelajaran mengarang atau kesusastraan bukan sekadar hafalan nama dan tahun,” katanya. Idealnya yang hadir se­ bagai pengajar bukan sekadar guru tata bahasa melainkan juga berperan seolah buda- yawan yangmengantar pelajar mampu berekspresi untuk membuat diskripsi, esei, berdebat, berargumen, dan mengutarakan opini, dengan bahasa Indonesia yang benar, baik dan kreatif. AS Laksana menekankan kepentingan bahasa Indone­ sia dipelajari. Murid-murid tekun mempelajari bahasa

asing karena memiliki hara­ pan tertentu. Tidak sekadar untuk memudahkan men­ cari pekerjaan, tetapi bisa juga untuk mendapatkan lingkungan pergaulan dan ilmu yang lebih luas. Semua itu menjadi penambah mo­ tivasi belajar. “Sementara ketika mempelajari bahasa Indonesia, apa harapan yang ada di belakangnya? Hampir tidak ada, atau mungkin tidak ada sama sekali. Bahasa Indonesia mereka pelajari sebagai mata pelajaran wajib saja. Kadang ada guru yang menarik mengajarkannya, namun kebanyakan mungkin tidakmendapatkankesenangan dalam mempelajari bahasa Indonesia,” jelasnya. Kondisi ini diperparah dengankualitas guru. Menurut Masmiar, masih kurang dalam hal tenagapengajar yangmum­ puni. “Pengalaman pribadi saya memberikan pelatihan untuk guru di Jabodetabek menunjukkan bahwa begitu banyak guru yang tak dapat berbahasa Indonesia dengan logis, apalagi berbahasa dengan benar,” katanya. Membosankan Mahsun menyayangkan konsep metode pengajaran bahasa Indonesia yang mem­

bosankan. Pasalnya, penga­ jaran bahasa Indonesia yang selama ini dilakukan bukan menumbuhkan rasa cinta. Tetapi fokus pada struktur. Anak tidak diberi pemahaman apa makna fungsi bahasa Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud harus mengubah metode pembelajaran ba­ hasa Indonesia. Seharusnya menumbuhkankeyakinanpada siswa akan pentingnya bahasa Indonesia. “Dalam kelas itu terdapat anak dari berbagai suku. Guru harus mampu menanamkan rasa cinta akan bahasa, memberi pemahaman akan peran penting bahasa, jadi ketika ada rasa cinta baru boleh mengajarkan bahasa Indonesia sesuai kaidah,” terangnya. Mahsun menilai, pembe­ lajaran bahasa dari Kurikulum 2013 (K-13) juga tidak me­ nyasar pada rasa cinta akan bahasa. Semua masih fokus pada struktural. Sehingga siswa yang dalam keluarga terbiasamenggunakan bahasa Indonesia menganggap pem­ belajaran bahasa Indonesia tidak menjadi fokus utama karena tidak ada rasamemiliki sebagai anak bangsa. Terkait dengan persoalan menicantai bahasa, Kem­

dikbud dan Badan Bahasa meningkatkan minat dan rasa cinta anak bangsa kepada ba­ hasamelalui Gerakan Literasi Nasional (GLN). Mendatang, Uji Kemahiran Berbahasa Indoensia (UKBI) akan di­ gunakan sebagai syarat masuk kerja selayaknya TOEFL. MenurutDadang,UKBImasih dalam pembahasan, sehingga UKBI semakindiperhitungkan sebagai persyaratan tertentu. Sementara itu, sebagai promosi bahasa Indonesia ke interna­ sional, pemerintah mengirim guru-guru bahasa Indonesia ke lima benua hingga proses menawarkan penerjemahan karya- karya sastra ke dalam bahasa Indonesia. UU 24/2009 mewajibkan pemerintahmengembangkan, membina, danmelindungi ba­ hasa dan sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam ke­ hidupan masyarakat, bahkan meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Mangiang mengatakan bahwa, tidak perlu ambisius, ingin agar bahasa yang dipakai itubahasa yangbaikdanbenar. Jika dapat memakai bahasa yang baik dan logis saja itu pun cukup untuk pemakaian

bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang baik yang dimaksud adalah bahasa yang sesuai dengan kebutuhan pemakaiannya, logis, dan dapat diterima oleh rasa bahasa. “Tidak tejadi penurunan kecintaan pada Bahasa In­ donesia. Namun, jika nilai rata-rata Bahasa Indonesia murid sekolah lebih rendah dari nilai rata-rata Bahasa Inggris, metode pengajaran bahasalah yang perlu dipe­ riksa. Jangan terburu-buru membuat kesimpulan bahwa itu adalah gejala menurunnya kecintaan pada Bahasa Indo­ nesia,” jelasnya. Jadi, siapakah yang harus bertanggung jawab atas segala permasalahan bahasa pemersatu ini bisa terus menjadi lebih baik? Ia pun mengatakan, untuk pemegang tanggung jawab yang utama dalam hal perkembangan dan eksistensi Bahasa Indonesia adalah instansi pendidikan. Itu artinya Kemdikbud serta Pusat Bahasa yang bernaung di bawah instansi tersebut. Kemdikbud bertanggung jawab merancang kurikulum, termasuk metode pengajaran sastra dan Bahasa Indonesia, serta menyiapkan pengajar yang mumpuni. Menurut Slamet Rahardjo, keputusan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu adalah keputusan politik yang brilian oleh orang-orang di masa lalu. “Saya sangat yakin hari ini kita tidak perlu lagi takut akan tumbuhnya pemikiran provinsialis seperti di awal kemerdekaan. Bangsa In­ donesia telah memiliki pen­ galaman politik yang cukup. Kesadaran bersatu dalam keberagaman budaya tidak perlu disangsikan. Kembali ke akar budaya itulah jalan keluar yang bijak dan propor­ sional karena pada hakekatnya modal dasar utamanya berada dalam pikiran dan peradaban kita sendiri,” ungkap Slamet. [DFA/FAT/A-15]

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online