SP160222

Utama

3

Suara Pembaruan

Senin, 22 Februari 2016

Pekerja Indonesia Perlu Tingkatkan Produktivitas

[JAKARTA] Pelaksanaan Masyarakat EkonomiASEAN (MEA), perlu disikapi dengan percaya diri. Indonesia memi- liki potensi menjanjikan untuk mengambil keuntungan di era MEA ini. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah menga- takan, di antara negara-negara ASEAN, Indonesia tampil sebagai pasar yang lebihmeng- giurkan. Terbukti, hampir 26% pertumbuhan domestik bruto (PDB) ASEAN berasal dari Indonesia, didukung oleh 40% kelas menengah ada di negara kepulauan ini. Potensi itu harus bisa dimanfaatkan secara maksimal dengan kearifan lokal. Secara terpisah, Wakil Rektor BidangAkademik dan Kemahasiswaan Universitas IndonesiaBambangWibawarta, produk dan tenaga kerja Indonesia bisa menyerbu ASEAN bila kualitas dan produktivitas para pekerja digenjot. Kendala yang terjadi sela- ma ini, kataBambang, produk- tivitas pekerja Indonesiamasih beradadibawahnegaraASEAN lainnya. Sedangkan Firmanzah mengaku optimistis Indonesia

bisa bersaing di enam sektor yangsegeradiberlakukan, yakni sektor konstruksi, akuntansi, konsultan, dokter, dokter gigi, dan perawat. Sementara, di sektor lain seperti industri, dibutuhkan peran pemerintah gunamendorong industri dalam negeri. Dengan demikian, dampa- knya tidak hanya akan diterima oleh industri itu sendiri,melain- kan mampu menjadikan industri dalam negeri menjadi salah satu penopang pertum- buhan ekonomi. Seperti diketahui, industri dalam negeri sampai saat ini dinilai belum bisa dikatakan berdaya saing tinggi. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi bisa tumbuh di 4,9%-5,1%. Hal ini meng- ingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan kuartal II- 2015 jauh di bawah ekspekta- si. Sedangkan pada kuartal III dan kuartal IV diyakini tidak akan mampu mengompensasi pertumbuhan pada dua kuartal awal tahun kemarin. Firmanzah mengungkap- kan, semangat Go ASEAN perlu dikembangkan, mengin- gat peluang pasarmasih sangat terbuka dengan kehadiran 600 j u t a k o n s ume n b a r u . Melambatnya ekonomi

Tiongkok, menurutnya, bisa disikapi dengan mengalihkan ekspor ke beberapa negara ASEAN yang ekonominya tumbuh cukup tinggi, sehing- ga bisa memberikan sedikit keseimbangan dari menurun- nya ekspor. Seperti diketahui,Amerika Serikat danTiongkokmerupa- kannegaramitra dagangutama Indonesia yang mengalami

Universitas Paramadina ini. Bambang berpendapat, keunggulan Indonesia sangat banyak. Selainmemiliki pasar yang sangat besar dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, potensi yang belumdigarap dengan optimal antara lain pariwisata dan potensi maritim. “Semua harus didukung dengan regulasi dari pemerintah. Seperti misalnya,

“Bila pengusaha kita aktif masuk dan ekspansi ke negara ASEAN lain, plus pemerintah memfasilitasi  investasi nega- raASEAN di Indonesia untuk sektor yang nilai tambah tinggi, maka (MEA, Red) jadi positif,” ucapnya. Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri men- gaku optimistis kesepakatan MEA bisa memberi keun- tungan. Menurutnya, nega- ra-negara di luar ASEAN memandang kawasan terse- but sebagai pasar yang lebih memikat. Produk domestik berdasarkan paritas daya beli (GDP based on purchasing power parity ) ASEAN pada 2014 bernilai lebih dari US$ 6 triliun. Angka itu terbesar keempat setelah Tiongkok, Ame r i k a , d a n I n d i a . “Pasar ASEAN yang relatif besar ini menambah daya tarik investor dari luar dan juga investor dari dalam ASEAN. Sekalipun MEA terwujud, investasi asing langsung di ASEAN melon- jak tajam dari US$ 21 miliar pada 2000 menjadi US$ 112 miliar tahun lalu,” kata Faisal. Pada periode yang sama, investasi langsung dari dalam ASEANsendiri jugamelonjak dari US$ 0,8 miliar menjadi

US$24,4miliar.Walaupunporsi penanaman modal asing langsung intraASEAN relatif rendah, tetapi peningkatannya lumayan tinggi dari hanya2,8% pada 2000menjadi 17,5%pada 2014. “Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana menarik sebanyak mungkin penanaman modal asing langsung itu. Bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai target pasar semata, melainkan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar regionalmaupun global,” tegas Faisal. Iamenambahkan,Indonesia agak tercecer jikadibandingkan Vietnam dan Malaysia yang lebih banyak dipilih sebagai basis produksi oleh produsen kelas dunia. Bahkan, Vietnam belakanganmenjadi primadona baru yang akan segera diikuti oleh Myanmar. “Indonesia tidak boleh terpaku pada konsep komodi- ti unggulan. Kelebihan dari ketiga negara tadi adalah kemampuannya beradaptasi dengan sistem global supply chain . Tiga negara itu mem- persiapkan infrastruktur pen- dukung agar dilirik oleh pro- dusen parts and components ,” jelasnya. [R-15/O-2]

MEA harus disikapi secara dua arah. Tidak hanya memberikan tantangan, tapi juga membantu membuka peluang bagi Indonesia. “

perlambatan ekonomi. Dari sisi global, Tiongkokmencatatkan pertumbuhan ekonomi 6,9% sepanjang kuartal III-2015. Angka ini merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global terjadi di 2009 lalu. “MEAharusdisikapi secara dua arah. Tidak hanya mem- berikan tantangan, tapi juga membantu membuka peluang bagi Indonesia dan kalau kita bisa memanfaatkannya, kita bisa ambil keuntungan yang paling besar,” ungkapFirman- zah yang juga adalah Rektor

masalah sertifikasi,  standard- isasi produk dan lainnya. Pemerintah harus punya strate- gi yang komprehensif dan berkesinambungan,” ucapnya, Senin (22/2). Ekonom Universitas IndonesiaBerlyMartawardaya mengatakan, MEAbisa mem- bantu pertumbuhan ekonomi Indonesia apabila Indonesia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan ekspor dan menambah investasi. Tingkatkan Ekspor

Made with FlippingBook flipbook maker