SP180509

Suara Pembaruan

Utama

2

Rabu, 9 Mei 2018

Pilgub Jatim, Mesin Partai Tak Bergerak?

S eluruh pasangan calon yang akan berkom- petisi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Se- rentak 2018 terus berkampa- nye. Visi dan misi, termasuk program kerja membangun daerah disampaikan kepada masyarakat melalui kampa- nye. Pilkada memang men- jadi pertarungan figur para calon pemimpin daerah. Peranan partai politik (parpol) untuk memenang-

kan kandidat yang diusung terbilang tidak begitu besar. Meski begitu, bukan berarti parpol lantas enggan mem- bantu pasangan calon yang mereka usung untuk meraih ke- menangan. Menurut sumber SP , mesin parpol kurang bergerak ma- sif pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jatim. Hal tersebut berlaku baik bagi pasangan nomor

urut satu, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak maupun pasangan nomor urut dua, Saifullah Yusuf dan Puti Gun- tur Soekarno. “Ada partai pengusung calon nomor satu dan dua yang tidak serius mengampanye- kan jagoan mereka. Hal ini membuat Khofifah dan Gus Ipul resah. Mereka khawatir suara partai itu beralih ke

kubu lawan, karena elitenya tidak menggerakkan mesin partai,” demikian sumber SP di Jakarta, Rabu (9/5). Dikatakan, masalah logistik menjadi salah satu faktor penyebab mesin partai tidak bergerak masif. “Jadi, ibarat mesin yang berputar. Roda-roda mesin akan sulit bergerak jika tidak ada oli yang membuat dia licin dan berputar dengan baik,” kata sumber itu. [C-6]

Mahathir Kembali Bertarung Pemilu Paling Krusial dalam Sejarah Malaysia

[JAKARTA] Pertarungan antara Mahathir Mohamad yang tahun ini berusia 93 tahun dan Najib Razak (65) untuk memperebutkan kursi perdana menterimenunjukkanlemahnya regenerasi kepemimpinan di Malaysia.Negerijiranituseperti kehabisanfiguryanglebihmuda untuk menjadi pemimpin. Jika sukses memenangi pemilu,Mahathir akanmenjadi pemimpin tertua di dunia. Bah- kan, pria yang dijuluki “Little Soekarno” itu mengaku, jika terpilih, dia hanya mampu menjadi pemimpin selama dua tahun. Meski dukungannya terusmenurun, Koalisi Barisan NasionalyangmengusungNajib Razak diyakini masih akan menjadi penguasa diMalaysia. Pemilihan umum(pemilu) Malaysia yang digelar hari ini, Rabu (9/5), menjadi momen- tumpalingmenentukan dalam sejarah negeri jiran itu. Koalisi penguasa Barisan Nasional (BN) harus menghadapi kubu oposisi yang kali ini dinilai cukup solid, meskipun masih terpecah dalambeberapa faksi. Itu sebabnya, semua kemung- kinanbisa saja terjadi, termasuk kemenangan oposisi, terutama karenamenurunnya dukungan terhadap Organisasi Nasional MelayuBersatu(UMNO)yang berada di balik koalisi BN. Manajer Riset danAsisten Profesor di Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia, Heru Susetyo mengatakan, UMNO sudah berkuasa sejak kemerdekaan Malaysia, se- hingga tentu saja sulit untuk dikalahkan. Namun, pemilu Malaysiakali inimemunculkan kalangankelasmenengah terdi- dik, yang mulai bosan dengan penguasaditambahmunculnya dugaan korupsi besar-besaran oleh Perdana Menteri (PM) Najib Razak. Sejumlah tendensi juga memperlihatkan UMNO de- ngan BN sudah ditinggalkan para pengikut dan tokoh-tokoh besarnyayangmulaimenyebe- rang ke kubu oposisi Pakatan Harapan (PH). “Ini pemilihan paling krusial dalam sejarah Malaysia, karena belumdapat digambarkan siapa yang me-

nang.Bisajadi,UMNOmenang kembali, tetapi mungkin tidak dengan kemenangan margin besar. Mungkin menang tipis. Atau, barangkali PH unggul tipis juga,” kata Heru kepada SP di Jakarta, Rabu (9/5) pagi. Dikatakan, pemiluMalay- sia terbagi atas pemilih dari kalangan menengah ke atas di perkotaan,yangcenderungtidak menyukai Najib, dan kalangan masyarakat bawah yang lebih pragmatisuntukmementingkan kebutuhan ekonomi. Menurut dia, ada tiga kendaraan besar dalampemiluMalaysia ke-14, yaitu BN, PH, dan Gagasan Sejahtera yang dimotori oleh Partai Islam Se-Malaysia atau Pan-Malaysia Islamic Party (PAS), beserta partai-partai kecil lainnya.

Sayangnya, kata dia, kubu oposisi, yakni PH dan Gagasan Sejahtera, terpecah karena perbedaan ideologi dan wilayah konstituen. Menurut Heru, PASyang dulu berada di dalamkoalisiPakatan, akhirnya memutuskan keluar dan saat ini menjadi kuda hitam bagi kemenangan oposisi. “Di dalam PH bergabung ideologi, ada Islam, Tionghoa, unsur Hindu, dan unsur nasio- nalis. Sementarak, di Gagasan Sejahterancenderungke Islam, karena PAS dan UMNO lebih ke etnis Melayu meskipun belakangan terlihat membuka diri,” ujarnya. MenurutHeru, oposisime- munculkanMahathirMohamad karena menjadi satu-satunya figur yang dianggap sebagai

untuk mengalahkan Najib. Sosok Mahathir, selaku PM selama 22 tahun (1981-2003), masih sangat fenomenal untuk bersaingmelawan tokohsekuat Najib. “Kenapayangdimunculkan Mahathir, padahal dia sudah berusia 92 tahun? Ini simbol perlawanan. Mereka (oposisi) tidakbenar-benaringinmenam- pilkanMahathir.Jadi,walaupun menang,mungkincumaberapa lama akan digantikan anaknya atau orang dari partainya,” kata Heru. Dalamsebuahwawancara, Mahathirjugasudahmenyebut- kan bahwa dirinya tidak akan duduk lama sebaga perdana menteri jika menang pada pemilu kali ini. Bahkan, dia mengatakan, jabatan perdana menteri mungkin saja diserah- kankeAnwarIbrahim,yangdua

tahun lagi keluar dari penjara. Herumenambahkan, kasus senada terjadi di Thailand di bawah kepemimpinanmantan PMThaksin Shinawatra yang digulingkanolehkudetamiliter pada 2006.WalaupunThaksin tidak kembali ke partainya, tetapi penguasa di Thailand tetap orang-orang kepercaya- annya, termasuk dari anggota Direktur Eksekutif Centre for Strategic and Internatio- nal Studies (CSIS) Philips J Vermonte mengatakan, kubu oposisi dalampemiluMalaysia saatinilebihsoliddibandingkan oposisi sebelumnya, karena ada namaMahathir danAnwar Ibrahim.Duatokohitudianggap berjasa untuk Malaysia dan status negarawannya tidakbisa dimungkiri. “Tetapi,Najibjugamemiliki keuntungan sebagai petahana dalam banyak hal, termasuk memilihwaktupemungutansu- ara dimana sistemparlementer memberikankekuasaankepada PM kapan pemilu dilakukan. Dia sudah mengukur waktu terbaik untuk mendapatkan keuntungan lebih besar,” kata Philips. Philipsmengatakan, Najib sebagai petahana juga mela- kukan upaya gerrymandering yaituupayauntukmemanipulasi daerah atau wilayah pemilih- an, dalam konteks Malaysia adalah distrik. Najib, lewat kekuasannya, bisamemainkan batas-bataspemilihan, sehingga mengubah kantong-kantong UMNO untuk memperbesar perolehan suara. “Selain gerrymandering , Najib kelihatan melakukan banyak hal, misalnya meng- angkat isu internasional, se- perti Rohingya yang ditujukan untuk publik domestiknya. Ini mengaburkan apa yang dituduhkan oposisi terkait kebijakan atau kasus korup- sinya,” kata dia. MengenaikemunculanMa- hathir,Philipsmengatakankubu oposisiMalaysiakesulitanuntuk mendapatkan tokoh berskala nasional, sehingga opsi terbaik keluarganya. Manipulasi

jatuh pada Mahathir. Namun, kata dia, politik Malaysia saat inimenarikkarenaMahathirdan Najib dulu berusahamenying- kirkanAnwar Ibrahimsebagai calon kuat PM. Kini, kondisi Berbalik, yakni Mahathir dan Anwar bersatu untukmelawan Najib. Wakil Indonesia untukKo- misiAntar-PemerintahASEAN untukHakAsasiManusia seka- ligus dosen senior Universitas AtmaJayaJakarta,DinnaWisnu mengatakan, harus dipahami bahwa politik di Malaysia adalah first-past-the-post atau simplemajority ,.Artinya,sistem partai yangmendapatkan kursi terbanyakdiparlemensekalipun tidak otomatis memenangkan suara popular. UMNO mungkin kalah dalamperolehan jumlah suara, tetapi menang dalam pengu- asaan kursi di negara-negara bagian,sepertiterjadipada2013. Saatitu,BNmemenangkan133 kursidi222kursiDewanRakyat dan 47,38% suara, sementara oposisi,memenangkan50,87% suara rakyat dan 89 kursi. “Skenario yang sama mungkin bisa terjadi dan mungkin UMNO malah bisa mendapatkan lebih banyak kursi, karena kali ini oposisi tidak bersatu,” kata Dinna. Dikatakan, tugas utamaoposisi Malaysia saat ini seharusnya bukan memenangkan suara popular, melainkanmenguasai suara di negara-negara bagian. Menurutnya,UMNOmungkin tidakpopular, tetapibelumtentu kalah dengan sistem simple majority tersebut. Menurut Dinna, prestasi yang digaungkan Najib, ter- masuk pertumbuhan ekonomi sampai 5,9%, memang bisa menjadi senjata cukup ampuh untuk meraih suara. Tetapi, kata dia, dalam politik yang terpenting adalah penguasaan persepsi di tengahmasyarakat. “Najib mengeluarkan UU Anti-Hoax yang digunakan untukmengkriminalisasi siapa pun yang dianggap berkata tidak benar.Iini membuat per- sepsi oposisi sulit berkembang kecuali lewat media sosial,” katanya. [C-5]

simbol perla- wanan terkuat

Made with FlippingBook flipbook maker