ID161003

senin 3 oktober 2016

24

Investor Daily/IST

au bintoro pendiri/presdir pt cahaya sakti multi intraco (olympic furniture)

U ntuk menjadi entrepreneur sejati, seseorang tidak perlu memperhitungkan berapa usia dan kapan ia bisa mulai. Yang harus diutamakannya adalah seberapa jeli ia mampu membaca peluang, seberapa kuat keinginannya untuk mencoba, dan seberapa besar keberaniannya dalammenghadapi risiko. AU Bintoro termasuk pengusaha yang beruntung karena memiliki tiga hal tersebut. Berkat tiga hal itulah bisnis Bintoro tetap kokoh, tak mudah goyah. Saat krisis moneter menerjang perekonomian nasional pada 1998, PT Cahaya Sakti Multi Intraco, perusahaan furnitur yang didirikannya, justru semakin tangguh. Bintoro memang jenis pengusaha yang tahan banting, berani berkreasi, dan mencoba sesuatu yang baru. Ia kerap keluar dari kepakeman atau kebiasaan cara pandang masyarakat pada umumnya, sekalipun risiko besar mengadangnya. Hasilnya, ide-ide segar terus bermunculan dari pengusaha ini. Kreativitas tanpa henti itu pula yang membuat produk-produk PT Cahaya Sakti Multi Intraco --dikenal dengan nama Olympic Furniture-- tetap eksis di tengah sengitnya persaingan. Tak cuma furnitur, Bintoro bahkan sudah merambah bisnis properti. “Salah satu kiat bisnis saya adalah memiliki nyali ekstra. Makanya, kalau punya ide, saya tidak pernah takut gagal untuk menjalankannya. Saya malah suka yang berisiko, saya berani tabrak. Justru enjoy -nya itu di situ. Sebab, dari situlah saya bisa mendapatkan ilmu baru,” ujar dia. Apa lagi kiat bisnis Bintoro? Bagaimana caranya mengelola risiko? Apa obsesinya? Mengapa ia beranggapan bahwa pengusaha harus memiliki visi sejauh mungkin? Berikut penuturan lengkap pria kelahiran Tembilahan, Riau, 1 Agustus 1952, itu kepada wartawan Investor Daily Kunradus Aliandu di Jakarta, baru-baru ini. Bisa diceritakan bagaimana Anda mengawali bisnis furnitur? Saya mengawali bisnis sebagai pembuat boks speaker . Sejak 1980, saya termotivasi untuk menciptakan furnitur yang lebih praktis, ringan, dan mudah diangkut. Memang ada sedikit tantangan, kegagalan, tapi saya tak pantang menyerah. Saya pun saat itu semakin

Artinya, kalau di dunia bisnis, kita harus memiliki visi sejauh mungkin, kita punya niat bekerja untuk orang banyak. Jangan memikirkan hanya untuk diri sendiri. Apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain, harus kita lakukan, diikuti keberanian untuk melangkah hingga mencapai tujuan. Bagaimana Anda membagi waktu untuk keluarga? Sebetulnya tidak seluruh waktu saya hanya untuk bekerja, ada juga waktu untuk keluarga. Biasanya untuk keluarga, saya gunakan hari Minggu, menemani istri ke gereja, jalan-jalan, atau makan di luar rumah. Itu saja. Anak saya dua, semua sudah berkeluarga, sekarang sudah ada tujuh cucu. Yang Anda lakukan jika merasa stres atau jenuh? Dari dulu saya suka bermain musik dan bernyanyi. Saya juga suka berolahraga golf dan traveling . Bicara traveling , tempat favorit saya adalah Tiongkok dan Bali. Saya juga punya rencana ke Raja Ampat, Papua, tahun depan. Selain untuk traveling , saya ingin melihat pabrik. Di sana saya punya pabrik spring bed . Sudah hampir 10 tahun berdiri, tapi saya belum pernah ke sana.

giat mencari ide-ide kreatif. Saya mencoba membuat meja dari bahan baku boks speaker yang bisa dibongkar pasang ( knock down ), yang ternyata cukup praktis dan efisien. Selanjutnya saya coba memasarkan produk ini ke masyarakat dengan merek Olympic. Kenapa memakai merek Olympic? Merek produk Olympic Furniture ini terinspirasi oleh Olimpiade XXIII yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) pada 1984. Dengan memakai nama itu, saya pun berharap perusahaan saya dengan mereknya dapat bergaung sehebat Olimpiade, yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Inspirasi ini di kemudian hari menguntungkan saya, karena konsumen lokal mengenalinya sebagai produk impor meskipun sebenarnya serpihan-serpihan perabot itu semuanya dibuat di Bogor dengan tenaga kerja lokal, tepatnya di Jl Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Saat ini saya bisa mempekerjakan lebih dari 1.000 karyawan untuk memproduksi berbagai produk furnitur, dari mulai meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga, hingga produk-produk lainnya. Apa yang Anda lakukan untuk mengembangkan pasar? Memasuki tahun 2003, kami menggandeng perusahan furnitur sama mendirikan Garant Mobel Indonesia (GMI) dengan 75% saham dimiliki Olympic. GMI bertindak sebagai pemberi hak waralaba yang menghubungkan pemasok dan para peritel mebel merek Garant asal Jerman, dan merek kelas atas milik Olympic Group. Usaha ini menciptakan merek baru MER yang diwaralabakan. Merek baru itu, misalnya Solid Furniture, Albatros, Procella, dan Olympia. Pencapaian Anda selain bisnis furnitur? Saya juga sudah lama menggeluti bidang properti, seperti hotel di wilayah Sentul, Bogor. Itu sudah 20 tahun. Sekarang sedang dibangun juga apartemen Olympic Residance di Sentul, diperkirakan dua tahun lagi selesai. Berikutnya, kami sedang kembangkan properti di wilayah Sukabumi. Kalau ditanya bisnis asal Jerman, Garant Mobel International dan bersama-

baru usia jompo.

mana yang paling bagus maka jawabannya kedua bisnis ini seirama. Kalau bisnis properti naik, bisnis furnitur ikut naik. Kalau properti sekarang sedang turun, furnitur juga ikut turun. Ke depan, saya lebih progresif ke usaha properti, karena bisnis furnitur sudah digarap anak saya. Kiat bisnis Anda? Ada tiga kiat. Pertama, saya selalu menanamkan kejujuran kepada orang lain. Kedua, saya selalu berusaha untuk tidak merugikan orang lain. Ketiga, saya memiliki nyali yang ekstra. Nyalinya cukup baik, sehingga kalau saya punya ide, saya coba jalankan, saya tidak pernah takut untuk gagal. Soalnya, saya suka yang berisiko, saya berani tabrak. Justru enjoy -nya di situ. Jatuh-bangun bagi pengusaha itu merupakan suatu hal yang biasa. Kegagalan itu hanya sebuah penundaan dari keberhasilan. Tapi justru dari kegagalan itu saya bisa banyak belajar. Di situlah saya bisa dapat ilmu baru. Jadi, sesuatu yang bernada risiko coba saya amati, dan saya berani tabrak. Selama belum menyangkut nyawa, saya maju. Bisnis mana yang paling

Saya sendiri masih merasa muda walaupun sudah berusia 64 tahun. Saya belum mengganggap saya sudah tua. Bahkan, makin hari saya semakin tertantang, semakin dahsyat. Saya perkirakan masih produktif sampai usia 80 tahun. Berarti masih 16 tahun lagi, sekarang baru 64 tahun. Oleh karena itu, pada sisa waktu ini, saya harus melakukan sesuatu yang monumental. Saya sedang persiapkan sebuah Kota Olympic di atas lahan sekitar 25 hektare, di jantung Kota Bogor, supaya Bogor bisa dikategorikan sebagai metropolitan. Di sana akan dibangun mal, hotel, apartemen yang keren, rumah landed , rumah sakit, sekolahan, outlet , bisnis area, ada hiburannya, semuanya terintegrasi dalam satu kawasan. Tahun depan mulai dibangun, dan ditargetkan 10 tahun ke depan selesai. Filosofi hidup Anda? Mata melihat sejauh mungkin menjadi ide, tangan bekerja banyak untuk orang banyak sebagai buktinya, kaki melangkah untuk mencapai tujuan. Makna itu semua?

berisiko? Furnitur itu mengandalkan kreativitas. Bidang yang paling berisiko ya properti, betul-betul banyak mafianya. Bidang properti mengandalkan keberanian kita untuk masuk ke bidang-bidang yang berisiko. Misalnya kalau ada suatu lokasi yang suratnya tidak terlalu beres, tapi kalau saya lihat bisa beres, ya saya maju. Konsekuensinya bisa hilang juga. Contohnya saya punya lahan di Sukabumi sekitar 300 hektare, itu hampir hilang, sekarang sedang berperkara. Obsesi Anda yang belum terwujud? Anggapan masing-masing orang mungkin agak berbeda. Ada anggapan umum bahwa pada usia 1-17 tahun itu remaja, usia 17-65 tahun itu masa muda, 65-80 tahun itu usia tua, dan di atas 100 tahun Nama : AU Bintoro Jabatan : Pendiri/Presiden Direktur PT Cahaya Sakti Multi Intraco (Olympic Furniture) Tempat/tangal lahir: Tembilahan, Riau, 1 Agustus 1952

D alam beberapa bulan terakhir, nama AU Bintoro kerap menghiasi media massa. Itu tiada lain akibat penunjukannya sebagai duta pajak oleh Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Barat III. Bintoro ditunjuk menjadi duta pajak untuk menarik minat para wajib pajak (WP) lain di wilayah Bogor dan sekitarnya, supaya segera menyetor pajak yang menjadi kewajibannya, termasuk ikut program amnesti pajak ( tax amnesty ). Bagi Bintoro, menjabat duta pajak adalah pengabdian tanpa pamrih. Dengan menjadi duta pajak, ia bisa mengajak semua orang agar patuh membayar pajak sehingga negara diuntungkan. Dengan begitu pula, dana hasil penerimaan pajak bisa dipakai untuk membiayai pembangunan dan menyejahterakan masyarakat. “Saya bukan pembayar pajak terbesar. Saya hanya mengimbau kepada teman- teman lain, inilah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Saat ini sudah terjadi pergeseran mental, sekarang saatnya Indonesia bangkit,“ tegas Bintoro. Penunjukan AU Bintoro sebagai duta

pajak di wilayah Bogor dan sekitarnya tak lepas dari rekam jejaknya yang aktif membayar pajak selama ini. Bahkan, beberapa kali dia secara pribadi atau perusahaan mendapatkan piagam penghargaan di bidang perpajakan. “Saya dapat penghargaan yang terbaik dari sisi ketertiban membayar pajak baru-baru ini, pribadi dan perusahaan. Selama 2-3 tahun ini dapat ranking terus, sekabupaten Bogor,” papar dia. Dukungan AU Bintoro bagi Kanwil DJP Jabar III tentu bakal berbuah manis di masa mendatang, seiring mulai menggeliatnya sektor infrastruktur yang dibangun pemerintah. “Justru kelihatan setelah tax amnesty ini selesai, properti tahun depan akan naik. Dasarnya kan pemerintah sekarang sedang membangun infrastruktur, sehingga dari infrastruktur pasti properti ikut naik,” tutur dia. Menurut Bintoro, selama ini sektor properti turun karena infrastruktur tidak siap. “Sekarang pemerintah sedang menggenjot program tax amnesty , dapat duit, lalu bangun infrastruktur, pasti ekonomi tumbuh lebih baik,” tandas dia, dengan nada optimistis. (ks)

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online