SP180919

Suara Pembaruan

28

Rabu, 19 September 2018

Wacana Pemindahan Ibu Kota Negara Palangka Raya Harus Promosikan Diri

[ J A K A R TA ] K o t a Palangka Raya, Kalimantan Tengah, harus berubah menjadi kota maju untuk menjadi ibu kota negara, menggantikan Jakarta. Oleh karena itu, perlu dibuat masterplan tata ruang untuk menuangkan rencana detail tata ruang yang matang. “Jadi ketika rencana de- tail tata ruang dan pemba- ngunan kota sudah matang, maka kita mudah mau jual- an promosi kota ke ma- na-mana. Cari mitra atau partner yang bisa dipercaya. Seperti Universitas Indo- nesia yang lengkap dengan pakar-pakarnya. Masalah jadi atau tidaknya Palangka Raya sebagai ibu kota baru bukan urusan kita. Yang ja- di urusan kita adalah bagai- mana mempercepat peru- bahan kota tersebut, ya sa- lah satunya menjadi tuan rumah event internasional seperti Palembang,” kata a h l i p e r k o t a a n d a r i Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna dalam acara S em i n a r Op t i ma l i a s i Pena t a an r uang Ko t a Palangka Raya di Hotel P u l l ma n , J a l a n MH Thamrin, Jakarta Pusat, M eski wacana pe- mindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah masih digodok, Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya menegaskan kearifan lokal jangan sampai ter- pinggirkan seperti di Jakarta. Wakil Wali Kota terpi- lih Palangka Raya, Umi Mastikah secara prinsip menyambut baik wacana pemindahan ibu kota nega- ra Indonesia dari Jakarta ke Palangka Raya. Menurut dia, sudah saatnya persiap- an pemindahan dipraktik- kan, bukan sekadar dari se- minar ke seminar. “Masyarakat kami bangga jika kotanya dijadi- kan sebagai ibu kota nega- ra. Hanya saja, kami harus mempersiapkan apa yang dibutuhkan dalam pengem- bangan kota sebagai ibu kota. Yang paling penting, yang kami minta adalah

Palangka Raya sebagai ibu kota negara baru diharap- kan membawa keadilan da- lam pembangunan. Rencana tata ruang kota harus disi- apkan untuk ratusan tahun ke depan. "Komitmen bersama ha- rus dijalankan semua. Ini mumpung Palangka Raya belum sebesar Jakarta dan belum crowded. Makanya, rencana tata ruang kota ini harus disiapkan hingga 100 tahun, 200 tahun dan ratusan tahun lainnya," kata Airin. Menurutnya, publik ju- ga perlu diikutkan dalam proses pembangunan, se- hingga terjadi kolaborasi yang baik antara publik de- ngan pemangku kepenting- an. Selain itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam melaksanakan perencanaan tata ruang. “Oleh karena itu, mengu- tamakan penataan jauh lebih penting dari sekadar memba- ngun. Apalagi, melakukan penataan kota yang sudah terbangun lebih sulit ketim- bang membangun. Sebab di- butuhkan keterlibatan selu- ruh pemangku kepentingan dalam penataan,” jelas Airin. [SEV/LEN/W-11] Palangka Raya menjadi Ibu Kota RI. “Kalaupun nanti di sana ada ibu kota, dan mereka harus pindah, maka harus sesuai yang mereka ingin- kan. Tetap mengangkat ke- arifan lokal,” kata Riban. Wacana ini, ujarnya, membutuhkan waktu yang cukup panjang, karena pe- netapan sebagai ibu kota membutuhkan waktu mini- mal 100 tahun. Sebelum menjadi ibu kota, paling ti- dak Palangka Raya harus ditata di atas kota-kota me- gapolitan lainnya di Indonesia. Dijelaskan, Kota Palangka Raya memiliki luas 2.850 kilometer perse- gi. Dari luas tersebut, 62% wilayahnya masih berupa kawasan hutan. Sementara, yang telah terbuka lahan- nya sekitar 35,41%. Kawasan yang telah terba- ngun sebagai daerah admi- nistrasi yaitu sekitar 2,35%. [LEN/W-11]

DANUNG ARIFIN Salah satu sudut di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Palangka Raya diwacanakan sebagai pengganti ibu kota negara.

Selasa (18/9).

dah direncanakan perubah- an baru. Untuk Palangka Raya semuanya sudah kita kaji. Semuanya menyim- pulkan Palangka Raya siap menjadi Ibu Kota negara baru,” jelasnya. Wali Kota Palangka Raya, Riban Satia mengata- kan, perencanaan jangka panjang yang matang sa- ngat penting bila Palangka Raya ingin dijadikan seba- g a i i b u k o t a n e g a r a Indonesia. Oleh karena itu, Pemkot Palangka Raya akan terus berkoordinasi dengan para

ahli, baik di bidang perkota- an maupun transportasi, se- hingga Palangka Raya bisa mengakomodasi pertum- buhan perkotaan hingga ra- tusan tahun ke depan. “Palangka Raya memi- liki masalah dalam tata ru- ang. Palangka Raya memi- liki tiga wajah, yaitu perko- taan, pedesaan, dan perhu- tanan. Sehingga, ketika ingin membangun jalan misalnya, kita berbenturan dengan sta- tus kawasan," kata Riban. Ia mengharapkan peren- canaan tata ruang jangka pan- jang ini dapat mengakomoda-

si tiga sisi wajah Palangka Raya. Presiden pertama Indonesian, Soekarno mengi- nginkan Palangka Raya seba- gai model kota yang terenca- na serta menjadi representasi Indonesia di mata dunia. K e t u a A s o s i a s i Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), Airin Rachmi Diany menegas- kan, untuk menjadikan Palangka Raya sebagai ibu kota dibutuhkan niat politik yang kuat dari pusat. De n g a n d em i k i a n , Ratusan Tahun saat ini, wilayah kota Palangka Raya masih ter- dapat 62% lahan hutan. “Kami berharap meski sudah menjadi ibu kota RI, hutan tidak dibabat habis. Tebang hutan sebatas kebu- tuhan infrastruktur saja. Paling tidak, 30%, jangan lebih dari itu. Hutan harus kita lestarikan,” terangnya. Diakui, untuk bisa membuat infrastruktur kuat dan berdaya tahan bagus perlu membuat event ber- skala internasional. “Kami siap kalau nanti ada acara seperti Asian Games diadakan di sini, atau Parade Bunga Dunia. Kami siap jadi tuan ru- mah,” paparnya. Hal senada juga diung- kapkan Wali Kota Palangka Raya, Riban Satria. Dia mengatakan, satu hal yang sangat berharga adalah ma- syarakat lokal jangan tergu- sur dalam pengembangan Jangan Tergusur

A r s i t e k p e r k o t a a n Universitas Indonesia, Antony Sihombing menga- takan, karena masih waca- na, maka belum ada dasar hukumnya yang menentu- kan Palangka Raya sebagai ibu kota negara yang baru. “Karena belum ada da- sar hukumnya, jadi kita me- lihatnya dari sudut Kota Palangka Raya. Tadi kita sampaikan, dari segi kajian, Palangka Raya siap baik dari segi lahan maupun jumlah penduduknya yang sangat kecil. Sehingga mu-

Kearifan Lokal Palangka Raya Jangan Sampai Terpinggirkan

LENNY TRISTIA TAMBUN Pembicara pada seminar bertema "Optimalisasi Penataan Ruang Kota Palangka Raya" di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/9).

masyarakat asli, penduduk lokal, dalam hal ini, suku Dayak, harus lebih menda- patkan kebijakan secara khusus,” kata Umi dalam seminar bertema Optimalisasi Penataan Ruang Kota Palangka Raya di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/9). Berangkat dari penga-

laman di Jakarta, lanjut- nya, kearifan lokal dan penduduk asli Jakarta, yai- tu suku Betawi, menjadi kelompok termarjinalkan dalam pembangunan Jakarta. “Kami tidak ingin masyarakat menjadi ter- marjinalkan. Tentu kita akan menyiapkan sumber daya manusianya yang ter- kait dalam kearifan lokal.

Bagaimana kita tetap me- nyelamatkan budaya dan alamnya,” ujar dia. Selain itu, dalam pe- ngembangan Palangka Raya sebagai ibu kota dibu- tuhkan pembangunan infra- struktur. Pihaknya tidak mau pembangunan infrastruktur akan mengikis hutan alami di Palangka Raya. Adapun

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker