SP160812

Suara Pembaruan Utama Pro-Risma di PDI-P Tidak Sekencang Pro-Ahok dan Pro-Djarot Jumat, 12 Agustus 2016

3

[JAKARTA] Situasi yang m e m a n a s m e n j e l a n g Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017 tidak hanya ter- jadi di tengah-tengah masya- rakat Jakarta, tetapi juga terjadi dalam internal PDI- P. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengakui dalam tubuh internal PDI-P memang ada perbedaan pendapat menge- nai dukungan kepada calon gubernur yang akan diusung PDI-Ppada Pilgub DKI 2017. Namun, dia membantah, perbedaan pendapat tersebut tidak membuat terjadinya kubu dukungan yang meng- arah perpecahan. “Kubu-kubuan enggak ada, tetapi kalau yang menyampaikan aspirasi yang berbeda ada. Ada yang pro- Djarot, banyak juga karena saya kan di DPP, pro-Ahok juga demikian. Kalau pro- Risma tidak begitu kencang ya. Ada juga pronama lain tapi enggak perlu sebutkan,” kata Djarot di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (11/8). Menurutnya, adanya perbedaan pendapat dalam hal dukung-mendukung merupakan hal yang wajar. Selama belum ada keputus- an resmi dari DPP dan Ketua Umum PDI-P, maka perbe- daan pandangan itu sah-sah saja. “Tetapi begitu kepu- tusan sudah diambil, semu- anya pasti solid menjalankan keputusan itu,” tegasnya. Peneliti Centre for Strategic and International S t ud i e s (CS I S ) Ar y a Fernandes menilai Ahok masih ada kemungkinan dicalonkan oleh PDI-P. Namun, kemungkinan ter- sebut sangat tergantung pada hak prerogatif Ketua Umum P D I - P M e g a w a t i Soekarnoputri. Jika PDI-P mendukung Ahok, kata Arya, berarti partai ini keluar dari kebi- asaan atau pakem selama ini di mana PDI-P cenderung mengusung kadernya sen- diri. Dia mencontohkan, di Sumatera Utara mengusung Effenfi Simbolon, DKI Jakarta tahun 2012 mengu- sung Jokowi, dan di Jateng Ganjar Pranowo. Sedangkan mengenai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma, menurut Arya, pasti diper- timbangkan bagaimana posisi elektoral Risma apa- kah mampu menghadapi Ahok atau tidak karena ada risiko politik yang akan dihadapi PDI-P misalnya kehilangan kader di Surabaya atau Jawa Timur. Untuk yang kesekian kalinya Risma menyatakan

Surabaya. Mereka mengi- nginkan perubahan. Warga Surabaya juga sama, katanya. Pada bagian lain Risma menyadari jika ia dinilai banyak pengamat dan tokoh politik tingkat nasional sebagai lawan yang seimbang jika dihadapkan pada sosok petahana Gubernur DKI Jakarta. Dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2017, Risma mengaku hanya bisa pasrah kepada takdir untuk jalan terbaiknya. Disinggung kepergiannya ke Jakarta, Rabu (10/8) malam, diakui Risma bukan bertandang ke Megawati Soekarnoputri, tetapi bertemu orang lain. “Konco-konco wartawan sing sabar tah menghadapi politik yang berkembang di Pilgub DKI Jakarta. Kalau (saya) dikasih rekom (reko- mendasi), Ibu (Megawati Soekarnoputri) pasti panggil aku. Lha kalau nggak , ya nggaklah. Ibu pasti bicara. Ibu Mega itu sosok pemim- pin yang bijaksana,” ujar Risma sambil menambahkan, bahwa selama diberi amanah

(Ibu Mega dan warga Surabaya), ia tidak mau main-main menjalankannya. “Amanahwarga Surabaya ini titipan Tuhan kepada kita. Kita tidak boleh main main. Kalau aku menjabat ya itu kehendakYang Maha Kuasa. Itu takdirku,” tandas Risma yang didalam pembangunan Taman Bungkul Surabaya mendapatkan penghargaan TheAsian TownscapeAward dari PBB (2013) itu. Risma juga masuk sebagai nomi- nator 10 wanita paling inspiratif versi Majalah Forbes (2013), dan peneri- ma penghargaan Socrates Award kategori Future City dari European Business Assembly (EBA) pada 2014, serta masih banyak lagi. Sementara itu, Juru Bicara TemanAhok, Amalia Ayuningtyas menyatakan pihaknya tidak terlalu memi- kirkan langkah dari tujuh partai politik yang memben- tuk Koalisi Kekeluargaan di Pilkada DKI Jakarta 2017. Amalia menegaskan bahwa pihaknya fokus pada ker-

ja-kerja konkret.

"Kami enggak terlalu ambil pusing, karena Teman Ahok dari awal fokus ker- ja-kerja konkret. Kami enggak terlalu ambil pusing dengan isu-isu semacam itu," ujar Amalia, Kamis (11/8). Amalia menilai jika ada kelompok-kelompok di luar pendukung pencalonan Basuki Tjahaja Purnama, mengusung kandidat lain yang lebih baik, maka kon- testasinya akan lebih mena- rik. Masyarakat pun, kata dia akan mempunyai alter- natif dalam memilih pemim- pin. "Kalau misalnya ada orang dengan kompetensi lebih bagus menyaingiAhok, masyarakat Jakarta jadi lebih fokus membanding kinerja dan track record , bukan isu-isu SARA. Jadi silakan kalau memang ada yang mau memberi aternatif kandidat lain," terang Amalia. [ARS/YUS/LEN/A-15]

foto-foto:antara

Tri Rismaharini

Djarot Saiful Hidayat

bahwa secara jujur ia masih ingin tetap memimpin dan membangun Kota Surabaya dibanding harus didorong-do- rong ke Pilkada DKI Jakarta. Selain nuraninya ingin bertahan di Kota Pahlawan, juga masih banyak warganya yang belum sejahtera. Bagi perempuan pertama yang menjadi wali kota Surabaya dan penerima sembilan penghargaan internasional itu, pilkada bukanlah ajang perebutan kekuasaan. Sebab baginya, sosok seorang pemimpin harus bisa mem- buat warganya sejahtera. “Bagaimanapun aku sudah janji untuk mewujud- kan dan meningkatkan kesejahteraan wargaku. Lha masih banyak wargaku yang belum sejahtera,” ujar Risma saat blusukan ke tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Kamis (11/8). Risma yang menerima penghargaan sebagai penge- lola kota terbaik se-Asia Pasifik versi Citynet (2012), penghargaan kota berkelan- jutanASEANEnviromentally Award (2012), penghargaan FutureGov Award (2012) tingkat Asia Pasifik yang menyingkirkan 800 kota lainnya di Asia Pasifik itu mengingatkan, bahwa ter- kait semakin memanasnya Pilgub DKI Jakarta 2017 karena semua media ibuko- ta mem- blow up -nya, menu- rut dia hal itu bukan rebut- an kekuasaan. Karenanya ia tidak akan pernah mabuk kekuasaan. Figur Menurut Risma yang pernah menerima penghar- gaan Ideal Mother Award dari Universitas Kairo, Maret 2016 baru lalu karena dini- lai sebagai sosok figur ibu yang membawa dampak positif bagi keluarga, semua orang menghitung, Risma bisa menjadi lawan yang seimbang dan memenangkan P i l kada DKI J aka r t a .

“Enggak boleh gitu . Ini bukan soal kekuasaan, aku berkuasa atau PDI-P berku- asa,” tandas Risma yang mengaku bahwa memimpin Jakarta merupakan hal yang dinilainya relatif cukup berat. “Itu kan menyangkut banyak hal. Mulai dari reze- ki serta kesejahteraan masya- rakat nantinya. Ia mencon- tohkan di Pilkada Surabaya 2015 lalu. Kenapa saat itu dirinya tidak memilih jalur independen, karena menu- rutnya, jalur independen dikhawatirkan dipenuhi nafsu harus menang. Masalahnya saya enggak bisa sendiri. Saya saat itu tidak indepen- den. Makannya ini enggak boleh ada nafsu berkuasa,” tandas Risma menyikapi berpindahnya jalur Ahok mempersiapkan diri ke Pilkada dari independen ke partai. Untuk itu, kini Risma mengaku hanya bisa pasrah. “Sekali lagi, saya yakin Ibu (Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri) sosok figur yang bijaksana. Kalau dika- sih rekom, Ibu pasti panggil aku. Kalau enggak ya nggak dipanggil. Ibu pasti akan bicara. Contohnya waktu aku menolak ditawari posi- si menteri, Ibu tertawa koq,” ujar Risma yang juga pene- rima penghargaan wali kota terbaik Mayor of the Month (2014) itu mengambil contoh. Demikian pula terkait sejumlah orang parpol yang menyebutnya sebagai sosok yang sedang tertekan terka- it Pilgub DKI Jakarta, ia secara tegas membantahnya. “Aku sama sekali gak ter- tekan, apalagi galau. Deloken tah (lihatlah), teko wajahku ae nggak galau, nggak ter- tekan. Aku nggak pernah galau,” ujar Risma meya- kinkan kemudian tertawa lepas. Namun demikian, ia mengaku sangat memahami keinginan warga Jakarta, juga serupa dengan apa yang j ad i ke i ng i nan wa rga

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online