SP181020

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 20-21 Oktober 2018

Tebar Pemahaman Agama yang Moderat

Pemimpin Umum: Sinyo H Sarundajang Wakil Pemimpin Umum: Randolph Latumahina

SP

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Primus Dorimulu

Editor at Large: John Riady

Memihak Kebenaran

[JAKARTA] Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang dirilis pekan ini menunjukkan sekitar 63,07% guru intoleran dan 14,28% guru tergolong radikal. Hasil penelitian tersebut memberi lampukuningbagi dunia pendidikan nasional.Apabila benih-benih into- leransi dan radikalisme terus ditebar di sekolah, dikhawatirkan persatuan dan kesatuan bangsa akan terkoyak, serta memporakporandakan segala tatanan yang ada. Pemerintah dan seluruh kom- ponen bangsa harus memberi per- hatian serius atas hasil penelitian tersebut. Kementerian Pendidikan danKebudayaan (Kemdikbud) serta KementerianAgama (Kemag) juga harus mengkaji kembali kurikulum pendidikan di sekolah danmadrasah untuk menumbuhkembangkan sikap dan perilaku toleran, serta menebarkan pemahaman agama yang moderat. Lembaga Pendidik­ an Tenaga Kependidikan (LPTK) juga perlu melakukan introspeksi terhadap kualitas guru-guru yang dihasilkannya. Demikianrangkumanpandangan Menteri Pendididikan dan Kebu- dayaan Muhadjir Effendy, Dirjen PendidikanAgama Islam (Pendis) KementerianAgama, Kamaruddin Amin, Ketua Komisi X DPR, dan SutanAdil Hendra yang dihubungi secara terpisah, Jumat (19/10) dan Sabtu (20/10), untuk menanggapi hasil penelitian PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Muhadjir Effendy menyatakan pihaknya sangat menghargai hasil survei tersebut dan yang lebih dibu­ tuhkan adalah solusi dan tindakan konkret.KemdikbudbersamaKemag sedangmengevaluasi kurikulumpen- didikan agama di sekolah. Evaluasi tersebut akan melibatkan berbagai elemen, termasuk guru agama.   Pihaknya akanmendorong guru agama di sekolah lebih berperan untuk mengikis intoleransi dan radikalisme. Guru agama tidak hanya mengajar pelajaran agama kepada siswa, tetapi juga memberi pencerahan dan penyadaran ten- tang sikap dan perilaku beragama yang benar kepada siswa serta  para guru nonmata pelajaran agama. Kaji Kurikulum Selain itu, pemerintah juga akan mengkaji kembali kurikulum dan pola pendidikan untuk LPTKuntuk guru agama di IAIN dan UIN yang diterapkan selama ini. “Tentu kita juga tidak berharap justru bibit- bibit sikap dan perilaku negatif dalam beragama itu bersumber dari para guru agama. Mungkin ada baiknyadikaji apakahkurikulumdan pola pendidikan calon- calon guru agama di IAIN dan UIN yang diterapkan selama ini ada yang salah. Kalau ada kolamyang keruh, tidak selalu karena kolamnya, tetapi bisa jadi berasal dari sumber mata airnya,” kata Muhadjir.

Tajuk Rencana

Ancaman Guru Intoleran G uru itu seharusnya digugu dan ditiru. Gurumenjadi contoh dan panutan bagi para siswa. Guru tidak hanya mengajarkan siswa kemampuan akademis, tetapi juga perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku guru yang baik akan menjadi contoh para siswa dalam bersikap dan berperilaku. Guru juga harus bisa menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada para siswa. Sikap gotong royong, cinta Tanah Air, dan cinta terhadap sesama tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan patut ditanamkan guru kepada siswa-siswa tanpa kenal lelah. Untuk itu, kita patut menyayangkan ketika ditemukan ada guru yang justru tidak menunjukkan sikap toleran terhadap warga negara yang berbeda suku, aga­ ma, ras, atau golongan. Guru seperti itu akan menularkan pemahaman mereka yang salah kepada para murid. Padahal, murid-murid itu adalah calon pemimpin bangsa Indonesia yang besar, yang rakyatnya heterogen. Kita tentu berharap tidak ada guru di Bumi Pertiwi ini yangmemiliki sikap seperti itu. Namun, faktanya, saat ini cukup banyak guru yang justru memiliki sikap intol- eran. Banyak guru yang justru menjadi faktor penyebar bibit intoleran di negeri itu. Hal itu terlihat dari survei yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Ma- syarakat (PPIM) Universitas IslamNegeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam survei yang dirilis Rabu (16/10) itu diperoleh fakta bahwa guru sekolah/madrasah mulai jenjang TK hingga SMA, memiliki sikap intoleran dan radikal yang tinggi. Survei digelar pada 6 Agustus hingga 6 September 2018 terhadap 2.237 guru di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Sampel dipilih secara acak sesuai proporsi jumlah guru di setiap daerah. Hasil survei itu menunjukkan 63,07% guru memiliki sikap intoleran pada pemeluk agama lain. Lalu, sebanyak 56% guru tidak setuju warga nonmuslim bolehmendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka. Kemudian, 21%guru tidak setuju jika tetangga yang berbeda agama mengadakan acara keagamaan. Tidak hanya soal sikap, jika ada kesempatan, para guru itu juga inginmenyatakan pandangan mereka yang intoleran itu dalam sebuah aksi. Bila ada kesempatan, sebanyak 29%guru inginmenandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama. Kemudian, sebanyak 34% guru ingin menolak sekolah berbasis agama selain Islam di sekitar tempat tinggal mereka. Hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah juga menggambarkana tingginya sikap radikal di antara para guru. Sebanyak 33% guru akan menganjurkan orang lain agar ikut berperangmewujudkan negara Islammenurut versi mereka. Semen- tara, sebanyak 29%guru setuju untuk ikut berjihad di Filipina Selatan, Suriah, atau Irak, demi memperjuangkan berdirinya negara Islammenurut pandanganmereka. Yang lebih mengejutkan, sebanyak 27,59% guru ingin menganjurkan orang lain agar ikut berperang dalam mewujudkan negara Islam bila ada kesempatan. Bahkan, ada 13,30% guru ingin menyerang polisi yang menangkap orang-orang yang sedang berjuang mendirikan negara lain sesuai keinginan mereka. Sebagai orang yang berada di garis terdepan dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia, sikap intoleran guru itu sangat mengkhawatirkan. Sangat besar peluang sikap guru intoleran itu dicontoh oleh para anak didik mereka. Bisa jadi, survei PPIM terhadap sejumlah siswa dan mahasiswa, yang digelar pada November 2017 memiliki keterkaitan yang erat dengan hasil survei terbaru mereka tentang sikap intoleran guru itu. Pada survei PPIM sebelumnya itu, sebanyak 43,88% siswa dan mahasiswa dikategorikan intoleran. Sementara, ada 6,56% pelajar dan mahasiswa masuk dalam kategori radikal. Survei itu juga memperlihatkan ada 34,3% siswa dan mahasiswa memiliki pandangan intoleran internal. Artinya, mereka bersikap intoleran terhadap orang lain yangmemiliki agama yang sama. Kemudian, ada 51,1%siswa danmahasiswa yang bersikap intoleran eksternal atau terhadap orang yang beragama berbeda. Menurut hasil survei itu, intoleransi di kalangan pelajar dan mahasiswa itu disebabkan tiga hal, yakni pendidikan, sumber pengetahuan agama yang hanya dari internet, dan persepsi tentang kinerja pemerintah. Di sekolah, pendidikan agama justru memengaruhi siswa dan mahasiswa untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Hal itu diperparah dengan pengetahuan agama yang hanya didapat dari internet, yang membuat para pelajar dan mahasiswa cenderung bersikap radikal. Kondisi guru, pelajar, dan mahasiswa, yang bersikap intoleran dan cender- ung radikal itu patut menjadi perhatian seluruh elemen bangsa. Sikap seperti itu menjadi ancaman yang serius bagi bangsa Indonesia. Persatuan dan kesatuan bangsa bisa terkoyak jika kondisi seperti ini dibiarkan tanpa ada aksi sama sekali. Guru memiliki peran yang sangat strategis dalammembentuk generasi muda yang memiliki nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Mereka seharusnya menciptakan pemimpin bangsa yang memiliki pemahaman dan kesadaran bahwa Indonesia adalah negara dengan beragam suku, agama, ras, dan golongan. Indonesia bukan milik satu kelompok saja. Kita tentu berharap agar sikap intoleran di antara para guru ini menjadi per- hatian serius pemerintah. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama, pemerintah harus bisa mengawasi dengan baik para guru. Seleksi guru harus dilakukan secara ketat, tidak hanya kemampuan akademis mereka, tetapi juga yang paling penting adalah pemahaman mereka terhadap nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Pemerintah patut pula melakukan pengawasan yang serius dan secara ber- kala terhadap sekolah-sekolah dan para guru. Setiap sekolah harus diwajibkan untuk melaksanakan upacara bendera dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Ini terkesan sepele, tetapi kita yakin akan mampu menciptakan siswa dan guru yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan rasa kebangsaan. Proses seleksi guru juga harus diperketat. Pemerintah bisamemasukkan nilai- nilai universal, seperti hak asasi manusia, agama, demokrasi, dan kemajemukan bangsa Indonesia ke dalam akreditasi sekolah dan penilaian guru. Peran masyarakat, khususnya orangtua juga tak kalah penting. Para orangtua harus ikut mengawasi pola pendidikan anak-anak mereka selama berada di sekolah. Orangtua dan masyarakat lainnya wajib melaporkan kepada institusi terkait bila ditemukan ada guru yang mengajarkan anak-anak didik mereka sikap intoleran.

Sedangkan Kamaruddin Amin mengatakan pihaknya terus me- lakukan peningkatan kapasitas metodologi pembelajaran dengan berbasis Islam yang  rahmatan lil alamin kepada guru dan dosen. Pasalnya, guru adalah  instrumen yangmengeksekusi pahammoderasi agama. Oleh karena itu, di samping memperbaiki metode pembelajaran danpenguatan agama yangmoderat, peningkatan kapasitas guru dan dosen juga menjadi hal mutlak.   “ K i t a j a l a n k a n s e s u a i dengan  visi dan misi. Ini terlihat dalamhampir semua pidatomenteri agama yang selalu menekankan pada moderasi beragama. Setiap pelatihan guru selalu diajarkan tentang  moderasi beragama dan kurikulumpendidikannya terus-men- erus di- review agar  terus berorentasi pada moderasi,” katanya. Pelatihan Guru Sekolah-sekolah di bawah naungan Kemagmemiliki program bimbingan teknis  pengarusutamaan agama yang moderat yang menya­ sar guru-guru.  “Tahun  ini sekitar 17.000 guru yang kita bimbing salama kurung lebih  seminggu tentang  penguatan moderasi agama,” jelasnya. Ada juga pelatihan kepada guru tentang pemahaman keagamaan kepada siswa yangdiperkuat dengan wawasan kebangsaan kepada  anak madrasah. Lewat pemahaman ke- bangsaan, guru-guru juga melakukan kontra narasi terhadap terorisme. Kemag telah menginstruksikan kepada seluruh dosen dan pejabat di perguruan tinggi untuk melakukan kontra narasi terhadap terorisme dan ekstremisme.  Pihaknya juga menginstruksikan perguruan tinggi membentuk pusat kajian Islam moderat untuk mengarusutama- kan pemikiran Islam moderat. Lebih jauh, Kamaruddinmenye­ butkan guru dan dosen pendidikan agama Islam juga dilibatkan  untuk menyebarluaskan pemahaman keagamaan yang moderat di luar kampus sebagai bagian dari peng- abdian masyarakat.

Menanggapi hasil  penelitian PPIMUIN Jakarta ini, Kamaruddin menyatakan pihaknya akan meng­ undang lembaga tersebut untuk memaparkan hasil penelitiannya. Kemag akan mengkaji ini meto- dologi  survei tersebut. Secara terpisah, Sutan Adil Hendramengatakan intoleransi bisa tumbuh subur karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai multikultural dalam kehidupan bermasyarakat. “Jika terus tumbuh subur, sikap intoleran ini sangat mengkha- watirkan di masa depan dan dapat menumbuhkan sikap radikal pada siswa. Karena guru punya posisi yang strategis dan punya peran penting dalam pembentukan nilai- nilai, pandangan, serta pemikiran siswa. Sikap intoleran ini dapat menjadi ancaman bagi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia,” kata anggota Fraksi Partai Gerindra ini. Menurutnya, hasil penelitian tersebut tidak berkaitan dengan dinamika politik untuk merebut kekuasaan. Menurutnya, peneli- tian yang mengambil sampel di beberapa kota besar di Indonesia itu mengungkapkan benih intoleransi muncul karena berbagai faktor, seperti tingkat pemahaman akan nilai kebangsaan yang sempit di sekolah dan penanaman nilai ag- ama yang eksklusif, sehingga tidak terkait langsung dengan dinamika politik saat ini. Dia mengharapkan langkah konkret dariKemdikbuddanKemag untukmenekan intoleransi di sekolah danmadrasah. Caranya, pemerintah memperhatikan remunerasi para guru khususnya di sekolah swasta dan guru honorer. Pemerintah juga harus menindak tegas guru-guru yang terbukti intoleran dan radikal. “Perkuat materi-materi ideologi Pancasila gunamenguatkankembali semangat kebinekaan. Pendidikan agama juga harus memperkuat pentingnya nilai toleransi dan perda- maian dalamkehidupan. Kita harus memberikan ruang bagi setiap orang yang berbeda keyakinan,” ujarnya. [FAT/A-16]

Made with FlippingBook Learn more on our blog