SP180323

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 23 Maret 2018

Parpol Cari Dukungan Ormas?

M eski pemilihan namun tarikan dukungan sudah terasa kencang. Partai politik (parpol) pun berlomba-lomba mencari kereta yang bisa diajak untuk meraih dukungan pada pilpres mendatang, termasuk dari organisasi kemasyara- katan (ormas). “Ibaratnya, masinisnya (pimpinan ormas) diamankan dulu,” presiden (pilpres) masih tahun depan,

kata sumber SP di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (23/3) dini hari. Sumber itu mengungk- apkan, jika masinisnya sudah “diaman- kan” tentunya mengikuti lokomo- tif yang bergerak. Dikatakan, dukungan partainya terhadap tokoh tertentu sebagai capres perlu dukungan banyak gerbong dukungan dari ormas itu akan

pihak, termasuk dari ormas. “Dukungan partai saja tidak cukup, perlu kereta lain, salah satunya ormas. Ada ormas besar yang Dikatakan, pim- pinan ormas itu akan segera bertemu dengan capres yang akan maju nanti. Pertemuan itu akan membahas strate- gi-strategi pemenangan. Se- lain itu, pertemuan itu juga sudah ‘kami pe- gang’,” ujarnya.

akan membahas sosok calon wakil presiden (cawapres) yang tepat sebagai pendamp- ing capres itu. Sumber itu juga mengata- kan, pihaknya berharap agar pimpinan partai-partai politik untuk bekerja keras bersama ormas terkait untuk memen- angkan pasangan calon yang diusung. “Jadi, jangan ber- jalan sendiri-sendiri. Semua harus bergerak bersama,” tuturnya. [W-12]

Mencegah Negara Gagal Genjot Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%

[JAKARTA] Untuk melaju menjadi negara maju atau keluar dari posisi negara middle income trap maka In- donesia harusmenggenjot per- tumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7%. Berbagai inovasi juga sangat dibutuhkan untuk mendongkrak pertumbuhan tersebut antara lain mengan- tisipasi bonus demografi di era teknologi yang akan lebih banyak menggunakan mesin atau robot. Pernyataan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengutip sebuah novel bahwa Indonesia tidak ada lagi pada 2030 perlu direspons dengan cerdas. Pernyataan itu sebuah peringatanagar seluruhelemen bangsa waspada dan para penyelenggara negara bekerja denganpenuh tanggung jawab. Meski kita sebagai bangsa harus optimistis seperti seruan Presiden Jokowi, langkah strategis dan konkret untuk mencegah Indonesia terjungkal ke jurang negara gagal harus segera dilakukan. Demikian benang merah pendapat sejumlah ekonom terkait dengan masa depan Indonesia pada 2030. “Prasyarat menjadi negara maju tidakmudah. Pertumbu- han ekonomi yang stagnan selalu di posisi 5% tidak akan dapat mengangkat Indonesia ke level negara maju,” kata ekonom Institute for Devel- opment of Econo- mics and Finance (Indef)EkoListiyanto, Kamis (22/3). Prabowo dalam bukunya Paradoks Indonesia men- yebutkan, untnuk keluar dari kondisi middle income trap , pertumbuhan harus di atas dua digit atau di atas 10% secara berkelanjutan. “Jika ekonomi tidak dapat diakselerasi, sepertinya 2035 pun belum tentu danmungkin pada saat itu standar negara maju sudah berubah, bisa saja pendapatan per kapita US$ 12.476 belum tergolong negaramaju. Intinya harus ada akselerasi ekonomi ke arah pertumbuhan di atas 7%,”

kata Eko.

ekspansi secara global. Hal kritis lainnya yang dinilai perlu dibenahi adalah minimnya belanja litbang atau riset yang hanya sebesar 0,2% terhadap PDB selama dua tahun terakhir. Negara lain di ASEANseperti Singapura dan Thailand sudah di atas 2,5%. Insentif untukmendorong inovasi bisa berupa pemoton- gan pajak pada perusahaan yang inovatif baikmelalui tax allowance , tax deduction on reserch expenditure , dan tax holiday . Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan skema insentif non-fiskal termasuk mempermudah prosedur dan biaya pendaftaran paten. “Prosedur paten perlu dipermudah dan dipercepat. Jika proses pengajuan paten masih lama dan mahal maka perusahaan di sektor hi-tech akan berpikir sekian kali se- belum investasi di Indonesia,” katanya. Untuk itu, pemerintah perlu memacu industri atau industrialisasi danmeningkat- kan kualitas dan keterampilan SDM. Ekonom UGM Tony Prasetiantono optimistis Indonesia bisa keluar dari middle income trap sejauh pembangunan sumber daya manusia dan infrastruktur berjalan baik. Keduanya selain akanmenyebabkan pertumbu- han ekonomi tinggi, 7% atau lebih, juga akanmeningkatkan kualitas hidup yang tercermin dari Human Development Index (HDI) yang membaik. “Indonesia akanmencapainya pada 2030, kalaupun sedikit molor pada 2035 seperti yang diprediksikanMenteri Keuan- gan Sri Mulyani,” ujarnya, Jumat (23/3). Yang jelas, sambungnya, Indonesia sudahberada di jalur yang benar dengan pemban- gunan infrastruktur dan nanti juga harus dibarengi dengan “ngebut” dalammembangun human capital . “Di Asia Tenggara, kita masih tercecer oleh Singapura danMalaysia, bahkan juga Vietnam yang

rajin menggelontorkan ang- garan untuk human capital ,” jelasnya. Tony menambahkan, dengan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur yang baik, hal inimendukungproses terjadinya industrialisasi. Ekonom Bank Mandiri Andri Asmoro mengatakan, yang terpenting bagi Indonesia saat ini adalah tumbuh den- gan stabil dan berkelanjutan, sehingga bisa terbebas dari status negara berpenghasilan menengah. Untuk menjadi negara maju, suatu negara harus punya kapasitas te- knologi dan modal. “Saat ini Indonesia masih jauh dari itu,” katanya. Andri punmenilai, dengan tingkat pertumbuhan saat ini mungkin masih lama untuk menjadi negara maju. “Mun- gkin di atas 2030. Syaratnya adalah mendorong reformasi struktural terutama di industri manufaktur sehingga per- tumbuhan ekonomi semakin meningkat dan berkesinam- bungan,” ujarnya. Optimisme diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dari Universitas Riau, Isyandi. “Indonesia sebenarnya susah menjadi negara gagal. Pasalnya, In- donesia sudah mempunyai rencana pembangunan yang tertata, periodik dan berke- sinambungan,” katanya. Tak hanya perencanaan pembangunan, Indonesia juga sudah memiliki sarana- prasarana serta pranata-pranata yang stabil untukmenjalankan rencana pembangunan terse- but. Sehingga, apa yang direncanakan, benar-benar dilaksanakan meskipun im- plementasinya tidak sampai 100%. “Yang terpenting sekarang adalah komitmen dari ekseku- tif dan legislatif untuk melak- sanakan rencanapembangunan tersebut agar benar-benar terwujud dan tepat sasaran,” tandas dia. [YUS/O-2]

Eko menilai berat untuk menjadi negara maju pada 2035 karena industri dasar Indonesiabelumdibangun, dan ketergantungan impor masih tinggi. “Juga, apabila sektor industri dan pertanian masih tumbuhdi bawahpertumbuhan ekonomi maka masih susah mencapainyapada2030meng- ingat sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian dan industri,” katanya. Riset Ekonom Indef lainnya BerlyMartawardaya menilai, inovasi menjadi hal yang penting untukmendorong per- tumbuhan ekonomi sehingga mampu lepas dari jebakan kelas menengah. Hal itu su- dah dibuktikan oleh beberapa negara seperti Korea Selatan dan Taiwan. “Ada regulasi yang belum sepenuhnya mendukung (inovasi), level pendidikan yang masih rendah, serta anggaran riset yang relatif kecil,” ujarnya. Ia menyoroti faktor regu- lasi terutama lemahnya aturan terkait paten. Saat ini, ranking Indonesia dalam jumlah paten terdaftar berada diurutan ke 103 dari 127 negara. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kon- tribusi yang minim terhadap inovasi di dunia. Padahal berdasarkan penelitian Indef, setiap 1% kenaikan jumlah paten yang terdaftar berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,06%. Artinya, bila jumlah paten bisa naik 10%maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi 0,6%.Angka ini dinilai cukup besar sebab pertumbu- han ekonomi Indonesia ada di angka 5,01%. Selain itu, adanya aturan yang mewajibkan pemegang paten melakukan produksi di dalam negeri juga dinilai kurang kondusif sebab ber- potensi membatasi pemegang paten lokal untuk melakukan

> 4 Terkait halaman

Made with FlippingBook Learn more on our blog