SP180828

Suara Pembaruan

Utama

2

Selasa, 28 Agustus 2018

Politik Dua Kaki Partai Golkar?

S eluruh partai politik peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah menyatakan dukungan kepada pasangan calon presi- den (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Dengan demikian, terbentuk dua kubu dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, yakni kubu petahana Joko Widodo (Jo- kowi-KH Ma’ruf Amin dan kubu Prabowo Subianto-San- diaga S Uno. Menurut informasi,

belakangan ini ada partai politik pendukung petahana yang mulai terbelah, yakni Partai Golkar. Sikap Golkar yang terbelah itu karena

Selasa (28/8).

bersama penguasa. Golkar itu tidak bisa menjadi oposisi, seperti Partai Gerindra atau PDI-P. Untuk itu, politik dua kaki memang menjadi cara yang tepat,” ujar sumber itu. Atas dasar itulah, kata dia, sah-sah saja bila ada kader Partai Golkar yang ingin mendukung Prabowo-San- diaga. Dengan begitu, bila Prabowo yang menang pada pilpres nanti, Golkar tetap bisa masuk menjadi anggota koalisi pemerintahan. [H-14]

Dikatakan, perpecahan di internal Partai Golkar sengaja diungkap ke publik agar tidak terlalu tampak di masyarakat bahwa par- tai itu sedang memain- kan politik “dua kaki” pada Pilpres 2019. Gaya berpolitik seperti itu sengaja dilakukan agar siapa pun pe- menang pilpres nanti, Golkar akan selalu ikut pemerintah- annya. “Sudah menjadi tradi- si Partai Golkar untuk selalu

ada kepenting- an mereka yang dikabarkan belum terakomodasi oleh

Jokowi. “Bukan rahasia lagi bahwa di internal Golkar se- dang bergolak. Ada salah satu senior Partai Golkar yang sudah mengungkap hal itu,” ujar sumber SP di Jakarta,

Asian Games 2018 Sukses Prestasi dan Penyelenggaraan

[JAKARTA] Sukses perolehan medali emas yang melebihi target diikuti oleh sukses penyelengga- raan. Setelah pembukaan yang begitu spektakuler, setidaknya sampai pada hari ke-10, tidak ada gangguan berarti terkait dengan penyelenggaraan pesta olahraga antarnegara Asia ini. Salah satu sukses penyeleng- garaan adalah antusiasme warga menyaksikan pertandingan cabang -cabang olahraga populer. Demam Asian Games pun sudah menjalar ke segenap warga Jabodetabek dan Palembang. Luciana Taroreh, mantan atlet voli, mengatakan antusias warga Jakarta untuk hadir di Gelora Bung Karno sangat tinggi. “ Opening ceremony bagus sekali, megah. Itu membuat masyarakat jadi antusias (ingin menonton). Pesan kepada warga sampai, sehingga warga berbondong-bondong ke Asian Games. Kita juga disorot dunia, ka- rena menurut saya ini tidak sekadar Asia saja, tetapi juga dunia,” kata Luci pernah membela Merah Putih di Asian Games 1986 di Korea ini. Sayangnya, ujar Luci, masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan tiket pertandingan. “Saya banyak ditanyai kerabat, tetangga, teman, kenapa susah sekali mencari tiket. Ini mungkin yang kurang dari penyelenggaraan kali ini. Padahal warga ingin sekali merasakan at- mosfer Asian Games,” kata Luci. Diamenceritakan, saatAsianGames 1986 di Korea, dia melihat warga juga sangat antusias. “Anak-anak se- kolah dikerahkan untuk melihat dan memeriahkan. Mungkin tujuannya agar mereka punya idola, dan juga diharapkan menjadi atlet. Penon- ton di sana sangat tertib. Saat itu, Korea juga tengah mempersiapkan Olimpiade 1988 di Seoul,” katanya. Sedangkan menurut peraih me- dali perunggu taekwondo Asian Games, Juana Wanga Putri, warga begitu antusias ingin menyaksikan berbagai pertandingan di GBK. Ia salut melihat warga begitu ingin mendukung atlet Indonesia berlaga. Sebagai mantan seorang atlet, dia sangat ingin didukung penonton. Olahraga, katanya, mampu me- nyatukan bangsa. Orang tidak melihat latar belakang jika sudah

kan prestasi. Jangan sampai setelah Asian Games, prestasi olahraga kembali ke nilai yang sebelumnya. Maka itu, harus ada upaya berke- lanjutan dan sistematis. “Prestasi ini tentu saja menjadi modal untuk menghadapi SEA Games 2019 dan Olimpiade 2020 mendatang. Syaratnya, pembinaan berkelanjutan. Anggaran olahraga jangan lagi diturunkan,” kata Hetifah. Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Gerindra, Nizar Zahro, me- ngatakan semua prestasi di Asian Games hendaknya tidak membuat Indonesia berpuas diri. Bahkan perlu untuk ditingkatkan lagi. Pembinaan olah raga harus fokus pada semua cabang olah raga dan pembinaan berjenjang dari tingkat daerah dengan pembinaan yang panjang. Apalagi sudah ada UU Olah Raga Nasional yang menga- manatkan bahwa pembinaan olah raga dilakukan berjenjang sampai atlet unggulan masuk pelatnas. “Semoga bisa dilakukan,” imbuhnya. Prestasi Indonesia di Asian Games 2018 tentu saja dibantu oleh keberadaan Indonesia sebagai tuan rumah. Sebagai tuan rumah, Indonesia mengharapkan menjadi yang terbaik dan momentum men- dongkrak semangat serta motivasi atlet untuk lebih berprestasi. “Apalagi dengan menjadi tuan rumah, tentu kita tidak ingin malu di tanah sendiri. Sebaliknya dengan menjadi tuan rumah, tentu juga mempengaruhi mental para atlet. Sebab, di tanah sendiri pasti mereka ingin memberikan yang terbaik,” ulasnya. Sejauh ini, pencak silat me- nyumbang setidaknya 8 medali emas. Kata Nizar, tentu cabang olah raga pencak silat ini perlu mendapatkan apresiasi khusus. Baik kepada atletnya maupun Ketua Harian IPSI Eddy Prabowo dan Prabowo Subianto selaku ketum PB IPSI. Menurut dia, perolehan emas di pencak silat hendaknya menjadi titik balik dari kebangkitan prestasi olahraga Indonesia secara keseluruh- an. Perhatian dan apresiasi kepada para atlet harus lebih ditingkatkan. [MJS/SEV/W-11]

ANTARA/INASGOC/Puspa Perwitasari Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kiri), Menko Polhukam sekaligus Ketua Umum PBSI Wiranto (kedua kanan), Menpora Imam Nahrawi (kanan) bersorak saat menyaksikan final bulutangkis beregu putra Indonesia melawan Tiongkok pada Asian Games XVIII di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (22/8).

berada di dalam lapangan. “Tidak kenal suku, budaya, agama, semua menjadi satu, mendukung Indo- nesia. Ini semoga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia harus bersatu padu, sehingga menjadi negara yang maju dan hebat” kata peraih medali perunggu Asian Games 1998 dan 2002 ini. Sementara itu, tiket final pertanding- anAsian Games 2018 masih diburu oleh masyarakat. Hari ini, beberapa cabang olahragaAsian Games 2018 melangsungkan pertandingan final, seperti bulutangkis dan panahan. “Hari ini saya mau menonton pa- nahan. Saya sudah merencanakan dari jauh-jauh hari,” kata Kartika (24), salah satu warga Jakarta. Selain karena memang dari dulu sangat suka dengan panahan, ia juga ingin memberi semangat kepada atlet Indonesia yang akan bertanding hari ini dalam final. “Saya sudah pesan jauh hari dan sudah dapat satu tiket. Tapi karena adik dan ibu saya ingin juga menonton, maka saya cari lagi. Beruntung bisa dapat di tiket boks,” kata Kartika yang

mengaku mendapatkan tiket sehar- ga masing-masing Rp 200.000. Sedangkan tiket bulutangkis ada- lah tiket yang cukup susah dicari. Tiket sebagian sudah berada di tangan calo. Diduga para calo mengantre lebih awal dan mem- beli banyak tiket pertandingan. “Saya belum dapat tiket, saya juga lagi cari calo. Siapa tahu ada yang jual,” kata Nursi- ta (21), warga Cengkareng. Tiket daring untuk partai final, katanya, sudah habis. Untuk itu, Nursita harus menginap di rumah saudaranya di Kramatjati dan tiba di Senayan pada pukul 08.00WIB. “Saya usaha lebih awal siapa tahu dapat tiket lagi seperti kemarin,” kata Nursita yang pada semifinal beregu mendapatkan tiket seharga Rp 400.000 dari seorang calo. Buah dari Persiapan Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengapresiasi prestasi para atlet Indonesiayang mencatat sejarah baru terkait per- olehan medali emas. Menurut Hetifah, semua prestasi

itu bukan sekadar faktor sebagai tuan rumah melainkan juga karena buah persiapan yang dilakukan sejak lama. “Ini berkat kerja keras, latihan yang tiadahenti, olehatlet, pelatih, ditambah dukungan semua rakyat Indonesiadan pemerintah,” kata Hetifah. Politikus Partai Golkar itu me- ngatakan bahwa dengan pencapaian prestasi ini, maka tanda-tanda kebangkitan olahraga nasional mulai tampak. Walau meski ada beberapa cabang olahraga yang masih harus dibenahi, dirinya yakin atlet-atlet kita akan terus bersinar di perhelatan olahraga yang lain. Baik itu di tingkat regional Asia maupun kejuaraan dunia lainnya. Di tengah keberhasilan saat ini, Hetifah mengingatkan pemerintah untuk memberikan penghargaan yang terbaik bagi para atlet peraih medali. Sebelumnya Pemerintah sudah merencanakan akan mem- beri penghargaan sebesar Rp. 1,5 miliar bagi peraih medali emas. Begitupun hadiah untuk penerima medali lainnya. Hetifah mengingatkan, prestasi ini harus menjadi momen menaik-

Made with FlippingBook Online newsletter