SP190305

Suara Pembaruan Utama Politikus Terjerat Narkoba Lantaran Konflik Kejiwaan Selasa, 5 Maret 2019 3

[JAKARTA] Peredaran narkoba di Tanah Air telah menjerat semua lapisan pro- fesi masyarakat. Tak hanya anak sekolah, mahasiswa, artis, dan pekerja kantoran, kalangan politikus dan pe- nyelenggara negara pun tak luput dari jerat barang haram ini. Tertangkapnya Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief, yang diduga menggunakan narkoba di salah satu hotel di Jakarta, membuat jerat narkoba di kalangan politikus menjadi sorotan publik. Ketua Perhimpunan Dok- ter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eka Viora menyebutkan, faktor penyebab seorang memakai narkoba beragam. Ada yang hanya sekadar rekreasional atau bersenang-senang. Ada pula yang awalnya coba-coba karena penasaran atau dita- warkan teman/lingkungan pergaulannya. Ada juga yang memang menggunakan narkoba karena kebutuhan terapi persoalan emosional yang dihadapinya, seperti stres atau tekanan, sedih dan kurang percaya diri. Penggunaan narkoba di kalangan penyelenggara negara dan politikus, menurut

International Classification of Diseases (ICD), keber- gantungan narkoba dikenal dalam kelompok chronic relaps diseases atau penyakit yang kronis kekambuhan. Artinya, pengobatan penyakit ini tidak bisa sekali, melain- kan jangka panjang. Karena pemicu kekambuhannya bisa dicetuskan beragam kondisi. Seorang pecandu narkoba setelah direhabilitasi dan sembuh, ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat bisa kembali menjadi pengguna apabila menghadapi tekanan serta dia mudah mengakses narkoba. Karena itu tidak cukup ha- nya rehabilitasi, tetapi juga kesehatan mentalnya harus diperkuat terus-menerus. Sama seperti orang sakit, pecandu narkoba pun butuh perhatian. Pecandu narkoba harus punya kemauan dan kesadaran dari dirinya sen- diri untuk sembuh dengan menghindari segala faktor risiko yang menyebabkan kekambuhan. Ketika ada tekanan ataumasalah, mantan pecandu harus memiliki skill individu untuk mengatasi tekanan tersebut, sehingga tidak mendorongnya kembali mengonsumsi narkoba. Na-

mun, sangat dibutuhkan du- kungan keluarga, lingkungan sekitar danmasyarakat. Tidak selayaknya mereka dikucil- kan atau didiskriminasi.  Mereka membutuhkan bantuan dan dukungan untuk lepas dari kecanduan atau ketergantungannya terhadap efek narkoba. Pada tahap awal, coba-coba satu dosis. Tahap selanjutnya satu dosis tidak mempan, sehingga naik ke tiga dosis dan makin lama semakin tinggi dosisnya. Hingga akhirnya pengguna sulit untuk melepaskan diri dari efek zat narkoba yang dipakainya. Begitu dia berusaha berhenti muncul rasa tidak enak dan sakit di sekujur tubuh. Jika zat yang dipakai adalah jenis ekstasi, peng- guna tidak akan mampu untuk berhenti sendiri tanpa bantuan ahli atau profesional. Pada beberapa kasus pecandu tidak sanggup menahan rasa sakit yang menyiksa hingga akhirnya bunuh diri.  “Penerimaan keluarga dan masyarakat itu besar sekali kontribusinya. Kare- na begitu dia merasa tidak nyaman, maka kemungkinan untuk dia pakai lagi bisa terjadi,” kata Eka. [D-13]

Eva, lantaran mereka rentan konflik kejiwaan dan memi- liki tingkat stress yang lebih tinggi. “Kalau penggunannya adalah seorang pejabat atau politisi, bisa jadi karena jabatan atau posisinya itu membuat tingkat stress- nya justru lebih tinggi atau me- reka di bawah tekanan. Ini memicu dia untuk mencari jalan pintas dengan memakai narkoba untuk mengatasi konflik kejiwaannya,” kata Eka kepada SP , Selasa (5/3). Sedangkan, di kalangan artis biasanya karena masa-

lah kurang percaya diri dan penampilan menjadi pendo- rong mereka akhirnya masuk dalam perangkap narkoba. Eka menambahkan, motif pemakaian narkoba juga bergantung pada jenis zat yang dipakai. Sekitar sepu- luh tahun lalu jenis zat yang paling populer dipakai adalah heroin (putau), morfin, dan opium. Sekarang ini orang lebih banyak memakai jenis ATS (ampetamin, ekstasi, katinon, dan sabu-sabu). Ini merupakan zat stimulan yang efeknya menciptakan euforia

atau perasaanmenyenangkan. “Kalau yang dipakai ada- lah jenis stimulan ini, maka ada sesuatu yang ingin dia dapatkan. Mungkin sedang depresi atau tidak percaya diri, sehingga mengonsumsi golongan zat ini untuk me- ningkatkan mood ,” kata Eka. Rehabilitasi Menurut Eka, pecandu narkoba sama seperti orang sakit. Karenanya rehabilitasi adalah pendekatan paling tepat. Dalam penggolongan diagnostik penyakit oleh

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online