ID150203

LIFESTYLE

INTERNATIONAL BUSINESS

MARKETS & CORPORATE

27 >>

3 >>

13 >>

INDONESIA

SELASA 3 FEBRUARI 2015

MEDIA HOLDINGS

MONEY & BANKING

DOK

JAKARTA – Meski menikmati surplus ne­ raca perdagangan pada Desember 2014 sebe- sar US$ 186,8 juta, secara kumulatif Januari-De- sember 2014, neraca perdagangan Indonesia masih defisit sebesar US$ 1,89 miliar. Namun demikian, defisit tersebut membaik dibanding defisit sepanjang 2013 sebesar US$ 4,07 miliar. KepalaBadanPusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, tahun lalu terjadi defisit karena surplus neraca nonmigas tak mampu menutupi defisit migas. Defisit migas tercatat sebesar US$ 13,128 miliar, namun perdagangan nonmigas hanya mencetak surplus US$ 11,241 miliar. “Tapi yang jelas, defisit 2014 membaik dibanding 2013, dari sebesar US$ 4,07 miliar, menyusut jadi US$ 1,89 miliar,” kata Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (2/2). Suryamin menjelaskan, defisit perdagangan tahun 2014 membaik karena dipicu lonjakan surplus nonmigas. Pada 2013, perdagangan nonmigasmeraih surplusUS$ 8,55miliar. Tahun lalu, surplusnonmigasmenjadiUS$11,241miliar. Khusus selama Desember 2014, neraca perdagangan surplus sebesar US$ 186,8 juta, dengan ekspor tercatat US$ 14,62 miliar dan impor US$ 14,43miliar. Surplus nonmigas pada bulan ini tercatat sebesar US$ 1,223 miliar, se- dangkan neraca migas defisit US$ 1,036 miliar. RRT Defisit Terbesar Dari data BPS tercatat bahwa di antara mitra dagang, Indonesia mencatat defisit perdagang­ an terbesar dengan Tiongkok sepanjang 2014, Oleh Margye Waisapy dan Devie Kania JAKARTA – Deflasi Januari 0,24%mengisyaratkan inflasi rendah tahun 2015. Hingga akhir tahun ini tidak ada faktor yang cukup kuat yang mendongkrak kenaikan harga, sehingga tahun ini laju inflasi diperkirakan tidak lebih dari 5%. Ditambah kondisi neraca perdagangan yang membaik, Bank Indonesia diimbau menurunkan BI rate untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi. BI biasa menaikkan suku bunga untuk men- jaga nilai tukar rupiah. Kebijakan itu diambil jika defisit neraca perdagangan membesar dan inflasi naik. Tahun ini tidak hanya inflasi diperkirakan turun, tapi neraca perdagangan juga akan membaik. Pada Januari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,24%, dengan komponen inti mengalami in- flasi sebesar 0,61%, komponen yang harganya diatur pemerintah deflasi 3,51%, dan komponen bergejolak inflasi 0,55%. Penyebab deflasi ada- lah penurunan harga pada kelompok pengelu- aran transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 4,04%. Sedangkan inflasi tahun ke tahun ( year on year ) turun menjadi 6,96%. Demikian rangkuman keterangan Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Per­ sero) Tbk Achmad Baiquini, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, Chief Econo- mist PT Danareksa Damhuri Nasution, Kepala EkonomPT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto, serta pengamat ekonomi Universitas GadjahMada sekaligus Komisaris Independen PT Bank Permata Tbk A Tony Prasetiantono. Mereka memberikan keterang­ an kepada Investor Daily dalam kesempatan yang berbeda di Jakarta. Momen penurunan inflasi dari 8,3% ta- hun lalu menuju 4-5% tahun ini dinilai saat yang tepat untuk memangkas BI rate sebe- sar 25-50 basis poin, dari 7,75% menjadi 7,25- 7,50%. Suku bunga acuan yang lebih rendah akan memacu pertumbuhan ekonomi, se­ hingga menarik lebih banyak investor masuk dan membuat rupiah menguat. “Deflasi Januari 2015 yang mencapai 0,24% kemungkinan akan berdampak ke penurun- an BI rate . BI mungkin menurunkan BI rate sebesar 25-50 basis poin (bps),” kata Ach- mad Baiquini ketika dihubungi Investor Dai- ly di Jakarta, Senin (2/2). Damhuri mengatakan, Bank Indonesia (BI) tidak perlu panik dengan menaikkan suku Oleh Margye JWaisapy dan Leonard Saputra

Investor Daily/DAVID GITA ROZA

n Kartika Wirjoatmodjo

Semester I, Bunga Deposito Diproyeksi Melandai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan suku bunga deposito akan relatif stabil dan cenderung menurun

pada semester I-2015. Dengan demikian, LPS pada periode tersebut kemungkinan tidak menaikkan suku bunga pen- jaminan.

>> 21

Kerja Sama Lindung Nilai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk M Arif Wibowo bertukar naskah kerja sama dengan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Gatot M Suwondo (kanan) dan Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk Arwin Rasyid (kiri) saat penandatanganan kerja sama Lindung Nilai melalui Tran- saksi Cross Currency Swap di Jakarta, Senin (2/2). PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menggandeng beberapa bank untuk lindung nilai melalui transaksi cross currency swap sebesar Rp 1 triliun. Perseroan melakukan transaksi swap atas obligasi rupiah ke mata uang dolar Amerika Serikat (USD). Berita di halaman 21.

Jika CAD berada di bawah 3%, kepercayaan investor asing terhadap perekonomian akan tinggi. Sebenarnya, CAD sendiri merupakan konsekuensi logis Indonesia sebagai negara berkembang yang membangun perekonomi- an bangsa dengan mengandalkan investor asing, baik lewat investasi langsung asing (FDI) maupun pinjaman bilateral,” kata dia kepada Investor Daily . Ia menjelaskan, saat pertumbuhan ekonomi tinggi selama era Orde Baru, Indonesia tidak pernah surplus transaksi berjalan. Justru kalau transaksi berjalan surplus, lanjutnya, menanda- kan perekonomian kita sedang melambat dan hal ini tidak disukai investor. Ryan Kiryanto menilai, deflasi 0,24% pada Januari 2015 yang menyebabkan inflasi se- cara year on year menjadi 6,96% seharusnya bisa membuat suku bunga acuan Bank Indo- nesia ( BI rate ) diturunkan 25 bps, dari posisi saat ini 7,75%. Penurunan BI rate ini harus dilakukan secara berhati-hati dan bertahap, seiring ekspektasi inflasi ke depan yang terus melandai.

INFRASTRUCTURE

163 Pelabuhan Nonkomersial Dibangun Mulai Maret Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan pembangunan 163 pelabuhan

nonkomersial senilai Rp 8 trili- un mulai Maret mendatang. Saat ini, rencana pembangun­ an pelabuhan masih dibahas bersama Komisi V DPR RI.

>> 6

memiliki tren menguat seiring perbaikan defi­ sit transaksi berjalan ( current account deficit / CAD) menjadi sebesar 2,5-3% dari produk do- mestik bruto (PDB) tahun ini. Defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2014 mencapai US$ 6,84 miliar atau sekitar 3,07% dari PDB. “Selama CAD tidak berada di atas 3%, rupiah tidak akan terpuruk ke level terendah seperti pada 2010 (rupiah terdepresiasi hingga 30%).

bunga dalam mengantisipasi kenaikan The Federal Funds Rate (FFR) di Amerika Seri- kat, karena BI rate bukan alat ampuh untuk menjaga nilai tukar rupiah. Jika suku bunga naik, prospek ekonomi melambat sehingga kinerja listed company menurun dan investor pindah ke negara lain yang pertumbuhannya lebih tinggi. Damhuri berpendapat, nilai tukar rupiah

MARKETS & CORPORATE

Bersambung ke hal 11

ABM Cari Dana US$ 105 Juta PT ABM Investama Tbk (ABMM) akan mencari dana eksternal sebesar US$ 105 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun untuk mem- biayai belanja modal ( capital expenditure/ capex ) tahun ini yang mencapai US$ 150

juta atau Rp 1,8 triliun. Pe- rusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Hamami itu mengkaji opsi pinjaman bank dan obligasi.

>> 14

MACRO ECONOMICS

Atasi Masalah Lahan untuk Infrastruktur, Dua Perpres Direvisi Pemerintah segera merevisi dua peratur- an presiden (Perpres) terkait kerja sama

manjuntak kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (2/2). Sementara itu, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindus- trian (Kemenperin) Euis Saedah dan Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan (Ke- mendag) Widodo menyatakan, pemerintah hingga kini belum berniat mengamende- men UU Jaminan Produk Halal. Alasannya, UU ini bertujuan menjaga kualitas produk yang beredar sekaligus menjaga kesehatan masyarakat. UU ini juga dapat menjegal serbuan produk tidak halal dari berbagai negara, terutama saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada akhir 2015. Sebagai kompensasi, menurut Euis Saedah dan Widodo, pemerintah akan memberikan bantuan kepada pengusaha kecil untuk mendapatkan sertifikat halal. Salah satu bentuknya adalah kemudahan proses mendapatkan sertifikat. Hal itu su- dah dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Oleh Rahajeng KH dan Harso Kurniawan

JAKARTA - Pemerintah harus merevisi Undang-Undang (UU) No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Selainmem- beratkan dunia usaha dan sulit diterapkan, UU tersebut berpotensi mengganggu iklim investasi di Tanah Air. Padahal, pemerintah sedang berupaya menggenjot investasi. Melalui sejumlah perbaikan seperti kemu- dahan perizinan, pemerintah menargetkan investasi Rp 933 triliun pada 2019 dibanding 2014 senilai Rp 463 triliun. Salah satu poin yang perlu direvisi adalah kewajiban sertifikasi halal pada produk farmasi. Selama ini, obat dan vaksin meng- gunakan bahan baku kimia dari berbagai negara. Kondisi ini akan menyulitkan lembaga penerbit sertifikat halal dalam melakukan verifikasi. “Kami mendukung semangat UU Halal yang ingin melindungi konsumen. Namun aturan ini sulit diterapkan. Jika pemerintah berkeras menerapkannya, pebisnis farmasi tak berani lagi memproduksi obat karena takut terkena sanksi. Imbasnya, pasokan obat ke masyarakat terganggu,” kata Direk- tur Eksekutif International Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG) Parulian Si-

pemerintah dan swasta (KPS) dalam penyediaan infrastruk- tur untuk kepentingan umum dan pengadaan lahan.

>> 20

dengan nilai yang cukup fantastis, yakni US$ 14 miliar. Menurut Suryamin, khusus Desember 2014 saja, defisit dengan RRTmencapai sekitar US$ 1,59 miliar. Defisit perdagangan yang cukup besar juga terjadi dengan mitra dagang Jepang, senilai US$ 2,372 miliar pada tahun lalu, meski selama Desember 2014 Indonesia mencatat surplus US$ 40,9 juta dengan Negeri Sakura itu. Defisit juga dialami Indonesia dengan Korea Selatan pada tahun lalu, yang mencapai US$ 2 miliar dan dengan Australia sekitar US$ 1,7 miliar.

Kinerja ekspor impor Kemendag Kementerian perindustrian gaet investor baru Opsi harga BBM

Bersambung ke hal 2

Bersambung ke hal 11

>> INVESTOR DAILY EDISI 2014 NO. 3960

>> TELP REDAKSI: (021) 29957500, IKLAN: (021) 29957500, SIRKULASI: (021) 8280000, LAYANAN PELANGGAN: (021) 2995 7555, FAX. (021) 5200 812

>> HARGA ECERAN RP 6.500 (BERLANGGANAN RP 120.000 /BULAN)

WWW.INVESTORINDONESIA.COM

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker