ID150216

SENIN 16 FEBRUARI 2015

28

SUDIANTO OEI CHIEF EXECUTIVE OFFICER (CEO) PT HIPERNET INDODATA (HYPERNET)

K eranjingan game dan jeli me- lihat peluang. Dua modal itu sudah cukup bagi Sudianto Oei untuk menjadi pebisnis yang diperhitungkan di bidang jasa provider inter- net. PT Hipernet Indoda- ta (Hypernet), perusahan yang didirikan dan dinakhodainya, sudah ekspansi ke berbagai kota di Tanah Air. Benar, Sudianto Oei mengawali semuan- ya dari iseng. Agar bisa bermain game gratis setiap hari, ia membuka usaha warung internet alias warnet. Menganggap peluang bisnis di bidang jasa provider lebih menjan- jikan, ia kemudian banting stir. Kini, pelanggan Hypernet sekitar 1.500 perusahaan. Target Hypernet ke depan adalah menjadi perusahaan terbesar yang menyediakan konsep one stop solution bidang teknologi informasi (TI) di Indo- nesia. Lalu, apa obsesi Oei? Mengapa ia harus mengejar mimpi yang lebih tinggi? Men- gapa pula ia menganggap hidup ini seperti film? Bagaimana ia menjalankan perannya sebagai pemimpin? Berikut penuturan lengkap eksekutif muda kelahiran Jakarta, 5 November 1983, itu kepada wartawati Investor Daily Happy Amanda Amalia di Jakarta, baru-baru ini. Awalnya berangkat dari hobi saya ber- main komputer, kemudian beralih main game . Saat itu kan bermunculan game - game baru. Saya request ke orangtua, boleh nggak saya bikin warnet? Pascakrisis moneter (krismon) tahun 1998-an, warnet men- jamur. Saya melihatnya sebagai peluang, padahal saya belum punya sense of business . Sebenarnya tujuan awalnya supaya bisa bermain game gratis setiap hari. Ha, ha, ha... Orangtua saya memberikan kepercayaan. Saya mengawali usaha warnet dengan delapan unit komputer. Kenapa banting stir ke jasa provider ? Seperti para pemilik warnet yang lain, saya sering menghadapi masalah koneksi atau jaringan internet. Kami juga harus membayar per pulsa per menit, sedangkan pemakaian warnet dihitung per jam. Jadi, kalau yang datang hanya satu atau dua orang tidak bisa menutup biaya pulsa. Dari informasi di forum-forum, saya me- Benarkah Anda memulai semuanya dari bisnis warnet?

nemukan provider yang bisa menyediakan pembayaran unlimited tanpa menggunakan pulsa. Saya coba pasang. Tapi 3-5 bulan tidak memuaskan. Saya mendapat support dari teman-teman di komunitas warnet supaya membuat provider . Akhirnya saya coba dan meng- upgrade bisnis warnet ke jasa provider internet. Waktu itu saya masih kuliah di Bina Nusantara (Binus). Bagaimana perkembangan awalnya? Untuk start awal, saya bekerja sama dengan provider yang sudah existing . Kami menjadi partner dan menjualnya ke daer- ah-daerah. Saya memulainya dari Bogor dan Cibinong. Sebagai pemain kecil, masih baru, tidak mungkin saya langsung main di kota besar. Tapi ternyata tidak berjalan sesuai harapan, karena dari sisi permintaan tidak banyak dan ada kendala perizinan. Market -nya belum siap, terutama di daerah pinggiran. Mereka masih menganggap in- ternet merupakan barangmewah. Akhirnya bisnis tersebut saya tutup. Saya pun vakum dari bisnis selama 1,5 tahun. Apa yang terjadi selama vakum? Saya tetap melanjutkan kuliah di Binus. S aya ikut komunitas assistant lab untuk mengurus jaringan. Di Binus, lagi-lagi saya melihat peluang. Di sekitar kampus Binus ada ribuan mahasiswa yang kost karena ke- banyakan dari luar Jakarta . Mereka selalu kesulitan setiap kali harus mengerjakan tugas kuliah secara online. Binus saat itu sedang mencanangkan kuliah online. Mahasiswa tidak perlu datang ke kampus, cukup submit tugas dengan deadline yang sudah ditentukan. Saat menjelang deadline pengumpulan tugas, warnet-warnet di sekitar kampus dipenuhi mahasiswa yang antre untuk mengirimkan tugas. Saya berpikir, kenapa nggak saya bikin saja jaringan ke kamar-ka- mar kost -nya, sehingga mereka bisa online kapan pun dan mereka bisa bayar per bu- lan? Ide itu ternyata didukung tim network Binus. Mereka men- support dan meminta saya membuat entity atau unit bisnis kecil. Izinnya pun mengatasnamakan Binus. Bagaimana hasilnya? Tidak terlalu sulit dijalankan. Apalagi mendapat dukungan penuh dari universitas. Selama setahun, hasilnya berjalan baik dan saat itu terdapat hampir 2.000 mahasiswa dalam jaringan Binus. Setelah para ma- hasiswa Binus lulus, meraih gelar TI dan

Dok Pribadi

sudah bekerja, mereka mengatakan ingin membuat jaringan serupa di tempat mereka bekerja. Tentu saja saya bilang bisa. Dari situlah bisnis jaringan ini berkem- bang lagi. Tapi saya harus melihat arah perkembangannya. Kalau menuju komer- sial harus punya badan usaha, yaitu per- seroan terbatas (PT). Saya mendapat izin pada 2007. Sebenarnya sejak 2006 bisnisnya sudah berjalan. Butuh waktu setahun untuk mendapat izin. Ini permasalahan di Indonesia. Mengeluarkan izin lama, pada- hal prosesnya simple . Begitu izin keluar, barulah saya berani mengumumkan bahwa perusahaan ini bergerak di bidang provider internet. Sejak itu pertumbuhan kami lebih cepat karena almamater membantu kami melakukan marketing . Kenapa memilih nama Hypernet? Hypernet sudah dipakai untuk warnet saya. Hyper itu bermakna sesuatu yang melebihi batas normal, seperti lebih cepat, lebih baik, dan lainnya. Kalau net, biasanya kependekan dari internet. Itu dengan hara- pan konsumen menganggap warnet ini paling cepat dan pelayanannya lebih baik. Karena nama Hypernet sudah melekat, saya bawa lagi untuk perusahaan ini, PT Hipernet Indodata. Visi dan misi Hypernet? Tadinya kami ingin menjadi provider no- mor satu di Indonesia untuk internet. Tapi sejak 2014, kami mengubah visi menjadi provider teknologi dengan konsep one stop solution. Bagaimana kami bisa melakukan delivery pelayanan atau solusi lengkap bagi para pelanggan. Kami tidak lagi membic- araan satu bagian internet saja, melainkan banyak bagian. Pelanggan nggak hanya butuh jaringan internet, tetapi juga email , website , antivirus, dan lainnya. Inginnya kami menjadi perusahaan terbesar yang menyediakan konsep one stop solution di bidang TI. Persaingan dengan provid- er-provider lain? Banyak provider bermunculan, bahkan ada yang mau masuk ke Binus. Akhirnya ada perang harga. Maka ke depan, kami tidak akan masuk sektor ritel karena kapabil- itas kami bukan di ritel, melainkan di perusahaan. Sejak 2007 sampai sekarang, sudah ada sekitar 1.500 pelanggan corporate . Pasarnya memang menjanjikan. Kita punya populasi penduduk 250 juta orang, tapi penetrasi internet- nya masih di bawah 30%. Namun, karena luas wilayah kita sangat be-

sar, diperlukan pemerataan infrastruktur dan itu membutuhkan waktu. Saya rasa, ini tantangan berat sekaligus bisnis yang sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana kita memberikan inovasi pelayanan dan timing yang tepat, kapan kita harus masuk market . Internet sudah bukan menjadi en- tertainment atau alat supporting, tapi sudah menjadi kebutuhan dasar. Bahkan, menur ut analisa Google, seluruh gadget akan terkoneksi ke internet pada 2020, jumlahnya 50 miliar di seluruh dunia. Pada 2013 saja sudah mencapai 8,7 miliar. Jumlah itu cukup besar, sehingga banyak pemain asing yang masuk ke Indo- nesia. Kalau berbicara tentang Indonesia, ketertinggalannya sudah 20 tahun diband- ing negara Barat. Tapi prospek masa depan bidang ini sangat menjanjikan Hambatan kita, dari sisi sumber dayama- nusia (SDM) dan knowledge -nya mungkin tidak sebagus di Barat. Juga kurangnya pe- merataan sektor infrastruktur TI. Bayang- kan kalau tiap rumah sudah terhubung dengan internet. Dukungan pemerintah? Terus terang, kami di asosiasi provider internet, terutama di era kepemipinan Pres- iden Jokowi, merasakan ada gebrakan-geb- rakan baru. Di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya belum ada supporting yang berarti, bahkan perizinan dipersulit dan ada beban biaya yang terkadang tidak masuk akal. Reaksi orangtua saat melihat keber- hasilan Anda? Mereka happy . Hanya saja tetap mem- berikan sedikit warning , supaya jangan sombong. Sebab, seberapa besar perusa- haan yang dimiliki, tetap masih ada yang lebih besar lagi. Dan, jangan merasa cepat puas, harus selalu punya mimpi. Mereka selalu bilang, kejarlah mimpi yang lebih tinggi, karena di atas kita masih ada yang lebih tinggi lagi. Orangtua saya juga selalu mengingat- kan keberadaan karyawan saya, karena karyawan merupakan aset penting bagi perusahaan. Kalau nggak ada mereka, saya nggak bisa seperti ini. Itu sebabnya, saya Casual saja. Di perusahaan ini, struk- tural jabatan hanya sekadar jabatan untuk membedakan job desk dan tanggung jawab masing-masing. Secara komunikasi, kami menganggap semuanya sama. Kami sering pergi makan bareng, kadang-kadang kalau malam pergi party bareng. Bagi saya, mer- eka adalah rekan kerja, teman sekaligus harus memerhatikan karyawan. Gaya kepemimpinan Anda?

bagian dari keluarga juga. Saat susah, kami saling bantu dan saling mendengarkan. Tokoh idola Anda? Kalau disebut tokoh secara karakter belum ketemu. Tapi kalau ditanya ingin menjadi siapa, pasti semua orangmenjawab ingin seperti Steve Jobs dan Bill Gates. Saya melihat keduanya dari sisi inovasi dan cara memimpin perusahaan. Tapi karakter saya sendiri menyesuaikan dengan 220 karyawan di perusahaan ini, dengan prin- sip-prinsip dasar yang sudah ada. Anda punya obsesi? Saya ingin bisamewariskan sesuatu yang bermanfaat dan bagus yang bisa dikenang di Indonesia. Saya ingin punya sesuatu yang bisa saya wariskan bahwa saya sudah menciptakan sesuatu yang awalnya belum ada menjadi ada dan bermanfaat bagi ban- yak orang. Untuk perusahaan, obsesi saya adalah ingin menjadikan perusahaan ini se- bagai berkah bagi semua karyawan. Melihat teman-teman saya yang tadinya tidak punya menjadi punya banyak. Saya juga ingin bermanfaat bagi mereka dan keluarganya. Itulah kebahagiaan saya yang paling besar. Filosofi hidup Anda? Tetap bekerja keras, semangat, punya motivasi, dan yakin. Kalau tidak yakin terha- dap sesuatu, percuma saja kita bekerja keras. Bagaimana Anda memandang hidup ini? Ha, ha, ha... Susah nih pertanyaannya. Saya melihat hidup ini seperti film. Kalau kita mau mengandai-andaikan, skenario sudah ada, sudah ada yang menulis. Ting- gal kita saja yang menjalaninya, bisa salah kemudian kita retake dan mulai lagi. Mun- gkin yang dipelajari adalah bagaimana kita memperbaiki akting kita yang salah supaya menjadi lebih baik lagi dan mungkin saja kita bisa memiliki ending yang baik. Intinya, kita jalani saja hidup ini. Jangan berpikir kalau kita susah maka hidup akan game over, karena besok pasti ada happy -nya lagi. BIODATA Nama Lengkap: Sudianto Oei Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 5 November 1983 Status: Menikah PENDIDIKAN 2002 – 2006: Binus University (Computer Science) 1999 – 2002: Dharma Jaya Senior High School Jakarta 1996 – 1999: Hati Kudus Junior High School Jakarta 1990 – 1996: SD Hati Kudus Jakarta

S udianto Oei ternyata penggemar mainan figur mini, mulai dari Iron Man, Dragon Ball , hingga Slam Dunk . Tak mengherankan jika di ruang kerjanya terpajang barang- barang yang juga digandrungi anak-anak tersebut. Karena kegemarannya mengoleksi tokoh pahlawan, khususnya Iron Man, Oei pun mendapat julukan Iron Freak dari rekan-rekannya. “ Ya , saya punya impian kepingin seperti Tony Stark. Sosok dia di film kan digambarkan sebagai miliuner teknologi dan pahlawan. Kebetulan kan saya juga di teknologi. Jadi, mimpinya secara khusus memburu mainan-mainan bertampang aneh tersebut. Jika kebetulan sedang jalan-jalan kemudian melihat ada yang unik dan bagus, barulah ia membelinya. Oei sedang fokus mengoleksi Iron Man. Koleksinya sudah mencapai 10 item . “Paling jauh saya mencarinya ke Jepang dan Hong Kong, tapi itu sambil travelling. Saya masih berencana mau melengkapi semua seri heroes -nya,” tutur Oei yang pernah mengeuarkan uang hingga Rp 3,5 juta untuk satu item mainan koleksinya. (pya) nanti bisa menciptakan teknologi yang berguna bagi banyak orang,” ujar dia. Meski mengoleksinya, Oei tidak

Made with FlippingBook - Online catalogs