SP170803

Utama

Suara Pembaruan

2

Kamis, 3 Agustus 2017

Soal Arief Poyuono, Gerindra Lepas Tangan?

W akil Ketua Umum kan ke polisi oleh sejumlah ak- tivis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menyusul pernyataannya yang dianggap menyerang partai mereka. Per- nyataan Arief membuat mereka tersinggung karena menyamakan PDI-P dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, menurut informasi, Partai Gerindra sepertinya akan lepas tangan terhadap kasus Arief itu. Gerindra disebut-se- but tidak akan memberikan pendampingan hukum terhadap Arief. Artinya, kader Gerindra Partai Gerindra Arief Poyouno telah dilapor-

itu akan menghadapi kasusnya sendiri. Seorang petinggi Partai Gerindra kepada SP di Jakarta, Rabu (2/8) malam, juga hanya tersenyum ketika ditanya apakah partainya akan memberikan bantuan hukum kepada Arief. “Sampai hari ini, Ketua Umum (Prabowo Subianto, Yang jelas, ujarnya, partai sangat tidak setuju dengan per- nyataan Arief. “Kami kecewa. Perlu ditegaskan bahwa Ger- indra selalu menghormati dan berusaha menjaga hubungan Red), belum memberi- kan arahan,” ujarnya.

baik dengan semua partai poli- tik,” katanya. Dikatakan, meski berkom- petisi di pemilu untuk meraih suara, Gerindra menganggap PDI-P dan juga partai-partai lainnya sebagai mitra dalam berdemokrasi. “Sebagai mitra, tentu ada fatsun yang harus dijaga dalam berkomu- nikasi dan kami menjunjung tinggi hal itu. Ketua umum kami sangat kecewa pada kasus yang seharusnya tak perlu terjadi ini,” katanya. Sumber itu mengatakan, pernyataan Arief yang dianggap tidak pantas dan menyerang

PDI-P itu merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili sikap serta pandangan partai. “Sebagai partai di luar pemerintahan, Gerindra tentu sering mengkritik dan mengoreksi pemerintah. Untuk menjalankan fungsi pengawasan, kami memang harus selalu kritis terhadap pihak pemerintah demi checks and balances . Tetapi, objek kritik Gerindra adalah kebijakan, bukan pribadi atau organisasi. Kami menyayangkan pernyataan saudara Arief. Partai akan me- negur yang bersangkutan terkait persoalan ini. Ia harus memper- tanggungjawabkan ucapannya,” katanya. [W-12]

Jokowi Masih Menjadi Magnet Parpol Kecil Butuh Figur Kuat untuk Gaet Suara

foto-foto:antara,istimewa

Grace Natalie

Rhoma Irama

Hary Tanoe

Tommy Soeharto

Yusril Ihza Mahendra

[JAKARTA] Isu radikalisme, ekonomi yang slow down , dan kesenjangan sosial tidak menyurutkan dukungan rakyat kepadaJokowi.Magnet Jokowi terletak pada sikapnya yang independen, berani, dan serius memperbaiki keadaan bangsa dan negara yang sudah salah kelola dalambeberapa dekade. Sangat bisa dimengerti jika jelang Pemilu Serentak,April 2019, parpol besar, kecil, lama, dan baru sudah menjatuhkan pilihan untuk mengusungnya memasuki periode kedua. Kemarin, Partai Persatuan Indonesia (Perindo), salah satu partai yang lolos verifikasi faktual Pemilu2019, berencana memberikandukungankepada Jokowi pada Rapimnas akhir tahun nanti. Kepercayaan publik yang tinggi kepada Jokowi,menurut pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Her- yanto, menjadikannya magnet politik bagi partai politik (par- pol) apa pun termasuk Perindo yang selama ini mendukung Prabowo. MenurutGunGun, ada tiga kemungkinan alasanmengapa partai mengonsolidasikan diri lebihdini padahal Pemilu2019 masih menyisakan waktu dua tahun lagi. Pertama , memetakan peluang untuk mendapatkan

Dengan parliamentary threshold (PT) 4% maka peluang partai kecil ataupun partai barududuksebagaiwakil rakyat di DPR akan semakin kecil. Untuk itu, sosok dengan elektabilitas tinggi dibutuhkan untukmendongkrakpopularitas sekaligus suara. “Sekarang elektabilitas paling tinggi, Jokowi maka menjadi magnet politik untuk partai lain. Terutama, partai kecil,” ujarnya. Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai partai-partai kecil membutuhkanfigur-figur yang kuat untukmenggaet suara dan meningkatkan popularitas par- tai.Apalagi, kata Syamsuddin, partai-partai kecil yangmuncul sekarang, tidakmemiliki tokoh yang kuat untuk dijadikan “jualan”. “Partai-partai kecil seka- rang agak sulit karena tidak memiliki figur-figur kuat. Beda kalau dulu, di mana partaimemiliki figur-figur yang kuat seperti Prabowo Subianto dengan Gerindranya,Wiranto dengan Hanura dan Surya Paloh dengan Nasdemnya,” ujar Syamsuddin. Dengan kondisi seperti itu, kata dia, mau tidak mau, parpol-parpol kecil harus ikut mendukung figur terkenal,

yang mampu menggaet suara danmendongkrak popularitas. Namun, katadia, realitaspolitik yang ada, baru ada dua figur yang kuat untuk bertarung di Pemilihan Presiden 2019. “Pilihan saat ini memang baru dua tokoh yang cukup kuat, yaitu Jokowi dan Prabo- wo Subianto, yang lain tidak terlalu sekuat kedua tokoh ini,” tandas dia. Menurut dia, pilihan yang palingmenguntungkan secara elektoral adalah mendukung Joko Widodo. Selain karena petahana, menurut dia, tingkat elektabilitas dan popularitas Jokowi juga tinggi. “Inimemang tidak terlepas dari kepuasan publik atas ki- nerja Jokowi dalam tiga tahun lebih menjabat sebagai presi- den. Jadi dengan mendukung Jokowi,parpol-parpolkecilbisa mendapat keuntungan secara elektoral,” jelasnya. Dua Terkuat Menurut Direktur Populi CenterUsepSAhyar sejumlah tokohmasuk dalamradar lem- baga survei sebagai kandidat calon presiden (capres) serta calon wakil presiden (cawap- res). Meski begitu, sejauh ini hanya ada dua capres terkuat yakni Presiden Jokowi danKe- tua UmumGerindra Prabowo Subianto.

“Kalaukita lihat sepertinya pertarungan Pilpres 2019 itu klasik,capresmasihPakJokowi dan Pak Prabowo,” katanya, Kamis (3/8). Memang muncul na- ma-nama capres lain seperti Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta terpilihAnies Baswe- dan hingga mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). “Tapi nama-nama ini belum signifikan (persentase survei),” ungkapnya. Diamenyatakan, kalangan agamawan atau ulama tak be- gitu mendapat respons publik. “Belumadadarikalanganulama yangmasukataudiperhitungkan. Ini soalmemimpinnegara,ma- syarakatmengerti. Dibutuhkan kompetensi yang lebih tidak sekadar agama,” tegasnya. Dia menambahkan, figur Rizieq Syihab juga tidak signi- fikan dipilihmasyarakat. “Ada di JakartamenginginkanHabib Rizieq jadi presiden, tapi sangat kecil, bahkan dibandingkan dengan PakGatot jauh sekali,” imbuhnya. Mengenai capres paling potensial, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari senada dengan Usep. “Kalau caprespastiPakJokowi sebagai incumbent (petahana), nomor dua baru Pak Prabowo. Lalu yangseringdisebut danberedar

ada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dari Partai Demokrat si AHY (Agus Ha- rimurtiYudhoyono),” katanya. Mennurutnya, kiprahAnies Baswedan juga patut ditunggu. “KarenaAniesGubernurDKI. Belajar dari pengalaman Pak Jokowi (ketika jadi Gubernur DKI), PakJokowi dalamwaktu setahunpunyapopularitas nasi- onal sebagai capres,” jelasnya. Meninggalkan Prabowo Pada bagian lain, apabila dibandingkan dengan hasil Pilpres 2014, Qodari menu- turkan, Jokowi jauh mening- galkan Prabowo. “Kalau lihat hasil survei jaraknya melebar. Kalau dibandingkan dengan hasil Pilpres 2014 selisihnya sebetulnya melebar. Jadi, Pak Jokowi semakinkuat. Penilaian terhadap kinerja Pak Jokowi kecenderungannyamengalami peningkatan,” tutur Qodari. Menurut Usep, suatu ke- wajaran jika Jokowi meraih posisi teratas saat ini. “Pak Jokowi menjabat presiden, banyak menjalankan progam pemerintah. Jadi, di wilayah Indonesia Timur Pak Jokowi sangat kuat, di Jawa Tengah juga serta basis-basis PDI Perjuangan lainnya. Kalau Pak Prabowo di Jabar dan Banten misalnya,” kata Usep. [YUS/N-8/C-6]

suara. Hal ini akan erat kait- annya dengan kalkulasi biaya pertarunganpolitikdanpeluang mendapatkan kekuasaan. Kedua , keputusan atau posisi dari pimpinan partai. “Tradisi partai di Indonesia biasanya leader centris , maka semua keputusan pimpinan menjadi keputusan partai?” katanya, Kamis (3/8). Ketiga , sumberdayapolitik yang dimiliki oleh partai terse- but.Denganaturan presidential threshold (Pres-T) 20% kursi di DPR atau 25% suara sah nasional, maka partai-partai akanmempertimbangkantarget realistis yangmungkindicapai. Atas dasar tiga pertim- bangan itu partai memilih berada di kubu mana yang akan menguntungkan bagi partainya. Seperti diberitakan sejum- lahpartai yang sudahmenyata- kanmendukung Jokowi dalam Pilpres 2019mendatangadalah Golkar,Nasdem,Hanura,PKB, PSI, PKPI. Pakar komunikasi politik UniversitasParamadina,Hendri Satriomengungkapkan bahwa sosok Jokowi masih menjadi magnet politik untuk mendu- lang suara. Karena itu wajar jika parpol baru ramai-ramai mendeklarasikandukungannya untuk Jokowi pada Pilpres 2019.

Made with FlippingBook - Online magazine maker