ID180907

JUMAT 7 september 2018

24

sebanyak 1.199 anak penerima di Provinsi DKI Jakarta. Pada kesempatan tersebut hadir Gube r nur DKI J aka r t a An i es Baswedan, Direktur Rehabilitas So- sial Anak Kementerian Sosial Republik Indonesia Nahar, serta Pemimpin BNI Wilayah Jakarta Kemayoran Ferry Andajaya. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian ke kegiatan peringatan Hari Anak Na- sional 2018 yang bertajuk One Day For Children. Acara ini merupakan kolaborasi Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Sosial Republik Indonesia, bersama BNI. Program bantuan Tabungan Sosial Anak merupakan program bantuan dari Kementerian Sosial untuk anak- anak telantar, anak jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, anak penyandang disabilitas, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus untuk mendapatkan akses pada lay- anan sosial dasar. Program bantuan tersebut diberikan dalam bentuk Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) yang diberi nama Simpel Tabungan Sosial Anak (Simpel Tasa). (th)

Meskipun bank sentral juga mem- proyeksi perbankan sudah mulai menaikkan bunga kreditnya, namun, lanjut Bob, kenaikan bunga perbankan bukanmerupakan hal yang bisa diikuti oleh semua perbankan. Sebab, hal tersebut perlu perhitungan yang matang. Dia menambahkan, kenaikan suku bunga tak bisa dihindari sebagai akibat kenaikan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,5%. Jika bank tidak menaikkan suku bunga, margin bunga bersih (NIM) bakal tergerus . Tabungan Sosial Anak Sementara itu, dalam rangka merayakan Hari Anak Nasional Tahun 2018, BNI merealisasikan penyaluran bantuan bagi anak-anak telantar melalui produk tabungan yang diran- cang khusus, yaitu Tabungan Sosial Anak (Tasa). Tahun ini, penyaluran yang dilakukan BNI akan menyentuh sekitar 70.000 anak di seluruh Indone- sia. Sebagian dari bantuan tersebut disalurkan pada 6 September 2018 oleh BNI dan Dinas Sosial Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) kepada

Hal tersebut sebagai langkah untuk menekan rasio kredit bermasalah ( non performing loan /NPL). Tahun lalu, perseroan telah hapus buku mencapai Rp 8 triliun. Adapun NPL perseroan saat ini di level 2,1% gross dan target sampai akhir tahun dijaga di posisi 2%. “Tapi tahun ini write off tidak sampai segitu (Rp 8 triliun). Bisa di bawah Rp 7 triliun tahun ini, kami jaga di 2%,” ungkap dia. Direktur Risk Management BNI Bob Tyasika Ananta juga men- jelaskan, perseroan saat ini belum akan menaikkan suku bunga kredit, meskipun tren suku bunga sedang meningkat. Menurut dia, dengan kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) tidak bisa langsung disesuaikan juga oleh perseroan. “Apalagi saat ini beberapa bank juga sudah menaikkan suku bunga. Tapi ini tidak berarti kami juga harus ikut melakukan penye- suaian,” jelas Bob. Menurut Bob, ada beberapa kon- sekuensi yang harus dihitung bila memang perbankan harus menaikkan suku bunga. Dan salah satunya bisa berdampak kepada nasabah.

makro ekonomi yang baik, dan ditun- jang dengan berbagai kebijakan dan instrumen yang mendorong peng- uatan rupiah,” papar Rico. Perseroan mencatat, pertumbuhan penyaluran kredit sampai dengan Juli 2018 sebesar 11% secara tahunan ( year on year /yoy). Pertumbuhan tersebut didorong dari segmen kredit korporasi dan konsumer. Sementara itu, Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyomengatakan, sampai dengan Juli, pertumbuhan kredit menengah sekitar 8% (yoy), dan kredit segmen kecil tumbuh 14% (yoy). Sedangkan sampai dengan semester pertama tahun ini perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp 457,81 triliun atau tumbuh 11,1% (yoy). “Kredit Juli tumbuh 11% dari korporasi dan konsumer yang besar,” kata Anggoro. Di sisi lain, Anggoro juga menye- butkan, sampai dengan akhir semester pertama tahun ini perseroan telah melakukan hapus buku ( write of f ) sebesar Rp 4,2 triliun. Nilai tersebut diperkirakan meningkat hingga akhir tahun ini.

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menjaga porsi kredit valuta asing (valas) terhadap total kredit di kisaran 16-18% sampai akhir tahun ini. Dengan porsi kredit valas yang tidak besar, perseroan berharap dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga rendah.

pemberian kredit kepada debitor yang hanya memiliki cash inflow valas dan mereka memiliki kewajiban untuk melaksanakan lindung nilai ( hedging ) atas posisinya. Di sisi lain, pihaknya juga menilai kemungkinan spekulasi dolar AS sulit dilakukan karena persyaratan pem- belian diwajibkan memiliki underlying transaksi. Menurut dia, fundamental makro ekonomi akan kembali menguatkan nilai tukar rupiah. “Penguatan rupiah akan sejalan dengan fundamental

Direktur Treasury dan Interna- sional BNI Rico Rizal Budidarmo mengatakan, secara umumpelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini belum memberikan dampak yang signifikan bagi BNI. Untuk saat ini, per tumbuhan aset perseroan maupun liabilitis masih positif sesuai dengan rencana bank. “BNI menjaga porsi kredit valas di kisaran 16% sam- pai dengan 18%,” ungkap Rico kepada Investor Daily , Rabu (5/9) malam. Terkait dengan debitor valas, Rico mengaku perseroan fokus dengan

Investor Daily/David Gita Roza

genai rights issue akan disampaikan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 9 Oktober 2018. “Jadi pilihannya ada dua, yakni rights issue dilakukan dua kali pada tahun ini dan tahun depan. Atau kami tunda rights issue pada tahun depan sampai seluruh modal dari Pemprov Banten masuk,” jelas Fahmi. Meski demikian, Fahmi meneg- askan suntikan modal Rp 175 miliar akan masuk terlebih dulu ke Bank Banten, meski rights issue belum di- gelar. Dana tersebut akan dimasukan dalampos setoranmodal yang diperhi- tungkan dalam rasio kecukupanmodal ( capital adequacy ratio /CAR). Adapun CAR Bank Banten hingga Juni 2018 tercatat sebesar 10,04%. CAR ini tergo- long cukup ketat sehingga membatasi ekspansi Bank Banten. Dia juga memaparkan, sampai saat ini Bank Banten masih berstatus BUKU I atau bank dengan modal di bawah Rp 1 triliun. Tercatat, modal Bank Banten pada Juni 2018 sebesar Rp 409,63 miliar ( unaudited ). Meski demikian, pertumbuhan kredit Bank Banten hingga Juni 2018 tercatat cukup signifikan mencapai 41,05% secara tahunan ( year on year /yoy) atau dari Rp 4 triliun pada Juni 2017menjadi Rp 5,64 triliun pada Juni 2018. Pertumbuhan kredit tersebut dito- pang oleh pertumbuhan kredit kon- sumer yang tumbuh tinggi mencapai 230,29% dan per tumbuhan kredit komersial yang naik 54,37%. Adapun rasio kredit bermasalah ( non perform- ing loan /npl) gross tercatat sebesar 5,89% dan net sebesar 4,80%. (ris) sidi. Sebab, rumah merupakan kebu- tuhan pokok, permintaan KPR Subsidi diberbagai daerah sangat tinggi. “Kalau rumah menengah atas memang ada koreksi, tetapi BTN mayoritas di KPR Subsidi jadi tidak mengganggu kinerja perseroan. Secara umum KPR growth sekitar 19%,” tegas dia. Mengenai pelemahan rupiah yang terjadi, Maryono menegaskan, hal tersebut tidak berdampak pada bisnis BTN. Pasalnya, outstanding perseroan semuanya dalambentuk rupiah. “BTN ini tidak ada pengaruh karena semua outstanding kami rupiah dan dana kami sebagian besar hampir 100% adalah rupiah, jadi tidak ada dampak secara langsung,” kata Maryono. Mar yono menuturkan, selain didukungpermintaanKPRSubsidi yang tinggi, kinerja BTN juga diuntungkan dengan relaksasi aturanuangmuka atau loan to value (LTV). “Dengan berbagai stimulus tersebut serta kesiapan BTN menggarap berbagai peluang bisnis yang ada, kami meyakini akanmencata- tkan realisasi kinerja bisnis sesuai target yang telahditetapkan sejak awal tahun,” pungkas Maryono. Hingga Juli 2018, BTN mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 19,55% secara tahunan ( year on year /yoy) dari Rp 178,58 triliun pada Juli 2017 menjadi Rp 213,5 triliun. (ris)

TANGERANG – PT Bank Pem- bangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) mendapat suntikan modal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten sebesar Rp 175miliar. Suntikan modal tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemprov Banten yang direncanankan sebesar Rp 325 miliar. Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengatakan, kepu- tusan tersebut dipastikan setelah DPRD Banten mengesahkan APBD Perubahan 2018, yang di dalamnya termasuk suntikan modal untuk Bank Banten. “Ini merupakan bentuk ko- mitmen dari Gubernur Banten dalam mengembangkan Bank Banten,” kata Fahmi di Tangerang, Kamis (6/9). Menurut Fahmi, suntikan modal tersebut masih merupakan tahap awal dari komitmen Pemprov Banten dengan nilai total Rp 325 miliar. Pi- haknya pun berharap pada pengang- garan APBD 2019 kekurangan penyer- taan modal kepada Bank Banten se- besar Rp 150miliar dapat dianggarkan. “Suntikan modal tersebut masih merupakan tahap awal, bukan berarti kedepannya tidak akan dicukupi, kar- ena perdanya masih ada dan masih bergulir, dan itu belum dirubah Perda Nomor 5/2013. Saat ini sudah mulai komitmennya dengan menyuntikkan penambahan modal sebesar Rp 175 miliar, jadi masih ada sisa sekitar Rp 150 miliar lagi yang mungkin akan diang- garkan pada APBD 2019,” ungkap dia. Lebih lanjut dia mengatakan, karena suntikan modal dari Pemprov Banten baru diterima sebagian, maka rencana rights issue belum bisa dipastikan terlaksana tahun ini. Keputusan men- JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) siap turut serta dalammenggerakkan per- tumbuhan sektor riil khususnya yang terkait dengan sektor properti. Hal ini untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi sebagai dampak krisis global yang disebabkan oleh perang dagang dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Direktur Utama BTN Mar yono menjelaskan, untuk mengatasi dam- pak ketidakpastian isu global yang terjadi saat ini, BTN siap melakukan antisipasi dengan melakukan aksi korporasi dan turut ser ta dalam menggerakkan sektor riil. “Jika sektor riilnya berkembang maka akan ada suatu pergerakan ekonomi dan bisa mendorong pertumbuhan secara tidak langsung,” kata Maryono usai men- gikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR RI, Jakarta, Kamis (6/9). Menurut Maryono, dalam bisnis pembiayaan properti ada sekitar 117 industri yang ikut terlibat. Untuk itu, perseroan akan mendorong pertum- buhan KPR sesuai dengan target yang telah ditetapkan. “Jadi kalau bisnis properti naik, maka semua akan ikut terdorong naik,” ujar dia. Mar yono mengungkapkan, per- mintaan kredit saat ini masih cukup bagus, terutama untuk KPR Sub-

BI Jaga Nilai Tukar Teller menghitung dolar di money changer, Jakarta, belum lama ini. Seiring dengan penguatan rupiah ke level Rp14.893 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Kamis (6/9), Bank Indonesia menegaskan akan terus memberikan upaya terbaik untuk menjaga pergerakan nilai tukar dalam perdagangan hariannya.

perseroan akan menerbitkan obligasi tersebut. “Obligasi sudah tertulis di RBB (rencana bisnis bank), kami masih punya PUB obligasi dan ren- cananya sekitar Rp 2 triliun, masih kami lihat waktunya,” ungkap dia. Sebelumnya, Direktur Keuangan BRI HaruKoesmahargyomengatakan, perseroan akan mengajukan pener- bitan umum berkelanjutan (PUB) sebesar Rp 12 triliun untuk tahun 2019-2021 mendatang yang akan di- masukkan dalam rencana bisnis bank (RBB). Hal tersebut dilakukan sebagai diversifikasi sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK) untuk penyaluran kredit. Haru menambahkan, perseroan sebelumnya juga telah menerbitkan global bond berdenominasi dolar AS sebesar US$ 500 juta sebagai diversi- fikasi pendanaan. Selain itu, perseroan juga masih memiliki sisa PUB sebesar Rp 2 triliun yang akan habis pada awal tahun mendatang. “PUB kami sisa Rp 2 triliun yang bisa diterbitkan kapan saja karena sudah dapat izin dari OJK. Dalam tiga tahun ke depan juga kami akan ter- bitkan PUB sekitar Rp 12 triliun lagi. Tapi intinya kami ingin diversifikasi, karena sifat simpanan bank itu pendek hanya 3 bulan sedangkan pinjaman diberikan minimal 2-3 tahun, apalagi KPR sampai 10 tahun. Jadi kami perlu mencari pendanaan jangka panjang,” terang Haru. (nid)

jiwa dan asuransi kesehatan basic , tidak ada unit linked untuk nasabah Mikro BRI dengan polis Rp 50 ribu per tahun. Kami punya 50 juta nasa- bah, itu potensi yang kami harapkan,” terang dia. BRI Finance juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi laba bersih perseroan. Meski saat ini BRI Finance memasarkan alat berat, namun ke depannya perseroan akan mengubah segmen pembiayaan BRI Finance menjadi pembiayaan kendaraan roda dua. “Karena segmen nasabah kami di sana, roda dua, itu be- sar juga potensinya,” tambah Listiarini. Perseroan juga masih melanjutkan untukmenambah anak usaha di bidang sekuritas danmanajemen investasi un- tuk memperkuat kinerja konsolidasi. Dalam corporate plan tersebut, selain akan meningkatkan kontribusi per- usahaan anak, perseroan juga ingin tumbuh dan terus mengembangkan bisnis mikro, kemudian menjadi bank UMKM terbesar di Indonesia. Untuk segmen konsumer, perseroan akan menjaga keunggulan di segmen kredit pendapatan tetap, serta meningkatkan profitabilitas bisnis korporasi perb- ankan. Listiarini menambahkan, untuk rencana aksi korporasi, perseroan masihmemiliki sisa PenawaranUmum Berkelanjutan (PUB) obligasi sebesar Rp 2 triliun. Namun, sampai saat ini pihaknya belum bisa menyebut kapan

besar Rp 657,59 triliun. Hingga akhir tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sebesar Rp 14% secara tahunan ( year on year /yoy). Perseroan juga berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 16,76 triliun, tumbuh 11,66% dibandingkan dengan laba bersih periode sama tahun lalu Rp 15,01 triliun. Sedangkan untuk dana pihak ketiga (DPK) sampai dengan tujuh bulan tahun ini telah menghimpun dana sebesar Rp 798,51 triliun, atau tumbuh 11,13% (yoy). Kontribusi Anak Usaha Listiarini juga menjelaskan, dalam corporate plan 2018-2022, perseroan menargetkan akanmeningkatkan kon- tribusi perusahaan anak. Saat ini, anak usaha BRI memberikan kontribusi terhadap induk hanya 2%, ke depan ditargetkan kontribusi perusahaan anak bisa menjadi 10%. Adapun perseroan saat ini memi- liki beberapa anak usaha, yakni BRI Syariah, BRI Life, BRI Agro, BRI Finance, dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI. Menurut dia, perusahaan anak yang memiliki potensi besar untuk mendorong kon- tribusi terhadap induk adalah BRI Life dan BRI Finance. “Kami harapkan yang berkontribusi adalah BRI Life, karena ada bisnis yang berpotensi tapi belum bisa kami garap. Kami ingin menjual asuransi

SEMARANG – PT Bank Rakyat In- donesia (Persero) Tbk (BRI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah ter- hadap dolar AS berdampak kecil terhadap bisnis perseroan. Pasalnya, portofolio kredit valuta asing (valas) BRI hanya 11% terhadap total porto- folio kredit. Senior Executive Vice President (SEVP) Treasury and Global Services BRI Listiarini Dewajanti mengatakan, perseroan tidak menyalurkan kredit valas dengan porsi yang besar. Hal tersebut dikarenakan perseroan merupakan bank yang fokus pada segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Dampaknya kecil, kami kan besar di mikro, portofolio valas cuma 11%. Dari 11% itu importirnya hanya 49%, jadi tidak berdampak besar,” ungkap Listiarini usai Public Expose di Se- marang, Kamis (6/9). Dia menambahkan, ketika terjadi krisis 1998 yang membuat nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan yang dalam terhadap dolar AS, namun kondisi BRI juga disebut tetap sehat. “Contohnya tahun 1998 krisis nilai tukar rupiah lebih parah dari ini tapi kami juga tidak berdampak, kami memang tidak fokus di valas,” kata dia. Sementara itu, sampai dengan Juli 2018 perseroan berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 766,01 triliun, men- ingkat 16,49% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya se-

Made with FlippingBook Learn more on our blog