SP180104

Suara Pembaruan

Utama

2

Kamis, 4 Januari 2018

Jelang Pendaftaran Calon, Parpol Pecah Kongsi?

P endaftaran pasangan Kepala Daerah (Pilkada) Ser- entak 2018 dibuka pada 8-10 Januari 2018. Pilkada digelar di 171 daerah yang terdiri atas 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Hari pemungutan suara Pilkada Serentak diren- canakan berlangsung pada 27 Juni 2018. Sejumlah partai politik (parpol) telah merekomen- dasikan dukungan terhadap para pasangan calon (paslon). calon (paslon) pemimpin daerah untuk Pemilihan

Sebagaimana ketentuan Un- dang-Undang Nomor 10/2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota (UU Pilkada), terdapat syarat pen- gajuan paslon oleh parpol atau gabungan parpol. Parpol minimal harus memiliki 20% sional hasil Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014. Den- gan syarat seperti itu, parpol yang tidak bisa memenuhi syarat harus berkoalisi. Menu- kursi DPRD atau 25% suara sah na-

rut sumber SP , menjelang pendaftaran paslon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), bakal ada koalisi parpol yang pecah kongsi. Dijelaskan, partai tertentu akan men- bersama. “Ada partai yang awalnya telah mendeklarasi- kan dukung paslon gubernur dan wakil gubernur yang akan menarik dukungan. Partai itu cenderung mendukung paslon cabut dukungan dari paslon yang sebel- umnya dideklarasikan

dari partai lain,” kata sum- ber tersebut di Jakarta, Rabu (3/1). Namun, dia enggan men- gungkapkan nama partai serta paslon dimaksud, termasuk untuk daerah mana. Dia hanya menyatakan pemilihan gubernur dan wakil guber- nur (pilgub) di daerah itu berpotensi diikuti hanya satu paslon. “Pokoknya, daerah itu besar kemungkinan sekarang ini cuma satu paslon, maka- nya koalisi yang ada harus dipecah,” ujarnya. [C-6]

Dukung Ridwan Kamil, PDI-P Diuntungkan

pencalonan,” ujarnya.

juga tinggi, karenasejauh ini elektabili­ tasnyamasih tertinggi dibandingkang kandidat lain,” terang dia. Namun, dia menilai susah bagi PDI-P untuk memaksakan wakil Kang Emil harus dari internal partai. Pasalnya, tidak mudah bagi partai lain menerima kalau wakil Kang Emil berasal dari PDI-P atau calon yang diusung PDI-P. “Tetapi, itu bergantung pada komunikasi politik atau lobi-lobi yang dilakukan. Bisa saja partai lain menerima jika lobi-lobi oleh PDI-Pbagus. Juga komunikasi yang dilakukan Kang Emil maupun calon wakil yang diusung PDI-P kelak. Kalau tidak, justru kehadiran PDI-P akan memperkeruh suasana koalisi yang sedang memperebutkan wakil untuk Kang Emil,” kata dia.

Dia mengingatkan, Kang Emil harus memperhatikan juga dampak dari Pilgub DKI Jakarta, di mana isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) membuat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) harus mengakui kemenangan lawannya. Bukan tidak mungkin, isu seperti itu akan dimainkan lagi di Jabar oleh lawan politik Kang Emil. “Tentuhal ini jugaakandimainkan dalam pertarungan di Pilgub Jabar. Apalagi, kita ketahui bahwa saat ini kelompok garis keras di Jabar cukup banyak. Perlu ada gerakan antisipasi dari Kang Emil, karena bisa saja hal itu akan dikait dalam pertarungan di Pilgub Jabar,” katanya. Seperti diketahui, kemarin Rid- wan Kamil mendatangi kantor DPP PDI-Pdi Jalan Diponegoro, Jakarta. Kedatangan Ridwan Kamil itu dise- but-sebut sebagai upaya dia untuk meminta dukungan kepada PDI-P agar mengusung dia di Pilgub Jabar. Dua Opsi Direktur Eksekutif SaifulMujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan, PDI-P mempunyai dua opsi dalam penca- lonan kepala daerah di Jawa Barat. Opsi pertama, kata dia, partai itu bisa mengusung calon sendiri. “PDI-P adalah partai besar di Jabar dan bisa mengusung sendiri calon gubernur tanpa harus berkoalisi dengan partai lain,” ujarnya.Menurut Djayadi, jika PDI-P mengusulkan calon sendiri, maka kemungkinan menang tidak terlalu besar. Pasalnya, belum ada nama dari internal PDI-P yang memiliki elektabilitas dan po- pularitas yang cukup kuat. “Tetapi, pilkada bukan soal kalah dan menang. Intinya, kalau sudah mengusung calon sendiri,maka harus bekerja keras untuk memenangkan pasangan yang diusung dengan cara yang beradab dan demokratis,” tuturnya. Opsi kedua, kata Djayadi, PDI-P bisa mengusung Ridwan Kamil yang sudah diusung empat parpol lain, yakni Partai Hanura, Partai Nasdem, PPP, dan PKB. Menurut dia, ada keuntungan bagi PDI-P jika mendukung Kang Emil. “Dukungan ke Kang Emil akan sesuai dengan pilihan pemilih PDI-P yangselamainicenderungmendukung dia dan kemungkinan besar menang

Dukungan ke Kang Emil akan sesuai

Antara/Galih Pradipta Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP PDI-P Bambang DH seusai melakukan pertemuan tertutup di kantor DPP PDI-P, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (3/1).

dengan pilihan pemilih PDI-P yang selama ini cenderung mendukung dia dan kemungkinan besar menang juga tinggi,

[JAKARTA] Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) akan lebih diuntungkan jika mengusung Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat (Jabar). Selama beberapa periode, PDI-P selalu menguasai DPRD Jabar, namun selalu kalah dalam merebut posisi gubernur. Dukungan terhadap Ridwan Ka- mil akan membuat PDI-Pmencetak sejarah baru di Bumi Parahyangan. PDI-P bisa memasangkan Ridwan Kamil dengan Puti Guntur Soekarno, yang selama ini memiliki rekam jejak yang baik. Peneliti politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS)Arya Fernandezmengatakan, kemungkinan besar PDI-Pmemang akanmendukungKang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, untuk maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar. Namun, sebagai konsekuensinya, Emil harus siap berhadapan dengan tiga partai yang telah terlebih dulu mendukungnya, yakni PPP, PKB, dan Partai Nasdem. “Saat menjelang pendaftaran ke KPU Jabar atau H-6, tentu sangat sulit bagi PDI-Puntukmencari calon alternatif lain di Pilgub Jabar. Ke- mungkinan besar Emil akan diusung

PDI-P dengan wakilnya tentu dari partai itu sendiri,” ujarArya kepada SP di Jakarta, Kamis (4/1) pagi. Nama-nama yang telah muncul sebagai bakal calon di Pilgub Jabar, yakni Dedy Mizwar (Demiz), Dedi Mulyadi, Sudrajat, dan Ahmad Syaikhu merupakan figur yang kuat. Nama-nama itu dinilai akan menjadi saingan berat bagi Emil di Pilgub Jabar. Di sisi lain, kata Arya, Kang Emil akan berhadapan dengan tiga parpol yang sejak awal menduku- ngnya. Bahkan, dari tiga parpol itu telah meminta agar kader mereka menjadi calon wakil gubernur atau pasangan Emil. “Saat ini posisi Emil ibaratmakan buah simalakama. Tentu, apa pun pilihan dia akan ada konsekuensi. Kalau PDI-P mengajukan calon wakil, tentu Emil bisa merusak hubungan dengan parpol yang te- lah mendukungnya terlebih dulu. Tetapi, ini tentu bisa dibicarakan dengan komunikasi politik yang

pilkada adalah pertarungan figur, bukan partai. Posisi partai, ujarnya, hanya sebagai pelengkapadministratif yang diisyaratkan KPU. “Tentu ada signifikansinya jika dicalonkan oleh partai besar atau kecil serta citra partai yang mengu- sung. Namun, seberapa besar, bisa dipastikan itu tidak signifikan. Publik masih melihat figur yang diusung,” ujar Arman. Menurut dia, secara peluang berdasarkan hasil survei beberapa lembaga independen, Kang Emil memang paling berpotensi menang jika tidak ada “tsunami politik” yang ekstremdi Pilgub Jabar.Meski politik selalu dinamis, tanpa ada goncangan besar, peluang Kang Emil untuk memenangkan Pilgub Jabar cukup besar. Dikatakan, jikaPDI-Pmendukung Kang Emil, maka sikap itu meru- pakan langkah cerdas dari Banteng. Apalagi, kalau dilihat dari sisi potensi kemenangan berdasarkan sejumlah hasil survei. “Nama Ka n g Emi l a k a n melenggang masuk dalam kancah pertarungan Pilgub Jabar jika PDI-P mendukungnya. Partai itu memiliki hak mencalonkan pasangan calon sendiri karena telahmemenuhi syarat

karena sejauh ini elektabilitasnya masih tertinggi.

Artinya, dukunganPDI-PkeKang Emil belum tentu membuat partai pengusung lain menjadi hengkang. Justru dengan jumlah kursi terbesar di DPRD Jabar, yakni 20 kursi, PDI-P memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dari partai pengusung Kang Emil lainnya. Posisi PDI-P itu akan membuat partai pengusung lain cenderung mengalah bahkan kian solid mendukung Kang Emil. Sejumlahnamadari internalPDI-P disebut-sebut berpeluang untuk diu- sung sebagai bakal calonpendamping Kang Emil. Salah satu yang terkuat adalah Puti Guntur Soekarno. Selain sebagai trah Soekarno, Puti juga memiliki rekam jejak yang baik dan cukup dikenal di Jabar. [YUS/H-14]

baik,” katanya. Pilihan Cerdas

Peneliti senior Riset Lingkaran Strategis (Rilis)Arman Salammen- gatakan, hakekat pertarungan dalam

Made with FlippingBook - Online catalogs