SP170206

Utama

Suara Pembaruan

2

Senin, 6 Februari 2017

Cagub Sebar “Intel”?

P ertarungan para Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta kian hari semakin panas. Masing-masing pas- lon mengeluarkan strategi terbaik mereka untuk bisa mendapatkan dukungan dari warga Jakarta yang telah memiliki hak untuk memilih. Segala macam cara pun digunakan untuk bisa menang nanti. Sejak beberapa bulan lalu isu seputar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) terus digulirkan untuk mencegal paslon nomor urut 2, Basuki Tjahaja pasangan calon (pas- lon) dalam Pemilihan

Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot). Namun, rupanya cara itu hanya berpengaruh sesaat. Warga Jakarta akhirnya sadar bahwa isu SARA sengaja dimainkan hanya untuk kepentingan politik. Sumber SP di Jakarta, Senin (6/2) mengatakan, setelah isu SARA tak mempan, ada paslon yang berusaha men- cari-cari kelemahan lawan untuk menggerus elektabili- tasnya. “Ada paslon yang berusaha mencari kelemahan lawan, seperti mencari-cari isu kecurangan atau isu

massa bayaran. Tetapi, cara itu rupanya gagal juga,” kata sumber itu. Dikatakan, untuk bisa mencari kelemahan lawan, tim sukses pasangan itu membentuk sema- cam tim intelijen yang tugasnya “memata-matai” setiap kegiatan lawan. Tim intel itu tidak hanya memantau isi kampanye pas- lon, tetapi juga kegiatan tim suksesnya. “Mereka berusaha men- cari celah untuk bisa menye- rang tim kami. Mereka men- cari-cari tahu kepada warga setiap paslon yang kami

dukung blusukan. Mereka ingin tahu, misalnya, apakah warga mendapatkan uang atau barang-barang lain yang bisa masuk kategori pelang- garan,” katanya. Selain itu, kata sumber itu, tim intel itu juga mencer- mati setiap perkataan paslon yang diawasi. Jika ada kata-kata yang salah, teruta- ma terkait isu SARA, tim tersebut langsung menyebar- kannya di media sosial. “Tetapi, mereka selalu gagal, karena kami memang tidak pernah bagi-bagi uang atau barang ke warga. Paslon kami juga selalu menjaga kata-kata,” katanya. [O-1]

Isu SARA Tak Mempan di Pilgub Jakarta

[JAKARTA] Isuseputar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)masih digunakan untuk menyerang calon petahana di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, yakni Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot). Setelah kasus penodaan agama yang kini sedang dalamproses pengadilan,Ahok kem- bali dibenturkan dengan ulama dan ormas Islamterbesar,NahdlatulUlama (NU). Namun, sebagian besar warga Jakarta merupakan pemilih rasional, yang tidak akan terpengaruh dengan isu-isu primordial itu. Penggunaan isu SARA di Pilgub Jakarta justru akan menjadi bumerang bagi pihak-pihak yang menggunakannya. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) CecepHidayatmenga- takan, hingga kini isu SARA masih sering digunakan pihak-pihak terten- tu untuk menjatuhkan lawan politik. “Isu SARA tidak akan efektif bila digunakan di tengahmasyarakat yang rasional, seperti Jakarta,” ujarnya kepada SP di Jakarta, Senin (6/2). Dikatakan, isu SARA sangat berbahayaditerapkan, karenamenyen- tuh masalah fundamental seseorang, terutama dalam hal suku dan ras. Kedua hal tersebutmerupakan “bawa- an” yang tidak bisa diubah dan sam- pai kapan pun akan melekat dalam diri seseorang. Isu-isuprimordialSARA, biasanya digunakan ketika ada pihak tertentu yang sulit atau tidakmampu berkom- petisi secara sehat. Khusus untuk Pilgub DKI Jakarta, menurut Cecep, isu-isu primordial cukup kencang berembus. Bahkan, yang terakhir, ada upaya dari pihak tertentu yang men- coba membenturkan salah satu calon denganwargaNahdlatulUlama (NU). Meski belakangan kedua belah pihak akhirnya dapat berekonsiliasi dan salingmemaafkan, namundengan munculnya isu tersebut sempat mem- buat iklim persaingan di Pilgub DKI semakin tidak sehat. Menurut Cecep, penggunaan isu SARA masih akan terus bergulir sampai hari pemilihan suara, termasuk ada upaya yang mencoba memengaruhi persepsi pemilih melalui aksi demo lanjutan “menolak pemimpin non-Muslim”. Menurut Cecep, jikamemang aksi

tersebut diselenggarakan pada masa tenang Pilgub DKI Jakarta, pihak kepolisian semestinya tidak menge- luarkan izin. “Kalau aksi diselengga- rakan pada saatmasa tenang, tentunya sangat kental nuansa politik. Oleh karena itu, kemungkinan polisi juga akan sulit untukmemberi izin,” tutur- nya. Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Arie Sujito mengingatkan, Indonesia bukan negara agama. Oleh sebab itu, seharusnya seluruh elemen bangsa menghindari segala macam bentuk politisasi isu SARA. “Kita perlumenghindari politisa- si isu SARA. Dalam kaitan ini (pil- kada, Red), semua pihak harus bisa lebih menahan diri untuk tidak terje- bak isu SARA,” kata Arie. Dirinya mengingatkan, jika tidak terkendali, isu SARA akan memiliki dampak yang cukup buruk bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat rawan untuk saling ber- gesekan dan dapat berujung pada konflik. MenurutArie, di IbuKota Jakarta hingga saat ini masih terjadi isu poli- tik yang tumpang-tindih, yakni anta- ra politik nasional, politik lokal (pil- kada), dan isu-isu politik lainnya, termasuk agama dan antargolongan atau kelompok tertentu. “Klaim-klaim tentang kelompok seharusnya diku- rangi, jangan sampaimembawa-bawa kelompok lain, baik yang berbeda agama, etnis, dan sebagainya,” kata Arie. Dipolitisasi Peneliti Populi Center Nona Evita menilai isu SARA bakal terus dipo- litisasi untukmenggerus elektabilitas pasanganAhok-Djarot. Isu seperti itu memang sangat mudah dikapitalisasi oleh para lawan Ahok-Djarot untuk mendapatkan keuntungan politik. “Isu agama menjadi isu yang mudahdikapitalisasimenjelangPilgub DKI, apalagi calon petahana juga kaum minoritas yang saat ini sedang tersandung dugaan kasus penodaan agama,” katanya. MenurutNona, elektabilitasAhok- Djarot tidak tertandingi sebelum tersandung kasus dugaan penistaan agama. Namun, elektabilitas itu

merosot setelah dirinya tersandung kasus. “Apalagi, kasus ini dimanfa- atkan pihak tertentu untukmenyudut- kan Ahok. Elektabilitas tersebut kemudian sedikit naik setelah proses persidangan dan debat publik,” tutur- nya. Berbagai cara dilakukan tim pemenangan lawan untukmenaikkan elektabilitas pasangan kandidat yang diusung, termasuk memainkan isu SARA. Namun, menurutnya, isu tersebut redup dengan sendirinya sesudah ada rangkaian debat bahkan menjadi bumerang bagi pihak-pihak yang diduga memunculkannya. DirekturEksekutif IndoBarometer Mohammad Qodari menambahkan, ada pihak yang diuntungkan dari pemanfaatan isu SARA. Menurut Qodari, pihak yang terus mendorong isu SARA itu bertujuan menggerus elektabilitas Ahok-Djarot. “Pasti ada pihak yang diuntungkan dengan isu SARA, karena itu mereka berusaha mengeksploitasinya untukmenggerus elektabilitas paslon tertentu,” ujar Qodari. Dia menilai, kondisi masyarakat saat ini memang sangat variatif. Ada

masyarakat yang menjadikan agama sebagai dasar pemilihan dan pertim- bangan calon pemimpin. Namun, ada juga yang sebaliknya, yakni pemilih yang rasional melihat situasi. “Kalau dilihat sebelum-sebelumnya, di DKI Jakarta isu agama tidak terlalu dija- dikan dasar pertimbangan pemilih,” katanya. Tak Punya Kemampuan Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem DKI Jakarta Bestari Barusmengatakan, isu SARA tidak akan laku dalam Pilgub DKI. Isu SARA, ujarnya, biasa dilancarkan oleh orang-orang yang tidakmemiliki kemampuan, tetapi memaksakan diri untuk bisa menjadi pemimpin. “Saya yakin warga DKI Jakarta akan melihat program, visi, dan misi calon gubernur, bukan sebatas masa- lah SARA. Kita ini mau memilih gubernur, bukan memilih pemimpin agama,” ujar Bestari. Dikatakan, pemilihdiDKI Jakarta adalah pemilih cerdas yang tidak akan termakan isu SARA. Oleh karena itu, upaya membenturkan Ahok dengan N sangat berlebihan dan terlalu dibe-

sar-besarkan.

Relawan Teman Ahok, Singgih Widyastono menuturkan, pemilih di Jakarta diyakini sudah cukup cerdas. Mereka sangat rasional dalammenen- tukanpilihanuntukmemimpin Jakarta 5 tahun ke depan. “Isu agama mungkin sedikit memengaruhi, tetapi tidak signifikan, karena kembali lagi bahwa masyara- kat lebihmelihat kerja nyata, visi, dan misi calon gubernur. Ini yangmenye- babkan elektabilitas Ahok-Djarot justru malah meroket saat ini,” kata Singgih. Sekretaris Tim Pemenangan Basuki-Djarot, Ace Hasan Syadzily menambahkan, isu seputar SARA terus diembuskan secara sistematis, karena para lawanpolitikAhok-Djarot tidakmampuberdebatmelaluiprogram kerja. “Harus diakui bahwa isu agama ini berpengaruh kepada elektabilitas Ahok-Djarot. Namun, kami percaya bahwa masyarakat Jakarta sangat rasional dalam menentukan pilihan di Pilgub DKI,” ujar Ace. [RIA/YUS/D-14/Y-7]

>4

Terkait halaman

SP/Joanito De Saojoao Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) , bersama ketua PPP Djan Faridz dalam Istighosah Kebangsaan warga Nahdliyin di Jakarta, Minggu (5/2). Istighosah yang diselenggarakan warga Nahdliyin Jakarta dan PPP tersebut untuk mendoakan agar bangsa dan negara Indonesia khususnya warga Jakarta aman dan tertib.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online