SP180227

Suara Pembaruan

Utama

2

Selasa, 27 Februari 2018

Meredam Gaduh Cawapres

M enurut hasil penden, elektabilitas dan popularis Presiden Joko Widodo (Jokowi) men- jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 masih yang teratas. Saingan terberat Jokowi, hingga saat ini, hanya Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dengan tingkat popularitas yang tinggi itu, sejumlah tokoh nasional, termasuk ketua umum par- tai politik dikabarkan ber- lomba-lomba menyodorkan survei sejumlah lembaga inde-

nama mereka sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) pendamping Jokowi nanti. Namun, menurut informasi, sikap sejumlah tokoh dan ketua umum partai politik itu membuat gerah Istana. Munculnya nama- nama bakal cawapres Jokowi dikhawatirkan akan memunculkan kegaduhan politik yang baru. Bahkan, kegaduhan itu bisa saja mengarah ke perpecahan koalisi partai politik pen-

dukung Jokowi.

iden Jusuf Kalla dimun- culkan untuk berpasangan kembali dengan Jokowi. Mencuatnya nama Kalla diharapkan bisa meredam hasrat sejumlah tokoh un- tuk menjadi cawapres. “Kita sudah tahu tentang hambatan un- dang-undang jika Pak Kalla maju lagi. Namun, dengan memunculkan nama Pak Kalla, paling tidak tokoh- tokoh yang muncul ini menahan diri dan me-

“Ada kekahawatiran bahwa munculnya nama- nama itu akan meretakkan

hubungan koalisi partai pendukung

Jokowi. Bahkan, partai yang saat ini sudah mendukung pemerintahan Jokowi, bisa berbalik arah menjelang pendaftaran capres pada awal Agustus nanti,” ujar sumber SP di Jakarta, Selasa (27/2). Menurut sumber itu, untuk menghindari kegadu- han itu, nama Wakil Pres-

nunggu keputusan bersama partai koalisi,” ujar sumber itu. [W-12/O-1] AHY Harus Masuk Kontestasi Pilpres 2019

[JAKARTA] Keikutsertaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada kontestasi Pe- milihan Presiden 2019 bakal membuat peluangnya sebagai capres ataucawapres di Pemilu 2024 semakin besar. Hal itudiungkapkanDirek- turEksekutif SaifulMujaniRe- searchandConsulting (SMRC) DjayadiHanandanSekjenPartai Demokrat Hinca Panjaitan, peneliti LSI Denny JAAdjie Alfaraby, Direktur Eksekutif Para SyndicateAri Nurcahyo, secara terpisah, Selasa (27/2). “Pemiluataupilkadajangan dilihat hanya persoalan kalah menang tetapi harus ditempat- kan dalam konteks kaderisasi untuk melahirkan pemimpin bangsa ke depan. Jadi, saya anjurkanAHYambil momen- tum(Pilpres 2019) ini, terlepas nanti kalah ataumenang,” ujar Djayadi. Djayadi menilai, sejarah AHY di panggung politik se- benarnya juga karena adanya momentumpolitik,yaituPilkada DKIJakarta2017.Sebelumnya, publik tidak mengenal AHY kecuali sebagai anak Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkiprah di militer. “Pilkada DKI Jakarta ke- mudianmenjadi langkah cepat AHY masuk dunia politik, ia menjadi tokoh nasionalmeski- pundalampertarunganpilkada tersebut kalah,” katanya. Maju pada Pilpres 2019 akan memberikankeuntungan elektoral danpolitikbagiKetua KomandoSatuanTugasBersa- ma Partai Demokrat ini untuk bisa meraih kemenangan di Pemilu2024. Pasalnya, Pemilu 2024 merupakan pemilu yang menjadi milik generasi muda seperti AHY, Ketua Umum PKBMuhaiminIskandar,Ketua UmumPPPRomihurmuziy,atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan tokoh-tokoh muda lain. “Persoalan kalah menang ituwajar.Tetapimemanfaatkan momentummerupakansesuatu harus diambil oleh para calon

pemimpin. Dengan meng- ikuti Pilpres 2019, AHY bisa menyosialisasikan diri lebih awal,” ujarnya. Pada Pilpres 2019 peluang terbesar AHY adalah sebagai cawapres. Jika AHY maju sebagai capres, berarti Partai Demokrat harusmencari teman berkoalisi karena kursi Partai Demokrat tidak mencukupi untuk mengusung satu paslon capres-cawapres. “Kalau AHY menjadi capres bukan saja peluang untukmenangyang sulit, tetapi mendapatkan tiket parpol juga terlihat sulit karena Partai De- mokrat harus berkoalisi dengan minimal dua partai lainnya. Ini jugamengandaikan koalisi pendukungJokowi tidaksolid,” jelas dia. Namun, jikaAHYmenjadi cawapres, maka peluangnya besar terlepas dia menjadi cawapres dari Jokowi atau Prabowo Subianto. “Yang paling mungkin berpasangan dengan Jokowi karena perpa- duan antara sipil (Jokowi) dan militer (AHY) serta pemimpin transisi dan pemimpin muda. Kalau dengan Prabowo agak sulit karena sama-samamiliter dan Prabowo butuh figur yang bisa menaikkan elektabilitas- nya,” tutur dia. MenurutHinca,AHYideal sebagai pemimpin nasional ke depan sehingga patut dipertim- bangkanmenjadicawaprespada Pilpres 2019. “Pilihan anak muda ke depan untuk menjadi bagian dari partai, generasi ke depan untukkepemimpinannasional, MasAHYbisa jadi faktor yang sangat penting untuk diper- timbangkan siapa pun capres, termasukPakJokowi,”katanya. Kini AHY terus menerus bersosialisasi menemui ma- syarakat di berbagai daerah. Ditambahkan, Partai Demokrat tetap belum mem- punyai sikap terkait pilpres. Dia berharap, safari AHY ke masyarakat dapat berdampak positif bagi elektabilitas partai. Sebelumnya,KetuaUmum

termasuk yang minim peng- alaman sosial-politik. Selain Agus, sebenarnya ada nama GatotNurmantyoyangmantan tentara dan nihil pengalaman politik, namun karier militer Gatotlebihungguldibandingkan Agus. Meski demikian, bukan berarti Agus tanpa peluang. “Memiliki pengalaman berlaga dalam kontestasi Gubernur Jakarta 2017,Agus tergolong politikus muda, yang dapat menjadi modal baginya untuk mendekati kalangan pemilih muda, yang jumlahnya diperkirakan antara 55-60% dari total pemilih pada Pemilu 2019. Agus juga memiliki pengaruh politik sebagai penerus man- tan Presiden SBY sekaligus mendapatkan endorsement dari Partai Demokrat,” kata Arif, Selasa (27/2). Meski minim resistensi, lingkupdukunganAHYdi luar Demokratmasihsangatterbatas. AHY belum cukup memiliki keunggulan kompetitif dari sisi identifikasi politikdi antara kelompok-kelompoknasionalis atau religius. Bekal karier mililiter dan pendidikan bagus yang dimi- likinya belum didukung oleh suatu public relations politik yang genuine sehinggamenarik perhatian luas. “Jika ingin memperoleh dukungan lebih besar, Agus harus menemukan suatu gaya politik lebih otentik diban- dingkan sekadar mimikri gaya pendahulunya. Dalam politik nasional yang fragmentaris, jelas dibutuhkan kelenturan untuk bernegosiasi, suatu kemampuan yangmasih harus banyak digembleng praktik politik. Artinya, Agus masih membutuhkan kerja keras un- tuk menjadi kompetitif,” ujar Arif yang juga pengajar pada Universitas Paramadina ini. Adjie Alfaraby menilai, AHY mempunyai kans besar untuk menjadi capres dan cawapres di Pilpres 2019. Pasalnya, pasca-Pilkada DKI Jakarta2017, elektabilitasAHY

semakin naik dan meningkat. “Selain itu, AHY juga mempunya i kenda r aan politik yang siap mendu- kung dia menjadi capres atau cawapres,” ujar Adjie. Pilpres 2019 akan diramaikan oleh tiga poros, yakni poros SBY, porosMegawati-Jokowi dan poros Prabowo. Besar kemungkinan poros SBY, kataAdjie, akanmencalonkan AHY sebagai capres. “Jadi, nanti Partai Demokrat akan menggandeng beberapa partai untuk berkoalisi dalam rangka mengusungAHYsebagai cap- res di Pilpres 2019. Pengaruh Partai Demokrat dan SBY tentunya masih kuat di akar rumput,” terang dia. Jika kontestasi Pilpres hanya dua poros, yakni po- ros Megawati-Jokowi dan Prabowo, kata dia, makaAHY berpeluangmenjadi cawapres. Saat ini, menurut Adjie, AHY bisamemilih apakahberkoalisi denganMegawati-Jokowi atau dengan Prabowo. “Peluangnya masih ter- buka, karenaAHYdan Partai Demokrat masih berkomuni- kasi baik dengan dua poros ini,” tutur dia. Ari Nurcahyo menge- mukakan posisi dan peluang politikAHYakandihitungatau diukur mulai Pilpres 2019 ini. Komunikasipolitikyangintensif dengan partai lain akan dilaku- kanolehPartaiDemokrat. Saat ini Demokrat sudahmembuka komunikasidenganPDI-Puntuk membicarakan peluang politik apa yang bisa diciptakan. [YUS/R-14/C-6]

Agus Harimurti Yudhoyono Tempat/Tanggal Lahir: Bandung, 10 Agustus 1978 Pendidikan: - Akademi Militer Magelang - Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel - Master of Science in Strategic Studies Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University - Master of Public Administration Harvard University - Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, Amerika Serikat - Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat - Master Leadership and Management George Herbert Walker School, Webster University Penghargaan: - Medali Garuda Trisakti Tarunatama - Pedang Tri Sakti Wiratama dan Medali Adhi Makayasa. - Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun - Satya Lencana Dharma Nusa - Satya Lencana Santi Dharma - Medali PBB, Medali Penghargaan dari pemerintah dan Angkatan Bersenjata Lebanon - Medali Kepeloporan - Medali penghargaan Distinguished Honor Graduate dari Angkatan Darat Amerika Serikat. - Commandant’s List of the Maneuver Captain Career Course dari the US Army Maneuver Center - Excellence dan The Order of Saint Maurice dari the US National Infantry Association.

DemokratSusiloBambangYud- hoyonomenjelaskan,Kogasma dibentuk untuk pemenangan pemilu partainya pada 2019. “Partai Demokrat bentuk Ko- gasma untuk menyukseskan perjuangankita.MembantuDPP PartaiDemokrat agar partai kita memang dalam pemilu yang akan datang,” kata SBY. Ditegaskan SBY, Demo- krat belum berpikir mengenai kontestasi pilpres, khususnya membentuk koalisi. “Belum saatnyaberbicaratentangcapres dan cawapres. Belum saatnya bicaradenganpartaipartaimana kita berkoalisi,” tegasnya. Regenerasi Sementara itu, menurut Ketua DPD Demokrat Papua, LukasEnembe,Demokratsejak

dini menyiapkan regenerasi. Contohnya dengan kehadiran AHY. “Saya pikir regenerasi ini terbaik untuk harus dilaku- kan seperti itu. Kalau sudah disiapkan dari kecil, dari awal, itu lebih bagus, termasukAHY yang sudahdipersiapkan,” kata Lukas. Diamenuturkan, dipilihnya AHYsebagai cawapres, sangat tergantungcapres. “Tergantung mau pasangan dengan siapa. Kalau nilai jualnya bagus, ke- napa tidak? Tapi yang penting generasi muda perlu ada, siap gantikan tugas kepemimpinan nasional,” tandasnya. Analis politik dari Exposit StrategicArif Susantomenge- mukakan, di antaranama-nama yang kini beredar dalambursa capres dan cawapres, AHY

Made with FlippingBook HTML5