ID171115

RABU 15 NOVEMBER 2017

23

JAKARTA – PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) pada kuartal IV-2017 atau Desember tahun ini akan menerbitkan obligasi sekitar Rp 800 miliar dengan tenor satu tahun dan tiga tahun. Dana yang dihimpun akan digunakan untuk ekspansi pembiayaan perseroan, dan saat ini perseroan dalam tahap penawaran awal atau book building . Direktur Utama WOMFinance Djaja Sutanda mengatakan, obligasi sebelumnya telah habis pada kuartal III-2017 yakni sebesar Rp 720 miliar dari target awal sebesar Rp 600 miliar. Hingga Oktober tahun ini realisasi obligasi perseroan men- capai Rp 5,2 triliun. “Kami kemarin sudah habis Rp 720 miliar, sekarang kami lihat lagi kondisi kuartal empat juga, karena kan ada yang sudah limit juga dan kami akan lihat sampai Desember nanti. Kami sedang proses book building menerbitkan obligasi Rp 800 miliar,” kata Djaja di Jakarta, akhir pekan lalu. Penerbitan obligasi sebelumnyamerupakan bagian dari pena- waran berkelanjutan melalui Obligasi Berkelanjutan II WOM Financedengan target dana yangdihimpun sebesarRp4,5 triliun. Sama seperti tahap sebelumnya, penerbitan kali ini akan dilakukan dalam dua seri. Jika sebelumnya Seri A memiliki tenor satu tahun dengan indikasi kupon tetap sebesar 7,8%, dan Seri B memiliki tenor tiga tahun dan dilepas dengan kupon sebesar 8,9%. “Obligasi yang kuartal IV nanti kuponnya kemungkinan bisa lebih rendah dari sebelumnya, karena kami juga melihat adanya penurunan suku bunga dari regulator juga,” jelas Djaja. Sementara itu, Direktur KeuanganWOMFinance Zacharia Susantediredja menjelaskan, pihaknya memang tidak bisa hanya mengandalkan pinjaman dari perbankan saja. Pener- bitan obligasi ini diharapkan bisa melengkapi sumber pen- danaan perseroan untuk menyalurkan pembiayaan tahun ini. “Porsi pendanaan kami masih 50% dari pinjaman perbankan dan 50% lagi dari obligasi. Kami belum ada rencana untuk mencari pendanaan luar negeri atau offshore , karena kami mencari yang murah saja,” terang dia. Hingga Oktober 2017 perseroan telah menyalurkan pem- biayaan sebesar Rp 5,2 triliun, atau meningkat 17% secara tahunan ( year on year /yoy). Sedangkan hingga akhir tahun ini perseroan menargetkan pembiayaan mencapai Rp 6,2 triliun. (nid)

kasi funding perseroan, pasalnya pertumbuhan bisnis yang cukup cepat membuat perseroan perlu meningkatkan kapasitas sumber pendanaan. Wirausaha Mantap Sejahtera Pada kesempatan terse- but, perseroan meluncurkan program Wirausaha Mantap Sejahtera dalam rangka men- ingkatkan produktivitas dan menumbuhkan jiwa wirausaha bagi para nasabah pensiunan PNS dan TNI/Polri. Program tersebut terintegrasi antara pelatihan ide, praktek usaha, pengembangan diri dan mentoring usaha berkelanjutan. Tujuannya adalah agar calon pensiunan atau pensiunan dapat berkaryamembangun usaha dan hidup sejahtera di masa pensiun. Melalui program tersebut, perseroan ingin menciptakan komunitas-komunitas wirausaha yang anggotanya adalah para calon pensiunan atau pensiunan yang memiliki minat usaha yang sama dengan jenis usaha sesuai dengan petensi lokal daerah tempat para pensiunan tersebut berada. Tujuan program ini, jelas Josephus, agar wirausaha dapat menjadi pilihan kegiatan utama untukmendukung produktivitas pada masa pensiun, dan sarana pengembangan diri serta menu- angkan ide dan kreativitas untuk menjaga tingkat keaktifan.

September 2016 di level 0,61%. Menurut Josephus, strategi yang dilakukan perseroan untuk menjaga NPL dengan mening- katkan perbaikan pada penagi- han ( collection ). “Tapi kan NPL kami masih di bawah 1%, masih bagus, karena bagaimana pun pensiunan juga punya risiko, seperti time lag , jadi collection ditingkatkan,” kata dia. Josephus juga mengatakan, perseroan akan menerbitkan kembali obligasi pada 2018. Diperkirakan besarannya akan sama dengan tahun ini, yakni sekitar Rp 2 triliun. Hasil dana tersebut akan digunakan pers- eroan untuk ekspansi kredit tahun depan. “Kami akan terbitkan instru- men obligasi, mungkin Rp 2 triliun juga di tahun depan. Sebab, kami belum bisa mel- akukan PUB (PenawaranUmum Berkelanjutan). Tahun 2019 kami baru boleh PUB, nanti kalau mau terbitkan Rp 5 triliun tidak masalah, karena bertahap. Kalau tahun ini dan tahun depan itu sekali terbitkan harus Rp 2 triliun dan cost besar sekali,” papar Josephus. Selain rencana untuk me- nerbitka obligasi tahun depan, perseroan pada akhir tahun ini akan menerbitkan instrumen pendanaan surat utang jangka pendek atau negotiable certificate of deposit (NCD) sekitar Rp 200 miliar. Dananya untuk diversifi-

ekspansi kredit perseroan. Dia mengatakan, pihaknya juga akan menjaga loan to fi- nancing ratio (LFR) pada posisi 90-92%. Hingga Oktober tahun ini LFR perseroan berada pada level 88%, dan Josephus juga mengaku akan menahan per- tumbuhan DPK agar net interest margin (NIM) tidak semakin tergerus, posisi NIM saat ini sebesar 6,5%. “CASA kami kan tumbuhnya tinggi sekali, artinya tetap tum- buh, tapi tidak bisa untuk ek- spansi. Nanti DPK akan mengi- kuti, kami akan jaga LFR 90-92%, nanti DPK otomatis ikut, karena kami juga menahan DPK supaya NIM tidak tertekan,” terang dia. Di sisi lain, sampai Oktober 2017 perseroan telah membuku- kan aset sebesar Rp 12,73 triliun, meningkat 148,15% dibanding- kan aset pada Oktober tahun lalu sebesar Rp 5,13 triliun. Sementara itu, hingga Ok- tober tahun ini Bank Mantap juga berhasil memperoleh laba bersih sebesar Rp 125,2 miliar. Nilai tersebut tumbuh 168,32% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 46,66 miliar. “Laba sampai akhir tahun ini kami harapkan tembus Rp 150 miliar,” ujar Josephus. Dari sisi rasio kredit ber- masalah ( non performing loan / NPL) hingga saat ini tercatat masih rendah sebesar 0,62%, meningkat tipis dibandingkan

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Mandiri Taspen Pos (Mantap) memproyeksikan penyaluran kredit tahun 2018 tembus kisaran Rp 15-16 triliun. Hingga Oktober 2017 perseroan berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 9,62 triliun, tumbuh signifikan 141,10% dibandingkan periode sama 2016 sebesar Rp 3,99 triliun.

Direktur Utama BankMantap Josephus Koernianto Tripra- koso mengatakan, dari total kredit tersebut, sebesar Rp 7,51 triliun merupakan kredit pensiunan, yang juga tumbuh signifikan mencapai 297,5% secara tahunan ( year on year / yoy). Hingga saat ini komposisi kredit pensiunan mencapai 70% dari total kredit perseroan, dan hingga akhir tahun diharapkan bisa mencapai 80%. “Kredit sampai akhir tahun ini bisa mencapai Rp 10,5 triliun atau komposisinya bisa sampai 80%, karena sekarang sudah 70%. Tahun depan targetnya bisa sampai Rp 15-16 triliun,” jelas Josephus di sela acara peluncuran ProgramWirausaha Mantap Sejahtera di Jakarta, Selasa (14/11). Sedangkan untuk komposisi kredit usaha mikro, kecil, dan

menengah (UMKM), tambah dia, akan dijaga sekitar 20% sampai akhir tahun ini. Meski- pun pihaknya mengaku tahun ini merasakan pengaruh akibat per tumbuhan ekonomi yang kurang stabil. Di sisi penghimpunan dana, sampai dengan Oktober 2017 perseroan telah membukukan dana pihak ketiga (DPK) sebe- sar Rp 8,74 triliun, tumbuh 107,60% dibandingkan dengan DPK pada Oktober 2016 sebesar Rp 4,21 triliun. Dari DPK terse- but masih didominasi oleh dana mahal atau deposito. Josephus mengungkapkan, sebagai bank yang masuk kate- gori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II, besaran komposisi dana murah ( current account saving account /CASA) bukan menjadi hal utama dan juga tidak bisa menjadi pendukung untuk

Made with FlippingBook flipbook maker