ID170320

senin 20 maret 2017

24

ken dwijugiasteadi dirjen pajak

A dagium Latin orandum est ut sit mensana incorpore sano ( marilah kita berdoa semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang sehat) mungkin tidak berlaku atau kurang lengkap bagi Ken Dwijugiasteadi. Ken lebih sreg dengan filosofi ‘dalam badan yang santai terdapat otak yang santai’. Alasannya sederhana. “Kalau badan santai, otak juga santai, sehingga kita bisa berkreasi, berinovasi, dan melakukan improvisasi. Sebaliknya, kalau badan nggak nyantai , kita nggak bisa mikir ,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu kepada wartawan Investor Daily Kunradus Aliandu dan Yosi Winosa di Jakarta, baru-baru ini. Gaya kepemimpinan ( leadership ) itulah yang diterapkan Ken Dwijugiasteadi di institusi yang dipimpinnya. Ia menginginkan karyawan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) atau DJP selalu santai dan rileks dalam arti tidak kaku, tidak tertekan, dan tidak stres agar mereka bisa bekerja optimal. Dalam urusan berpakaian, misalnya, Ken tidak selalu mengenakan seragam formal. Pada waktu-waktu tertentu, ia kerap mengenakan celana jeans . “Malah kalau boleh, setiap hari saya maunya pakai jeans . Karyawan juga setiap hari Kamis saya bebaskan, pakai jeans saja. Wong saya juga pakai jeans ,” ujar pria kelahiran Malang, 8 November 1957, ini. Di luar itu, Ken adalah pemimpin yang mengutamakan proses. Bagi lulusan University of Edinburgh (Skotlandia) Erasmus University (Belanda) ini, segala hal harus melalui proses agar membuahkan hasil maksimal. “Semuanya harus berproses dan terencana. Bila berproses, hasilnya pasti lebih bagus. Hasil proses yang paling berharga adalah pengalaman,” papar dia. Dalam soal pajak, Ken Dwijugiasteadi mengakui bahwa mengajak masyarakat untuk selalu patuh membayar pajak itu susah-susah gampang dan penuh tantangan. Soalnya, tak semua wajib pajak (WP) tertib membayar pajak. Ada saja cara untuk menghindar. “Padahal, kepatuhan membayar pajak mestinya membuat WP ikut bangga dan senang. Berkat modal pajak itulah pemerintah dapat mengentaskan kemiskinan, membangun infrastruktur, dan memperbaiki kualitas pendidikan anak bangsa,” tegas dia. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Nama : Ken Dwijugiasteadi Jabatan: Dirjen Pajak Tempat/tanggal lahir: Malang, 8 November 1957 Status: menikah Pendidikan: l S1 Universitas Brawijaya (1983) l University of Edinburgh, Skotlandia (1989) l Master of Science in Tax Auditing, Erasmus University, Belanda (1991) l Diklat Sepala/Spama Depkeu (1996) l Tax Investigation in Cyber Crime, Dep of The Treasury Federal Law Enforcement TC Glinco, Georgia, AS (1997) l Japan International Corporation Agency Tax College National Tax Agency (NTA), Tokyo, Jepang (2001) l DGT and Japan International Corporation Agency, Jakarta (2001) Kenapa memilih pajak? Waktu lulus kuliah, saya mendaftar di dua tempat, yakni di Ditjen Pajak dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang dulu namanya masih Ditjen Akuntansi Negara. Dua-duanya diterima. Tapi, di BPKP, saya mau ditempatkan di Palu. Sedangkan di Ditjen Pajak, saya ditempatkan di Jakarta. Daripada Palu, saya pilih Jakarta. Surat keputusan (SK)-nya kebetulan menteri keuangan (menkeu) yang tandatangan, keduanya sama diterima. Berarti menkeu nggak baca. Suka-duka di Ditjen Pajak? Pada 1982 saya masuk Jakarta. Setelah setahun bekerja, saya Bisa diceritakan awal karier Anda di Ditjen Pajak? Saya dilahirkan di Singosari, Malang. Dari keluarga bapak, kami semua pakai nama Ken. Keturunan Ken Arok mungkin. Saya menyelesaikan S1 di Universitas Brawijaya. Setelah itu saya ikut tes dan diterima masuk Ditjen Pajak pada 1982, mulai dari pegawai golongan III-A. Saya sempat mendapat kenaikan pangkat istimewa dua kali. Pada usia 35 tahun, saya sudah menjadi Kepala Eselon III dan pada usia 40 tahun menjadi Direktur Pertama Teknologi Informasi (TI). Selanjutnya saya ditunjuk menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Jawa Timur (Jatim). Di Jatim sebanyak tiga kali, Jatim III, II, I, totalnya sembilan tahun. Selanjutnya saya ikut tes panitia seleksi (pansel), sempat menjadi Staf Ahli, kemudian diminta menjadi Plt Dirjen Pajak yang berjalan empat bulan dan sampai sekarang sebagai Dirjen Pajak.

disuruh sekolah ke Amerika Serikat (AS). Pulang ke sini kerja lagi selama dua tahun, lalu disekolahin lagi ke Inggris Raya (Skotlandia) dan Belanda. Terus, waktu saya bekerja di Kanwil Pekanbaru, saya masih disekolahkan lagi ke Glinco, Georgia (AS) selama setahun sebagai penyidik. Jadi, di luar negeri lamanya lima tahun. Jarang ngumpul keluarga sih . Itulah dukanya, ya tahu-tahu anak saya sudah gede . Waktu di luar negeri, saya dibolehkan membawa keluarga. Waktu itu biayanya dari lembaga Belanda. Tapi, secara umum lebih banyak sukanya, karena saya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saya paling bisa nyusup ke mana-mana. Pendapat Anda tentang kesuksesan? Semuanya harus berproses dan terencana. Kalau instan nggak enak. Kalau berproses, hasilnya pasti lebih bagus. Hasil berproses itu pengalaman. Dirjen Pajak adalah jabatan yang rawan digugat secara hukum. Bagaimana Anda bekerja? Dalam bekerja, saya selalu mengikuti undang-undang (UU). Kalau bermain gitar, istilahnya UU ini grip -nya. Kalau sudah pakai UU, nggak mungkin disalahkan. Kalau salah, ya salahkan UU. Gaya kepemimpinan Anda? Saya berkeyakinan kalau badan kita santai, otak kita juga akan santai. Jika otak kita nggak santai, kita nggak bisa berpikir. Kalau santai, kita bisa berkreasi, berinovasi, dan melakukan improvisasi. Makanya, saya selalu berupaya untuk rileks, termasuk dalam berpakaian. Malah, kalau boleh, tiap hari saya maunya pakai jeans . Karyawan juga tiap hari Kamis saya bebaskan, pakai jeans saja. Wong saya juga pakai jeans . Kemarin, di Makassar, saya suruh bikin tulisan, saya tulis di lantai, bingung semua, karena memang nggak ada meja. Jadi, saya ndlosor . Saya jadi ingat zaman SD, belajar di lantai. Mereka malah senang. Pembawaan saya memang santai. Makanya sekolah di SMA dulu empat tahun. Waktu kelas dua nggak naik ke kelas tiga. Saya dulu ke sekolah cuma bawa satu buku di kantong, tapi nilai saya rata-rata bagus, 8-9, cuma satu yang merah, yaitu Bahasa Inggris. Kenapa? Gurunya naksir saya, saya tolak. Saya dikasih nilai 3. Waktu saya di AS, kebetulan dia juga ada di AS, saya telepon mantan

Investor Daily/IST

prosedurnya sangat panjang dan lama. Sekarang prosedurnya saya- menkeu-OJK hanya klik, masuk bank-bank, kembali lagi. Bahkan mungkin satu hari bisa selesai. Dampak reformasi perpajakan setelah amnesti pajak? Setelah program tax amnesty , tax base bertambah. Sekarang yang ikut tax amnesty masih sekitar 700 ribu dari 12 juta WP yang melaporkan SPT. Angkanya kecil. Ke depan, fokusnya law enforcement . Jadi, begitu tanggal 1 April pukul 00.00 WIB, saya kejar. Saya akan keluarkan surat perintah pemeriksaan. Tax amnesty itu haknya mereka. Tapi kalau hak itu nggak dipakai, gantian hak saya yang saya pakai. Daftarnya tengah kami susun. Petugas pemeriksa di Ditjen Pajak sudah 10 ribu, saya tambah lho , sudah termasuk AR ( account representative ) sekitar 5.000. Mereka bergeraknya serentak setelah ada surat resmi dari Kantor Pajak atau Kanwil masing-masing. Kita harus bangga, Indonesia dianggap berhasil melaksanakan program tax amnesty. Malah sekarang Korea, Jepang, Inggris, Malaysia, dan Singapura pun mau belajar tax amnesty ke kita. memiliki kepuasan tersendiri bila berhasil menyenangkan orang lain. Makanya saya selalu bilang , itu yang bisa dibagikan ke masyarakat. Saya akan katakan kepada masyarakat bahwa membayar pajak itu menyenangkan orang lain. Harusnya bangga dengan membayar pajak karena bisa mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan bangsa. Dana pendidikan kini dialokasikan 20% dari APBN. Pembayar pajak harusnya senang. Bagaimana Anda menggunakan waktu untuk rileks? Hobi saya menyanyi, bermain musik, dan main band . Saya bisa memainkan hampir semua alat musik. Keluarga saya juga suka musik. Anak saya bisa main piano dan gitar, menantu saya main drum. Sekarang kami punya grup musik, namanya Kenjiro. Saya suka band AC/DC dan Dream Theater. Untuk lokal, Utha Likumahuwa atau lagu sekarang Iwa K, Andien, dan lagu grup Soulvibe. Tiap Jumat saya sempatkan waktu dengar musik house, sekarang kan sedang populer. Untuk olahraga, saya suka golf dan renang. Saya juga sering tari salsa. Filosofi hidup Anda? Saya paling senang atau

nggak ada gap dengan mereka. Kalau ada tamu, siapa pun saya terima. Semua orang saya terima, nggak harus ada deal . Era Anda dulu seperti apa? Waktu masuk Ditjen Pajak, saya salah satu sarjana yang pertama kali bisa komputer. Makanya saya waktu masih muda diajak direktur ke mana-mana untuk menjadi notulis rapat dengan para direktur dan kakanwil. Bahkan, program tax amnesty (amnesti pajak) tahun 1984 itu konseptornya yang mengetik saya. Dulu pakai aplikasi IBM yang sekarang menjadi word. Karena sering ikut pimpinan, saya tahu pola pikirnya. Direktur ini ngomong -nya begini. Kalau cuma ngomong begini, saya juga bisa. Atau kakanwil marah-marah doang , saya juga bisa. Tiap hari saya ikut direktur. Bahkan, saya pernah memberikan paparan di depan pejabat eselon II dan III. Saya sempat takut, tapi direktur saya bilang gampang Ken, anggap aja semua bodoh. Sejak itu, saya berani tampil. Saya sering dipercaya direktur untuk audiensi. Makanya kalau saya memberikan paparan nggak mau duduk, maunya jalan-jalan kayak Steve Jobs, he, he, he... Harapan Anda ke depan? Kalau pelayanan sudah serba elektronis, nggak perlu ketemu orang lagi, di mana surat pemberitahuan (SPT) tahunan disampaikan semua lewat e-filing , semua serba e , serba online , nanti tinggal audit saja. Kalau datanya sudah lengkap, aparat pajak dan WP nggak usah bertemu, tahu-tahu dipanggil saja. Sebenarnya tahun depan sudah bisa mulai jalan. Saya memang ingin orang pajak nggak perlu bertemu WP. Di Inggris, misalnya, nggak perlu bertemu. Ada 68 ribu pegawai di sana, sedangkan di kita hanya ada 39 ribu. Di sana nggak ada WP yang kenal orang pajak. Saat-saat paling bahagia di Ditjen Pajak adalah saat di mana kita saling percaya. Bukan berarti saling percaya nggak perlu dicek. Cek tetap harus, dong . Sampai di mana persiapannya? Tahun ini persiapan sudah mulai. Misalnya kemarin dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kami bekerja sama, termasuk dalam soal kerahasiaan data nasabah atau rekening di perbankan. Orang dari Kanwil Papua, dari ruang kerjanya di sana tinggal klik, buka rekening dari 290 hari menjadi 14 hari. Sehari bisa 1.000 tanda tangan, lho . Sebelumnya,

guru saya itu. Dia tanya siapa ini? Saya jawab your enemy . Beliau kaget setelah tahu saya sudah bekerja di Ditjen Pajak. Bayangin , Bahasa Inggris diberi nilai 3, gila apa, ya ? Perbedaan kultur Ditjen Pajak dulu dengan sekarang? Pemimpin harus tahu karakter bawahan atau karyawannya. Di era saya, 70% pegawai Ditjen Pajak adalah generasi Y, di bawah usia 40 tahun. Eranya saya tentu berbeda. Anak sekarang nggak perlu dikasih informasi dan nasihat, paling bilang sok . Kirim, kerjaan via WA. Berbeda dengan era saya dulu. Pada 1982-an masih berbau feodal. Masuk ruangan kepala seksi, apalagi direktur, nggak bisa. Kalau nggak dipanggil nggak boleh masuk. Jadi, style sekarang memberi semangat saja. Anak sekarang nggak mau diajarin . Informasi sudah banyak diperoleh dari internet. Ke depan, lima tahun lagi, mungkin nggak perlu ruangan. Audit sudah bisa dilakukan secara elektronis, nggak perlu bertemu orang. Anak sekarang, habis gajian nongkrong di Starbucks dan Hard Rock Cafe. Kemarin, mereka mengerjakan administrasi tax amnesty sampai malam. Nggak ada yang menyuruh, mereka makan bareng saya. Saya

Investor Daily/IST

K en Dwijugiasteadi memiliki banyak kesan positif dalam menjalankan tugasnya sebagai pengumpul pundi-pundi negara, terutama saat bertugas di daerah. Salah satu kesan mendalam yang dialaminya adalah sambutan luar biasa yang diberikan masyarakat Dayak. “Saya diangkat menjadi kepala kehormatan suku Dayak. Waktu itu, saya pakai celana kayu,” tutur dia. Ken memang lama bertugas di sejumlah daerah. Ia pernah bertugas di sejumlah kota di Sumatera dan Kalimantan, Manado, Bandung, dan Bojanegara (Purbalingga, Jawa Tengah). “Terkadang terbersit keinginan saya untuk kembali ke daerah. Di daerah itu enak, alamnya masih asri dan masyarakatnya ramah. Jadi, waktu bertugas di daerah, lebih sukanya daripada dukanya,” papar dia. Ken mengaku selalu menggunakan pendekatan persuasif kepada masyarakat atau wajib pajak (WP). Bahkan, pengalaman positif di daerah kemudian dibawanya hingga ia memangku jabatan tertinggi di Ditjen Pajak. (ks)

Made with FlippingBook flipbook maker