ID180928

JUMAT 28 september 2018

24

Rate menjadi 5,5%. Menurut dia, hampir di semua segmen kredit telah dinaikkan tingkat bunganya. “Trennya naik pelan-pelan, kami sudah naik, hampir semua naik, paling tidak, yang dulu banyak diskon atau special rate , sekarang sudah banyak berkurang,” papar dia. Berdasarkan data SPI OJK periode Juli 2018, kredit BUKU I mencapai Rp 46,15 triliun. Nilai tersebut tum- buh tinggi 15,58% dibandingkan dengan pertumbuhan kredit tahun lalu sebesar Rp 39,93 triliun. Kemu- dian, posisi kedua berada pada kelompok BUKU III yang kreditnya tumbuh 13,30% (yoy) menjadi Rp 1.714,54 triliun dari sebelumnya Rp 1.513,20 triliun. Untuk kelompok BUKU IV tercatat kreditnya tumbuh 12,35% dari Rp 2.236,88 triliun men- jadi Rp 2.513,12 triliun per Juli 2018. Pertumbuhan tersebut masih disum- bangkan oleh kredit infrastruktur yang memang didominasi oleh kelompok bank besar, khususnya bank BUMN.

kami kencang sekali tahun ini, tapi memang kredit konsumer trennya bunga naik, dibandingkan tahun lalu bunga KPR (kredit pemilikan rumah) rendah sekali, menurut saya cukup banyak tapi tidak sebanyak tahun lalu,” jelas Suwignyo. Terkait kredit konsumer, untuk kredit kendaraan bermotor (KKB) Suwignyomencatat telahmenyalurkan kredit sebesar Rp 45 triliun per Agus- tus 2018. Nilai tersebut meningkat 8% (yoy). “Kalau KPR sekarang sudah Rp 85 triliun per Agustus, proyeksinya mungkin sekitar Rp 89 triliun hampir Rp 90 triliun, karena KPR itu kan run off- nya tinggi. Sebetulnya kalau kredit baru KPR itu ada yang minta baru sekitar Rp 20 triliun, tapi kalau run off sendiri sudah Rp 15 triliun, jadi outstanding cuma naik Rp 5 triliun,” papar Suwignyo. Terkait tren peningkatan suku bunga, pihaknya jugamengungkapkan telah menaikkan suku bunga kredit seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo

ingkat 8% (yoy). Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo meyakini, pertumbuhan kredit perseroan kuartal ketiga tahun ini bisa tumbuh sesuai target. Selain itu, pihaknya optimistis laba perseroan dapat tumbuh hingga ke level dua digit pada tahun ini. “Kemarin target kredit kami sekitar 12-14%. Kami kira itu sudah terlam- paui, karena per tumbuhan kredit sesuai proyeksi sampai sekarang,” jelas Haru. Senada, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat penyaluran kredit tumbuh 15% (yoy). Direktur BCA Suwignyo Budiman menyebutkan, kredit korporasi perseroan tahun ini tumbuh kencang jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sedangkan untuk kredit konsumer disebut tidak sek- encang tahun lalu karena tren pen- ingkatan suku bunga pada tahun ini. “Tapi biasanya semester II lebih baik dari semester I, menurut kami masih bagus semester II ini. Korporasi

Bank Mandiri tercatat tumbuh lebih rendah dari per tumbuhan kredit menjadi Rp 722,38 triliun atau naik 9,69% (yoy). Pihaknya menargetkan pertum- buhan kredit sampai dengan akhir tahun ini berada di kisaran 11-14% (yoy). Menurut dia, sektor yang mendorong kredit perseroan adalah kredit korporasi dan konsumer. “Per- tumbuhannya bagus, baik secara year on year , secara year to date ataupun month to month bagus semua. Kredit juga tumbuh double digit ,” ungkap Panji ditemui di Jakarta, Rabu (27/9) malam. Secara terpisah, Direktur Bisnis Ritel Bank Mandiri Donsuwan Simat- upang mengatakan, sampai dengan Agustus tahun ini pertumbuhan kredit konsumer tinggi, mencapai 30% (yoy). “Konsumer kami tumbuh sekitar 30%, didukung dari kartu kredit, oto loan itu tinggi,” kata Donsuwan di Jakarta, Kamis (27/9). Sementara itu, untuk kredit pemilikan rumah (KPR) Bank Mandiri sampai dengan Agustus men-

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Agustus 2018, pertumbuhan kredit industri perbankan sebesar 12,12% secara year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada Juli 2018 yang tumbuh 11,34%.

hanya tumbuh 6,88% (yoy). Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan mengatakan, sampai dengan Agus- tus 2018, perseroan telah mencatat pertumbuhan kredit dua digit. Ber- dasarkan laporan keuangan perseroan, kredit yang telah disalurkan mencapai Rp 665,51 triliun per Agustus 2018, tumbuh 11,92% secara tahunan ( year on year /yoy). Sementara itu, DPK

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) pada Agustus 2017, penyaluran kredit perbankan men- capai Rp 4.488,64 triliun. Dengan demikian, apabila pertumbuhan kredit hingga Agustus tahun ini 12,12%, out- standing kredit mencapai Rp 5.032,66 triliun. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak pihak ketiga (DPK) indus- tri perbankan sampai Agustus 2018 lebih rendah dibandingkan kredit atau

Investor Daily/IST

adanya persaingan bisnis, perkemban- gan teknologi informasi, dan pergeseran perilaku masyarakat telah menjadi fak- tor pendorong bagi bank untuk selalu berinovasi agar dapat mempertahankan eksistensinya, sekaligus meningkatkan loyalitas nasabahnya. Untuk itu, bank di- harapkan dapat menyediakan layanan yang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi, sehingga pelayanan kepada nasabah menjadi lebih cepat, mudah, dan sesuai dengan kebutuhan dan tetap mem- perhatikan aspek pengamanan. “Layanan yang demikian mengarahkan bank ke dalam suatu era baru, yaitu era layanan perbankan digital,” ucap dia. Penyediaan layanan perbankan digital diharapkan dapat memperluas sekaligus mempermudah akses masyarakat ter- hadap layanan keuangan, sehingga dapat dilakukan tanpa mengenal batasan waktu dan tempat. Sebagai contoh, kemudahan pembukaan rekening tabungan melalui digital, tanpa harus datang ke cabang. Dalam POJK layanan perbankan di- gital, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh bank yang akan mengadopsinya, antara lain, persyaratan bank penyelenggara, permohonan per- setujuan, implementasi penyelenggaraan layanan perbankan, manajemen risiko, penyampaian laporan, dan perlindungan nasabah. Anton menambahkan, penyediaan layanan tersebut juga perlu memikirkan strategi pendukung, seperti manajemen risiko, pemanfaatan kerja sama pihak ketiga, manajemen internal bank, dan edukasi kepada nasabah. Hingga saat ini baru tercatat dua bank umum yang sudah memanfaatkan tekno- logi digital dalam layanan perbankan. Pertama, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan produknya Jenius, kedua, PT Bank DBS Indonesia dengan produk Digibank. “Layanan perbankan elektronik yang digital belum banyak yang mengikuti atau menerapkan, karena perlu meng- upgrade infrastruktur dengan data-data yang dimiliki pemerintah, seperti data kependudukan dan pencatatan sipil (dukcapil),” jelas dia. Hingga Agustus 2018, jumlah bank umum yang telah memiliki layanan elektronik perbankan sebanyak 80 bank terdiri atas lima BUKU I, 44 BUKU II, 26 BUKU III, dan lima BUKU IV. (nid)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan PeraturanOJK (POJK) tentang Penyelenggaraan Layanan Perb- ankan Digital oleh Bank Umum dalam rangka meningkatkan efisiensi industri perbankan. Untuk itu, OJK minta kepada bank yang ingin menyediakan layanan di- gital banking agar meningkatkanmodal un- tuk infrastruktur. Aturan tersebut diterbit- kan dalamPOJKNomor 12/POJK.03/2018 yang mendukung industri perbankan un- tukmelakukan inovasi penyediaan layanan perbankan secara digital. Kepala Depar temen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Antonius Hari mengatakan, bank yang bisa mengadopsi digital banking adalah bank umum kegi- atan usaha (BUKU) II dengan modal inti antara Rp 1-5 triliun. Menurut dia, kelom- pok bank tersebut memiliki modal yang kuat untuk menyediakan infrastruktur yang memadai untuk pengembangan layanan digital. “Kalau kami mendorongnya, bahwa bank yang bisa melakukan pelayanan keuangan digital ini sebenarnya harus memiliki infrastruktur, peringkat risiko yang baik, intinya bank itu harus kuat. Nah , kuat itu termasuk harus punya modal yang cukup, kami dorong bankmenaikkan modal di atas Rp 1 triliun,” terang Anton di Gedung OJK, Jakarta, Kamis (27/9). Dia menambahkan, jika bank kecil yang memiliki modal di bawah Rp 1 triliun atau bank umum kegiatan usaha (BUKU) I menyediakan layanan perbankan secara digital, dikhawatirkan tidak kuat dari sisi teknologi, infrastruktur, dan risikonya. Dengan demikian, memang perlu disiap- kan secara matang. “Kalau bank kecil, tak- utnya ada cyber crime, mungkinmereka be- lum bisa tangani, bahkan tingkat risikonya harus tingkat 1 dan 2, tingkat 3 itu tidak boleh. Ukurannya tingkat 1 itu paling bagus, dan tingkat 5 paling buruknya,” lanjut dia. Layanan perbankan digital dapat dise- diakan oleh bank secara mandiri atau dapat dilakukan melalui kemitraan dengan pihak ketiga, seperti financial technology ( fintech ) . Hal tersebut akan lebih me- ringankan perbankan dibandingkan harus menambah banyak modal sebagai syarat yang harus dipenuhi, namun tetap perlu modal yang cukup. Anton menjelaskan, latar belakang diterbitkannya POJK tersebut karena JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyiapkan plafon pembiayaan khusus dalam rangka akusisi value chain rekanan PP Urban dengan total limit sebesar Rp 200 miliar. Pembiayaan tersebut untuk memperkuat likuiditas serta mend- orong percepatan pelaksanaan proyek- proyek pembangunan perumahan dan meningkatkan sinergi BUMN. Direktur Retail Banking Bank Mandiri Donsuwan Simatupang mengatakan, dukungan pembiayaan ini juga diharapkan dapat memberikan kepastian dan kenyamanan kepada value chain rekanan PP Urban, se- hingga dapat mendukung pertum- buhan pembangunan infrastruktur perumahan di Indonesia sesuai fokus pemerintah saat ini. “Kerjasama ini menjadi bukti sin- ergi strategis yang bisa dilakukan BUMN, baik dengan perusahaan in-

Kerja Sama Presiden Direktur RS Hermina Hospital Group dr H Hasmoro (kiri) bersama Ketua Umum Forum Asuransi Kesehatan Indonesia (Formaksi) Christian Wanandi (kanan) dan Direktur Eksekutif Formaksi/Direktur Asuransi Sinarmas Dumasi MM Samosir (tengah) di sela penandatanganan 11 perusahaan asuransi yang tergabung dalam Formaksi dengan RS Hermina Group atas pasien Coordionation of Benefit BPJS Kesehatan di Jakarta, Kamis (27/9). Dengan adanya perluasan kerja sama ini, maka pasien BPJS Kesehatan yang memiliki Asuransi Kesehatan Tambahan (AKT) tidak perlu membayar selisih biaya atau ekses di rumah sakit, sebab akan langsung ditagih oleh RS ke perusahaan asuransi yang menerbitkan polis AKT pasien secara cashless.

merekomendasikan rumah-rumah tersebut kepada nasabah perseroan yang potensial. “Kami terus mengem- bangkan kerja sama dengan pengem- bang-pengembang yang telah ter- daftar pada asosiasi, baik melalui programpromo yangmenarikmaupun perbaikan proses persetujuan aplikasi sehingga persetujuan KPR dapat lebih cepat,” kata Donsuwan. Donsuwan menjelaskan, fasilitas KPR FLPP yang telah disalurkan Bank Mandiri hingga pada periode Januari-Agutus 2018 mencapai Rp 45,5 miliar. Dalam rangka mend- orong penyaluran KPR bersubsidi dan mendukung program FLPP, Bank Mandiri akan semakin ekspansif dalam pengembangan kerja sama dengan asosiasi dan pengembang perumahan. Hal ini sebagai wujud semangat Bank Mandiri untuk me- makmurkan negeri. (nid) “Untuk menjalankan fungsi tersebut mereka perlu tamba- han modal, kami sudah meminta pemegang saham saat ini untuk menambah modal, tetapi belum ada indikasi pemegang saham mampu menambah modal, kon- sekuensinya berarti harus men- gundang investor baru,” jelas Anto. Adapun berdasarkan informasi yang diperoleh Investor Daily , konsorsium tersebut dipimpin oleh Ilham Habibie ini berang- gotakan beberapa pengusaha seperti Arifin Panigoro, Dato’ Sri Tahir, dan Lynx Asia. Nantinya masuknya konsorsium ke Bank Muamalat ini akan melalui rights issue . (ris) baik dan bisa mengembangkan dirinya untuk menjalankan fungsi intermediasi.

saham per usahaan berbasis syariah. Seperti dana yang diset- orkan tak boleh berasal dari utang dan bukanmerupakan babian dari tindak pencucian yang ( money laundering ). Anto menegaskan, OJK tidak akan mempengaruhi pihak yang akan jadi pemegang saham baru Bank Muamalat. Semua mekan- ismenya semata-mata business to business dan harus profesional. “Yang penting cocok dan sepakat, go ahead . Tetapi kami akan lihat skemanya, caranya, sumbernya,” jelas Anto. Lebih lanjut Anto menam- bahkan, kondisi Bank Muamalat saat ini masih beroperasi secara normal, tetapi sebagai istitusi OJK harus memastikan perusa- haan tersebut berjalan dengan

beri informasi kepada kami,” kata Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo di Jakarta, Kamis (27/9). Menur ut Anto, OJK mem- persilahkan siapapun investor untuk dapat memperkuat permod- alan Bank Muamalat sepanjang memenuhi tiga syarat. Ketiga syarat tersebut yakni, pertama adalah kredibel, karena tidak boleh industri keuangandipegang oleh orang yang tidak kredibel, mulai dari pemilik pengurus hingga pegawainya. Kedua, investor yang akan masuk dihar uskan memiliki keuangan yang cukup sehingga mampu mengembangkan usaha bank tersebut. Syarat ketiga, in- vestor tak bolehmelanggar keten- tuan dari poin-poin pemegang

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan meminta keterangan kepada PTBankMuamalat Indonesia Tbk mengenai adanya konsorsium yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan permodalannya. Pas- alnya OJKmengaku menerima in- formasi adanya konsorsium yang dibentuk untuk menyuntikkan modal ke bank syariah pertama di Indonesia tersebut. “Kami OJKmenerima informasi akan ada konsorsium yang diben- tuk untuk memenuhi kebutuhan permodalan Bank Muamalat sehingga OJK akan meminta informasi dari Bank Muamalat mengenai hal ini, karena kami tidak akanmeminta informasi dari konsorsium tetapi dari bank se- hingga bank lah yang harus mem-

Salurkan KPR FLPP Di sisi lain, Bank Mandiri bekerja sama dengan Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Him- perra) dan Perkumpulan Pengem- bang Sukses Bersama (Perpesma) dalam pembangunan dan pemasaran rumah sederhana bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), denganmenggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dalam kerja sama tersebut, perseroan akan menyediakan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) bagi masyarakat serta fasilitas kredit kon- struksi perumahan bagi pengembang anggota Himperra dan Perpesma. Sedangkan anggota Himperra dan Perpesma akan menyediakan lahan dan melaksanakan pembangunan per- umahan bersubsidi bagi masyarakat. Saat ini, tercatat terdapat lebih kurang

1.600 pengembang di seluruh In- donesia yang tergabung dalam kedua asosiasi tersebut. Menurut Donsuwan, kerja sama tersebut adalah bentuk dukun- gan perseroan kepada program pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan rumah dan menekan rasio backlog rumah secara nasional melalui FLPP. Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyebutkan, backlog per- umahan secara nasional tahun 2015 mencapai 7,6 juta unit rumah dan diharapkan dapat diturunkan men- jadi 5,4 juta unit rumah pada 2019. Untuk itu diperlukan dukungan dan kerja sama penuh antara perbankan dan pelaku usaha pengembang perumahan. Untukmembantu pemasaran rumah sederhana yang dibangun, Donsuwan melanjutkan, pihaknya berencana

rekanan PP Urban. Ini dalam rangka mendukung fokus strategi Mandiri khususnya di sektor infrastruktur. Menurut Donsuwan, Bank Mandiri terus bersinergi dengan PP Urban dan grup usaha PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk atau PT PP untuk mensosialisasikan fasilitas ke rekanan PP Urban yang direko- mendasikan. Langkah ini menjadi realisasi komitmen perseroan untuk memakmurkan negeri, tidak hanya level korporasi namun juga level usaha kecil dan menengah (UKM). Skema pembiayaan seperti ini di- harapkan dapat diimplementasikan ke- pada akuisisi value chain perusahaan grup usaha BUMN lainnya yang telah bekerja sama dengan Bank Mandiri. Hal ini dalam rangka meningkatkan sinergi BUMN yang lebih baik sesuai semboyan Bank Mandiri Spirit Me- makmurkan Negeri.

duk atau holding maupun anak usaha dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata,” kata Donsuwan dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily , Rabu (26/9). SVP SME Banking Bank Mandiri Anton Herdianto menambahkan, saat ini terdapat 88 value chain rekanan PP Urban yang menjadi potensi akuisisi segmen usaha kecil dan menengah (UKM) di Bank Mandiri, dan akan bertambah seiring dengan proyek-proyek yang diperoleh oleh PP Urban. Penandatanganan perjanjian kredit untuk value chain rekanan PP Urban ini merupakan perluasan kerjasama antara Bank Mandiri dengan PP Urban, yakni dari yang sebelumnya berupa fasilitas pembiayaan kepada PP Urban, menjadi tahap lanjutan berupa solusi pembiayaan kepada value chain

Made with FlippingBook Online newsletter