ID180711

rabu 11 juli 2018 2 INTERNATIONAL

Investor Daily/ AFP PHOTO / Lillian SUWANRUMPHA

Aziz Pane menegaskan, pemerintah tidak boleh menyepelekan fasilitas GSP. “Karena itu, pemerintah RI perlu mendesak AS agar mempertahankan fasilitas tersebut,” tandas dia. Dia mengakui, pemerintah harus segera megantisipais perang dagang AS-Tiongkok. Dampak tidak langsung perang dagang adalah menurunnya nilai ekspor bahan baku Indonesia ke Tiongkok akibat lemahnya produksi industri Negeri Tirai Bambu yang terdampak proteksionisme AS. Karena itu, kata Aziz Pane, Kemen- terian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang sedang menyiapkan delegasi ke AS harus benar-benar mampu menyakinkan Washington bahwa pencabutan GSP bagi Indonesia justru merugikan AS. “Saya punya keyakinan AS tidak jahat terhadap kita. Mereka hanya mengevaluasi produk-produk ekspor Indonesia. Saya tetap optimistis asalka pemerintah kita bisa meyakinkan mereka,” ujar dia. Aziz Pane menambahkan, pada era Pemerintahan SBY, saat posisi Menteri Perdagangan (Mendag) dijabat Marie Elka Pangestu, AS juga ingin mencabut fasilitas GSP. Namun, karena pendekatan yang baik, rencana dapat digagalkan. “Dulu APBI dan Kadin turun tangan memberikan dukungan kepada peme­ rintah. Saya harap tahun ini negosiasi yang dilakukan pemerintah berjalan baik,” tutur dia. Sedang Diinventarisasi Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah sedang membahas dan mengidentifikasi sektor per sektor lintas kementerian secara menyeluruh untuk mengantisi- pasi dampak perang dagang AS versus Tiongkok dan negara-negara lainnya. Identifikasi, kata Menkeu, melibat- kan sejumlah kementerian terkait, seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Perindus- trian (Kemenperin), Kementerian ESDM, dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Sri Mulyani menjelaskan, Kemen- perin akan mengidentifikasi industri manufaktur yang berpotensi bisa ditingkatkan kemampuan ekspornya maupun pengurangan impornya. Itu dilakukan agar neraca pembayaran lebih seimbang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan. Hasil identifikasi itu, menurut dia, akan ditindaklanjuti melalui kebijakan di wilayah Kemenkeu, seperti BM impor bahan baku atau bea keluar (BK) sebagai insentif agar ekspor lebih kompetitif. “Kemudian diidentifikasi indus- tri-industri apa dan bentuk ke- bijakan yang bisa diambil untuk memperbaiki daya produktivitas dan daya saing dari industri itu, dari industri makanan-minuman, tekstil, karet, elektronik, kimia, semua memiliki kebutuhan yang berbeda,” maksa mereka berlindung di tebing berlumpur dan lebih tinggi. Mereka menghabiskan sembilan hari dalam kegelapan sampai dua pe- nyelam Inggris menemukan mereka pada Senin pekan lalu. Mereka tampak kurus tetapi tetap mampu melem- parkan senyuman kepada penyelam tersebut. Mereka juga digambarkan sangat bersemangat. Eforia awal usai menemukan mere- ka langsung berubah tatkala pihak berwenang berjuang menyusun ren- cana aman untuk mengeluarkan mereka. Sebab ruang sempit lebih dari empat kilometer di dalam gua dan labirin terowongan yang menuju ke posisi mereka dipenuhi air. Pihak ber wenang memper tim- bangkan ide-ide seperti pengeboran lubang ke gunung atau menunggu berbulan-bulan sampai hujan musim hujan berakhir dan mereka bisa ber- jalan keluar. Kepala penyelamat pada satu kesempatan mengatakan upaya menyelamatkan mereka merupakan misi mustahil. Kadar oksigen di sekitar mereka jatuh ke tingkat berbahaya. Hujan monsoon mengancam untuk mem- banjiri gua di atas pinggiran di mana anak-anak itu berlindung. Kemudian tim penyelamat memutuskan pada pilihan paling buruk, yaitu penyelam mengawal mereka keluar melalui terowongan sempit. Tantangan Penyelamatan Rute penyelamatan itu menjadi tan- tangan bahkan bagi para ahli. Seorang mantan penyelamAS Thailandmening- gal karena kehabisan oksigen di daerah banjir di gua pada Jumat (6/7), ketika mencoba mempersiapkan rute keluar. Banyak dari anak-anak itu bahkan tidak dapat berenang dan tidak ada yangmemiliki pengalamanmenyelam. Sehingga tim penyelamat melatih mereka bagaimana menggunakan masker dan bernapas di bawah air melalui tangki oksigen.

Oleh Leonard AL Cahyoputra  MAE SAI – Lima anggota terakhir dari tim sepak­ bola remaja dan seorang asisten pelatihnya pada Selasa (10/7) akhirnya berhasil dikeluarkan dari gua yang kebanjiran di Thailand utara. Mereka berhasil dikeluarkan setelah 18 hari terjebak hingga empat kilometer ke dalam gua. Secara umum, selesai pula misi penyelamatan luar biasa melawan bahaya dan menarik perhatian dunia ini.

dari negara-negara lain, seperti Ban- gladesh, Kamboja, dan Vietnam, yang masih mendapat berbagai fasilitas, termasuk GSP. Apalagi negara-negara itu juga menjalin FTA dan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif ( comprehensive economic partnership agreement /CEPA). Ade Sudrajat menegaskan, solusi paling tepat untuk menyiasati perang dagang adalah menjalin FTA dengan AS dan negara-negara besar lainnya. Dengan menjalin FTA, Indonesia dan AS akan setara sebagai mitra dagang, sehingga tidak bisa seenaknya men- cabut fasilitas BMdan fasilitas-fasilitas lainnya. “Kita bisa melobi AS karena kita punya pasar yang besar, menjadi tu- juan investasi, wilayah yang strategis, dan potensi ekonomi yang bagus di kawasan. Jadi, posisi tawar ( bargain- ing position ) kita sangat kuat untuk bernegosiasi dengan AS,” tandas dia. Jika Indonesia menjalin FTA dengan AS, menurut Ade, produk-produk ek- spor Indonesia akan mudah masuk ke AS dan lebih kompetitif karena tidak dipungut BM yang tinggi atau terkena hambatan nontarif ( non-tariff barrier ). “Kami sebetulnya sudah lama men- gusulkan ini. Tapi smapai sekarang belum ditindaklanjuti pemerintah,” ucap dia. Berdasarkan catatan Investor Daily , FTA dengan AS tidak masuk dalam jadwal rencana pemerintah. Tahun ini, Kementerian Perdagangan (Ke- mendag) hanya berencana meram- pungkan enam perundingan FTA atau CEPA, yakni Indonesia Austra- lia-CEPA, Indonesia European Free Trade Association (EFTA)-CEPA, Indonesia European Union-CEPA, In- donesia Iran Preferential Trade Agree- ment (PTA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Indonesia-Malaysia Border Trade Agreement (BTA). Indonesia juga akan menyelesaikan peninjuan Indonesia-Japan Economic Par tnership Agreement (IJ-EPA), Indonesia-Pakistan PTA, Masyarakat Ekonomi Asean, Asean-Australia New Zealand FTA dan Asean-India FTA. Ancam Industri Ban Ketua Umum APBI Aziz Pane berharap fasilitas GSP tidak dicabut AS karena sangat menguntungkan industri ban di Tanah Air. Ban ter- masuk industri yang mendapat GSP dari AS. Melalui fasilitas ini, ban asal Indonesia yang masuk ke AS tidak dipungut BM, sedangkan jika tidak dapat fasilitas GSP terkena tarif BM 25-30%. Kendati begitu, nilai ekspor ban ke AS dibatasi, tak boleh melebihi US$ 180 juta per tahun. “Saya berharap sekali fasilitas ini tetap ada, karena pasar AS sangat potensial. Sayang jika dicabut. Me- mang bukan kiamat kalau sampai dicabut. Tapi jangan lupa, industri ban mer upakan industri padat kar ya, sehingga pencabutan GSP bisa berdampak ke penyerapan tenaga kerja,” papar dia. war di gua dapat menyebabkan infeksi berbahaya. Mereka juga perlu mendapatkan konseling untuk mengatasi trauma psikologis. Sebab mereka telah meng- habiskan begitu lama tanpa meng- etahui apakah mereka akan bertahan hidup. Namun ada beberapa tanda awal yang menjanjikan. Kepala medis melaporkan pada Selasa pagi bahwa delapan anak laki-laki yang diselamat- kan pada Minggu dan Senin berada dalam kondisi mental dan fisik yang relatif baik. “Kedelapannya dalam keadaan sehat, tidak demam. Semua orang dalam keadaan mental yang baik,” ucap Jedsada Chokdamrongsuk, sekretaris permanen Kementerian Kesehatan Umum. Namun demikian, anak-anak itu akan tetap di karantina di rumah sakit sampai para dokter yakinmereka tidak mengidap infeksi apa pun dari dalam gua. Anak-anak berusia 11 hingga 16 ta- hun, dan asisten pelatihnya, berkelana ke gua Tham Luang di Thailand utara yang bergunung-gunung pada 23 Juni 2018. Mereka pergi setelah latihan dan terperangkap ketika hujan lebat menyebabkan banjir. Kondisi itu me-

Indonesia selama ini membukukan surplus perdagangan dengan AS. Tahun lalu, Indonesia surplus US$ 9,67 miliar dan selama Januari-April 2018 surplus US$ 2,84 miliar. Ekspor Indonesia ke AS tahun lalu mencapai US$ 17,79 miliar atau 12% terhadap total ekspor nasional yang mencapai Ketua Umum API Ade Sudrajat menyambut baik rencana pemerintah mengirim tim negosiasi GSP ke AS. “Kami mendukung langkah ini dan berharap misinya berhasil,” kata dia. Menurut Ade Sudrajat, untuk me­ lobi AS, pemerintah harus melakukan persiapan yang cermat dan matang. “Harus disiapkan betul apa yang akan diperjuangkan, strateginya bagaimana, apakah sasarannya barter, win-win solution , konsesi, atau skema lainnya. Misi diplomasi kita selama ini sering gagal karena tidak dipersi- apakan secara matang,” ujar dia. Ade menjelaskan, jika AS mencabut GSP, Indonesia tidak bisa memba- lasnya. Sebab, GSP merupakan pro- gram ‘belas kasihan’ pemerintah AS kepada negara-negara berkembang. Skim GSP juga tidak masuk keten- tuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). GSP, kata Ade, biasanya diberikan dengan tujuan meningkatkan daya saing produk-produk negara berkem- bang, meski sering juga dikaitkan dengan isu-isu nonekonomi. GSP pun umumnya diberikan kepada negara-negara yang pendapatan per kapitanya rendah. Negara-negaramaju biasanya mencabut fasilitas GSP jika produk suatu negara dianggap sudah berdaya saing. Ade Sudrajat mengoreksi pern- yataan pemerintah bahwa tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia masih mendapat fasilitas GSP. “Kalau TPT negara-negara lain ya mendapat GSP, tapi Indonesia sudah tidak lagi. TPT kita praktis tidak mendapat GSP bersamaan dengan penghapusan sis- tem kuota dalam perdagangan TPT global,” tandas dia. Industri TPT dunia mulai 1 Januari 2005 tak lagi menganut sistem kuota, sistem yang selama tiga dekade diberlakukan AS, Uni Eropa, dan Ka- nada untuk melindungi pasar dalam negerinya. Ade Sudrajat mengakui, fasilitas GSP berdampak positif terhadap Indonesia. Sewaktu TPT Indonesia masih mendapat GSP dari AS, ekspor TPT ke Negeri Paman Sam cenderung meningkat setiap tahun. Tapi setelah fasilitas itu dihapus, ekspor turun. “Penurunnnya sekitar US$ 1 miliar per tahun,” tutur dia. Dia menambahkan, TPT Indone- sia yang tak lagi mendapat fasilitas GSP dan perlakuan khusus lainnya dari negara-negara maju, kini harus bersaing ketat dengan produk TPT US$ 153,07 miliar. Tak Bisa Dibalas Tim penyelam elit asing dan Ang­ katan Laut (AL) Thailand berhasil mengeluarkan empat remaja laki- laki dan asisten pelatih berusia 25 tahun pada Selasa sore. Sebagaimana delapan rekannya yang sudah lebih dulu dikeluarkan pada Minggu (8/7) dan Senin (9/7), mereka juga harus melewati rute keluar yang berbahaya. Yang mengharuskan mereka untuk melewati kegelapan melalui terowon- gan sempit yang penuh air. “Semua 12 anggota Wild Boars dan pelatihnya telah diselamatkan dari gua,” kata AL Thailand dalam postin- gan di Facebook. AL Thailand mengacu pada para remaja laki-laki dan nama tim sepa- kbolanya. Ditambahkan bahwa se- muanya dalam keadaan aman. Postin- gan itu kemudian mengakhiri dengan ciri khas dan istilah untuk menempa para anggota AL sendiri, yakni kata “Hooyah”. Istilah ini juga yang digu- nakan untukmerayakan penyelamatan sukses dari delapan anak lainnya selama dua hari sebelumnya. Setelah mereka keluar, kini fokus kekhawatiran semua pihak adalah pada beban fisik dan mental mereka. Para ahli mengingatkan bahwa mem- inum air yang terkontaminasi atau terkena kotoran burung atau kelela-  Sambungan dari hal 1

Semua Selamat Seorang perempuan mengangkat anaknya di seberang rumah sakit tempat 12 remaja pesepakbola dan asisten pelatihnya dirawat, Selasa (10/7) usai berhasil dikeluarkan dari gua Tham Luang di Thailand Utara. Setelah 18 hari berlalu, para anggota tim sepakbola Wild Boars itu secara bertahap selama tiga hari terakhir berhasil dikeluarkan oleh tim penyelam Angkatan Laut (AL) Thailand dan tim penyelam elit asing.

kerja bagus!” tulis Trump di twiter. Klub sepakbola Inggris Manchester United (MU) mengundangWild Boars serta mereka yang terlibat dalam pe- nyelamatan, untuk melakukan perjala- nan ke Inggris dan mengunjungi klub. “Benak dan doa kami bersama mereka yang terkena dampak. Kami akan senang hati menyambut tim dari Wild Boars Football Club dan tim penyelamat mereka ke Old Trafford musim mendatang ini,” kata MU via Twitter. (afp)

tan menarik perhatian masyarakat Thailand dan juga khalayak global, me- narik dukungan dari beragam tokoh seperti Presiden AS Donald Trump, bintang sepakbola Lionel Messi dan pebisnis serta penggila teknologi asal AS Elon Musk. “Atas nama Amerika Serikat, sela- mat kepada Angkatan Laut Thailand, dan semua pada penyelamatan sukses dari 12 anak laki-laki dan pelatih mere- ka dari gua berbahaya di Thailand. Momen yang indah, semua selamat,

Salah satu ketakutan adalah bahwa mereka akan panik ketika mencoba berenang di bawah air. Sekalipun para penyelam mengawal mereka. Perdana Menteri (PM) Thailand Prayut Chan-O-Cha mengungkapkan pada Selasa bahwa anak-anak itu telah diberi obat untuk membantu mereka tetap tenang. “Itu adalah obat penenang kecil untuk mencegah anak laki-laki tidak gelisah,” kata Prayut kepada para wartawan. Pasang surut dari misi penyelama-

Indonesia yang dikeluarkan dari list GSP,” tutur dia. Jaminan itu, kata Bima, sangat penting. “Dengan asumsi porsi ekspor ke AS mencapai 11% dari total ekspor nonmigas, berarti kinerja ekspor na- sional terancam turun 1-2% bila GSP dicabut,” kata dia. Bima menambahkan, jika AS men- cabut GSP untuk Indonesia, penjualan sektor industri turun, khususnya di sektor padat karya. Akibatnya bakal terjadi efisiensi besar-besaran, bahkan bisa berujung PHK massal. “Bila negosiasi dengan AS gagal, pemerintah sebaiknya menggunakan blok perdagangan Asean atau anggota penerima GSP lainnya untukmenekan AS. Dengan begitu, daya tawar Indo- nesia naik. Pemerintah juga punya kartu truf Freeport dengan menunda sementara izin ekspor konsentrat sampai pemerintah AS dipastikan tidak mengutak-atik GSP Indonesia,” tegas dia. Sekjen Kemenperin Haris Mu- nandar mengatakan, yang menjadi perhatian pemerintah adalah potensi penambahan BM terhadap produk Indonesia, seperti yang dikenakan kepada Tiongkok. Untuk itu, menurut dia, tidak men- jadi masalah jika GSP dicabut, karena produk Indonesia cukup berdaya saing di pasar AS. “Salah pengertian kalau Indonesia dapat GSP, lalu keseluruhan ekspor ke AS mendapat GSP. Tidak semua bisa dapat. Yangmenjadi perha- tian adalah kalau dikenakan tambahan tarif,” papar dia. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (IL- MATE) Harjanto mengatakan, jumlah GSP juga terkait dengan kuota. Jika industri cukup kompetitif maka tidak akan mendapatkan GSP. Indonesia, menurut dia, harus ancang-ancang mencari pasar baru untuk mengembangkan pasar ek- spor. Untuk itu, penting bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing, terutama yang nantinya tidak bisa mengandalkan GSP. (is/ epa/ajg/az)

GSP, biasanya kedua pihak memper- timbangkan sejumlah hal, misalnya mengenai Hak Kekayaan atas Intelek- tual (HAKI) dan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). “Itu yang perlu ditekankan. Ini strategi khusus mem- perpanjang GSP,” tegas dia. Ekonom BCA David Sumual men- gatakan, untuk mengantisipasi kemu- ngkinan terburuk dari perang dagang, semua pihak har us memikirkan solusinya. Pemerintah, misalnya, bisa memulai dari pembatasan impor non -esensial. “Barang impor yang dibatasi harus selektif agar tidak mendorong masuknya barang-barang ilegal,” tutur dia. Menurut Ketua Umum Hippi Sur­ yani Motik, Indonesia memiliki pasar besar dengan daya beli masyarakat yang cukup tinggi. “Kalau daya beli itu diarahkan untuk menyerap pro- duk-produk dalam negeri, itu akan sangat membantu mengurangi efek peniadaan GSP dan dampak buruk perang dagang. Jadi, kita juga tidak perlu sampai ngemis-ngemis agar GSP jangan dicabut,” tegas dia. Suryani menambahkan, Indonesia juga bisa menyiapkan balasan untuk tarif impor produk AS yang masuk ke pasar dalam negeri. Contohnya gandum dan kedelai. “Kalau kita berlakukan tarif impor tinggi ke produk itu, petani mereka juga pasti teriak. Kita jangan jadi anak mami saja. Kita tidak akan gebuk orang, tapi kalau digebuk ya kita la- wan,” tandas dia. Di sisi lain, menurut Suryani, Indo- nesia harus memiliki tim pelobi yang solid dan kuat yang bisa menjelaskan ke pihak AS bahwa transaksi dagang kedua negara selama ini mengun­ tungkan dan saling melengkapi. Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengemukakan, sejak 1996 Indonesia menikmati fasilitas BM0% dalam skema GSP bagi ratusan produk. Menurut dia, hampir 124 produk yang mendapat fasilitas GSP bisa dinegosiasikan. “Pemerintah harus menjamin tidak ada satu pun produk

papar dia. Selanjutnya, kata Meneku, peme­ rintah memetakan kebijakan perda- gangan AS terhadap negara-negara lain, termasuk RRT, Uni Eropa, dan Kanada. “Dari situ akan dirumuskan potensi implikasinya. Jadi, kemung­ kinan sektor komoditas yang akan terkena dampak kebijakan ini,” ucap dia. Di sisi lian, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, perang dagang AS- Tiongkok dapat mengganggu pereko- nomian daerah penghasil produk atau komoditas ekspor di Indonesia. “Di dalam perang dagang, yang ditakutkan adalah adanya proteksi, tarif tinggi, yang kemudian bisa memengaruhi ekspor. Kalau ekspor produk atau komoditi terganggu, kita khawatirkan nanti perekonomian di daerah penghasil komoditas juga ter- ganggu,” ujar Bambang dia. Diamengakui, secara umum, perang dagang juga akan berdampak pada produk-produk ekspor manufaktur yang didominasi oleh daerah-daerah di Jawa. “Maka kami sedang lihat sektor apa saja yang terkena, kemungkinan ya sektor manufaktur. Tentunya ini akan memengaruhi ekspor Indonesia ke AS,” ucap dia. Menurut Bambang Brodjo, jika Indonesia mendapatkan hambatan ek- spor dari AS, pemerintah bisa menga- lihkan produk ekspor ke negara lain. “Tentunya kita harus mempersiapkan diri jika perang dagang oleh AS berlan- jut dengan tetap menjaga daya saing produk ekspor Indonesia,” tandas dia. Di pihak lain, ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Marie Elka Pangestu menga- takan, dalam negosiasi dengan AS, Indonesia perlu menekankan soal investasi. Ini yang bisa menjadi posisi tawar Indonesia. “Secara neraca perdagangan, AS memang defisi terhadap Indonesia. Tapi kalau dari neraca jasa justru Indonesia yang defisit,” tutur mantan Mendag tersebut. Mariemenjelaskan, dalamnegosiasi

Made with FlippingBook flipbook maker