ID180711

rabu 11 JULI 2018

24

pokok meningkat, inflasi berpotensi tinggi dan dapat berbahaya karena mengurangi daya beli masyarakat. Namun, pihaknya tidak bisa memprediksi bank sentral akan menaikkan suku bunga berapa basis poin lagi ke depannya. Sebab, hal tersebut akan dilihat secara bulanan dan tidak bisa diprediksi jangka panjang, yang pasti, dia menegaskan jika the Fed menaikkan bunga dan Indonesia tetap bertahan, maka kurs rupiah akan sangat berdampak. “Kita harus naik juga, kalo tidak ya seperti itu nantinya, bank sentral di Eropa akan naik juga, the Fed sudah pasti naik. Tapi kalau the Fed tiba-tiba tidak naikkan bunga, buat apa kita naikkan bunga,” ungkap dia. Dengan tren kenaikan suku bunga tersebut, pihaknya tidak mengelak bahwa pertumbuhan kredit perbankan juga bisa tumbuh melambat, terutama bagi BCA. Hal tersebut dinilai sebagai hukum ekonomi yang wajar. “Tapi kan mau tidak mau, di mana- mana begitu, the Fed itu sudah naikkan bunga cukup tinggi, dari basis 1,25% mereka naik 1%. Indonesia dari basis 4,25% tapi ekonomi Amerika Serikat saat ini bagus, makanya Trump berani melakukan perang dagang dengan Tiongkok karena merasa sedang bagus ekonominya. Padahal, interest rate mereka naik 100 bps, sama seperti kita naikkan 200 bps,” tutur dia.

“Kalau tidak pakai DP itu kan tidak ter- lihat effort pertama, tiba-tiba langsung menyicil dan tidak bisa bayar, itu harus dipertimbangkan matang-matang,” tambah dia. Untuk rasio kedit bermasalah ( non performing loan /NPL) BCA sampai dengan semester pertama 2018 di posisi 1,4-1,5%. Hingga akhir tahun ini dengan tren suku bunga yang meningkat diperkirakan tidak akan memberikan efek yang besar kepada NPL perseroan. “Menurut kami NPL tidak berdampak besar, kalau ada 1-2 perusahaan gagal bayar itu normal lah,” lanjut Jahja. Harus Sesuaikan Bunga Sementara itu, Jahja juga men- jelaskan, BI harus mengikuti langkah the Fed apabila menaikkan Fed Fund Rate (FFR). Hal tersebut untuk men- jaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar tidak semakin bergejolak. “Harus lihat-lihat juga, bank sentral AS serius apa tidak mau naikkan bunga pada September dan Desember ini, tahun depan bisa naik juga atau tidak. Kalau gearing ratio naik 0,25% harusnya kita naik 0,5%, kalaumereka naik 4 kali, kita naiknya 2%,” terang Jahja. Apabila BI tidak ikut menaikkan suku bunga acuannya ketika the Fed menaikkan FFR, dampaknya adalah semua bahan baku banyak yang im- por menjadi mahal. Jika semua harga

berdampak pada kenaikan suku bunga kredit BCA. Menurut Jahja, perseroan baru menaikkan suku bunga deposito sebesar 100 basis poin sejak Maret 2018. Untuk suku bunga KPR, perseroan juga memberikan promo bunga tetap ( fix ) tiga tahun. “Bunga deposito sudah naik 100 bps, sedangkan kredit belum, tapi kredit pemilikan rumah (KPR) dari 5,6% sudah naik ke 5,88% tapi masihmurah. Ke depan kami harus melihat blanded cost juga,” tutur Jahja. Sebelumnya, BI menyatakan akan merelaksasi aturan loan to value (LTV) bagi pembeli rumah pertama (first time buyer), di sisi lain, suku bunga kredit ke depan bisa naik. Dengan adanya pelonggaran LTV yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2018 tersebut akan membantu bank dan terutama BCA dalammenyalurkan kredit pemi- likan rumah (KPR). Jahja menjelaskan, BCA tidak akan memberikan promo bunga murah lagi tahun ini, karena sudah memberikan tingkat suku bunga sangat kompetitif di pasar. Untuk aturan uang muka ( down payment /DP) yang diperbole- hkan sampai 0%, Jahja mengaku tidak harus melakukan hal tersebut. Pas- alnya, pihaknya perlu memperhatikan liabilitas kredit nasabah terlebih dahulu, kemudian lokasi rumah, jika bermasalah bisa dijual atau tidak, dan kemampuan membayar nasabah.

oleh indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) yang meningkat 4,7 poin dari bulan sebelumnya menjadi 120,8, dan indeks ekspektasi kondisi ekonomi (IEK) meningkat menjadi 135,4. Menanggapi hal tersebut, Jahja mengungkapkan, untuk kredit kon- sumer apabila bisa ditahan suku bunga rendah, permintaan akan semakin tinggi. Namun, akan menjadi sebuah ujian apabila bank sentral Amerika Serikat (the Fed) menaikkan suku bunga, Bank Indonesia (BI) pun dinilai juga harus ikut menaikkan BI 7-D ay Reverse Repo Rate (7DRRR). “Kalau AS naikkan bunga acuan, kita juga harus naik, tapi kebutuhan KPR tetap ada. Ada kebijakan loan to value (LTV) itu bisa mendorong optimisme kami untuk bisa mempertahankan pertumbuhan, tapi untuk menambah lagi agak berat,” papar Jahja. Dengan adanya relaksasi LTV dari bank sentral tersebut, pertum- buhan kredit konsumer masih akan tergantung kebutuhan dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, Jahja mengaku, belum bisa memprediksi pertumbuhan kredit konsumer sam- pai akhir tahun. “Kalau tahun lalu sih net -nya 10%, semester pertama untuk per tumbuhan konsumer kira-kira 8-10%,” lanjut dia. Terkait kenaikan suku bunga acuan bank sentral sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% disebut belum

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperkirakan pertumbuhan kredit perseroan sampai dengan semester pertama tahun ini sebesar 12-13% secara tahunan ( year on year /yoy), didorong oleh kredit sektor korporasi. Sementara itu, perseroan tidak melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) tahun ini dengan tetap menargetkan pertumbuhan kredit 10% (yoy).

dustri. Menurut dia, meskipun tahun ini pihaknya tidak merevisi target RBB, pihaknya meyakini per tum- buhan kredit akan lebih tinggi dari target yang dipasang. “Tahun lalu kami pasang target di RBB 9-10%, tapi kami bisa capai 12,5%,” ucap dia. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merilis survei konsumen pada Juni 2018 yang mencatat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi pada Juni meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal terse- but tercermin dari indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Juni 2018 se- besar 128,1, lebih tinggi dari 125,1 dari bulan sebelumnya. Meningkatnya op- timisme konsumen tersebut didorong

Presiden Direktur BCA Jahja Se- tiaatmadja mengatakan, pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh berbagai sektor, khusus untuk korporasi tum- buh paling tinggi yakni 12-13% (yoy) sampai semester pertama tahun ini. Sedangkan pertumbuhan kredit kon- sumer hingga akhir Juni sekitar 8-10% (yoy). “Pada semester pertama 12- 13%, sektornya macam-macam tidak ada yang spesifik, kalau korporasi tumbuhnya cukup bagus juga,” kata Jahja ditemui usai launching seragam baru BCA, di Menara BCA, Jakarta, Senin (9/7). Jahja juga mengatakan, secara total pertumbuhan kredit perseroan semester pertama berada di atas in-

Investor Daily/IST

data. Go-Jek itumemiliki Go-Pay,” kata Chairil di Jakarta, Selasa (10/7). Chairil menjelaskan, Go-Jek tidak mencari keuntungan, namun lebih melihat gaya ekosistemnya. Awalnya Go-Jek merupakan aplikasi untuk transportasi, namun dengan adanya Go-Pay dapat membuat ekosistem yang besar. “Bisnis Go-Jek itu juga tidak menguntungkan, tapi kebiasaan masyarakat akan masuk datanya, sep- erti bulan puasa kemarin, restoran apa yang paling laku, nanti kalaumaumain dengan bank bisa bilang kalau tempat itu yang bisa diberi kredit ke restoran tersebut,” papar Chairil. Menanggapi hal tersebut, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) San- toso Liemmengatakan, dengan adanya perkembangan teknologi yang cepat saat ini dapat mempermudah konsu- men memilih layanan keuangan yang diinginkan, tidak terkecuali oleh Go- Jek yang memiliki Go-Pay. “Tapi kami belum mengetahui berapa perputaran uang di Go-Jek jika dibandingkan dengan perputaran uang di bank, karena tidak punya datanya,” ucap dia. Sementara itu, untuk sebanyak 62% responden menganggap Alibaba juga sebagai kompetitor perbankan dalam jangka waktu dekat, hal tersebut dikar- dia. Agen laku Pandai ini merupakan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkenalkan lebih dekat akan jasa keuangan kepada masyarakat di pelosok desa Sementara itu, BNI Wilayah Man- ado menargetkan penyaluran Kredit Usaha rakyat (KUR) mencapai 100% pada Agustus 2018. “Target KUR untuk BNI Wilayah Manado, sebesar Rp 410 miliar pada 2018, dan telah tersalur sebesar Rp 358 miliar,” kata Haris Agus Handoko di Manado, Senin (9/7). Haris mengatakan animo pelaku usaha di Sulut untuk mendapatkan KUR cukup t i ngg i , s eh i ngga penyaluran di tahun 2018 ini hampir tersalur semua. Dia mengatakan, se- suai dengan target kantor pusat dalam mencapai hal tersebut, pihaknya terus menggencarkan sosialisasi ser ta berkerja sama dengan program-pro- gram pemerintah. Strategi tahun ini akan ada di pro- gram-program yang berkaitan dengan pemerintah. BNI akanmenyasar usaha mikro dan kecil karena dipandang mampumeningkatkan perekonom ian daerah. KUR ini merupakan pinjaman dari bank kepada pelaku usaha yang disubsidi oleh pemerintah. “Walaupun disubsidi oleh pemerintah, tapi harus dikembalikan,” jelas dia. Secara nasional, BNI menargetkan penyaluran KUR tahun 2018 men- capai Rp 13,5 triliun. Angka tersebut meningkat sebesar 15% dari target penyaluran KUR tahun 2017 yakni hanya sebesar Rp 12 triliun. Pihaknya mengharapkan dukungan semua kary- awan BNI Wilayah Manado agar bisa mencapai target tersebut. (th)

JAKARTA - Lembaga audit dan konsultan ekonomi Pricewaterhouse- Coopers (PwC) Indonesia dalam surveinya menunjukkan, sebanyak 72% responden menilai PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-jek) sebagai kompetitor terberat bagi industri perb- ankan. Sebab, Go-Jekmemiliki Go-Pay yang dapat dilakukan sebagai layanan sistem pembayaran. PwC Indonesia dalam survei digital banking di Indonesia 2018 melakukan riset kepada 52 responden dari 43 bank di Indonesia. Saat ini kompetitor industri perbankan bukan hanya per- usahaan finansial berbasis teknologi (financial technology/fintech) , namun lebih meluas ke e-commerce . Technology and Risk Consult- ing Leader PwC Indonesia Chairil Tarunajaya menjelaskan, Indonesia berada di tengah-tengah perusahaan e-commerce dan perusahaan sektor pembayaran yang sedang booming . Hal tersebut sudah tidak terlalu mengejutkan, sebab Go-Jek juga dianggap sebagai pesaing utama perbankan karena memiliki layanan pembayaran elektronik. “Go-Jek memiliki basis konsumen besar di Indonesia, dikombinasikan dengan kemampuannya untuk memanfaatkan MANADO – PT Bank Negara In- donesia (Persero) Tbk (BNI) Manado menargetkan agar semua desa di Prov- insi Sulawesi Utara (Sulut) memiliki agen Laku Pandai atau Agen46. “Kami menargetkan semua desa di 15 kabupaten dan kota di Sulut miliki Agen46, untuk memudahkan masyarakat bertransaksi keuangan,” kata CEO BNI Manado Haris Agus Handoko di Manado, Selasa (10/7). Dia menjelaskan, Provinsi Sulut memiliki 1.851 desa dan semuanya harus memiliki Agen46, minimal satu agen di satu desa. Kalau desanya cukup besar bisa lebih dari satu. “Kami dalam menentukan Agen46 harus melewati serangkaian pelatihan dan training, karena mereka merupakan perpanjangan tangan dari BNI di desa-desa,” jelas dia seperti dilansir Antara . Dengan demikian, kualitas pelay- anan harus memiliki standar dan jan- gan sampai mengecewakan nasabah maupun masyarakat pada umumnya. Pada Agen46 tersebut, kata dia, masyarakat bisa menabung, menarik dana, membayar tagihan listrik, air, asuransi, beli pulsa telepon, bayar iuran BPJS, dan lain sebagainya. “Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu ke kota untuk melakukan transaksi,” jelas dia. BNI Manado memiliki wilayah kerja di Sulut, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Hingga posisi terakhir, jumlah Agen46 di empat prov- insi tersebut sudah berjumlah 2.900 agen. “Kami berharap agen ini dapat memberikan pelayanan yang baik, kar- ena jika transaksi cukup banyak, akan ada fee lebih besar buat agen,” kata

Hanwha Appreciation Night CEO Hanwha Life Insurance Indonesia David Yeom (tiga dari kanan), membuka Hanwha Appreciation Night di the Ritz-Carlton Jakarta, kemarin. Hanwha Appreciation Night merupakan acara tahunan yang diadakan sebagai bentuk apresiasi kepada para agen terbaik Hanwha Life Insurance Indonesia. Adapun, sampai dengan kuartal II 2018 Hanwha Life Insurance Indonesia tercatat memiliki 1.135 agen.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan perusahaan layanan komunikasi sep- erti Telkomsel, Indosat, dan XL akan bisa memperkuat layanannya untuk bisa bersaing atau bisa berkolaborasi dengan dengan perbankan dan per- usahaan teknologi lainnya. Chairil mengungkapkan, perusa- haan fintech maupun e-commerce masuk ke consumer banking yang menyasar konsumen untuk berbelanja online, membeli paket data internet. “Untuk bayar tagihan listrik, lebih mudah transfer uang umumnya con- sumer banking yang dilihat fintech dan e-commerce ini. Hanya saja Indonesia besar, baru 55% masyarakat yang bankable, masih banyak yang tidak punya akses perbankan, dan ini adalah ruang yang diisi fintech untuk masuk,” jelas Chairil. Menurut dia, secara perlahan ap- abila perbankan di Indonesia tidak mengikuti perkembangan tekno- logi digital, maka akan kehilangan pangsa pasarnya. “Perbankan mulai kehilangan pangsa pasar pelan-pelan khususnya segmen consumer banking dari adanya fintech, ” tutur Chairil. Manfaatkan Big Data Dalamsurvei PwC Indonesia, banyak

enakan memiliki Alipay dan layanan lainnya yang merupakan kekuatan yang perlu diperhitungkan dengan serius oleh perbankan. Posisi ketiga, sebanyak 42% re- sponden mengakui, Grab yang telah berkolaborasi dengan PT Visionet Internasional (OVO) dapat menjadi pe- saing perbankan dalam waktu dekat. Selain itu Tokopedia, Telkomsel dan Amazon juga dinilai menjadi kompet- itor industri perbankan. “Sangat mengejutkan untukmelihat Amazon, Google dan Facebook berada di posisi bawah hanya 28%, 18% dan 12% yang manganggap sebagai pesa- ing, padahal mereka sebagai raksasa teknologi. Tiga pemain global tersebut saat ini mengubah lanskap pemba- yaran di negara-negara seperti India dan lainnya dengan solusi pembayaran masing-masing,” papar dia. Sebagai contoh, Facebook baru saja meluncurkan layanan pembayaran WhatsApp di India, yang diyakini para analis akan memberikan persaingan serius bagi solusi pembayaran yang ada seperti Paytm. Demikian pula dengan Google yang juga menye- diakan solusi pembayaran yakni Tez berbasis Unified Payment Interface (UPI) dari India.

kemampuan karyawan bank dalam hal analisis data. Menurut Chairil, dengan adanya kompetitor dari fintech, perbankan akan mengurangi investasi untuk pembangunan kantor cabang karena lebih ke investasi digital banking. Sedangkan untuk pengurangan kary- awan disebut tidak akan terjadi jika sumber daya manusia (SDM) memi- liki kemampuan mengikuti perkem- bangan teknologi. “Kalau pengurangan pembangunan cabang itu iya, karena lebih investasi ke teknologi. Kalau karyawan ini lebih pindah ke bagian analisis data, jadi bukan hanya bank, semua perusa- haan juga merasakan, pertanyaannya apakah siap untuk memperbaiki dirinya sendiri atau tidak, karena ini hukum alam,” lanjut dia. Menurut Chairil, perbankan memi- liki dua pilihan agar tidak tergerus oleh perusahaan finansial berbasis teknologi. Pertama, dengan mengem- bangkan infrastruktur teknologinya dan bisa dengan melakukan kolabor- asi bersama fintech. “Bank menyi- asatinya bisa dengan kolaborasi dengan fintech atau mengakuisisi, seperti BankMandiri, BRI juga sudah mengakuisisi,” jelas Chairil. (nid)

bank yang mengumpulkan data untuk bisamemberikan layanansesuai dengan kebutuhan nasabahnya. Ini tercermin dari 96% responden yang meman- faatkan big data agar lebih kompetitif. Kemudian, sebanyak 62% responden mengaku akan bergerak dari data terse- butmenujuwawasanyang akanmenjadi tantangan utama perbankan. Lalu, sebanyak 58% responden mengaku akanmeningkatkan kemam- puan karyawannya untuk bisa lebih memahami kebutuhan nasabah. Sedangkan 48% responden menye- but memiliki banyak saluran untuk melakukan analisis mendalam terkait big data. Kemudian, 46% responden memilih bekerja sama dengan pihak ketiga untuk dapat memperoleh data. Di sisi lain, PwC Indonesia jugamen- catat, kualitas data merupakan tantan- gan utama yang dapat menghambat kemampuan untuk mendapatkan wawasan bisnis. Tercermin dari 68% responden perbankan yang ber- pendapat, memperoleh data yang akurat dan berkualitas merupakan tantangan terbesar perbankan. Hal tersebut disebabkan karena perlunya penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan konsumen, oleh karena itu harus ada peningkatan

Made with FlippingBook flipbook maker