SP160827

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 27-28 Agustus 2016

Demokrat Condong ke Sandiaga

P endaftaran pasangan nur (cawagub) Pilgub DKI Jakarta akan berlangsung pada 21-23 September 2016. Sejauh ini, sejumlah partai politik (parpol) telah menen- tukan cagub yang akan diu- sung. Sementara untuk cawa- gub, masih belum terdapat titik temu. Partai Golkar, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasdem memutuskan mendukung Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama calon gubernur (cagub) dan calon wakil guber-

untuk maju kembali. Sementara Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menja-

(PKS), Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Khusus untuk

saja,” kata sumber SP , Sabtu (27/8). Masih kata sumber, Majelis Tinggi (MT) tinggal menggelar satu kali rapat untuk memutuskan siapa yang akan diusung sebagai cagub DKI. “Tinggal selang- kah lagi,” ujarnya. Sumber itu tak menampik apabila nama Sandiaga, men- jadi bakal calon yang paling potensial untuk diusung. “Pastinya, Demokrat tak mungkin dukung Ahok,” tegasnya tanpa menyebut alasan. [C-6]

tuhkan pilihan pada Sandiaga Uno.

Demokrat, menurut rencana partai pemenang Pemilu

Dengan demi- kian masih terdapat parpol yang memiliki kursi di DPRD DKI, belum menentukan sikap resminya. Adapun parpol tersebut yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI- P), Partai Keadilan Sejahtera

2009 itu akan mendeklarasi- kan cagub yang didukung, setelah HUT ke-15 partai pada 9 September 2016. “Rencananya bisa pas saat HUT Demokrat atau 3 hari setelah itu, berarti 12 September 2016. Tunggu

Olimpiade 2020, Indonesia Optimistis Naik Peringkat

[JAKARTA] Olimpiade Rio de Janeiro 2016 menegaskan betapa kemajuan di bidang olahraga terkait erat dengan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Olahraga menunjuk- kan kualitas suatu bangsa. Peraih medali terbanyak adalah negara-negara yang mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi dan yang memberikan perhatian besar pada pembinaan sumber daya manusia. Peringkat pertama hing- ga ketiga Olimpiade Rio, diraih AS, Inggris, dan Tiongkok. AS dan Inggris sudah lama menjadi negara maju dengan PDB per kapi- ta di atas US$ 30.000. Tiongkok adalah raksasa baru ekonomi Asia dengan PDB di atas US$ 7.500. Sedang Indonesia dengan PDB per kapita US$ 3.500 terseok di peringkat 46. Tanpa menunggu PDB per kapita di atas US$ 12.000, Indonesia seyogianya mulai melakukan pembinaan olah- raga di semua cabang, mulai dari atletik sebagai "ibu dari olah raga", olahraga indivi- dual seperti angkat besi, hingga olahraga permainan yang mengandalkan kekuat- an tim. Olahraga juga meru- pakan industri yang bisa menggerakkan ekonomi dan turnamen olahraga seperti olimpiade adalah ajang pro- mosi negara untuk menarik wisatawan dan investor. Ketua Satlak Prima, Achmad Sutjiptomenuturkan, persaingan di Olimpiade semakin ketat karena masing -masing negara turut berpe- ran mencetak atlet yang bisa memberi kehormatan bagi bangsanya di arena pesta olahraga sejagat itu. Sejumlah negara telah menjadikan Olimpiade ini sebagai ajang untuk menun- jukkan keunggulannya di antara bangsa-bangsa di dunia. Karena itu segala potensi, termasuk potensi keuangan suatu negara dike- rahkan agar dapat mencetak

atlet terbaik.

dan perhatian serius pada olahraga,” katanya. Namun, Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade (KOI) Indonesia, Muddai Madang menilai, tiga meda- li yang didapat kontingen Indonesia belum maksimal. Sebelum berangkat ke Rio de Jainero, KOI maupun Chef de Mission (CdM) menar- getkan dua atau tiga medali emas bisa dibawa pulang dari ajang olahraga terbesar di dunia itu. " KO I d a n S a t u a n Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) secara umum senang ada pening- katan prestasi dari Olimpiade 2012 London ke 2016 Rio. Tetapi kami sebagai pemang- ku olahraga, merasa prestasi itu belummaksimal," ungkap Muddai. Menurutnya bila melihat potensi dan kualitas dari para atlet yang semestinya bisa berbuat lebih maksimal dibandingkan hasil kemarin. Dia mencontohkan, ganda putra cabang bulutangkis Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang cukup di luar dugaan karena kalah di babak penyisihan. Di cabang angkat besi, pihaknya menargetkan meda- li emas atas nama SriWahyuni (48 kg) dan Eko Yuli Irawan (62 kg). Tidak Beranjak Indonesia berada di posi- si ke-46 atau naik 17 pering- kat dibanding Olimpiade 2012. Namun, prestasi tahun ini tak banyak beranjak dari Olimpiade 2004 dan 2008 di mana pasukan Merah Putih ada di peringkat 48 dan 42. Indonesia optimistis menggapai peringkat lebih baik pada Olimpiade 2020, serta yang terdekat SEAN Games 2018, dengan berfo- kus pada pembinaan cabang -cabang yang memiliki peluang besar mendapatkan medali. Seluruh stakeholder pemangku kepentingan olah-

Peringkat Olimpiade dan PDB

"Olahraga prestasi yang dipertandingkan di Olimpiade, kini bukan lagi sekedar hobi, tapi ajang bagi tiap negara mempresentasikan keung- gulannya. Sejumlah negara bahkan siap menanam inves- tasi yang sangat besar di bidang olahraga ini," kata Sutjipto. Pengama t o l ah r aga Rayana Djakasurya menga- takan, negara yang menang dalam ajang olahraga inter- nasional umumnya memang negara dengan perekonomi- an yang baik dan benar-benar mendukung sepenuhnya kebutuhan akan dana pem- binaan olahraga prestasi. Negara maju menggelon- torkan dana besar-besaran untuk pembinaan olahraga. Meski demikian, kunci pen- ting lain adalah perhatian pemerintah dan para pemang- ku kepentingan secara ber- kelanjutan “Untuk meraih prestasi di olahraga tidak harus menunggu PDB atau PDB per kapita membubung ting- gi. Tapi pada pembinaan yang dilakukan terus menerus dan adanya regenerasi. Hal itulah yang dilakukan dalam pem- binaan cabang bulutangkis yang hingga kini menjadi andalan emas. Mereka (para pembina cabang bulutangkis, Red) terbilang gila dalam membina atlet-atletnya seka- ligus menciptakan gladia- tor-gladiator Indonesia, bukan pemerintah yang buat mere- ka tapi klub,” ucapnya, Sabtu (27/8). Indonesia tidak bisa dibilang negara urutan bawah dalamhal ekonomi. Nyatanya, kata Rayana, saat ini peme- rintah mampu memberikan bonus masing-masing sebe- sar Rp 5 miliar untuk pah- lawan olahraga Indonesia peraih emas Tontowi/Liliyana dan peraih perak Rp 2 mili- ar untuk Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan serta uang bulanan seumur hidup. “Ini menunjukkan kemakmuran

No

Negara

Total Medali

PDB

PDB per kapita

(Juta $)

($)

1 Amerika

121 67 70 56 42 41 42 21 28 29 19 15 19 17 13

18.558.130(1) 55.805 (10) 2.760.960(5) 41.159 (25) 11.383.030(2) 14.107 (84) 1.132.740(14) 25.411 (48) 3.467.780(4) 46.893 (18) 4.412.600(3) 38.054 (27) 2.464.790(6) 41.181 (24) 1.321.200(11) 36.511 (28) 1.848.690(8) 35.708 (31) 1.200.780(13) 47.389 (16) 117.729 (56) 26.222 (47) 1.534.780(9) 15.615 (76) 1.242.360(12) 34.819 (32) 762.521(17) 49.166 (14)

2 3 4 5 6 7 8

Inggris Tiongkok Rusia Jerman Jepang Prancis Australia Belanda Hungaria Brasil Spanyol Kenya Indonesia Korut Norwegia UEA Brunei Islandia Qatar

9 Italia

10 11 12 13 14 15 46 69 74 78

64.688(72)

3.208 (146)

3 1 4 1 0 0

936.955(16) 170,860(52)

3.500 (99)

132,099 (1)

366.873 (30) 68.430 (6) 325.135 (32) 67.617 (7) 9.097 (134) 79.587 (4)

18.633(110)

46.097 (19)

Sumber: IMF/Olympicchannel

raga harus lebih jeli lagi dalam menyiapkan konting- en khususnya atlet. Diakui Muddai, Indonesia harus punya cabang olahraga basic untuk meraih medali. Untuk itu pihaknya akan bekerja sama dengan bebe- rapa pihak untuk penyem- purnaan atlet. Misalnya untuk cabang olahraga menembak akan merangkul TNI dan Polri. “Kalau perlu dimasuk- kan menjadi atlet,” katanya. Termasuk juga cabang -cabang bela diri. Para pemangku kepentingan juga harus memilih cabang olah- raga yang betul-betul memi- liki potensi prestasi seperti bulu tangkis, angkat besi, panahan harus pelatnas seca- ra berlanjut dan tidak boleh putus. Menurut Sutjipto, sejum- lah negara sudah lama melaksanakan program performa tinggi bagi para atletnya, termasuk Thailand

yang saat ini merajai olahra- ga di kawasanAsia Tenggara. Tanpa adanya upaya dari sekarang, maka sulit bagi Indonesia untuk bisa mem- pertahankan atau meningkat- kan perolehan medali pada Olimpiade berikutnya di Tokyo pada 2020 mendatang. Namun, karena dana dari pemerintah terbatas, Satlak Prima pun harus lebih cermat melihat potensi yang ada agar programnya tepat sasaran. "Dana pemerintah tidak banyak, jadi harus dipriori- taskan untuk atlet-atlet pada segmen unggulan," kata Sutjipto. Ia meminta Menpora fokus, memberi prioritas pada cabang-cabang olahraga yang sudah kelihatan prestasinya baik dari sisi sarana prasara- na, kamp pelatihan, pelatnas. Prioritas seperti ini telah dilakukan sejumlah negara dan hasilnya cukup efektif untuk dapat meraih kehor-

matan di Olimpiade. Jamaika yang di Rio 2016 ini meraih enammedali emas, semuanya didapat dari atletik nomor-nomor lari jarak pen- dek. Keberhasilan Jamaika bukan hanya karena adanya Usain Bolt yang merajai nomor paling bergengsi 100 meter dan 200 meter, tetapi karena negara itu punya banyak atlet-atlet kelas dunia di nomor lari jarak pendek ini, baik putra maupun putri. Kenya yang menjadi negaraAfrika tertinggi dalam peringkat medali dengan raihan enam medali emas, fokus pada nomor-nomor lari jarak jauh. Demikian juga dengan Korea Selatan yang tetap memantapkan prioritas pembinaan terhadap olahra- ga panahan, sehingga sejak 1988 mereka sulit dikalahkan di cabang ini.[Ant/H-15]

Made with FlippingBook - Online catalogs