ID190909

SENIN 9 SEPTEMBER 2019

2 INTERNATIONAL

“Apa yang terjadi pada harga min- yak berada di luar kendali OPEC dan tentu saja lebih kuat dari kemam- puannya. Oleh karena itu, saya pikir OPEC + tidak akan menggunakan pengurangan produksi baru karena itu akan semakin menumpulkan pangsa pasar kelompok yang sudah menyusut,” kata Bouenain kepada AFP . Indeks harga acuan minyak mentah Eropa, Brent pun dijual lebih rendah pada US$ 61,54 per barel pada Jumat (6/9) dibandingkan tahun lalu yang mencapai harga jual US$ 75, walau ada kenaikan sekitar US$ 50 pada akhir Desember 2018. Pertimbangan untuk memangkas produksi minyak juga ber tepatan dengan penghentian produksi dari Iran dan Venezuela, serta melam- batnya pertumbuhan produksi AS, yang berarti pasokan tidak terlalu tinggi. “Pertumbuhan produksi minyak jenis shale AS tidak memiliki momen- tum yang sama dengan siklus sebel- umnya, dan produksi OPEC berada pada level terendah dalam 15 tahun, setelah turun 2,7 juta barel per hari selama sembilan bulan terakhir. Untuk saat ini, kami berpikir opsi kebijakan minyak untuk produsen utama ter- batas,” demikian komentar Standard Chartered bulan lalu. Kendati tidak ada keputusan yang akan diambil pada pertemuan Kamis, tetapi mereka harus menghasilkan rekomendasi sebelum pertemuan puncak OPEC+ di Wina, Austria pada Desember. Menurut Rapidan Energy Group, aliansi negara produsen minyak itu mungkin harus memangkas tamba- han produksi sebesar satu juta bpd untuk menstabilkan pasar. Tetapi masalah yang menentukan adalah negara anggota mana yang akan memikul beban dari pemangkasan baru. Tercatat bahwa Arab Saudi, yang merupakan pemimpin de facto OPEC dan menghasilkan sekitar sepertiga dari minyak dunia, telah mengambil lebih besar dari bagian yang adil terakhir kali. Bouenain yakin jika Saudi kemung- kinan akan lebih tahan saat ini, meng- ingat dampaknya pada pendapatan kerajaan. Sedangkan Raghu mengatakan, faktor utama yang menyeret turunnya harga minyak adalah permintaan yang buruk karena ketegangan perdagan- gan antara AS dan Tiongkok. “Tanpa resolusi yang mengun- tungkan untuk perselisihan itu maka pengurangan produksi OPEC tidak akan menghasilkan kenaikan harga minyak yang cukup besar,” pungkas dia. (afp/pya) Hidup dan Kehutanan (KLHK). Se- betulnya, proses pembahasan aturan ini sudah berjalan. Namun, hingga kini belum ada keputusan akhir, yang sangat ditunggu pemilik smelter nikel yang telah beroperasi. Masalah lainnya, kata dia, adalah mengenai deregulasi pajak dan keuan- gan yang terkait smelter . Saat ini, beber- apa pemilik smelter masih menunggu realisasi insentif keringanan pajak ( tax allowance ) dan pembebasan pajak un- tuk jangka waktu tertentu ( tax holiday ) , seperti yang dijanjikan pemerintah. Adanya insentif ini membuat pemilik smelter tidak ragu menambah modal di Indonesia dan mempercepat proses alih teknologi dengan mitra lokalnya. “Produksi nikel tahun ini sekitar 25 juta ton. Jikamemang pemerintahdapat mengatasi masalah yang ada dengan baik, saya pikir para investor tidak akan segan untuk segera menambah kapasi- tas ataumelakukan investasi tambahan. Jadi, produksinya akan semakin besar. Mungkin kalau double capacity bisa 40- an juta ton,” papar Haykal. Sebelumnya, pemerintah menetap- kan larangan ekspor bijih nikel mulai berlaku 1 Januari 2020, dua tahun lebih cepat dari rencana semula. “Saat ini, kami sudah menandatangani Peratu- ran Menteri (Permen) ESDM yang intinya mengatur penghentian insentif ekspor nikel bagi pembangunan nikel per 1 Januari 2020,” ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono. Menurut Bambang, ada beberapa hal yang melatarbelakangi keputusan itu. Pertama, untukmenjaga cadangan nikel. Berdasarkan data Kementerian ESDM, saat ini cadangan terbukti komoditas nikel nasional Indonesia mencapai 698 juta ton. Cadangan ini hanya menjamin suplai bijih nikel untuk fasilitas pemurnian selama 7-8 tahun. Adapun cadangan terkira sebanyak 2,8 miliar ton. Untuk men- ingkatkan cadangan terkira menjadi terbukti masih memerlukan faktor pengubah, seperti kemudahan akses, perizinan, dan keekonomian. Dengan begitu, kata Bambang, cadangan yang ada sekarang belum dapat memenuhi umur keekonomian fasilitas pemurnian. Alhasil, pemer-

Oleh Grace Eldora

Vivek Prakash / AFP

DUBAI – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) akan mempertimbangkan penurunan kapasitas produksi minyak baru pada pertemuan Kamis (12/9). Tetapi kalangan analis ragu bahwa negara-negara tersebut dapat berhasil mendongkrak harga minyak mentah yang tertekan akibat perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok.

Kamis. Dalam konferensi pers, Mazrouei mengatakan produsen minyak dipen- garuhi oleh kekhawatiran lain, selain dari penawaran dan permintaan. “Apa pun yang dilihat kelompok itu akan menyeimbangkan pasar, kami berkomitmen untuk membahasnya dan mudah-mudahan pergi dan melakukan apa pun yang diperlukan. Tapi saya tidak akan menyarankan untuk memotong untuk memotong setiap kali kita memiliki masalah pada ketegangan perdagangan,” jelas dia. Seperti diketahui, 24 negara ang- gota kelompok OPEC + yang did- ominasi oleh Arab Saudi dan raksasa produsen minyak non-OPEC, Rusia, telah sepakat untuk menurunkan produksi pada Desember 2018. Kesepakatan pengurangan produk- si minyak itu dicapai, mengingat perekonomian global yang goyah dan booming minyak jenis shale AS untuk menciptakan kelebihan paso- kan global. Tercatat, kesepakaan pemangkasan pasokan minyak sebelumnya, sebagi- an besar berhasil dalam memperkuat harga. Tetapi kali ini, pasar terus merosot – bahkan setelah OPEC + sepakat pada Juni untuk memperpanjang kes- epakatan pengurangan sebelumnya sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) selama sembilan bulan. Perang Dagang Ada pun faktor baru yang menjadi alasan untuk penurunan harga min- yak adalah perang dagang antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yang mana kebi- jakan penerapan tarifnya telah men- imbulkan kekhawatiran resesi global yang bakal merusak permintaan minyak. Ekonom Saudi Fadhl al-Bouenain menyampaikan pasar minyak telah menjadi sangat sensitif terhadap perang perdagangan AS-Tiongkok. kalau sudah jadi feronikel bisa menca- pai US$ 18 ribu per ton berdasarkan harga di London Metal Exchange (LME). Jadi, luar biasa peningkatan nilai tambahnya. Apalagi harga nikel saya pikir akan terus melesat, seh- ingga keputusan penghentian ekspor sudah tepat,” ujar dia. Haykal mengatakan, tren investasi di industri smelter sangat positif. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), terdapat 18 proyek smelter nikel yang diban- gun tahun ini senilai total US$ 10-15 miliar. Investasi itu didominasi pemain Tiongkok yang merajai bisnis nikel hilir dunia. “Investor lokal juga ada. Buktinya, sindikasi bank asing dan bank pemerintah aktif membiayai pembangunan smelter di Indonesia,” ujar dia. Dia menambahkan, untuk mem- bantu investor, pemerintah harus segeramemangkas waktu pengurusan izin smelter yang kini masih panjang. “Perizinan harus dipermudah, apa- bila memang ada smelter yang sudah dibangun, bukan hanya rencana,” tegas dia. Hal ini, kata dia, sangat penting, karena nilai investasi smelter sangat besar. Selain itu, smelter sangat vital untuk kepentingan nasional, karena pemerintah wajibmengelola kekayaan alam agar lebih memiliki nilai tambah. Kedua, pemerintah sudah memiliki program hilirasi sumber daya alam (SDA), yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dan memperkuat industri dalam negeri. “Nantinya, hasil smelter digunakan oleh industri-industri turunan yang ada di Indonesia,” ujar Haykal. Dia mengakui, smelter nikel memi- liki masalah yang har us diatasi, seperti timbunan slag yang masuk kategori limbah. Apalagi, slag nikel dari tahun ke tahun semakin banyak. Itu sebabnya, diperlukan aturan untuk mengatasi masalah ini. Dengan begini, pemilik smelter tidak akan menghad- api masalah pada masa mendatang dan masalah lingkungan bisa diatasi. Dia menegaskan, perlu ada aturan soal pengelolaan slag yang disusun oleh lembaga-lembaga terkait, seperti Kementerian Perindustrian, Kemente- rian ESDM, Kementerian Lingkungan

Sambungan dari hal 1 Baik OPEC dan negara-negara non-anggota OPEC ingin menghen- tikan penurunan harga yang terus berlanjut, meskipun ada pengurangan produksi dari kesepakatan sebel- umnya serta sanksi-sanksi AS yang telah menekan pasokan dari Iran dan Venezuela. Menurut para analis, Komite Pe- mantauan Bersama Bersama kelom- pok OPEC +, yang memantau pen- capaian kesepakatan pengurangan pasokan pada tahun lalu, memiliki opsi terbatas ketika mengadakan pertemuan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 12 September 2019. Namun, langkah pasti yang akan diambil OPEC + adalah memperd- alam pengurangan. Meskipun untuk sementara dapat membantu harga, tapi pengurangan tersebut memuncul- kan risiko kerugian lebih lanjut dari pangsa pasar. Demikian disampaikan para analis. “OPEC sudah biasa memanfaatkan pemangkasan produksi untuk meno- pang harga. Namun ada harga yang harus dibayar dengan memangkas pangsa pasar minyak mentah global OPEC dari puncak 35% pada 2012 menjadi 30% pada Juli 2019,” ujar M. R. Raghu, kepala penelitian dari Kuwait Financial Center (Markaz) kepada AFP. Sedangkan Menteri Energi Uni Emirat Arab Suheil al-Mazrouei mem- peringatkan pada Minggu (8/9), bahwa dengan berlangsungnya per- tikaian dagang AS-Tiongkok yang membayangi perekonomian dunia maka rencana pengurangan produksi minyak tambahan mungkin bukan cara terbaik untuk menaikkan harga yang merosot. “Pemangkasan produksi yang lebih dalam bukan keputusan yang kita ambil dengan mudah,” kata Mazrouei menjelang Kongres Energi Dunia empat hari yang dimulai pada Senin (9/9) di Abu Dhabi, di mana per temuan penting para menteri minyak juga akan diadakan pada Namun, dia mengingatkan agar pemerintah jangan galau lagi dalam merilis kebijakan soal nikel, karena hal itu berdampak pada keberlangsungan industri pengolahannya. Dia menilai, industri smelter meru- pakan industri padat modal, sehingga membutuhkan keseimbangan di hulu dan hilir serta konsistensi kebijakan pemerintah. Dalam dua tahun terak- hir, pemerintah mengizinkan kembali ekspor bijih nikel, namun mendadak melarang ekspor lebih cepat dari target. “Investor dalam dan luar negeri melihat hal ini sebagai inkonsistensi kebijakan pemerintah. Saya melihat investor akan menilai pemerintah galau, meski maksud pemerintah sebenarnya baik. Tetapi, ini dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah su- paya betul-betul meneliti, memahami, dan mempelajari semua hal sebelum mengambil keputusan signifikan, seperti kebijakan ekspor nikel,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu. Haykal menerangkan, keputusan penghentian ekspor bijih nikel akan berdampak positif terhadap industri pengolahan dan sejalan dengan Un- dang-Undang (UU) No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Dalam UU ini, mineral wajib diolah di dalam negeri. Setelah UU itu berlaku, pertumbuhan smelter luar biasa pesat. Selain itu, dia menuturkan, cadan- gan bijih nikel di Indonesia terus menurun. Jika ekspor terus dibiarkan, carangan itu hanya akan bertahan sampai tujuh tahun, berdasarkan perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Haykal menerangkan, untukmence- gah hal itu terjadi dan sebagai wujud tanggung jawab pemerintah kepada pebisnis smelter yang sudah beropersi, kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel harus diambil. Kebijakan itu akan membuat umur lahan tambang nikel lebih panjang dan nilai tambah di dalam negeri semakin besar. “Kalau kita ekspor nickel ore saja, itu hanya sekitar US$ 20 per ton, tetapi

Aksi Lanjutan Demonstran Hong Kong Demonstran mengacungkan simbol lima jari yang melambangkan lima tuntutan mereka, saat berkumpul di Chater Garden untuk berja- lan ke konsulat Amerika Serikat di Hong Kong, Minggu (8/9/2019). Para demonstran menekan dunia internasional sekaligus meminta AS untuk membebaskan Hong Kong dari kekuasaan Tiongkok. Aksi tersebut merupakan lanjutan dan langkah terkini dari para pengunjuk rasa setelah serangkaian demo menentang RUU terkait ekstradisi yang terkadang diikuti aksi kekerasan selama beberapa bulan terakhir.

memangkas produksi untukmenyeim- bangkan permintaan global. OPEC dan sekutunya dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada 12 September untuk meninjau kembali strategi pembatasan produksi, mengatasi besarnya paso- kan global dan menopang harga. Namun belum ada kepastian, apakah akan ada perubahan dalam kebija- kan Saudi di bawah kepemimpinan Pangeran Abdulaziz – yang tercatat telah bergabung dengan Kementerian Perminyakan pada 1980-an dan sudah mengabdi di berbagai posisi senior. “Pangeran Abdulaziz telah berada di kementerian perminyakan selama be- berapa dekade. Dia bergabung dengan kementerian perminyakan pada akhir 1980-an dan bekerja sama dengan tiga menteri perminyakan sebelumnya. Sejak itu, dia telah menghadiri hampir setiap pertemuan OPEC sehingga me- miliki banyakpengalaman institusional,” tutur Ali Shihabi, pendiri lembaga riset pro-Saudi Arabia Foundation. (afp/eld) ment, anak usaha Tsingshan, 300 ribu ton, dan PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara 198 ribu ton. Fokus Kemenperin Secara terpisah, Menteri Perindus- trian (Menperin) Airlangga Hartarto menegaskan optimismenya bahwa implementasi kebijakan hilirisasi in- dustri akanmenjaga kekuatan pereko- nomian nasional agar tidak mudah terombang-ambing di tengah fluktuasi harga komoditas. Oleh karena itu, industri pengolahan berperan penting dalam upaya meningkatkan nilai tam- bah sumber daya alam di Indonesia untuk dibuat sebagai barang setengah jadi hingga produk jadi. “Dengan fokus hilirisasi industri, ten- tunya akan bisa melakukan lompatan kemajuan lagi bagi ekonomi kita. Maka itu, perlu dipacu pertumbuhan dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri,” kata Menperin. Menperin menyatakan, dengan modal inovasi, sumber daya manusia yang kompeten, dan penguasaan teknologi, Indonesia akan mampu menggenjot nilai tambah komoditas SDA lebih tinggi lagi. Airlangga menyebutkan, hilirisasi industri telah berjalan di berbagai sektor, antara lain pertambangan dan perkebunan. Contohnya di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, yang menjadi klaster hilirisasi nickel ore menjadi SS . “Kalau nickel ore dijual sekitar US$ 40-60 per ton, sedangkan ketika men- jadi SS harganya di atas US$ 2.000 per ton. Selain itu, kita sudah mampu ekspor dari Morowali senilai US$ 4 miliar, baik hot rolled coil maupun cold rolled coil SS ke Amerika Serikat dan Tiongkok,” papar dia. Di Morowali, diamenuturkan, inves- tasi terus menunjukkan peningkatan, dari 2017 sebesar US$ 3,4 miliar men- jadi US$ 5 miliar pada 2018. “Jumlah penyerapan tenaga kerja di kawasan itu terbilang sangat besar, hingga 30 ribu orang,” ungkap dia. Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Per- wilayahan dan Akses Industri Inter- nasional (KPAII) Kemenperin Ignatius Warsito menuturkan, untuk investasi smelter nikel, masih ada beberapa investor yang tertarik untukmasuk ke Konawe, Takalar, dan beberapa tempat di Maluku selain di Weda Bay.

juga menggantikan wakil menteri en- ergi. Sejak diangkat sebagai menteri perminyakan pada 2016, Falih telah menjadi wajah kebijakan energi Saudi. Tetapi veteran teknokrat tersebut telah menunjukkan portofolio yang menyu- sut dalam beberapa pekan terakhir. Pemberhentian Falih terjadi selang beberapa hari setelah dia turun dari jabatan sebagai chairman Aramco saat perusahaan bersiap untuk IPO. Dalam jabatan tersebut, Falih digan- tikan oleh Yasir al-Rumayyan, yang menjabat sebagai gubernur Dana Investasi Publik (PIF). Kekuasaan Falih pun berkurang pada bulan lalu, ketika pengekspor minyak utama dunia mengumumkan pembentukan kementerian baru sum- ber daya industri dan mineral, memi- sahkannya dari kementerian energi. Sejumlah besar pihak berspeku- lasi ada ketidakpuasan dengan Falih di tingkat atas pemerintahan atas harga rendah minyak menjelang IPO Aramco, bahkan ketika kerajaan terus Berdasarkan laporan SMM News , CNI memiliki kuota ekspor sebayak 2,3 juta ton bijih nikel yang habis Juli 2018. Kemudian, perusahaan ini mengajukan lagi kuota 2,1 juta ton dan akan habis pada akhir Desember 2019. Selanjutnya, Tsingshan kembali bermanuver dengan membangun smelter penghasil bahan baku baterai mobil listrik di Morowali. Di proyek ini, Tsingshanmenggaet GEMCo Ltd, Brunp Recycling Technology Co Ltd, serta PT IMIP dan Hanwa untukmem- bentuk PTQMBNewEnergyMaterials. QMBmulaimembangun smelter di la- han seluas 120 ha. Kapasitas produksi smelter itu mencapai 50 ribu ton nikel hidroksida, 150 ribu ton nikel sulfat, 20 ribu ton sulfat kobalt, dan 30 ribu ton sulfat mangan. Reuters melaporkan, investasi proyek itu membengkak menjadi US$ 1,5 miliar dari sebel- umnya US$ 700-800 juta. Pabrik ini menciptakan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 2.000 orang. Pemain lama, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga akan membangun pabrik NPI di Halmahera Timur den- gan menggandeng mitra strategis, Ocean Energy Nickel International Pte Ltd (OENI). Proyek ini dalam tahap finalisasi financial closing dan ditargetkan ground breakinng awal September 2019 Di proyek ini, awalnya, emiten berkode saham ANTM itu akan menjadi pemegang saham minoritas. Namun pada tahun ke-10, Antam akan menjadi pemegang saham mayoritas. Pendanaan pabrik ini seluruhnya dari OENI, sedangkan Antam menyedi- akan bahan baku berupa bijih nikel. Pabrik NPI ini berkapasitas 320 ribu ton atau setara 30 ribu ton ton nikel yang terdiri atas delapan lini produksi. Tahap awal, dibangun pabrik NPI berkapasitas 80 ribu ton atau setara 8.000 ton nikel murni. Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas produksi smelter nikel tahun ini diperkirakan mencapai 109.940 ton nikel (tNi) dalam bentuk NPI, 119.282 ton feronikel, 80 ribi ton nikel matte , dan 10.000 ton berupa NiOH. Tiga pemain besar nikel di Indonesia adalah Virtue Dragon asal Tiongkok dengan kapasitas 600 ribu ton, lalu PT Sulawesi Mining Invest- dengan kandungan nikel 22-24%. Nilai investasi proyek ini mencapai US$ 100 juta.

RIYADH – Raja Salman bin Ab- dulaziz telah menggantikan menteri energi Arab Saudi dengan salah satu putranya, Pangeran Abdulaziz bin Salman pada Minggu (8/9). Ini merupakan perombakan besar meng- ingat salah satu anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) itu sedang terdampak rendahnya harga minyak. Penunjukan Pangeran Abdulaziz tersebut dilakukan ketika Pemerintah Arab Saudi sedang mempersiapkan rencana penawaran umum perdana ( initial public offering /IPO) Aramco. Adapun Pangeran Abdulaziz meru- pakan saudara tiri laki-laki penguasa de facto Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. “Khalid al-Falih telah dipindahkan dari posisinya. Yang Mulia Pangeran Abdulaziz bin Salman ditunjuk sebagai menteri energi,” lapor kantor berita resmi Saudi Press Agency ( SPA ) yang dikutip daro dekrit kerajaan, Minggu. SPA menambahkan, pihak kerajaan intah menghentikan rekomendasi ekspor bijih nikel kadar rendah hingga 31 Desember 2019. Selama 2017 hingga Juli 2019, jumlah rekomendasi ekspor bijih nikel mencapai 76,27 juta ton dengan realisasi 38,3 juta ton. Kedua, banyak smelter nikel yang sudah beroperasi. Saat ini, sebanyak 11 smelter sudah berdiri dan 25 smelter dalam tahap pembangunan, sehingga totalnya bakal ada 36 smelter . Ketiga, ada teknologi untuk mengolah nikel berkadar rendah menjadi kobalt dan lithium, bahan baku baterai kendaraan listrik. Percepatan larangan ekspor nikel Indonesia berdampak positif terhadap harga komoditas itu. Belum lama ini, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga nikel dalam 12 bulan ke depan menjadi US$ 22 ribu per ton dari US$ 16 ribu per ton, seiring percepatan larangan ekspor bijih nikel Indonesia dari 2022 menjadi 2020. “Kami memperpanjang rekomen- dasi bullish untuk nikel dari tiga bulan menjadi enambulan,” tulis bank inves- tasi itu seperti dilansir Metal Bulletin. Sementara itu, LME mencatat harga nikel masih bertengger di level tertinggi dalam lima tahun, kendati penawaran di LME turun 0,7% men- jadi US$ 17.925 per ton. Katalis kuat kenaikan harga nikel adalah manuver Indonesia selaku penghasil bijih nikel terbesar di dunia yang mempercepat larangan ekspor. Sepanjang tahun ini, harga nikel telah naikmendekati 70%. Reli ini dipre- diksi beberapa analis belum berakhir. “Harga nikel berpeluang naik lebih tinggi lagi, jika kita menilik data pasca- larangan ekspor keluar beberapa tahun lalu,” ujar analis BMO Kash Kamal. BMO memprediksi defisit pasokan nikel mencapai 51 ribu ton pada 2020 dan 127 ribu ton pada 2021 dari total pasar 14 juta ton. Di tengah kondisi ini, pemain nikel Filipina diprediksi memacu ekspor tahun depan untuk mengisi kekosongan pasar yang dit- inggal Indonesia. Akan tetapi, jumlah itu tidak akan cukup, sehingga pasar masih defisit. Detail Proyek Sementara itu, salah satu smelter yang dibangun tahun ini adalah milik PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara berkapasitas 230 ribu ton feronikel

Made with FlippingBook HTML5