ID160307

SENIN 7 MARET 2016

24

Investor Daily/EMRAL

Nama lengkap: Dr Suryani Sidik Motik Suami: Faizal Iskandar Motik Anak: Badaruddin Rahman Motik dan Tahlia Salima Motik PENDIDIKAN: l Doktor, Administrasi Bisnis, Universitas Indonesia (2006) l Master, Administrasi Umum, Maryland University, AS (1989) l Sarjana, Biologi, IKIP Jakarta (1985) l Sertifikat Administrasi Pendidikan, Catholic University, Washington DC, AS (1989) l Sertifikat Bahasa Inggris, American University, Washington DC, AS (1987) l Sertifikat Pengembangan SDM, George Washington University, Washington DC, AS (1986) KARIER: l President PT Prima Renewable Energy Partners l Dosen Program Pascasarjana, SBM ITB ORGANISASI: l Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang GCG dan CSR, periode 2015- 2020 l Bendahara Palang Merah Indonesia (PMI), 2015-2020 l Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi), 2010-2015 l Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), 1997-2006

SURYANI SIDIK MOTIK PRESIDENT PT PRIMA RENEWABLE ENERGY PARTNERS

H idup adalah sebuah uni- versitas kehidupan yang tidak terlepas dari proses belajar dan mengajar. Da- lam menjalani hidup, ses- eorang tidak hanya belajar untuk menjadi pribadi matang dalam berpikir dan bertindak, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat menjadikannya berarti bagi lingkungan di sekitarnya. Falsafah itu dipegang teguh Sury- ani Sidik Motik. Pengusaha nasional yang akrab disapa Yani ini berusaha menjalani hidup apa adanya agar keberadaannya di sebuah komunitas, baik di tengah keluarga, pergaulan so- sial, maupun bisnis dapatmemberikan arti bagi orang lain. “Hidup saya mengalir seperti air. Mengalir saja. Tetapi yang paling penting, di mana pun saya berada dan di posisi apa pun saya dipercaya, tidak menyusahkan orang lain. Dan, saya berupaya memberikan arti bagi orang lain,” kata Yani. Tidak heran, meski berpengalam­ an di bidang organisasi dan bisnis, ditambah bekal akademik yang tinggi, President PT Prima Renewable Energy Partners itu tetap ugahari atau bersahaja menjalani hidupnya. Wakil Ketua UmumKadin Indonesia yang juga Bendahara Palang Merah Indonesia (PMI) ini menjalani hidup apa adanya, selalu mensyukuri ber- kah Ilahi. Berikut penuturan lengkap man- tan Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) dan Ketua Umum DPP Himpunan Pen- gusaha Pribumi Indonesia (Hippi) itu kepada wartawati Investor Daily Novy Lumanauw di Jakarta, Jumat (4/3) lalu. Apa falsafah hidup Anda? Saya menjalani hidup mengalir seperti air. Air akan terus mengalir mencari tempat yang lebih rendah seiring berputarnya waktu. Tetapi yang terpenting adalah di mana dan pada posisi apa pun saya diperca­ yakan, tidak menyusahkan orang lain. Dan, saya berusaha harus memberikan arti bagi orang lain. Itu falsafah hidup saya. Konkretnya seperti apa? Contohnya di dalam keluarga. Sebagai seorang ibu, ketika anak- anak masih kecil, saya mendidik dan membekali mereka dengan berbagai hal bermanfaat untuk masa depan. Begitu anak-anak tumbuh dewasa dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, saya menjadi teman untuk berbagi, baik dalam suka maupun duka. Saya berteman dengan anak-anak. Jadi, ada tahapan- nya. Dengan suami, hubungan kami seperti berteman. Kapan pertama kali Anda ter- jun ke organisasi? Saya terjun ke bidang organisasi sejak 1992. Saat itu, saya dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan

Bagaimana dengan Kadin? Saat ini, saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indone- sia Bidang GCG dan CSR, periode 2015-2020. Dulu ada program Mil- lenniumDevelopment Goals (MDGs), sekarang setelah Post MDGs adalah sustainability development (pemban- gunan berkelanjutan). Selain itu, saya membidangi masalah persaingan usaha. Kami berusaha meningkatkan daya saing Indonesia di luar negeri. Anda juga aktif di bidang sosial? Benar. Setelah selesai masa ja- batan di Iwapi, saya sempat ‘men- ganggur’ setahun. Ketika Pak Jusuf Kalla terpilih sebagai Ketua Umum PalangMerah Indonesia (PMI) pada 2009, saya diminta menjadi Bendaha- ra Umum PMI. Saat ini, jabatan itu masih saya pegang untuk periode 2014-2019. Jadi, setelah dua tahun menjabat Bendahara Umum PMI, pada 2011 saya dipercaya menjabat sebagai Ketua UmumDPP Hippi, mengganti- kan Pak Suryo Bambang Sulisto. Pak Suryo yang menjabat Ketua Umum Hippi periode 2010-2015 saat itu terpilih sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia. Saya kolaborasikan Hippi dengan PMI. Kami mengadakan kegiatan penggalangan dana melalui turnamen golf. Tujuannya adalah membeli mobil donor darah PMI. Ada target tertentu yang ingin Anda capai dalam menjalani hidup? Saya tidak mempunyai target tertentu. Misalnya harus ini atau itu. Tidak. Sebagai pengusaha, saya yakin bahwa yang mengatur rejeki adalah Allah. Yang penting di mana pun kita berada, kita harus memiliki arti bagi orang di sekeliling. Mengapa? Jika kehadiran kita tanpa arti, kita susah eksis. Kalau kita bisa mencip- takan arti, di situlah kita menemukan eksistensi hidup sesungguhnya. Orang akan merasa kehilangan tan- pa kehadiran kita. Paling tidak, kita harus menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sehingga kita dicari orang. Walaupun belum semuanya terwujud. Namanya hidup, kita saling bergantung satu sama lain. Presiden saja butuh rakyat, apalagi kita rakyat. Sejauh mana kedekatan Anda dengan anak-anak? Anak-anak adalah teman. Terus terang, walaupun anak-anak tinggal berjauhan dengan kami, kemajuan teknologi mendekatkan saya dan suami dengan mereka. Sekarang ada WhatsApp, Line, dan Skype. Dulu, waktu saya masih kuliah di Amerika Serikat (AS), untuk ber- bicara di telepon selama satu jam, saya harus membayar US$ 1.000. Sekarang gratis. Tinggal buat janji, kami bisa ‘bertemu’ untuk berdi- skusi tentang kehidupan, bisnis, pendidikan, dan toleransi. Kemajuan teknologi mendekatkan saya dengan

Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), periode 1992-1997. Selanjutnya saya dipercaya menjadi Ketua Umum Iwapi selama dua periode, dari 1997 hingga 2006. Saat ini, saya mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Good Corporate Governance (GCG) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Saya juga masih menjabat Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi). Kami baru akan menggelar Munas untuk menentu- kan kepengurusan periode berikut- nya pada April mendatang. Motivasi Anda aktif berorgan- isasi? Saya berorganisasi sejak di bangku kuliah di IKIP Jakarta. Saya aktif di Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Indone- sian Student Association for Interna- tional Studies (ISAFIS). Sebagai pengusaha, Anda pertama kali bergabung dengan organisasi apa? Saya per tama kali bergabung dengan organisasi pengusaha Iwapi. Itu pun terjadi secara tidak sengaja, pada 1992. Saya punya per usa- haan konsultan yang mendapatkan proyek penelitian dari Bank Dunia. Kebetulan saat itu, kakak ipar saya, Dewi Motik menjabat sebagai Ketua Umum DPP Iwapi. Hubungan penelitian Anda dengan Iwapi? Per usahaan saya mendapat proyek penelitian dari Bank Dunia tentang permasalahan yang dihadapi wanita pengusaha. Saya menawarkan untuk bermitra dengan Iwapi, dan disetujui. Jadi, saya menggandeng Iwapi dalam tugas penelitian. Apa yang Anda lakukan? Jadi, pada 1992 saya berkeliling Indonesia untuk mencari tahu per- masalahan yang dihadapi wanita pengusaha. Kebetulan saya sejak mahasiswa hobi berorganisasi, baik di Senat Mahasiswa, HMI, maupun ISAFIS. Nah , saya memahami bahwa sebuah organisasi membutuhkan dana. Saya tawarkan untuk bekerja sama dengan Iwapi dan sebagian keutungan, saya serahkan ke Iwapi. Hasil penelitian saya dipublikasikan secara besar-besaran di media mas- sa atas biaya Bank Dunia. Saat itu, saya pun dilamar untuk bergabung dengan Iwapi. Sebagai orang baru di Iwapi, saya waktu itu langsung ditawari posisi yang bagus. Kebetulan waktu itu ada pergantian kepemimpinan Iwapi dari Ibu Dewi Motik kepada Ibu Netty Bambang Rianto (almarhumah). Saat itu, merekamenawarkan kepada saya untuk menjadi salah satu pimpinan Iwapi, dengan syarat bergabung sebagai anggota. Saya setuju. Mengapa Anda langsung diper- caya menjadi Sekjen Iwapi? Saat pergantian pimpinan, saya diminta memaparkan hasil penelitian

anak-anak. Saya juga banyak belajar dari mer- eka, khususnya tentang bagaimana mendengarkan pendapat orang lain, ilmu baru, istilah baru, dan toleransi. Mereka boleh mengajarkan hal-hal baru dan menegur kita kalau ada se- suatu hal yang dianggap keliru. Saya juga mengatakan kepada anak-anak bahwa saya harus menjadi orang pertama yang mengetahui permas- alahan. Seburuk apa pun persoalan yang dihadapi, saya siap menerima. Anak-anak tidak terganggu oleh aktivitas Anda yang padat? Saya memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak. Anak sulung saya, Badaruddin Rahman Motik, baru saja menyelesaikan pendidikan Strata-1 di Universitas Indonesia (UI) dan Curtin University di Perth, Australia. Badaruddin belajar bidang manajemen dan bisnis. Putri bungsa saya, Tahlia Salima Motik, juga telah menyelesaikan studinya di Berkeley University, AS. Sekarang Tahlia bekerja magang di New York. Kalau Tahlia lebih cenderung ke bidang komunikasi massa dan periklanan. Pola serupa Anda terapkan dalam membina rumah tangga? Hubungan saya dengan suami juga seperti itu. Saya dan suami saya, Faizal Iskandar Motik, adalah teman lama. Kami berteman selama delapan tahun dan tidak pernah pacaran. Hubungan kami seperti teman. Saya sering berkonsultasi kepadanya. Teman Bapak adalah teman saya. Demikian juga sebaliknya, teman saya adalah teman Bapak juga kare- na lingkungannya tidak terlalu jauh. Lucu juga, ya ? Ha, ha, ha... Anda juga mengajar di per- guruan tinggi. Bagaimana ceri- tanya? Di lingkungan kerja, saya datang ke kantor saya sharing dengan kar yawan. Kalau saya mengajar sebagai dosen, saya mendengar pendapat mahasiswa. Saya berin- teraksi. Bukan hanya mahasiswa yang belajar dari saya, tapi saya juga banyak belajar pengalaman imple- mentasi keilmuan dari mereka. Karena sayamengajar di Program Pascasarjana School of Business and Management (SBM) ITB tentang entrepreneurship , banyak murid saya setelah selesai kuliah, tadinya profesional, ingin menjadi pengusa- ha. Kami sering bertemu dan pada akhirnya menjadi teman. Anda tidak kewalahan da- lam menjalankan aktivitas se- hari-hari? Tidak. Kuncinya adalah team work . Tidak semua tugas saya kerja- kan sendiri. Saya memiliki tim yang memiliki keahlian di bidang mas- ing-masing. Di Kadin, saya bekerja bersama tim yang kuat. Seorang pemimpin yang baik tidak harus yang paling cerdas, tapi yang paling mau mendengar dari orang-orang di sekitarnya. Sebab, kita bisa belajar dari orang-orang di sekelilig kita.

itu. Ketika pertama kali dipercaya memimpin untuk periode 1997-2002, usia saya masih 37 tahun. Orang- orang yang saya pimpin, rata-rata usianya lebih tua dari saya. Ada yang berusia 55 tahun dan 60 tahun. Saya senang. Saya menghormati dan banyak belajar dari para senior. Saya banyak mendengar masukan dari mereka. Tentu saja sikap itu saya pertah- ankan ketika dipercaya memimpin Iwapi periode kedua. Tetapi ada hal-hal yang harus saya perbarui. Saya membuat perubahan. Saya mengimbangi jumlah pengurus yang senior dan muda. Saya ballancing, posisinya pokoknya sama-sama be- lajar. Keputusan ini dilakukan demi kemajuan Iwapi.

yang telah dilakukan. Saya dinilai me- mahami persoalan wanita pengusaha nasional. Para pengusaha menyukai hasil penelitian yang saya paparkan itu. PadaMusyawarahNasional Iwapi tahun 1997, saya terpilih sebagai Sekjen Iwapi. Saya menjabat Sekjen DPP Iwapi satu periode, 1992-1997. Setelah itu, saya dipercaya menjadi Ketua Umum DPP Iwapi selama dua periode, yaitu dari 1997 hingga 2006. Pada periode kedua kepemimpinan di Iwapi, saya mulai aktif di Kadin Indonesia, di Komisi Tetap (Komtap). Kesan Anda dipercaya memi- mpin Iwapi dalam usia yang terbilang muda? Sulit dibayangkan. Ada suka dan dukanya. Tapi, lebih banyak sukanya. Saya sangat menikmati penugasan

Investor Daily/EMRAL

D i tengah kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan dan pengajar, ternyata Suryani Sidik Motik mengakrabi kegiatan masak-memasak. Hobi itu digeluti Yani, demikian sapaan akrab Suryani, sejak di bangku kuliah. “Saya senang makanan Italia, spaghetti aglio e olio . Tapi, di tangan saya, spaghetti aglio e olio saya modifikasi menjadi rasa Indonesia. Saya sangat suka cita-rasa Indonesia,” kata Yani. Yani yang sehari-hari bekerja sebagai President PT Prima Renewable Energy Partners menyatakan, hobi memasak tetap dipeliharanya sampai sekarang, karena untuk menyenangkan hati sang suami, Faizal Iskandar Motik. “Saya hobi memasak, karena suami saya kebetulan cerewet dengan makanan. Kalau ada masakan baru yang enak, saya pasti mencobanya. Suami saya juga menyukai masakan buatan saya,” tutur dia. Selain spaghetti aglio e olio , Yani mengaku menggemari kuliner khas Nusantara, seperti kepiting lada hitam, ikan bakar rica, dabu-dabu, dan bubur Manado. “Bubur Manado menjadi makanan keluarga kami setiap akhir pekan,” ujarnya. Bagi Yani, makanan khas Indonesia menjadi menu favorit karena memiliki cita rasa khas serta mampu menggugah selera makan. Namun, di balik kegemarannya memasak, Yani mengaku tidak suka membuat kue. “Saya tidak suka bikin kue. Mungkin karena tidak sabar. Saya hanya suka memasak makanan utama. Saya suka memasak makanan apa saja, apalagi yang khas Indonesia. Rasanya pasti enak. Saya selalu mau mencobanya,” papar Yani yang juga hobi bermain golf, berenang, fitness , dan jalan kaki. (nov)

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker