ID160926

senin 26 september 2016

24

Investor Daily/Tri Listiyarini

rifda ammarina presiden direktur pt puteri cahaya kharisma (performax)

P ada usia sangat belia, Rifda Ammarina sudah pandai membangun bisnis. Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Rifda membuat es lilin di malam hari dan menitipkannya ke ibu kantin di pagi hari. Motivasinya hanya satu, yakni ingin memiliki uang saku sendiri untuk membeli barang yang disukainya. Pun saat SMA, perempuan kelahiran Ternate, 11 Mei 1965 tersebut berani membuka butik yang khusus menjual koleksi baju remaja, meski masih memanfaatkan paviliun yang menganggur di kediaman orang tuanya. Gairah ( passion ) yang luar biasa dalam berbisnis itulah yang membuat Rifda hanya memiliki satu cita-cita dalam hidupnya, yaitu menjadi pengusaha. Untuk meraih cita-citanya itu, Rifda memilih kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil jurusan Sosial Ekonomi Peternakan yang di dalamnya banyak mempelajari ilmu bisnis. Demi mendapatkan modal dan membangun jaringan, setamat kuliah Rifda bekerja sebagai profesional di PT Indofood Fritolay dan PT Mustika Ratu. Karena memiliki orientasi menjadi pengusaha, saat menjadi pegawai di perusahaan-perusahaan besar tersebut, Rifda pun aktif di berbagai organisasi. Barulah pada 1993, Rifda melepaskan karier profesionalnya dan mulai terjun menjadi pengusaha yang sesungguhnya. Setiap langkah yang dijalani Rifda tidaklah selalu mudah. Namun, Rifda melakukan setiap tugas, pekerjaan, usaha, dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dengan penuh dedikasi. Rifda mempersiapkan dirinya untuk lebih baik. “Kunci suksesnya itu dedikasi. Kita nggak bisa itung-itungan. Kalau terlalu berhitung apa yang sudah kita beri dan apa yang sudah kita terima, kita akan stuck . Jangan berhitung, moving saja, bergerak terus, maju terus. Lakukan yang terbaik untuk apa yang menjadi tanggung jawab kita,” ungkap Rifda Ammarina kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini di Jakarta, baru-baru ini. Kini, cita-cita Rifda menjadi pengusaha sudah tercapai. Bahkan, Rifda telah menemukan bisnis yang benar-benar sesuai dengan visi-misi hidupnya. Melalui perusahaan event organizer (EO), PT Puteri Cahaya Kharisma (Performax), yang didirikannya pada 2002, Rifda ingin memberikan manfaat kepada orang banyak dengan mencoba memberikan akses kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif. Bagaimana sebenarnya kisah perjalanan Rifda dalam meraih

meng- handle produk dan berakhir sebagai public relation manager di PT Indofood Fritolay. Pada 1991, saya di- hijack PT Mustika Ratu Tbk. Di Mustika Ratu, saya diminta Ibu Mooryati Soedibyo (pendiri/ pemilik Mustika Ratu, red) untuk menjadi public relation and advertising manager . Di sinilah saya mulai belajar bikin event sendiri atas nama Mustika Ratu. Saya juga terlibat dalam pembuatan program Putri Indonesia untuk pertama kali, saat itu pemenangnya Indira Sudiro, bahkan sampai mendatangkan Miss Universe untuk pertama kalinya, yaitu Lupita Jones. Baru pada 1993, saya membuat usaha sendiri dengan menjadi kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC). Kenapa harus menjadi pengusaha? Saya melihat bapak saya yang seorang pegawai negeri sipil (PNS), lulusan ITB dan mengabdi seumur hidupnya sebagai Kepala Pekerjaan Umum (PU) di Maluku Utara. Bapak saya orangnya lurus, bekerja sesuai jam kerja, pulang pukul 12.00 untuk makan siang dan balik lagi ke kantor. Hingga pensiun, bapak saya tidak punya sepeda motor, apalagi mobil. Saya berpikir, saya tidak mampu seperti bapak saya. Bapak saya memang bilang, kalau orientasinya cari uang, jangan pernah jadi PNS. Karena itulah saya ingin menjadi pengusaha. How to make money , itu hanya bisa dicapai bila menjadi pengusaha. Anda memulainya sebagai kontraktor, bagaimana ceritanya? Karena orientasi saya menjadi pengusaha maka selama berkarier menjadi pegawai, saya ikut berbagai organisasi, seperti Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Di PII, saya aktif di berbagai kegiatan, membuat event dengan panitia rekan-rekan PII. Karena bikin event atas nama PII, saya punya akses kepada PT PLN dan berbagai BUMN lain, termasuk PT Pertamina. Dari situ, saya kemudian mendapat peluang dari Bapak IB Sudjana (menteri ESDM saat itu), yang sedang membina pengusaha muda untuk terjun serius di sektor ESDM. Ada 14 pengusaha dan saya satu- satunya perempuan. Sejak itu, saya setop jadi pagawai dan memulai bisnis. Bisnis awal saya sebagai pengusaha adalah kontraktor power plant , itu pada 1993, sebagai technical assistance contract (TAC) perusahaan Amerika Serikat (AS). Lalu, bagaimana Anda memulai bisnis EO? Pada 1998, saya hamil besar, akhirnya saya memutuskan setop bisnis di bidang kontraktor. Saya betul-betul meninggalkan bisnis pada 1998-2001. Saya baru bangkit

cita-citanya sebagai pengusaha? Apa filosofi hidupnya? Nilai-nilai apa saja yang ia tanamkan dalam bisnisnya? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut. Bisa diceritakan perjalanan karier bisnis Anda? Saya lahir dan besar di Ternate. Boleh dibilang sejak kecil saya sudah punya jiwa bisnis. Waktu SD, saya sudah berjualan es di sekolah. Malam hari, saya buat es, pagi hari satu termos es saya titipkan kepada tukang kantin, dia bebas jual berapa saja, yang penting dari saya sekian. Ibu saya sempat ngomel-ngomel karena bapak saya ikut membantu membungkus es. Ibu saya bilang, kayak orang tua tidak bisa kasih uang ke anak. Saya sendiri memang dari kecil tidak pernah meminta uang kepada orang tua, kecuali dikasih. Jadi, supaya memiliki uang saku atau beli apa yang saya suka, ya saya berjualan. Waktu SMA, saya sudah buka butik pakaian remaja. Saya lihat paviliun di rumah bapak saya yang dulunya untuk ruang belajar saya kok menganggur. Akhirnya saya bikin toko, saya jadi agen koleksi pakaian remaja yang sedang hits Nama : Rifda Ammarina Tempat/Tgl Lahir : Ternate, 11 Mei 1965 Pendidikan: l Fakultas Sosial Ekonomi Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor (1988) Karier: l 1988-1991 : PT Indofood Fritolay, terakhir sebagai PR Manager l 1991-1993 : PT Mustika Ratu Tbk, terakhir sebagai PR and Advertising Manager l 1993-sekarang : PT Puteri Cahaya Kharisma (Performax) sebagai Presiden Direktur Organisasi: l Kadin Indonesia sebagai Ketua Komite Tetap Akses Pasar dan Jaringan Usaha UMKM Jadi, sejak SMA, saya sebenarnya sudah bertekad untuk menjadi pengusaha. Tapi saya harus realistis, jadi pengusaha itu butuh uang untuk modal. Lulus SMA, saya diterima di IPB, ambil jurusan bisnis, tepatnya sosial ekonomi peternakan. Tujuan saya hanya mau belajar sosial ekonominya, bukan peternakannya karena orientasi saya memang ke bisnis. Lulus dari IPB, saya hanya melamar ke dua perusahaan besar, yakni Indofood dan Unilever. Saya diterima di Indofood. Di Indofood, saya melewati beberapa karier, mulai dari riset pasar sampai kala itu.

seperti apa?

tanpa gangguan ketimpangan ekonomi. Mereka bisa adem ayem, sebab yang menengah-kecil berjalan baik karena produk yang besar akan dibeli pelaku UKM. Pencapaian monumental yang sudah Anda raih? Sampai hari ini, rekor saya sebagai pembuat event lari 10 kilometer (10K) dengan peserta 50 ribu orang belum terpecahkan. Saya mendapat rekor MURI untuk kategori peserta lari 10K terbanyak. Saya juga pernah menampilkan penyanyi Cat Stevens secara gratis saat event Gema Nusa 10K 2005 di Jakarta. Kecuali itu, saya pernah membuat event yang sampai hari ini belum pernah dibuat orang, yakni lomba lari 10K di tujuh kota provinsi dan jam yang sama pada 2007. Saya juga terlibat dalam event Putri Indonesia yang pertama ketika masih bekerja di PT Mustika Ratu. Sampai hari ini, Putri Indonesia masih menjadi ajang terbaik pemilihan putri. Kunci sukses bisnis Anda apa saja? Pertama, saya percaya bahwa entrepreneur itu dilahirkan. Pedagang bisa by accident karena keterpaksaaan, bisa karena memang cari uang. Tapi kalau entrepreneur itu jiwa, tidak semua orang bisa menjadi entrepreneur meskipun bisa dipelajari ilmunya. Karena itu, seorang entrepreneur pasti memiliki passion untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi dalam setiap pekerjaaanya. Kedua, dedikasi. Kita tidak bisa hitung-hitungan. Kalau kita terlalu berhitung apa yang kita beri dan apa yang kita terima maka kita akan stuck . Jangan berhitung, moving saja, bergerak terus, maju terus, jangan membiarkan orang lain yang berpikir negatif terhadap kita berdampak pada diri kita. Jangan banyak bicara panjang lebar menjelaskan siapa kita, itu buang waktu saja, kita bisa melangkah satu langkah lebih maju dari orang yang ngedumelin kita. Saya tidak terlalu peduli siapa yang lebih baik dan lebih bagus, saya mempersiapkan diri saya untuk lebih bagus, saya lakukan yang terbaik apa yang menjadi tanggung jawab saya, saya terus berpikir kreatif saja. Strategi Anda untuk memajukan bisnis? Harus menciptakan ide baru dengan terus melakukan inovasi. Ketika orang datang ke event Agrinex 10 tahun lalu tentu akan mendapatkan environment dan chemistry yang berbeda dengan saat ini. Saat Agrinex ke-1, kementerian yang berperan serta hanya Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian, namun saat ini Kementerian Pariwisata, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Riset dan Teknologi, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah ikut event tersebut. Apa yang saya buat hari ini, besok orang lain mengikuti, sehingga saya harus membuat yang lebih baru agar bisa eksis. Dengan cara seperti ini pula, salah satu event saya, Agrinex, telah menjadi semacam rujukan tentang pencapaian sektor pertanian di Indonesia. Gaya kepemimpinan Anda

lagi pada 2002, membuat bisnis agen properti dan event organizer (EO). Saya memulai bisnis EO karena mendapat kepercayaan dari Pak Purnomo Yusgiantoro (mantan menteri ESDM) untuk membuat program ekowisata yang saat itu dicanangkan Presiden Megawati. Dalam program itu, saya juga menggelar event lari 10 kilometer (10K) Borobudur di Yogyakarta. Saya sempat ditawari kembali ke bisnis yang dulu (kontraktor), tapi bisnis itu mengharuskan saya sering travelling ke luar negeri, kasihan anak saya. Jadi, saya lebih memilih usaha EO agar bisa mengatur kapan saya mau jalan. Apa yang menarik dari bisnis EO? Setelah punya anak, saya berpikir bahwa semua yang saya lakukan harus memberi dampak spiritual kepada akhlak anak saya karena semua perbuatan baik kita akan menghasilkan diri kita yang lebih baik. Selain itu, siapapun yang mendapatkan rezeki dari kita lewat kita juga akan lebih baik. Nah , bisnis EO yang saya jalankan lebih banyak menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ekspo yang saya buat, misalnya, 70% pesertanya dari kalangan usaha kecil dan menengah (UKM). Pola kerja UKM itu pemiliknya adalah pekerjanya. Kalau butuh tambahan tenaga, dia pakai keluarganya. Kalau keluarga sudah terserap semua, dia pakai tetangganya, dia bangun ekonomi komunitas, inilah cikal bakal daya beli masyarakat. Kendala dan cara mengatasinya? Kendalanya adalah visi-misi saya tidak sejalan dengan kepentingan pelaku usaha. Saya berprinsip adanya subsidi silang dalam event yang saya buat. Event pada umumnya, harga stan untuk pelaku usaha besar dan UKM dibuat sama. Kalau saya, nilai (harga) stan bagi peserta atau pengusaha besar harus lebih besar dari UKM, nilai UKM lebih besar dari litbang. Misinya adalah agar UKM ini bisa memperbaiki kualitas produk sehingga daya saingnya meningkat. Subsidi silang ini diperlukan supaya pelaku usaha yang besar bisa hidup adem ayem, terus berproduksi

Kekeluargaan. Saya bekas pegawai, sehingga saya tahu rasanya menjadi pegawai. Apalagi saya juga dididik untuk memiliki kepedulian sosial oleh keluarga saya karena saya dari daerah. Karena itu, waktu merekrut pegawai, saya akan melihat bagaimana latar belakang keluarganya, terutama dari sisi kemampuan materi. Saya akan menerima pegawai yang tidak mampu. Anak-anak yang mampu, kendati menjadi pengangguran, toh masih bisa hidup. Sebaliknya, anak-anak yang tidak mampu biasanya harus menghidupi orang tua. Jadi, semua pegawai saya saat ini menghidupi orang tuanya. Saya mendidik pegawai saya agar setiap bulan menyisihkan gajinya untuk orang tua atau adiknya. Saya meyakini hal ini mampu mengundang keberkahan dan ini adalah cara untuk ikut membangun ekonomi negara yang kuat. Apa filosofi hidup Anda? Pertama, kerjakan apa yang mampu kamu lakukan, kalau kamu kerjakan dengan benar maka Allah akan mengajarkan apa yang tidak mampu kamu lakukan. Allah mengajarkannya bisa dengan mempertunjukkan kepada kita melalui orang lain yang memang mampu. Bisa juga tiba-tiba kita mampu walaupun kita tidak punya pengalaman di bidang itu, tiba- tiba kita dikasih kemampuan melakukan itu. Sama seperti perempuan yang melahirkan anak pertama, siapa yang punya pengalaman ini, tapi dia bisa melahirkan. Kedua, lakukanlah hal-hal yang baik, itu akan mengundang yang sebelumnya kita rasa tidak mampu. Hal-hal yang baik itu seperti magnet, dia mengundang, menarik, dan menyerap kebaikan di sekitar kita. Awali niat kita menjadi pengusaha karena ingin menciptakan tenaga kerja, menghidupi orang tua, atau mengentaskan kemiskinan, maka kita akan dipermudah. Obsesi Anda yang belum tercapai? Saya masih ingin punya bisnis online yang memasarkan produk halal dan produk agribisnis. Ini supaya saya bisa membantu UKM dengan intensitas lebih tinggi. Saya juga ingin membuat House of Indonesia di New York, AS. Saat ini, obsesi ini masih dalam rencana, saya ingin membantu pasar bagi produk-produk Indonesia. Produk-produk UKM Indonesia dipamerkan di AS. Bagaimana dukungan keluarga terhadap bisnis Anda? Keluarga mendukung sepenuhnya langkah saya, terutama bapak saya. Beliau adalah orang yang paling berjasa dalam memotivasi saya, mulai dari kuliah, kerja, hingga berbisnis. Hampir di semua event saya, bapak saya terbang dari Ternate ke Jakarta untuk mendukung saya. Banyak juga orang lain yang berjasa untuk langkah saya, terutama pegawai yang jujur, mitra kerja, dan para sponsor. Juga orang-orang hebat di sekitar saya, tahun ini saya kehilangan Pak Adi Sasono, hingga event Agrinex ke-10 beliau selalu hadir. keberkahan sehingga kita mampu melakukan sesuatu

Investor Daily/Tri Listiyarini

D alam beberapa bulan terakhir, Rifda Ammarina kembali aktif bermain golf. Bahkan, baru-baru ini Rifda menyempatkan diri membeli stik golf baru agar olahraga itu bisa intens dilakukanya. Baginya, golf bukan sekadar olahraga, tapi sudah menjadi sarana untuk membangun jaringan dan menyegarkan otak. Itu karena lapangan golf selalu menampilkan pemandangan yang indah. “Lewat golf, kita punya kesempatan berdiskusi intens dengan pelaku usaha lain maupun dengan pejabat, membangun networking . Lapangan golf juga selalu indah sehingga otak kita menjadi fresh . Otak fresh dan bertemu network maka akan saling mengisi dengan berbagai informasi, itu juga membuka peluang bisnis,” ujar Rifda.

Sebelum berkeluarga dan memiliki seorang putri, Rifda sempat menjadi aktivis dan penggila golf. Belakangan, ia mulai aktif lagi bermain golf dengan para anggota Kadin Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi oleh pandangannya bahwa di tengah lesunya dunia usaha, para pelaku usaha perlu mencari peluang dan potensi bisnis baru agar perusahaannya berjalan lebih baik. Begitu pula dengan perekonomian nasional. “Saya memang aktivitas golf sebelum berkeluarga. Begitu berkeluarga mulai jarang sekali saya melakukannya, kemudian menghilang sama sekali 10 tahun. Tapi saya mau aktif lagi, saya masih menyimpan stik golf yang lama lho , yang saya beli mungkin 20 tahun lalu,” kata dia. (tl)

Made with FlippingBook Learn more on our blog